Minggu, 22 Agustus 2010

KAPAN BANGKITNYA BANGSA YANG PERNAH TERJAJAH?

Suatu bangsa yang pernah terjajah akan mengalami kemajuan sebanding dengan lamanya ia terjajah. Mungkin itu kesimpulan dari ilmuwan besar muslim, Ibn Khaldun, ketika menganalisa tentang Bani Israil, yang menjadi budak selama 450 tahun, dan mulai bangkit di era Thalut, Nabi Dawud dan Nabi Sulaiman, 450 tahun setelah pembebasan Bani Israil oleh Nabi Musa.
Ilmuwan besar muslim melayu / indonesia yang sangat konsent terhadap teori Ibn Khaldun ini adalah Buya Hamka, seorang ulama besar dan ketua MUI pertama Indonesia. Dalam karya tafsirnya yang terkenal " Al Azhar", Buya Hamka menganalisis secara terperinci tentang upaya-upaya awal kebangkitan yang tidak banyak dukungan dari kaum mayoritas, hingga hidup bangsa bani israil terkatung-katung selama 450 tahun hingga datangnya Thalut dan Dawud, orang yang benar-benar baru, dari kaum biasa yang memiliki "basthattan fi jasad wail ilmi" yang memiliki kekuatan fisik dan ilmu.
Bani Israil adalah sebutan dari keturunan nabi Yakub as. Nabi yakub sendiri sering disebut dengan nama Israil, yang berarti orang yang berjalan dimalam hari, karena mau dibunuh oleh kakaknya, sehingga ia harus berjalan diwaktu malam hari dan bersembuni di siang hari. Bani Israil mengungsi ke tanah Mesir di era Nabi Yusuf menjadi bendahara kerajaan di Mesir. Nabi Yusuf adalah putra bungsu dari Nabi Yakub, yang oleh saudara-saudaranya dsingkirkan.
Seiring dengan waktu, populasi Bani Israil di mesir dengan pesaat berkembang, sehingga dianggap sebagai ancaman bagi bangsa Mesir, yang akhirnya bangsa Israil dijadikan menjadi budak. Hal ini berlangsung 450 tahun hingga datangnya Nabi Musa sebagai penyelamat dan pembawa kemerdekaan Bani Israil.
Bani Israil terkatung katung selama 450 tahun, karena menolak pembaharuan dalam pemikiran hingga datangnya suatu generasi yang orsinil, yaitu di era Thalut dan Dawud. Thalut adalah tokoh dari kalangan biasa yang memiliki basthathan fi lasad wal ilmi', yang akhirnya bisa mengalahkan jalut (goliat)
Belajar dari sejarah Bani Israil, dengan bangsa indonesia ada kemiripan yang sangat jelas. Bangsa yang terjajah selama ratusan tahun (konon 350 tahun). Jadi jika menganalisa teori Ibn Khaldun maka bangsa ini akan bangkit 350 tahun setelah merdeka. Mengingat bangsa ini adalah bangsa yang statis, maka bukan hal yang tidak mungkin bahwa teori ini benar adanya. (350 tahun baru bangkit).
Ada satu cara untuk membangkitkan semangat kebangkitan ini, yaitu dengan cara revolusioner yang dicontohkan nabi Muhammad SAW.  Nabi Muhammad hanya perlu 13 tahun untuk membangun peradaban yang sangat modern.........Tapi mengingat bangsa ini merupakaan bangsa statis, hal itu mungkin akan mengalami hal yang sama dengan bani israil.
Banyak contoh dari hal tersebut diatas, misalnya, konon bagi kaum tradisi bahwa penerimaan sekolah yang menggunakan model seperti ssekarang  itu hampir 80 tahun. Ketika Ahmad dahlan mendirikan sekolah agama yang mengajarkan ilmu pengetahuan umum, ia dikritik habis-habisan oleh para ulama tradsi, ketika ada wacana arah kiblat salah yang dikumandangkan oleh Ahmad dahlan, juga dikecam habis-habisan, sekolah pakai bangku juga dikecam habis-habisan. Jadi konon para ulama tradisi baru menadari kekeliruannya setelah hampir 75 tahun, ketika organisasinya kekurangan para  intelektual. Dan tentang arah kiblat yang salah, ulama tradisi dan kaum awam perlu hampir 100 tahun untuk menadari kekeliruannya. dan mungkin budaya tahlilan akan disadari kekeliruannya 50 tahun yang akan datang, dan sebagainya.
Masyarakat Sunda harusnya belajar dari sejarah, apakah kita akan membiarkan pandangan-pandangan yang salah menutupi diri, menutupi keagungaan agama beratus-ratus tahun. Apakah kebodohan , ketidaktahuan kita terhadap agaama  akan tetap selamanya menutupi keagungan agama kita. Apakah kita akan membiarkan suatu ungkapan 'kehebatan (keagungan) Islam tertutup oleh kebodohan umatnya'.
Kita memang harus mengembangkan berbagai pertanyaan untuk diri kita, pertanyaan terhadap kebiasaan-kebiasaan kita, pertanyaan terhadap tradisi-tradis kita, pertanyaan terhadap pengetahuan kita, pertanyaan pada komitmen kita, pertanyaan pada idealisme kita. Mungkin kita harus mengungkap pertanyyaan-pertanyaan tersebut. Dan jika pertanyaan ini disistematisasikan dan dijawab dengan kejujuran hati, dan pengetahuan yyang luas maka kita akan mendapat suatu masyarakat yang berperadaban, dan masa depan yang cemerlang akan di depan mata.
Jika tidak bisa disebarkan pada masyarakat luas minimal untuk diri kita, atau keluarga kita, atau minimal kita buat sejarah buat kita sendiri, siapa tahun akan menginspirasikan generasi muda masa depan yang idealis.

(lanjut...........)

Kamis, 19 Agustus 2010

TAHAPAN TAHAPAN MEMBANGUN PERADABAN

"Perubahan" (bahasa arabnya "Taghyir")  adalah kata yang harus tetap kita pegang dalam hidup di dunia ini. Islam mengajarkan kepada kita bahwa hari ini harus lebih baik daripada kemarin, dan hari esok harus lebih baik dari hari sekarang. Suatu perkataan dinamis (bergerak) menuju ke arah yang lebih baik, yang berarti pula adalah bahwa kita itu harus berubah tiap hari (dinamis).
Dunia ini memang sangat dinamis, dan memang manusia harus menyadari  bahwa perubahan itu memang perlu, karena kita memang hidup di dunia yang bergerak. Tetapi bangsa kita termasuk bangsa yang statis, yang mempunyai respond terhadap perubahan sangatlah rendah. Coba kita bayangkan betapa nenek moyang kita adalah  nenek moyang yang statis, yang menikmati penjajahan selama ratusan tahun. Menikmati penderitaan begitu nyenyaknya. Tanpa usaha dan upaya untuk melepaskannya. Kaum mayoritas menikmati penderitaan dan penderitaan  selama beberapa keturunan. Dan jika ada orang yang mengingatkan, ada orang yang mencoba membangkitkan potensi-potensi diri selalu dicibir, didukung adalah hal yang mustahil, padahal dijangka panjang sangat menjanjikan. Mereka selalu berdalih tidak sesuai dengan budaya bangsa, budaya bangsa budak yang dijajah ratusan tahun, yaitu jumud, taklid, tidak berilmu, pasrah terhadap keadaan, menunggu takdir yang lewat siapa tahu lagi hooki.
Konon bangsa ini menyadari bahwa arah kiblat itu keliru sudah hampir seratus tahun disadari, padahal 100 tahun yang lalu sudah ada orang yang mengingatkannya. Suatu perjalanan yang sia-sia selama seratus tahun, dan anehnya ini didukung oleh mayoritas umat. Kebodohan dipegang dengan erat selama  ratusan tahun.
Mengikuti generasi lama adalah kesia-siaan dalam hidup, mengubah bahwa pandangan yang salahpun perlu energi yang sangat banyak, karena kita akan melawan mayoritas umat dan juga mayoritas ulama tradisi., yang sangat menikmati perannya sebagai tokoh pembodohan, yang tidak disadarinya. Generasi lama harus kita biarkan saja menikmati pembodohannya, tetapi bagaimana generasi mendatang bisa terlepas dari pembodohan yang akut tersebut.
Perubahan, perbaikan, pembangunan suatu kata-kata dinamis yang harus kita dengung-dengungkan, karena kata-kata tersebut seolah membawa semangat kepada diri kita dalam upayanya mencapai kehidupan yang lebih baik.
Untuk mencapai perubahan-perubahan tersebut, setidaknya kita harus ada perbandingan. Suatu bentuk perbandingan peran-peran dalam kehidupan. Berarti kita harus ada suatu media yang dapat menampung perbandingan-prrbandingan tersebut. Buku adalah tempat dimana perbandingan-perbandingan itu ditulis.




(lanjut......

Rabu, 18 Agustus 2010

PERADABAN SUNDA MASA DEPAN

Adalah hal yang sangat menarik apabila mengkaji peradaban sunda dalam kaitannya dengan agama yang dianut mayoritas umatnya, yaitu Islam. Masyarakat Sunda adalah masyarakat terakhir di pulau Jawa yang menganut agama Islam. Tetapi yang lebih menarik adalah penerimaan Islam yang relatif agak rasional, tidak kebanyakan masyarakat jawa yang cenderung sinkretis (campur aduk).
Penerimaan Islam yang agak rasional dimungkinkan tataran sunda akan menjadi yang pertama  dalam membangun peradaban Islam yang modern. Yang terbebas dari budaya taklid, bid'ah dan berorientasi kebelakang serta tahayulisme.
Ada beberapa faktor yang menjadi pertimbangan mengapa masyarakat Sunda akan menjadi yang terdepan dalam menata peradaban Islam yang lebih modern di Indonesia. Karena alasan sebagai berikut:
  • Yang pertama adalah corak Islam Sunda yang cenderung sintesis (memperpadukan) bukan sinkretis ( mencampuradaukan) seperti masyarakat jawa kebanyakan. Maka mengapa Islam corak persis atau Muhammadiyah lebih dominan di daerah ini. Hal ini mengindikasikan salah satunya.
  • Disamping itu dari segi sejarah dan tata bahasa juga mencerminkan hal seperti itu. Nama Sunda misalnya berarti Suci, bersih, puritan. Dulu nama sunda ini diproklamirkan oleh Maharaja Purnawarman, raja Tarumanagara  untuk menamai ibukota kerajaan barunya, Sundapura. Purnawarman seolah ingin memberikan pegangan kepada generasi berukutnya tentang nilai-nilai kemurnian dan kesucian nilai-nilai agama, dan hanya dengan kmeurnian dan kesucian itu nilai nilai Sunda akan membahana. Kemurnian dan kesucian merupakan ciri dan nilai yang mau dibangun oleh para pendiri Sunda. Maka ketika Islam telah menjadi pegangan hidupnya, maka  masyarakat Sunda akan cenderung lebih ke sifat awalnya, mensucikan agamannya dan kembali kepada kemurnian agamanya.
Masyarakat Islam yang sejati adalah masyarakat Islam yang mencerahkan, masyarakata Islam yang mencintai dan menghormati kemajuan. Jika tidak memimpin zamanpunberarti tidak ketinggalan zaman. Meskipun sekarang masih dalam tahap mengikuti zaman, tetapi upaya-upaya menuju kemajuan dan kemodernan harus tetap diupayakan.
Demikian tulisan ini adalah awal dari pemikiran besar, menggali potensi untuk membangun peradaban Sunda ke depan, yang islami. Dengan memaksimalkan potensi yang dimiliki, alangkah terbukanya masa depan yang cerah, yang akan menjadi cita-cita bersama.

Selasa, 10 Agustus 2010

MENGENAL KERAJAAN SUNDA HINGGA ABAD KE-16

    Kerajaan Sunda adalah suatu kerajaan yang berkuasa ditatar sunda sekarang. Naskah wangsakerta mengungkapkan bahwa kerajaan Sunda merupakan kelajutan dari kerajaan Tarumanagara, yang didirikan tahun 561 caka sunda (669 M) oleh Tarusbawa.
     Raja terakhir Tarumanagara, Sri Maharaja Linggawarman yang berkuasa dari tahun 666 M s/d 669 M ( 3 tahun),  tidak mempunyai anak laki-laki. Ia memiliki 2 orang putri. Putrinya yang tertua Dewi Manasih menikah dengan Tarsubawa, sedang putri yang lainnya, Sobakancana, menikah dengan Depuntahyang Srijanayasa, pendiri kerjaan Sriwijaya.
      Setelah Linggawarman meninggal, kekuasaan Tarumanagara jatuh ke tangan menantunya, Tarusbawa, dari Sunda sambawa. Karena Tarumanagara sedang dalam kemunduran, maka  Tarusbawa kemudian memindahkan ibukotanya ke Sundapura, sehingga kemudian kerajaan Tarumanagara berikutnya lebih dikenal dengan kerajaan Sunda.

Luas Wilayah
Menurut naskah wangsakerta kerajaan Sunda merupakan pengganti dari kerajaan Tarumanagara, sehingga seluruh bekas Taramanagara merupakan wilayah kerajaan Sunda. Sejak zaman Sanjaya (mp. 723-732 M) hingga Sribaduga Maharaja meliputi: seluruh Jawa barat sekarang, DKI, Banten, Jawa tengah bagian barat ( daerah Banyumas, Brebes, Purwekerto, Cilacap), dan lampung. Jadi wilayah Sunda dari ujung kulon  dari barat hingga sungai serayu dan sungai cipamali (kali brebes)  di timur.
Tentang perbatasan di wilayah timur, diceritakan dalam tulisan Bujangga Manik atau Prabu Jaya Pakuan, seorang pendeta hindu dari Sunda yang melakukan perjalanan  ke Jawa dan Bali  untuk mengunjungi tempat-tempat  suci agama hindu, pada awal abad 16 masehi. Tulisan Bujangga Manik sekarang masih ada dan tersimpan di Perpustakaan Boedlian, Oxford University, Inggris sejak tahun 1627 M.

Daerah Kekuasaan
Kemaharajaan Sunda merupakan negara gabungan (dalam istilah sekarang negara federal) dari kerajaan-kerajaan daerah yang independen (bersifat otonom). Kerajaan daerah mempunyai struktur tersendiri yang otonom, dan gelar raja hampir sama dengan penguasa pusat. Tidak ada perbedaan yang mencolok antara daerah dengan pusat dalam gelar raja (sama-sama bergelar Prabu), tetapi pusat kadang ditambahkan dengan gelaran sri baduga maharaja.
Diantara kerajaan-kerajaan daearh kekukasaan kemaharajaan Sunda, antara lain:
  • Cirebon Larang
  • Cirebon Girang
  • Sindang Barang
  • Sukapura (Galunggung)
  • Kidanglamatan
  • Galuh
  • Astuna Tajeknasing
  • Sumedang  Larang
  • Ujung Muhara
  • Ajong kiul
  • Kamuning Gading
  • Pancakaki
  • Tanjung Singguru
  • Nusakalapa
  • Banten Girang Ujung kulon
  • Panjalu.
  • Talaga
Ibukota
Ibukota atau dalam istilah sundanya 'dayeuh' , orang portugis menebutnya Dayo. Para peneliti sejarah Sunda menetapkan bahwa ibukota kerajaan Sunda ada 4 kawasan, yaitu Sundapura (parahyangan Sunda), Galuh, Kawali dan Pakuan Pajajaran. Disamping itu ada juga ang mengatakan bahwa Saunggalah pernah menjadi pusat kekuasaan, terutama di era Prabu Darmasiksa dan anaknya Prabu Ragasuci.

Sundapura (Parahyangan Sunda),
Sundapura atau parahyangan sunda adalah ibukota awal dari kerajaan Sunda di era pendirinya, Prau Tarusbawa dan Sanjaya.

Galuh
Galuh (sekarang ada diwilayah Camis) berasal  dari bahasa sangsekerta yang berarti batu permata. Pada awalnya galuh merupakan ibukota kerajaan Kendan di era Tarumanagara, yang didirikan oleh Wretikandayun. Tetapi kemudian terkenal sebagai ibukota kerajaan yang merdeka ketika Tarumanagara berada dalam kemundurannya, dan dialihkan ke Sundapura oleh Tarusbawa. Sanjaya dari Sunda berhasil mempersatuakn Galuh kepada Sunda, sehingga Kerajaan Galuh dan Sunda menjadi satu Sunda Galuh atau Sunda saja.
Galuh menjadi ibukota Sunda ketika masa pemerintahan Prabu Sanghiyang Ageung (mp. 1019-1030 M). Masa pemerintahan di Galuh berakhir kira-kira tahun 1333 M, ketika Raja Adiguna Linggawisesa atau Sang Dumahing Kending (mp. 1333-1340 M) mulai bertahta di Kawali (sekarang masih dia daerah Ciamis), sedangkan kakaknya Prabu Citraganda atau Sang Dumahing Tanjung bertahta di Pakuan Pajajaran.

Kawali 
Dari tahun 1333 M sampai tahun 1482 M, pusat pemerintahan Sunda berkedudukan di Kawali. Karena itu periode itu disebut zaman kawali dalam peradaban Sunda danmengenal 5 raja. Lain dengan Galuh, nama Kawali terabadikan dalam 2 prasasti  batu peninggalan  Prabu Wastukencana ang tersimpan di Astana Gede Kawali. Dalam prasasti itu ditegaskan " Mangadeg di Kuta Kawali" (bertahta di kota Kawali) dan keratonnya di sebut Surawisesa, yang dijelaskan  sebagai "Dalem sipawindu hurip" (keraton yang  memberikan ketenangan hidup).
Diantara raja-raja yang beribukota di Kawali adalah: Prabu Linggadewata (mp. 1311-1333 M), Prabu Ajigunawisesa (1333-1340 M) dan Parbu wastukancana.

Saunggalah
Saunggalah (di wilayah Kuningan sekarang), pernah menjadi ibukota kerajaan Sunda  ketika masa awal  pemerintahan Prabu Guru Darmasiksa, selama 12 tahun, dan ia kemudian memindahkan kekuasaannya ke Pakuan. Pusat pemerintahan di Saunggalah kemudian diteruskan oleh putranya Prabu Ragasuci, yang kemudian memerintah di tanah sunda (1297-1303 M)

Pakuan Pajajaran
Ibukota terakhir kerajaan Sunda adalah Pakuan atau lengkapnya Pakuan Pajajaran. Pakuan menjadi pusat kerajaan  masa pemerintahan Sribaduga maharaja hingga kejatuhannya dimasa cicitnya.
Pakuan terkenal memiliki pertahanan yang sangat kuat, baik secara alami maupun kokohnya  benteng pertahanan.  Kokohnya benteng pertahanan ini pada awalnya merupakan jasa daripada Prabu hariang Banga pada tahun 739 M, ang waktu itu berada dalam pengaruh Sang Manarah (Ciung Wanara) ang berkuasa di keraton Galuh. Kemudian benteng ini diperkuat di era Maharaja Sribaduga Maharaja Jayadewata.
Dalam laporan Tome Peres (1513 M) disebutkan bahwa letak ibukota kerajaan Sunda , yang ia katakan sebagai dayo (dayeuh)  terletak didaerah pegunungan 2 hari perjalanan dari  pelabuhan Kalapa (jakarta sekarang) dimuara sungai Ciliwung.


Pelabuhan
Kerajaan sunda memiliki beberapa daera-daerah pelabuhan  yang dikuasai oleh Sahbandar, haiu Bantam (banten), Puntang (Pontang).............

    (lanjut...........)

    Kamis, 05 Agustus 2010

    MENGENAL KERAJAAN YANG PERNAH BERKUASA DI TANAH SUNDA

    Buku-buku pelajaran  yang dipelajari  di sekolah-sekolah  sangat jarang menceritakan tentang sejarah peradaban sunda, termasuk di tataran sunda sendiri, padahal bukti-bukti sejarah cukup memadai. Meskipun tidak pernah diajarkan di sekolah-sekolah, sejarah tetap sejarah, dan sejarah adalah realitas yang memang telah terlewati. Sejarah yang diajarkan di sekolah-sekolah adalah sejarah rekayasa dan sejarah dominasi., atau kalau menurut salah seorang sejarawan, dikatakan sejarah kekuasaan Jadi bagaimana kesejarahan dibuat supaya dapat  mempertahankan kekuasaan, atau mendominasi yang lainnya, sehingga disini akan terlihat suku bangsa yang superior dan inferior.
    Sunda klasik adalah sejarah yang mengagumkan, karena dalam ratusan tahun bisa bertahan dalam kestabilan sistem yang dibuatnya. Karena itu dalam tulisan ini mencoba untuk mengenal peradaban sunda, yang  tidak berdasar buku-buku sekolah yang banyak direkayasa, tetapi berdasar pada sumber yang lebih tua, dan buku atau kitab-kitabnya hingga sekarang masih ada. Setidaknya ada beberapa kisah atau naskah yang ditulisan ratusan tahun, yang ada hingga kini, yang banyak membicarakan dominasi peradaban sunda klasik, yaitu: Naskah Carita parahiyangan yang ditulis pada abad ke 16 M, Naskah Bujangga Manik yang ditulis sekitar abad ke-15 M, dan Naskah Wangsakerta yang ditulis pada abad ke18 M.
    Dari naskah tersebut, terutama dari naskah wangsakerta, dibicarakan bahwa kerajaan-kerajaan yang pernah berkuasa di tanah Sunda adalah:

    1. Kerajaan Salakanagara
    Keberadaan tentang kerajaan Salakanagara ini diungkapkan dalam naskah wangsakerta, dalam buku Pustaka Rajya Rajya I Bumi Nusantara. Dikatakan bahwa kerajaan Salakanagara merupakan kerajaan tertua di Nusantara, yang berkuasa  dari tahun 130 Masehi sampai dengan tahun 358 Masehi.
    Kerajaan Salakanagara ini berada di teluk lada, Pandeglang, Banten sekarang. Ibukota kerajaan Salakanagara bernama Rajatapura (kota perak), Menurut naskah wangsakerta, Rajatapura, sebagai kota paling tua di pulau jawa, yang hingga tahun 362 masehi menjadi pusat pemerintahan raja-raja Dewawarman (dari Dewawarman I hingga Dewawarman 8).
    Tokoh awal yang berkuasa  disini adalah Sang Aki Tirem, sedang yang dianggap raja pertama dari kerajaan Salakanagara adalah menantunya yang bernama Dewawarman, dan bergelar Prabu Darmaloka Dewawarman haji rakja gpura sagara, yang memerintah hingga tahun 168 masehi.
    Ada dugaan kota Argyre yang ditemukan oleh Claudius Ptolomeus tahun 150 M, yaitu kota perak atau salakanagara. Salakanagara yang berada di teluk lada Pandeglang sekarang. Ada kemiripan nama kota Pandeglang sekarang dengan sejarahnya masa lampau, yang disebut kota perak. Pandeglang sendiri berasal dari kata pande (orang yang pandai membuat peralatan dari logam emas, perak, besi dan lain-lain), dan geulang (perhiasan yang melingkar di tangan, biasanya terbuat dari emas atau perak).
    Dan ada cacatan dari  Cina dari dinasti Han,  bahwa raja-raja Tiao -Pien (Tiao= dewa, Pien= warman) dari yehtiao atau jawa  mengirim utusan / duta ke cina pada tahun 132 M, Raja-raja Tiao-pien itu maksudnya adalah raja-raja dewawarman.

    2. Kerajaan Tarumanagara
    Kerajaan Tarumanagara keberadaannya selain diungkapkan dalam naskah wangsakerta, tetapi juga meninggalkan jejak banyak  prasasti, sehingga hingga kini kerajaan Tarumanagara dianggap merupakan kerajaan tertua di Jawa. Keberadaan kerjaan Tarumanagara diperkirakan berkuasa di tanah sunda dari tahun 358 hingga 669 M.
    Setidaknya ada 7 prasasti peninggalan dari kerajaan Tarumanagara, yaitu: prasasti tugu, yang ditemukan  di desa Tugu Jakarta; Prasasti Ciaruteun, di ciampea Bogor;  Prasasti Ciawi atau terkenal juga dengan nama prasasti Ciampea; Prasasti kebon kopi di Ciampea Bogor; Prasasti Cidanghiyang atau dikenal juga dengan nama prasasti Munjul, yang ditemukan di sungai Cidanghiyang; Prasasti Muara Cianteun atau disebut juga dengan prasasti pasir muara.
    Disamping itu keberadaan Tarumanagara  masih didukung oleh kabar dari negeri Cina, yaitu: Berita dari Fa-hsien pada tahun 414 M, seorang pendeta budha China dalam bukunya yang berjudul Fa Kao Chi; sekitar tahun 528 dan 538 M  dari dinasti Sui dan dari dinasti Tang sekitar tahun 666 dan 669 M ada utusan dari Tolomo, yang dimaksud adalah Taruma.

    3. Kerajaan Galuh
    Kerajaan Galuh banyak diceritakan dalam naskah wangsakerta, bahkan sejarah tentang kekuasaan galuh diceritakan dengan lebih lengkap dalam naskah Carita Parahiyangan yang ditulis akhir abad ke-16 M. Dalam perkembangannya sejarah galuh selalu dikaitkan dengan kerajaan Sunda, bahkan dikatakan sebagai kerajaan Kembar. Karena kekuasaan Sunda dan Galuh menjadi terpusat dalam satu kekuasaan, meskipun masing-masing tetap mempertahankan independensinya.

    4.Kerajaan Sunda
    Kerajaan Sunda juga banka dibicarakan dalam naskah Wangsakerta dan juga Carita Parahiangan. Disamping itu ada juga naskah  yang ditulis oleh Bujangga Manik yang ditulis pada abad ke 15 M, yang naskahnya ada hingga sekarang. Disamping itu banyak prasasti yang ditulis pada masa kerajaan Sunda tersebut. Diantaranya prasasti Jayabhupati yang ditemukan di Sukabumi, dan prasasti Batutulis yang ditemukan di Bogor, disamping itu ada prasasti yang ditemukan di Kawali Ciamis.
    Tidak hanya itu, kerajaan Sunda pernah juga mengadakan perjanjian dengan Portugis, hal tersebut diungkap secara gamblang dalam tulisan Tome Pires. Meskipun sejarah begitu lengkap, sejarah sunda tetap tidak mendapat tempat pembahasan dalam sejarah nasional indonesia yang diajarkan di sekolah-sekolah. Dan termasuk di tatar sunda sendiri.

    (.....lanjut)
    (Sumber: dari berbagai sumber di internet)

    Rabu, 04 Agustus 2010

    PENGANTAR

    Segala puji bagi Allah, tuhan semesta alam, tiada sekutu baginya, dan hanyalah kepadanya kita mengabdi. Alhamdulillah "Sunda siabah blog's" hari ini mulai aktif. Blog ini bertujuan untuk ikut serta dalam membangun peradaban sunda ke depan.

    Untuk membangun peradaban sunda ke depan yang kokoh, setidaknya kita harus menengok ke belakang, melihat dan menganalisis sejarah peradaban masa lampau yang pernah nenek moyang alami. Hal ini dimaksudkan untuk mencari fundamen peradaban ke depan, dan juga untuk mencari titik awal  untuk beranjak dalam membangun peradaban sunda ke depan.

    Ada ungkapan dari Prabu Darmasika, yang berbunyi:" Hana nguni hana mangke tan hana nguni tan hana mangke, aya ma baheula aya tu ayeuna hanteu ma baheula hanteu tu ayeuna, hana tunggak hana watang tan hana tunggak tan hana watang, hana ma tunggulna tantu aya catangnya". (dari Amanat Galunggung)
    Perkataan tersebut diatas, intinya berarti:"....tiada masa kini tanpa masa dahulu, masa kini adalah peninggalan masa lalu ....(www.akibalangantrang.com).

    Tulisan ini merupakan upaya penulis untuk ikut serta dalam membangun wacana untuk meraih peradaban sunda masa depan. Dengan belajar dari peradaban sunda masa lampau, maka akan dibangun fundamen peradaban masa depan sunda yang cemerlang. Peradaban Sunda yang dibangun dengan fundamen peradaban Islam, sehingga peradaban sunda ke depan adalah leader peradaban Islam di wilayah tataran melayu dan nusantara.
    Segala cita-cita dan usaha, kita usahakan semaksimal mungkin, tetapi hanya pembacalah yang dapat menilai segala hal tersebut. Demikian blog ini dibuat, terimakasih.............