Selasa, 09 Agustus 2011

KERAJAAN GALUH


Galuh merupakan salah satu kerajaan otonom di kemaharajaan  Sunda,  yang wilayah kekuasaanya disebelah timur sungai Citarum, dan sebelah barat sungai cipamali (Kali Brebes sekarang).
       
Kata galuh berasal dari kata sangsekerta, yang berarti batu permata. Dengan demikian, keraajaan Galuh  artinya kerajaan batu permata yang indah gemerlapan.
      
Kerajaan Galuh  merupakan kelanjutan dari kerajaan Kendan di era Tarumanagara. Kerajaan Galuh  ini didirikan  oleh Wretikandayun, putra bungsu dari Sang Kandiawan yang berkuasa di Kendan selama 15 tahun (597-612 M). Karena ia  berkedudukan  di Medang Jati, sehingga Sang Kandiawan kemudian terkenal dengan nama Rahiyangta ri Medang Jati.
      
Sejarah mengenai Galuh ini terdapat dalam suatu naskah kuno berbahasa Sunda yang ditulis  pada awal abad ke-16 M, ”Carita Parahiyangan”,. Dalam naskah ini  diceritakan mengenai kerajaan Galuh yang dimulai oleh Rahiyangta  ri Medang Jati yang  menjadi resi  selama 15 tahun. Selanjutnya kekuasaan diteruskan oleh anaknya, Wretikandayun, yang kemudian dianggap sebagai pendiri cikal bakal kerajaan  atau istana Galuh. Dan sejarah Galuh ini juga diceritakan dalam naskah Wangsakerta yang ditulis pada abad ke-17 M.


A. Penguasa (raja raja) Galuh
      Raja-raja yang pernah berkuasa di kerjaan Galuh adalah:

  • Wretikandayun (670-702 M)
  • Rahyang Mandi minyak (702-709 M)
  • Rahyang Baratasenawa (709-716 M)
  • Rahyang Purbasora (716-723 M)
  • Sanjaya Harisdarma (723-724 M)
  • Adimulya Premanadikusuma (724-725 M)
  • Tamperan Barmawijaya (725-739 M)
  • Manarah (Ciung Wanara) (739-783 M)
  • Guruminda sang Minisri (783-799 M)
  • Prabu Kretayasa Dewakusalesywara Sang Triwulan  (799806 M)
  • Sang Welengan (806-813 M)
  • Prabu Linggbumi (813-852 M)
  • Prabu Gajah Kulon Rakeyan Wuwus (819-891 M)
      
Setelah Prabu Lingga Bumi  (813-852 M) atau mulai dari  Prabu Gajah    Kulon Rakeyan Wuwus (819-891 M), hingga Prabu Niskala wastukancana penguasa selanjutnya dipegang sama dengan penguasa-penguasa Sunda, sehingga kerajaan ini dikenal dengan nama Sunda Galuh atau Galuh pakuan. 
      
Setelah Wastukancana meninggal, kerajaan dibagi 2 untuk pemerintahan anak-anaknya. Disebelah barat sungai Citarum dengan pusat pemerintahan di Pakuan dipimpin oleh Susuk Tunggal, sedang Prabu Dewa Niskala berkuasa di Kawali (Galuh) sebelah timur sungai Citarum. Tetapi kemudian disatukan lagi oleh cucunya, Sri Baduga Maharaja Jayadewata, yang kemudian dalam sejarah  dikenal sebagai era Pakuan Pajajaran.

B. Profile Penguasa Galuh

1. Wretikandayun (670-702 M)
Wretikandayun atau Sang Wretikandayun berkuasa di Galuh pada tahun 534-592 Saka atau tahun 612-670 M  atau 58 tahun sebagai Raja kendan, dan merupakan bagiaan dari kerajaan Tarumanagara. Dan ia menjadi Raja Galuh yang merdeka pada tahun 592-624 Sakala  atau tahun 670-702 Masehi, selama 32 tahun.

2. Rahyang Mandi Minyak (702-709 M)
Sang Mandiminyak  atau PrabuMandiminyak menjadi raja Galuh menggantikan ayahnya, Wretikandayun. Dan ia berkuasa   selama 7 tahun dari tahun 624-631 Saka atau 702-709 Masehi. 

Mandiminyak merupakan putra bungsu dari Wretikandayun. Ia merupakan putra ke-3 Wretikandayun. kakaknya bernama Sempak Waja, ia tidak menjadi raja karena ompong, dan kakaknya kedua, bernama Jantaka tidak bisa  menjadi raja karena kemir atau burut. 
  • Rahyang Baratasenawa (709-716 M)
  • Rahyang Purbasora (716-723 M)
  • Sanjaya Harisdarma (723-724 M)
  • Adimulya Premanadikusuma (724-725 M)
  • Tamperan Barmawijaya (725-739 M)
  • Manarah (Ciung Wanara) (739-783 M)
  • Guruminda sang Minisri (783-799 M)
  • Prabu Kretayasa Dewakusalesywara Sang Triwulan  (799806 M)
  • Sang Welengan (806-813 M)
  • Prabu Linggbumi (813-852 M)
  • Prabu Gajah Kulon Rakeyan Wuwus (819-891 M)

      

(Sumber: dari berbagai sumber)
Drs. Atja, Tokoh tokoh Galuh Menurut Wangsakerta, Harian Pikiran rakyat, 17 Mei 1990.

SUMEDANG LARANG ERA ISLAM


       Kerajaan Sumedang Larang adalah salah satu dari kerajaan Sunda  yang berdiri pada abad ke 12 M. Pada awalnya kerajaan ini merupakan kerajaan Hindu  tetapi kemudian menjadi kerajaan Islam pada abad ke-15 M.
     Kerajaan ini memegang peranan penting, sebagai penerus kerajaan Sunda (yang waktu itu lebih dikenal dengan nama kerajaan Pajajaran), karena setelah direbutnya ibukota Pakuan Pajajaran, Sumedang larang dianggap sebagai penerus kerajaan sunda tersebut. Sejak itu Sumedang larang disamping dianggap sebagai penerus Pajajaran, yang memiliki otoritas  yang luas untuk menentukan nasibnya sendiri..

Asal Usul
      Kerajaan Sumedang larang didirikan oleh Prabu Aji Putih atas perintah Prabu Suryadewatya sebelum keraton Galuh di pindahkan ke Pakuan (Bogor sekarang).  Seiring dengan perubahan zaman dan kepemimpinan, nama Sumedang Larang  mengalami beberapa kali perubahan. Pada awal berdirinya sumedang larang bernama Kerajaan Tembong Agung, yang dipinpi oleh Prabu Aji Putih dengan ibukota di Leuwi Hideung (sekarang berada di kecamatan Darmaraja). Tembong Agung berarti Kelihatan besar / luhur (tembong berarti kelihatan, sedang agung berarti besar dan luhur).
      Pada zaman Prabu tajimalela namanya kemudian diganti menjadi Himbar Buana, yang berarti menerangi alam. Prabu Tajimalela pernah berkata Insun medal insun madangan.” (artinya: Saya dilahirkan saya menerangi) dari perkataan Tajimalela inilah kemudian nama Sumedang Larang diambil. Dengan demikian kata Sumedang berasal dari kata insun madangan yang disingkat Sumedang, yang  berarti saya menerangi, dan ada juga yang menulis berasal dari kata insun medal yang mengalami perubahan pengucapan. Sedang kata Larang berarti sesuatu yang tidak ada tandingannya.
     Transisi kerajaan Sumedang larang dari kerajaan Hindu (sunda Wiwitan) ke dalam Islam, dimulai sejak masa pemerintahan Ratu pucuk Umun. Ratu Pucuk umun yang merupakan ketrurunan dari rajaraja kuno dari Sumedang menikah dengan Pangeran Santri. Dan pada masanyalah Sumedang larang mengalami islamisasi yang menyeluruh. Hal ini dilanjutkan oleh anaknya, Prabu geusan Ulun, yang  kemudian menjadi pewaris mahkota raja Pajajaran, sehingga ia kemudian dianggap sebagai penerus penguasa Pajajaran.


RATU PUCUK UMUN  (1530-1578 M),
         Ratu Pucuk umun atau ratu Inten Dewata  merupakan Raja (ratu) Sumedang Larang yang pertama kali masuk Islam. Ia naik tahta Sumedang Larang menggantikan ibunya, Nyi Mas Ratu Patuakan.  Ia merupakan  seorang keturunan rajaraja sumedang kuno, yang kemudian masuk Islam, dan berkuasa bersama suaminya, Pangeran Santri memerintah Sumedang Larang.  Pada masanya ibukota  kerajaan Sumedang Larang dipindahkan dari Ciguling ke Kuatamaya.
      Pada pertengahan abad ke-16 M, mulailah corak agama Islam mewarnai perkembangan Sumedang Larang. Ia sendiri kemudian masuk Islam dan menikah dengan Pangeran Kusumahdinata (1505-1579 M), yang terkenal dengan nama Pangeran santri, atau  Ki Gedeng Sumedang. Pangeran santri yang memerintah Sumedang bersama istrinya, sambil menyebarkan islam ke seluruh wilayah kerajaan.
    Pangeran Santri adalah putra dari pangeran Palakaran (Pangeran Pamalekaran / dipati tetarung), putra arya dammar (sultan Palembang). Ibunya  Ratu Martasari (Nyi Mas ranggawuluung), anak  Syekh Maulana Abdurrahman (Sunan Panjuman) serta  cicit dari Syekh Datuk Kahfi, seorang ulama  keturunan Arab Hdramaut, yang berasal dari Mekah dan menyebarkan Islam di berbagai penjuru kerajaan Sunda.
     Pangeran Kusumah dinata terkenal dengan nama Pangeran santri karena  asalnya dari pesantren dan pewrilakunya yang sangat alim. Dengan pernikahannya tersebut, berakhirlah  masa kerajaan Hindu di Sumedang Larang. Dan sejak itu menyebarlah Islam di seluruh penjuru Sumedang larang.
     Dari hasil pernikahan antara Pucuk Umun dan Pangeran santri melahirkan 6 orang putra,yaitu
  1. Pangeran Angkawijaya, yang kemudian dikenal dengan nama Prabu Geusan ulun, yang menggatikan menjadi raja Sumedang Larang. Ia merupakan  raja Sumedang Larang terbesar dan terakhir kerajaan Sumedang Larang.
  2. Kiai rangga Haji, yang mengalahkan Aria Kuda Panjalu dari Narimbang, suapaya memeluk Islam.
  3. Kiai Demang Watang di Walakung
  4. Santowaan  Wirakusumah yang keturunannya berada di pagaden dan Pamanukan Subang.
  5. Santowaan Cikeruh
  6. Santowaan Awi Luar.
     Ratu pucuk Umun  dimakamkan di Gunung Ciung Pasarean gede kota Sumedang.


PRABU GEUSAN ULUN (mp. 1579-1608 M).
       Pangeran Geusan Ulun menjadi raja Sumedang Larang menggatikan ayah dan ibunya, Pangeran Santri dan Ratu Pucuk Umun pada tahun 1579 M. Ia menetapkan Kutamaya sebagai ibukotanya.
     Pada masanya kerajaan Pajajaran Galuh Pakuan sedang dalam masa kehancurannya, yang diserang oleh Banten dibawah pimpinan Sultan Maulana Yusuf.  Dan pada tahun 1579 M (8 Mei 1579 M), ibukota Pajajaran, Pakuan, runtuh.
       Sebelum peristiwa jatuhnya Pakuan terjadi, Prabu Ragamulya Surya Kencana, Raja Pajajaran terakhir mengutus 4 orang kepercayaannya, yang dikenal dengan Kandaga Lante, yang terdiri dari: Sanghiyang Hawu (Jaya perkosa), Batara Adipati Wiradijaya (Nangganan), Sanghiyang Kondanghapa dan Batara Pencar Buang (Terong peot) dan  berhasil menyelamatkan atribut pakaian kebesaran maharaja Sunda, yang terdri dari: mahkota emas simbol kekuasaan raja Pakuan,  kalung bersusun 2 dan 3, serta perhiasan lainnya, seperti benten, siger, tampekan dan kilat bahu. Atribut-atribut  kebeesaaran tersebut kemudian diserahkan kepada raden Angkawijaya yang kemudian naik tahta Sumedang larang dengan gelar Prabu Geusan Ulun (mp. 1579-1601 M).
     Meskipun tempat penobatan raja, Palangka Sriman di Pakuan diboyong ke Banten oleh Maulana Yusuf, tetapi ia tidak bisa memboyong mahkota kebesaran Sunda. Sehingga Sumedang Larang lah yang tetap dianggap sebagai  penerus kemaharajan Sunda terakhir.
     Prabu Geusan Ulun adalah raja terbesar dan terakhir. Penerusnya, rangga Gempol I yang masih berdarah Cirebon kemudian bergabung dengan mataram, sehingga Sumedang Larang berubah statusnya dari kerajaan menjadi kabupatian.
    

Wilayah Kekuasaan
      Wilayah kekuasaan Sumedang Larang meliputi  Kuningan, Garut, Bandung, Tasik dan Suykabumi (wilayah Priangan). Kecuali Galuh (Ciamis). Pada masanya kerajaan Sumedang mengalami kemajuan yang pesat  dibidang sosial, budaya , agama, militer dan pemerintahan.
     Tetapi ketika dianggap sebagai penerus kekuasaan dari Pajajaran, luas wilayahnya semakin luas. Di barat  berbatasan dengan sungai Cisadane, di timur berbatasan dengan sungai Cipamali (brebes, purwekerto, cilacap, Banyumas), kecuali Cirebon dan jayakarta, batas utara laut Jawa dan selatannya samudra hindia.

Konflik Dengan Cirebon
     Dalam upayanya memperdalam agama Islam, Prabu Geusan Ulun pernah ke Demak, yang diikuti oleh 4 perwira utamanya yang disebut kandaga lante. Setelah dari Demak, ia mampir di Cirebon Disini ia bertemu dengan penguasa Cirebon, Panembahan Ratu.
      Prabu Geusan Ulun  terkenal mempunyai perilaku yang santun, disamping  sangat tampan, sehingga disenangi penduduk Cirebon, termasuk prameswari Panembahan Ratu, yang bernama Ratu Harisbaya. Sang ratu sangat tertarik dan jatuh cinta  pada Geusan Ulun, sehingga ketika rombongan  Prabu Geusan Ulun pulang ke Sumedang, ia dengan tanpa sepengetahuannya ikut rombongan. Karena mengancam akan bunuh diri, akhirnya ia di bawa pulang ke Sumedang.
     Karena kejadian ini Panembahan Ratu marah besar dan mengirim pasukan untuk  merebut kembali  ratu Harisbaya, sehingga terjadi perang antara Cirebon dan Sumedang.
     Dengan penengah sultan Agung dari Mataram yang meminta agar panembahan ratu menceraikan ratu Harisbaya, yang aslinya berasal dari Pajang-Demak yang dinikahkan oleh sultan Agung dengan Panembahan Ratu. Panembahan Ratu bersedia dengan syarat  menyerahkan wilayah  barat sungai Cilutung (sekarang Majalengka) untuk menjadi wilayah Cirebon.
     Karena peperangan itu pula ibukota Sumedang larang dipindahkan ke Gunung Rengganis, yang sekarang disebut dengan Dayeuh Luhur.

Prameswari dan Putra Putri Prabu Geusan Ulun
     Prabu  Geusan Ulun memiliki 3 orang istri, yang pertama Nyi Mas Cukang Gedeng Waru, putri Sunan Pada. Yang kedua adalah Ratu Harisbaya, yang berasal dari Pajang Demak, dan yang ketiga adalah Nyi Mas Pasarean. Dari ketiga istrinya tersebut, ia memiliki 15 orang anak, yaitu:
  1. Pangeran rangga Gede, yang merupakan cikal bakal bupati Sumedang.
  2. Raden  Aria Wiraraja
  3. Kiai Kadu rangga Gede
  4. Kiai rangga Patrakalasa di Cunduk kayu
  5. Raden Aria Rangga Pati di Haur koneng
  6. Raden Ngabehi Watang
  7. Nyi Mas Demang Cipaku
  8. Raden Ngabehi Martayudha di Ciawi
  9. Raden rangga Wiratama di Cibeureum
  10. Raden rangga Nitinagara di Pagaden dan Pamanukan
  11. Nyi Mas Rangga pamade
  12. Nyi Mas Dipati Ukur di Bandung
  13. Raden Suriadiwangsa, putra ratu Harisbaya dari panembahan Ratu
  14. Pangeran Tumenggung Tegal Kalong
  15. Raden kiai Demang Cipaku di dayeuh Luhur.

Akhir Kerajaan Sumedang Larang
      Prabu Geusan Ulun merupakan raja terakhir Sumedang larang, karena penguasa  selanjutnya memilih menjadi  bagian dari Mataram dan pangkat raja turun menjadi adipati (bupati) pada masa pemerintahan rangga Gempol I pada tahun 1620 M.

 (Sumber: dari berbagai sumber di internet)



Senin, 08 Agustus 2011

BAB II. KERAJAAN SALAKANAGARA


Pengantar

Kerajaan Salakanagara merupakan sebuah kerajaan awal di daerah Tatar Sunda,  yang berdiri antara abad 2 sampai dengan abad 4 Masehi. .Kerajaan ini dianggap yang pertama yang berdiri di nusantara. Dan kerajaan ini merupakan cikal bakal dari kerajaan Tarumanagara..

Tidak halnya seperti Tarumanagara yang banyak sekali meninggalkan jejak bukti, beupa ditemukannnya prasasti di berbagai tempat, di Tatar Sunda. Referensi yang menceritakan tentang keberadaan kerajaan Salakanagara adalah salah satu Kitab Naskah Wangsakerta yang bernama Pustaka Pararatwan i Bhumi Jawadwipa, Kitab ini disusun oleh satu tim di bawah pimpinan Pangeran Wangsakerta antara tahun 1677 - 1698 Masehi,.

Pangeran Wangsakerta adalah salah seorang dari tiga putra Panembahan Ratu Carbon dari istrinya yang berasal dari Mataram. Nama lain  Pangeran Wangsakerta adalah Panembahan Carbon Tohpati bergelar Abdul Kamil Mohammad Nasarudin.

Kitab Naskah Pustaka Pararatwan i Bhumi Jawadwipa  yang sudah ditemukan hingga saat ini terdiri dari empat buah, semuanya dari parwa pertama. Tiga naskah pertama (sarga 1-3) merupakan kisah atau uraian mengenai sejumlah negara yang perneh berperan terutama di Pulau Jawa, sedangkan sarga keempat merupakan naskah panyangkep (pelengkap) dan isinya berupa keterangan mengenai sumber-sumber yang digunakan untuk menyusun kisah itu.

Naskah Pustaka Pararatwan i Bhumi Jawadwipa ini ditulis dengan menggunakan aksara Jawa di pesisir barat (Cirebon) atau aksara Jawa yang mirip dengan yang disebut oleh Drewes (1969:3) quadrat script. Bahasa yang digunakan adalah bahasa Jawa kuna dan bahasa Jawa Cirebon. Tulisannya berbentuk prosa, campuran antara paparan dan kisah. Cara penyajiannya memiliki ciri-ciri karangan ilmiah, yakni berupa keterangan secara tersurat mengenai sumber karangan yang digunakan. Atau minimal memeberi informasi awal kepada generasi kita, untuk pengkajian sejarah dari sumber aslinya atau sumber primer. Tidak seperti sejarawan kebanyakan, kalau tidak sesuai dengan penulis sejarah penguasa, dianggap tidak valid atau diragukan. Keraguan itu awal dari kebenaran, jika kita mau mengkajinya. Bukan seperti sejarawan kebanyakan, banyak memvonis, tetapi tujuannya untuk melegitimasi pembenaran.

Harusnya cara berpikir kebanyaan penulis sejarah itu berhipotesa, dengan adanya kisah yang ditulis oleh Wangsakerta itu, menjadi awal pencarian yang serius. Kemungkinan ada sumber yang lebih tua, yang kita harus selidiki. Jangan hanya seperti kata si fulan dan si anu, yang tidak berkesudahan. Kesalahan dalam penulisan sejarah adalah halyang mungkin, tetapi tidak mungkin salah semua.Karena itu harusnya para sejarawan harus punya prinsip, dengan informasi yang sedikit, merupakan awal dari pencarian. Karena setidaknya, bahwa naskah naskah yang ditulis  dalam Naskah ini banyak kesesuian dengan prasasti prasasti yang ditemukan. Meskipun ada penyebutan jawa kulwon, jawa wetan atau jawa tengah mengindikasikan bahwa naskah ini ditulis relatif baru. Tetapi yang perlu diacungi jempol adalah info awal yang sangat bermamfaat. Karena kalau sebuah karangan biasa tidak mungkin bisa bercerita begitu detail, apalagi menyangkut sejarah.

Dalam Kitab ini juga disebutkan Daftar Pustaka dalam pengambilan naskah ini, berasal dari delapan kitab, yaitu:
  • Pustaka Nagara Nusāntara
  • Pararatwan Sundawamsatilaka
  • Serat Ghaluh i Bhumi Sagandhu
  • Pustaka Tarumarajyaparwa-warnana
  • Pustaka mengenai Warmanwamsatilaka i Bhumi Dwipāntara;
  • Pustaka Serat Raja-raja Jawadwipa
  • Serat Pûrnawarmanah Mahāprabhāwo Rājā i Tarumanagara;
  • Pustaka Sang Resi Ghuru. 



II.A. Pendahuluan

Kerajaan Salakanagara adalah kerajaan yang berada di tatar sunda, lokasinya berada di daerah Pandeglang Banten  sekarang, tepatmya di daerah Pulosari, letaknya diperkirakan di Pesisir Teluk Lada,.Sebelum menjadi wilayah salakanagara pada awalnya di perintah oleh penguasa setempat yang bernama Aki Tirem.

Keberadaan tentang kerajaan Salakanagara, diungkapkan dalam naskah Wangsakerta,dalam kitab Pustaka Pararatwan i Bhumi Jawadwipa. Kerajaan Salakanagara menurut naskah tersebut merupakan suatu kerajaan tertua di Nusantara (130-358 M).  Disamping itu ada sumber dari Cina yang mengungkap tentang keberadaan kerajaan ini.

Ibukota kerajann Salakanagara adalah Rajatapura. Rajatapura (kota perak) menurut naskah wangsakerta sebagai kota tertua  di Pulau Jawa, yang hingga tahun 362 M, menjadi pusat pemerintahan raja-raja Dewawarman (dari Dewawarman 1 sampai dengan 8). Konon kota inilah yang disebut Argyre oleh Ptolomeus dalam tahun 150 M.

Tarumanagara hingga saat ini dianggap merupakan suatu kerajaan tertua di Tatar Sunda- Jawa. Tetapi beberapa naskah kuno dan sebagian ahli sejarah menulis bahwa sebelum taramanagara di wilayah Tatar Sunda terdapat beberapa kerajaan, seperti Salakanagara, yang diungkap dalam naskah Wangsakerta tersebut, Holotan yang diidentifikasi sebagai Aruteun.

Tokoh awal yang berkuasa di sini adalah Aki Tirem. Sedang raja pertama kerajaan Salakanagara, yaitu Dewawarman, yang bergelar Prabu Darmalokapala  Dewawarman haji rakja gpura sagara, yang memerintah sampai tahun 168 M, merupakan menantu Aki Tirem.

Dalam naskah Wangsakerta, dengan mengutip dari Kitab Pustaka Nusāntara, bahwa sejak  awal abad pertama tahun Saka, telah terjadi kontak antara penduduk di Nusantara dengan pedagang pedagang yang datang dari India (Bhratanagari). Dan semakin lama semakin banyak yang datang ke negeri negeri Nusantara, karena berbagai hal, diantaranya: Jasa dan Perdagangan. Kontak perdagangan diyakini merupakan awal dari hubungan negeri negeri di Nusantara dengan India. Dorongan dakwah agama, Menghindarkan diri dari bahaya, karena negeri negerinya dikalahkan atau dikuasai oleh lawan lawan politiknya. Mengharapkan kesejahteraan yang lebih baik.

Dan arus kedatangan besar besaran terjadi, ketika negeri negeri mereka berasal, dikalahkan atau dikuasai oleh lawan lawan politiknya. Dan menurut naskah ini, kebanyakan yang datang ke negeri nusantara adalah wangsa Salankayana, dan wangsa Pallawa. Dua wangsa inilah,  yang sangat banyak datang di sini,

Seperti halnya yang dipimpin oleh Dewawarman 1. Ia berasal dari wangsa Palawa,. Ia berangkat dari tanah India dengan menaiki beberapa puluh perahu besar kecil untuk menuju Nusantara. Sang Dewawarman datang di sini dengan membawa banyak pengikut dan harta benda serta berbagai senjata yang disiapkan.

Mereka datang dengan tujuan berdagang dan menjual jasa dengan penduduk setempat. Mereka membawa barang dagangan berupa pakaian, berbagai perhiasan, emas, perak, permata, obat-obatan, dan berbagai barang lainnya. Barang-barang yang dibelinya di sini adalah rempah-rempah, hasil bumi, dan lain-lain. Di antara pendatang kemudian banyak yang bermukim dan memperistri penduduk setempat, serta tidak kembali ke negeri asalnya. Mereka hidup akrab dan bersaudara. 

Sang Dewawarman sudah bersahabat dengan penduduk daerah pesisir Tatar Sunda, Nusa Apuy, dan Pulau Sumatra bagian selatan. Sang Dewawarman bersahabat pula dengan penghulu penduduk setempat, akhirnya bermukim di sini dan lama kelamaan menjadi raja kecil di daerah pesisir bagian barat dari Tatar Sunda.

Setelah menikah dengan anak penguasa setempat, Aki Tirem, dan menjadi penggantinya dikemudian hari. Dewawarman kemudian  membangun dasar dasar kerajaan, yang kemudian menjelma menjadi kerajaan Salakanagara. Pada tahun 52 Saka (= 130 Masehi) Sang Dewawarman dinobatkan menjadi raja. Kerajaannya diberi nama Salakanagara, ibukotanya diberi nama Rajatapura.  

Selanjutnya diuraikan mengenai pendatang-pendatang baru dari Singhanagari, Salihwahananagari, dan Bhumi Ghaudi, dari Bharatawarsa (India). Mereka datang di Pulau Jawa pada awal tarikh Saka. Mereka datang dengan memakai perahu ke berbagai negeri di Nusantara. Dan kemudian berinteraksi dengan masyarakat pribumi.

II.A.1. Terminologi

Salakanagara, berasal dari kata Salaka dan nagara. Salaka berarti Perak, sedangkan nagara berarti kota atau negara itu sendiri. Salakanagara bisa diartikan  kota perak. Adanya kota ini juga disebutkan  juga Argyre oleh Ptolomeus, tahun 150 M. Lokasi ini diperkirakan berada di Teluk Lada  sekarang ini, di Kota pandeglang, suatu kota yang terkenal  akan kerajinan logamnya. Pandeglang sendiri berarti pande geulang (pande adalah pembuat kerajinan dari logam, sedang geulang berarti perhiasan yang melingkar di tangan/ gelang). Dan beberapa  orang memperkirakan nama Salakanagara  ada hubungannya  dengan lokasi sekitarnya, Gunung Salak.

Ada dugaan  kota Argyre yang ditemukan oleh Claudius Ptolomeus  tahun 150 M, yaitu kota Perak atau Salakanagara ini. Sedang dari berita Cina dari dinasti Han, ada catatan bahwa raja Tiao-Pien (Tiao = dewa, Pien = Warman), dari kerajan Yehtiao  atau Jawa mengirim utusan / duta  ke Cina pada tahun 132 M.

Dalam sejarah masyarakat Sunda, kota perak ini sebelumnya diperintah  oleh Aki Tirem atau lengkapnya Aki Tirem Sang Aki Luhur Mulya, yang mana kota ini bernama Pulasari. Aki Tirem menikahkan putrinya yang bernama Pohaci Larasati kepada Dewawarman. Dewawarman  adalah pangeran  yang berasal  dari Palawa di India kidul.

II.A.2. Luas Wilayah dan Kekuasaan

Daerah kekuasaan kerajaan Salakanagara meliputi seluruh pesisir selat Sunda, yaitu pesisir Pandeglang, Banten wetan, sampai  Agrabintapura (gunung padang, Cianjur), dan juga pulau-pulau di selat Sunda, seperti  Apuynusa / agnynusa (pulau api) yang berada di pulau krakatau dan pesisir selatan  Swarnabumi (Pulau Sumatra).

Sepanjang pantai Salakanagara dijaga pasukan Dewawarman termasuk pesisir di  Tatar Sunda, Nusamandala atau Pulau Sangiang, Nusa Api dan pesisir sumatra bagian selatan, bertujuan untuk menjaga  keamanan dari gangguan perompak dilautan. Sebagai imbalnny, para pelaut tersebut diwajibkan membayar upeti.

Sejak pra Aki Tirem  wilayah barat pulau jawa tak lekang dari gangguan  para perompak, bahkan keberadaan  Salakanagara tak lepas dari  perlunya penduduk kota perak  mempertahankan diri dari gangguan  para perompak. Disinilah sebenarnya  dewawarman I berkenalan  dengan masyarakat Jawadwipa  dan dari tema inilah kemudian masyarakat Tatar Sunda bersentuhan dengan kebudayaan India.

Konon, di era Salakanagara, pemberantasan perompak memang dianggap sulit bahkan , ketujuh putra Dewawarman terakhir terbunuh  dilaut ketika menghalau perompak. Karena alasan inilah kemudian Salakanagara mengadakan hubungan diplomatik dengan Cina dan juga India.

II. Sejarah Kerajaan  menurut Kitab  Pustaka Pararatwan i Bhumi Jawadwipa,

Menurut  kitab Pustaka Pararatwan i Bhumi Jawadwipa, diungkapkan bahwa di tatar Sunda Jawa sebelum abad 1 Masehi  sudah terdapat penghuninya dari suku lokal. Dan waktu itu sudah terdapat jalinan perdagangan antara suku lokal dengan pedagang pedagang dari India dan Cina. Pedagang pedagang India sudah datang ke negeri Nusantara, dan banyak juga yang menetap, Dan kedatangan orang orang India semakin banyak, ketika di India terjadi perang saudara, sehingga menimbulkan banyak pengungsia ke daerah daerah nusantara,

1. Migrasi wangsa Salankayana dan wangsa Pallawa di bumi Bharatanagari (India)
Dalam kitab Pustaka Pararatwan i Bhumi Jawadwipa,  diuraikan mengenai pendatang-pendatang baru dari Singhanagari, Salihwahananagari, dan Bhumi Ghaudi (Benggala), dari Bharatawarsa (India). Mereka datang di Pulau Jawa pada awal tarikh Saka. Mereka datang dengan memakai perahu.
Diungkapkan, mula mula mereka tiba di timur Pulau Jawa, kemudian ke Barat Pulau Jawa. Mereka datang dengan tujuan berdagang dan menjual jasa dengan penduduk setempat. Mereka membawa barang dagangan berupa pakaian, berbagai perhiasan, emas, perak, permata, obat-obatan, dan berbagai barang lainnya. Barang-barang yang dibelinya di sin adalah rempah-rempah, hasil bumi, dan lai-lain. Di antara pendatang kemudian banyak yang bermukim di sini dan memperistri penduduk setempat, serta tidak kembali ke negeri asalnya. Mereka hidup akrab dan bersaudara. Para pendatang dari Bharatanagari ini juga mengajarkan agama mereka kepada penduduk setempat.
Pendatang /dari tanah India tersebut memuja dewa trimurti di samping dewa-dewa lain. Penduduk setempat asalnya para pendatang juga, sejak dahulu mereka mengadakan pemujaan kepada nenek moyang. Tidak lama antaranya banyak pula penduduk yang memeluk agama baru, dan banyak pula para pendatang yang menikah dengan anak penghulu setempat. Para pendatang itu banyak yang berasal dari wangsa Salankayana dan wangsa Pallawa di bumi Bharatanagari.
Mereka datang menaiki beberapa puluh perahu yang dipimpin oleh Sang Dewawarman dari wangsa Pallawa. Sang Dewawarman sudah bersahabat dengan penduduk daerah pesisir Jawa Barat, Nusa Apuy, dan Pulau Sumatra bagian selatan. Sang Dewawarman bersahabat pula dengan penghulu penduduk setempat, akhirnya bermukim di sini dan lamakelamaan menjadi raja kecil di daerah pesisir bagian barat dari Tatar Sunda. Sang Dewawarman kemudian beristrikan anak penghulu penduduk wilayah desa, yang bernama Aki Tirem. Sang penghulu kemudian menganugerahkan pemerintahan wilayah desa kepada menantunya.
Pada tahun 52 Saka (= 130 Masehi) Sang Dewawarman dinobatkan menjadi raja. Kerajaannya diberi nama Salakanagara, ibukotanya diberi nama Rajatapura. Ia bergelar Sang Prabhu Dharmalokapala Dewawarma Haji Raksagapurasagara, dan menjadi raja sampai dengan tahun 90 Saka (= 168 Masehi).

2. Para Penguasa Kerajaan Salakanagara

Sebelum menjadi kerjaan, wilayah salakanagara pada awalnya di perintah oleh penguasa setempat yang bernama Aki Tirem.  Aki Tirem atau lengkapnya Aki Tirem Sang Aki Luhur Mulya,  berkuasa di suatu kota yang bernama Pulosari. Aki Tirem menikahkan putrinya yang bernama Pohaci Larasati  dengan Dewawarman,  pangeran  yang berasal  dari Palawa di India Timur, yang kemudian menggantikannya.

Setelah aki Tirem meninggal  pada tahun 130 M, kekuasaannya kemudian diteuskan oleh menantunya, Dewawarman I, yang dinobatkan sebagai raja pertama salakanagara.

a. Dewawarman 1 (mp. 52-90 Saka/130-168 M)

Dewawarman dianggap sebagai pendiri dan sekaligus menjadi raja pertama kerajaan Salakanagara, Ia berkuasa dari tahun 130-168 M, dengan gelar Prabu Darmaloka Pala Aji Raksa Gapura Sagara, atau terkenal dengan nama Dewawarman 1.

Pada awalnya ia merupakan duta keliling  kerajaaan Pallawa dari Bharata (India) di pulau Jawa. Ia kemudian menetap di Barat Pulau Jawa (sekitar Pandeglang) karena menikah dengan putri penguasa  setempat, Aki Tirem, yang bernama  Dewi Pwahaci Larasati.

Setelah aki Tirem meninggal  pada tahun 130 M,   ia kemudian menggantikannya, dan kemudian dinobatkan sebagai raja pertama Salakanagara dengan gelar Prabhu Dharmalokapala Dewawarman Haji Raksagapura Sagara, sedang Dewi Pohaci  di beri gelar Dwi Dwan Rahayu. Dan pada saat itu  juga diberlakukan penanggalan sunda yang kemudian dikenal dengan sebutan saka sunda. Ia juga mendirikan ibukota Rajatapura.

Dewawarman berkuasa selama 38 tahun, sejak dinobatkan pada tahun 52 saka (130 M) hingga 168 M. Selama masa pemerintahannya, ia mengutus adiknya yang merangkap menjadi senopati, bernama Bahadur Harigama untuk menjadi  raja daerah  di Mandala Ujung Kulon, sedangkan adiknya yang lain yaag bernama Sweta Liman sakti dijadikan raja daerah Tanjung Kidul dengan ibukota Agrabhitapura.

Dewawarman 1 berkuasa selama 38 tahun. Ia meninggal pada tahun 168 M, dan kemudian digantikan oleh anaknya Sang Prabhu Dhigwijayakasa Dewawarmanputra atau Dewawarman 2.

b. Dewawarman 2 (mp. 90 – 117 Saka / 168—195 M)

Raja kedua Salakanagara dari dinasti Dewawarman, dengan gelar Prabu Digwijayakasa Dewawarmanputra, yang menggatikan ayahnya, Dewawarman 1. Ia merupakan putra sulung dari Dewawarman 1 dengan Dewi Pohaci.

Dewawarman 2 berkuasa menjadi raja Salakanagara dari tahun 90 – 117 Saka  atau 168—195 Masehi. Ia beristrikan seorang putri dari keluarga Maharaja Singhalanagari. Dari pernikahannya ini lahir di antaranya seorang yuwaraja / penggantinya menjadi raja, yang bernama Prabhu Singhanagara Bhimayasawirya dan menjadi  Dewawarman 3. Menggantikan ayahnya menjadi raja yang meninggal tahun 117 Saka / 195 Masehi), 


c. Dewawarman 3  (mp. 195-238 M)

Raja ketiga dinasti Dewawarman,  Ia menggantikan ayahnya menjadi raja di Salakanagara pada tahun 117 Saka (= 195 Masehi), dengan gelar Prabhu Singhanagara Bhimayasawirya dan menjadi  Dewawarman III. 
Ia menjadi raja sampai dengan tahun 160 Saka (= 238 Masehi). Pada masa pemerintahannya Salakanagara diserang perompak, namun dapat dibinasakan olehnya. Dewawarman 3,  kemudian digantikan oleh menantunya ialah Sang Prabhu Dharmastyanagara yang menjadi Dewawarman IV. 

Ia memerintah pada tahun 160 – 174 Saka (= 238-252 Masehi). Dewawarman 4 digantikan oleh anak perempuannya , yaitu Rani Mahisasuramardini Warmandewi. Ia memerintah bersama suaminya, Sang Prabhu Amatyasarwajala Dharmasatyajaya Warunadewa. 



d. Dewawarman 4   (mp. 238-252 M)

Deawawrman 4 atau Sang Prabhu Amatyasarwajala Dharmasatyajaya Warunadewa menjadi raja ke-4 kerajaaan Salakanagara, dari  dinasti Dewawarman. Ia merupakan menantu Dewawarman 3, yang merupakan raja Ujung Kulon.
Sang Prabhu Dharmastyanagara yang menjadi Dewawarman 4. Ia memerintah pada tahun 160 – 174 Saka (= 238-252 Masehi). Dewawarman 4 digantikan oleh anak perempuannya, yaitu Rani Mahisasuramardini Warmandewi. Ia memerintah bersama suaminya, Sang Prabhu Amatyasarwajala Dharmasatyajaya Warunadewa. 


e, Dewawarman  5 (mp. 252-276 M)

Ia menjadi raja Salakanagara ke-5 dari dinasti Dewawarman, menggantikan mertuanya, Dewawarman 4.

Ia menikah dengan putri sulung Dewawarman 4, yang bernama Mahisasuramardini Warmandewi, yang kemudian menggantikannya setelah suaaminya (Dewawarman 5) meninggal dunia.

f, Mahisa Suramardini Warmandewi (mp. 276—289 M)

Ia merupakan  putri tertua Dewawarman 4 dan istri dari dewawarman 5. Ia menggantikan suaminya sebagai raja ke-6, ketika suaminya  gugur  melawan bajak laut.


g. Dewawarman 6 (mp. 289-308 M)

Raja ke-7 dinasti Dewawarman. Ia dijuluki Sang mokteng Samudra. Ia merupakan putra tertua Dewawarman 5. Ia naik tahta dinasti Dewawarman menggantikan ibunya, Mahisa Suramardini.


h. Dewawarman 7 (mp. 308-340 M)

Raja ke-8 dinasti Deawarman, dengan gelar  Prabu Bima Digwijaya Satyaganapati. Ia merupakan putra tertua  Dewawarman 6.


i. Sphatikanawa Warmandewi (mp. 340-348 M)

Raja ke-9 kerajaan Salakanagara dari dinasti Dewawarman. Ia merupakan putri sulung Dewawarman 7.

j. Dewawarman 8  (mp. 348-362 M)

Raja ke-10  kerajaan Salakanagara dari  dinasti Dewawarman, dengan gelar  Prabu Darmawirya Dewawarman atau Dewawarman 8. Ia merupakan cucu Dewawarman 6.  Sanak keluarga Sang Dewawarman 8 bermukim di Yawananagari, ada pula yang bermukim di Hujung Mendini.

Ia menikah dengan  Sang Spatikārnawa Warmandewi, dari istri pertamanya ini  menurunkan raja-raja yang ada di Tatar Sunda  dan Bakulapura (sekarang Kutai Kartanegara). Dan ia juga menikah dengan Sang Dewi Candralocana namanya, putri dari Sang Brahmana Salankayana di bumi Bharata. Dari istri keduanya ini menurunkan raja raja di Swarnadwipa (Pulau Sumatra), Sanghyang Hujung, dan Jawa Tengah.

Dewawarman 8 mempunyai beberapa orang anak perempuan dan laki laki, diantaranya:
  • Yang sulung adalah seorang perempuan, bernama Sang Parameswari Iswari Tunggal Pertiwi Warmandewi, disebut juga Dewi Minawati, di dalam naskah ini dikatakan yang cantik rupanya, bagaikan bulan purnama. Ia  kemudian menikah dengan Jayasingawarman. Jayasingawarman ini dikemudian hari menggantikan Dewawarman 8 menjadi raja Salakanagara yang ke-11. Tetapi karena Jayasingawarman memindahkan ibukotanya ke Tarumanagara,  maka nama kerajaanpun berubah  dengan nama Tarumanagara
  • Ada pula seorang putra Sang Dewawarman yang lelaki, yang bernama Aswawarman yang bermukim di Bakulapura atau sekarang kerjaan Kutai Kartanegara. Di sana  Sang Aswawarman menikah dengan anak raja setempat, Sang Kudungga. Disana Aswawarman dianggap merupakan pendiri dari kerajaan Kutai..
  • Anaknya  yang ketiga bernama Dewi Indari, yang kemudian menikah dengan Maharesi Santanu, raja Indraprahasta (sekitar Cirebon ). Anaknya yang ke-4, bernama Dewawarman, pindah ke Sumatra (Swarnadhipa),  yang kemudian menurunkan raja raja Sriwijaya, diantaranya Adityawarman
  • Anak dari Sang Dewawarman lainnya lagi menjadi putra mahkota. Setelah Sang Dewawarman  meninggal, putra mahkota menggantikan ayahnya menjadi raja, tetapi kerajaannya ada di bawah perintah Adityawarman merupakan keturunan dari Sang Dewawarman 8,

 Dewawarman 8 merupakan raja terakhir Salakanagara. Ia kemudian digantikan oleh menantunya,  Jayasingawarman, yang kemudian memindahkan kekuasaanya ke sekitar sungai Citarum, dan negaranya kemudian terkenal dengan nama Tarumanagara. Karena Kerajaan Taruma sudah menjadi negara besar, dan makin bertambahlah kewibawaan. Sehingga Salakanagara hanya menyajadi negara bagian wilyaha Kerajaan Tarumanagara. Dan Raja Salakanagara setelah Dewawarman menjadi bagian dari kerajaan Tarumanagara, sehingga Dewawarman 8 dianggap sebagai raja terakhir dari kerajaan Salakanagara.

Demikian juga turunan Deawarman 8, Sang Aswawarman menjadi raja yang sangat berwibawa di Bakulapura / Kutai. Begitu pula seterusnya anak cucu Sang Dewawarman di kemudian hari menjadi raja yang sangat berwibawa di Swarnabhumi/ kerajaan Sriwijaya. Mula-mula anak-cucu sang penguasa yang ada di Swarnadwipa, karena cucu Sang Dewawarman beristrikan putri salah seorang raja setempat.

(Sumber: dari berbagai sumber)
id.wikipedia : Kerajaan Salakanagara
 Naskah Pustaka Pararatwan i Bhumi Jawadwipa m Terjemahan