Senin, 08 Agustus 2011

NASKAH PENINGGALAN DAN NASKAH KUNO YANG MENCERITAKAN PERADABAN SUNDA KLASIK



A. PENINGGALAN SUNDA KLASIK

1. Carita Parahiyangan

     Carita Parahiyangan merupakan suatu naskah Sunda kuno yang berbahasa Sunda kuno, yang dibuat pada akhir abad ke-16 M, yang menceritakan sejarah tanah sunda, mengenai kerajaan Sunda, yaitu isatana (keraton) galuh dan istana (keraton) pakuan. Naskah ini tersimpan di Museum Nasional Jakarta.
     Naskah Carita Parahiyangan terdiri dari  47 lembar  daun lontar ukuran 21 x 3 cm, yang tiap lembarnya berisi 4 baris. Huruf yang digunakan dalam penulisan naskah ini adalah aksara Sunda kuno.
     Naskah ini pertama kali diteliti oleh K.F. Holle, kemudian C.M Pleyte. Naskah ini diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia  oleh Purbacaraka sebagai tambahan laporan mengenai u Tulis dibogor, dan selanjutnya oleh beberapa sarjana sunda.
     Naskah Carita Parahiyangan ini menceritakan  sejarah sunda dari awal kerajaan Galuh  pada zaman Wretikandayun sampai runtuhnya Pakuan Pajajaran (ibukota kerajaan Sunda) akibat serangan kesultanan Banten, Cirebon dan Demak.
       Naskah parahiyangan ini banyak sekali menyebut  nama tempat yang merupakan kekuasaan kerajaan Sunda. Nama-nama tempat ini ada yang tetap hingga kini.


2. Naskah Bujangga Manik

    Naskah Bujangga Manik adalah naskah primer, yang merupakan peninggalan dari naskah berbahasa Sunda yang sangat berharga. Naskah ini ditulis dalam daun nipah, dalam puisi naratif  berupa lirik  yang terdiri dari 8 suku kata. Naskah ini seluruhnya terdiri dari  29 daun nipah, yang masing-masing  berisi  56 baris kalimat yang terdiri dari 8 suku kata.
    Yang menjadi tokoh dan yang menulis naskah ini adalah Prabu Jaya Pakuan alias Bujangga Manik, seorang resi Hindu dari kerajaan Sunda. Walaupaun ia seorang prabu (keluarga raja/ bangsawan) dari keraton Pakuan Pajajaran, ia lebih suka menjalani hidup sebagai seorang resi.
     Bujangga Manik melakukan perjalanan 2 kali ke negeri Jawa. Pada perjalanan kedua, ia singgah  di Bali untuk beberapa lama serta ke pulau Sumatra dan akhirnya ia bertapa di sekitar gunung Patuha sampai ia meninggal.
     Bujangga Manik dalam naskah ini  menyebut negri Majapahit, Malaka, dan Demak, hal ini dapat diperkirakan bahwa  naskah ini ditulis pada akhir abad ke14 M, atau awal abad ke15 M.
     Naskah ini sangat berharga karena menggambarkan topografi pulau jawa pada awal abad ke15 M. Lebih dari 400 nama tempat tinggal dan sungai disebut  dalam naskah ini dan berbagai nama tempat yang masih digunakan hingga kini.
    Naskah ini sekarang tersimpan  di perpustakaan Bodleian, di Oxford sejak tahun 1627 M.


3. Amanat Galunggung

        Amanat Galunggung adalah  nama yang diberikan untuk sekumpulan naskah  yang ditemukan di kabuyutan ciburuy, kabupaten Garut, dan merupakan salah satu naskah tertua di Nusantara.
    Naskah ini ditulis pada abad 15 M pada daun lontar dan daun nipah, menggunakan  bahasa dan aksara Sunda kuno. Naskah ini berisi nasehat mengenai etika dan budi pekerti Sunda, yang disampaikan Rakeyan Darmasiksa, raja Sunda ke-25, penguasa Galunggung, kepada putranya, Ragasuci (sang Lumahing Taman).
     Diantara isi dari naskah Amanat galunggung, adalah:
·         Harus  dijaga kemungkinan orang asing  dapat merebut  tanah kabuyutan (tanah yang disakralkan).
·         Barangsiapa yang dapat mendudukan Galunggung sebagai tanah yang  disakralkan akan  memperoleh kesaktian, unggul perangt,  berjaya dan mewariskan  kekayaan sampai turun temurun.
·         Lebi berharga kulit lasun (musang) yang berada di tempat sampah  daripada putra raja yang tidak  mampu mempertahankan  tanah airnya.
·         Jangan memarahi orang yang tidak bersalah.
·         Jangan tidak berbakti kepada leluhur yang telah mampu  mempertahankan  tanah air pada zamannya.


*) Nama “Amanat Galunggung” berasal dari filolog  Saleh Danasasmita, yang  turut mengjkaji naskah tersebut, kemudian turut mengompilasikan hasil kajiannya  dalam “Sewaka Darma, SanghyangSiskandang Karesian, Amanat Galunggung.” (1987)

**) Di Kabuyutan Ciburuy Garut,  hingga kini orang menyimpan naskah-naskah kuno, salah satunya  yang ditemukan di kabuyutan itu, sebelum disimpan  di perpustakaan nasional, Jakarta, adalah “Amanat Galunggung.”


4. Sanghiyang Siksa Kandang Karesian (1518 M)
    Naskah ini ditulis pada tahun 1440 saka atau 1518 M, dalam bahasa Sunda kuno, yang ditulis dalam daun nipah. Naskah ini oleh sebagaian ahli  dianggap sebagai pustaka ensiklopedik, yang sekarang tersimpan di Perpustakaan Nasional,  kropak 630).
     Isi naskah ini dibagi 2 bagian. Yang pertama disebut dasakreta selaku ”kundangeun urang rea” (ajaran akhlak untuk semua orang). Sedang yang kedua  disebut darma pitutur, yang berisi ilmu pengetahuan (bahasa sunda = pangaweruh) yang harus dimiliki oleh setiap manusia agar hidup berguna di dunia.
      Meskipun  dalam naskah ini berjudul karesian, isinya tidak hanya berkenaan dengan kaum agama, tetapi banyak bertalian dengan kehidupan menurut ajaran darma. Dan yang berhubungan dengan ilmu pengetahuan ada dalam darma pitutur, seperti apa yang diungkapkan dalam pengantarnya:
” Kitu keh urang janma ini lamun dek nyaho dipuhun suka lawan enak ma ingetkeun saur sang darma pitutur...., kalinganya, kita jarang dek ceta, ulah salah geusan nanya.”


5. Carita Purnawijaya
     Carita Purnawijaya merupakan karya sastra Sunda yang menceritakan tentang perjalanan Purnawijaya ke Neraka.
     Purnawijaya adalah yaksa (buta) yang mendapat pengajaran dari sang dewa utama mengenai bertingkah laku jahat. Setelah itu Purnawijaya diajak melihat neraka sehingga  mengetahui siksa yang akan dijalani oleh manusia yang banyak dosa.
    Naskah ini disimpan di Perpusnas (2 karopak 413 dan 423) menggunakan bahasa Sunda kuno dan tulisan Sunda kuno, yang diukir dalam daun palm, dan dibuat kirakira pada abad ke17 M. Naskah yang di karopak 423 ada 39 lembar.


6. Carita Ratu Pakuan
     Suatu naskah yang berbentuk pantun yang di tulis oleh pujangga yang bernama Kairaga, dari gunung Srimanganti, Cikuray. Naskah ini diperkirakan ditulis pada akhir abad ke-17 M atau awal abad 18 M dalam bahasa Sunda, yang dapat ditemukan pada Karopak 410.
    Naskah ini menceritakan dengan indah tentang kepindahan ratu Ambetkasih, istri Sribaduga maharaja Jayadewata dan selirnya,  dari istana Galuh ke istana Pakuan.



B. NASKAH SETELAH ABAD KE-17 M (DI ERA ISLAM)

1. Naskah Wangsakerta

      Naskah Wangsakerta merupakan hasil pertemuan para ahli sejarah dari hampir 90 daerah di Nusantara yang berlangsung pada tahun 1677 sampai dengan 1698 M di keraton Kasepuhan Cirebon.
     Naskah Wangsakerta adalah suatu istilah yang disusun oleh Pangeran Wangsakerta secara pribadi atau oleh timnya.  Naskah ini ditemukan awal tahun 1970 M, selain menimbulkan kekaguman  karena kelengkapannya, juga menimbulkan kontroversi dan keraguan. Para ahli sejarah banyak yang meragukan karena alasan: isinya terlalu histories (tidak umum sebagaimana naskah-naskah  sezamannya), dan isinya cocok dengan naskah-naskah barat, dan mungkin tidak dibuat pada abad ke-17 M, disamping keadaan fisik naskah (kertas, tinta dan bangun aksara / huruf) yang kasar, tidak seperti naskah lama pada umumnya.
      Pangeran Wangsakerta memenuhi permintaan ayahnya, Panembahan Girilaya, dari kesultanan Cirebon,  agar sang pangeran menulis kisahkisah kerajaan Nusantara. Kemudian panitia dibentuk untuk  mengadakan suatu gotrasawala (symposium / seminar) diantara para ahli  sejarah di Nusantara, yang hasilnya kemudian ditulis  menjadi naskah-naskah yang sekarang dikenal dengan Naskah Wangsakerta. Gotrasawala ini berlangsung tahun 1599 saka (atau 1677 M), dan penyusunan naskah ini menghabiskan waktu 21 tahun (selesai pada 1620 saka / 1698 M).
     Hurup yang digunakan dalam naskah ini adalah hurup kawi dengan bahasa yang disebut jawa tengahan, tetapi menurut wangsakereta sendiri disebut Purwa Jawa (Jawa Kuno).
     Di Perpustakaan kesultanan Cirebon mengoleksi 1703 judul naskah dan 1213 diantaranya berupa karya pangeran Wangsakerta dan timnya, mengenai kerajaan-kerajaan di Nusantara. Ada 47 jilid yang merupakan gabungan dari sejarah berbagai daerah, yaitu:
·         Pustaka Rajya Rajya I Bhumi Nusantara, 25 jilid (sarga). Pustaka Rajya Rajya I Bhumi Nusantara ini  dibagi dalam 5 parwa (bab) yang masing-masing mempunyai judul tersendiri:
1.            Pustaka Kathosana Rajya Rajya I Bhumi Nusantara
2.            Pustaka Rajyawarnana Rajya Rajya I Bhumi Nusantara
3.            Pustaka Kertajaya Rajya Rajya I Bhumi Nusantara
4.            Pustaka Rajakawasa Rajya Rajya I Bhumi Nusantara
5.            Pustaka Nanaprakara Rajya Rajya I Bhumi Nusantara
·         Pustaka Pararatwan, 10 jilid.
·         Pustaka Nagara Kretabhumi, 12 jilid.
     Naskah Wangsakerta  kini tersimpan di Museum Sribaduga Maharaja, Bandung.


2. Babad Pajajaran

         Babad Pajajaran ditulis di Sumedang pada tahun 1816 M, pada masa  Pangeran Kornel.


3. Carita Purwaka Caruban Nagari

    Naskah ini ditulis sekitar tahun 1720-an oleh Pangeran Arya dari Cirebon.
   

4. Carita Waruga Guru

       Carita Waruga guru adalah suatu naskah berbahasa Sunda yang ditulis pada tahun 1750-an.


5. Kitab Waruga jagat
      Suatu naskah yang berasal dari Sumedang


6. Pancakaki Masalah  Karuhun Kabeh,
       Berasal dari Ciamis yang ditulis pada abad ke 18 M,  dalam bahasa Jawa dan huruf Arab Pegon.



C. NASKAH KARYA ORANG LUAR, YANG BANYAK MENCERITAKAN TENTANG SEJARAH SUNDA KLASIK


1. Kidung Sunda / Kidung Sundayana

     Kidung Sunda adalah sebuah tulisan / naskah  dalam bahasa Jawa pertengahan yang berbentuk syair (tembang), yang kemungkinan berasal dari Bali. Dalam kidung ini diceritakan tentang kisah pencarian  seorang permaisuri Hayam Wuruk dari Majapahit, dan tragedi perang bubat yang memilukan.
      Kidung Sunda adalah sumber tertulis yang paling terinci dan paling penting dalam mengupas tentang peristiwa Bubat yang memilukan dan memalukan. Sebagai naskah kuno yang terdapat di Bali, Kidung Sunda memberikan yang relative adil dalam mengupas tragedy berdarah di bubat, penghianatan Gajah Mada dan kepahlawanan Sunda yang tanpa pantang menyerah.
      Dari kisahnya, dengan gaya bahasanya yang lugas dan lancar, tidak berbelit-belit seperti karya-karya sastra, mengindikasikan adanya factor kebenaran, disamping ditulis oleh orang Bali yang relative independen dalam menganalisa kisah ini.
      Kisah dalam Kidung Sunda  memadukan unsur-unsur romantis dan dramatis yang memikat. Dengan penggunaan gaya bahasa yang hidup, para protagonis cerita ini bisa hidup. Dalam kisah ini, Kidung Sunda menceritakan Patih Anepaken, Patih Sunda yang begitu tegas dan tidak takut sedikitpun dalam menghadapi tentara Majapahit, meskipun hanya membawa perlengkapan seadanya, karena hanya mengantar penganten, dan  dia tetap lantang meskipun berada di sarang / daerah Majapahit.
      Kemudian cerita yang dikisahkan dalam Kidung Sunda juga bisa dikatakan logis dan masuk akal. Hal ini mengindikasikan bahwa peristiwa ini benar-benar terjadi. Karena penulis dari kisah ini cenderung lebih berpihak pada orang Sunda, maka Kidung Sunda jarang ditampilkan dalam buku-buku sejarah.
    

2. Summa Oriental

   Summa Oriental  merupakan karya Tome Peres, duta besar asal Portugis di Kerajaan Sunda. Ia banyak bercerita tentang kebesaran kerajaan Sunda di era Sri Baduga Maharaja Jayadewata (Prabu Siliwangi), yang ditulis sekitar tahun 1513 M. Dalam buku ini ia banyak menceritakan tentang keadaan kerajaan Sunda di era Sri Baduga Maharaja Jayadewata.


(Sumber: dari berbagai sumber)

Minggu, 07 Agustus 2011

JATUHNYA PAJAJARAN


a. Kekuasaan Pajajaran Hingga Tahun 1526 M
      Sampai dengan tahun 1526 M, kerajaan pajajaran meliputi sejumlah negara bagian (bawahan/ negara daerah): Cirebon Larang, Cirebon Girang  dengan raja Prabu Kasmaya, Sindang Barang dengan raja Panji Wirajaya, Sukapura dengan raja Lembu Jaya, kidang Lamatan dengan raja Menah Dermawangi, Galuh dengan Nara Wangkang ( atau Larang Tapa),  Astan Larang dengan raja Nara Wingkang,  Tajuknasing dengan raja Aji Narma, Sumedang Larang dengan raja  Lembu Peteng Aji, Limar kancana dengan raja Ujang ngumbara, Ujung Kidul dengan raja Prabu gantangan, Kamuning Gading dengan raja Prabu Siliwangi, Pancakaki dengan raja Nitimuda Aji, Tanjung Sanguru dengan raja Lembu Wulung, Nusa (sunda) Kalapa dengan raja Pangeran rangsang Jiwa, Banten Girang dengan raja Mas Jongjo, Pulosari dengan raja Ajar Domas, dan Ujung Kulon.
     Pada tahun 1526 M, Banten yang mencakup keraajaan-kerajaan kecil, seperti: Ujung Kulon, Ujung Kidul, Pulosari, Banten Girang, dan lainya direbut oleh tentara Cirebon-Demak, di kemudian hari menjadi Kesultanan Banten. Pada tahun berikutnya (1927 M), Sunda (Nusa) Kalapa juga jatuh ke tangan Cirebon Demak, dan kemudian diganti namanya menjadi jayakarta, dan menjadikerjaan dibawah kekuasaan Banten.
     Menurunya kekuasaan Pakuan di daerah kekuasaannya yang letaknya jauh dari Pakuan, sepertyi Karawang, Ciasem, Pamanukan, Indramayu dan lain-lain. Puncak kemunduran kejuasaan pakuan  ketika diserang oleh tentara Surasowan dari banten pada 8 Mei 1579 M.

b. Pajajaran Burak (Bubar)
      Dengan jatuhnya wilayah-wilayah  lainnya, Pakuan sebagai benteng terakhir semakin terjepit oleh pasukan Cirebon-Demak di timur dan banten di barat. Akhirnya pada tahun 1579 M, pasukan banten  yang dipimpin oleh Sultan maulana Yusuf, berahsil menduduki ibukota Pakuan.
   Dalam Pustaka Nusantara,  tentang kejatuhan ibukota kerajaan Pajajaran, Pakuan, disebutkan:
” Pajajaran sirna  ing ekadasa suklapaksa wesakamasa sewu limang atus punjul siki ikang sakakala” ( Pajajaran lenyap pada tanggal 11 bagian terang bulan wesaka tahun 1501 saka).
Tanggal tersebut bertepatan  dengan 8 Mei 1579 M.
        Dalam naskah Banten, serangan tentara banten  ke pakuan, disebutkan:
“ Waktu keberangkatan itu terjadi bulan Muharam  tepat pada awal bulan hari ahad tahun alif inilah tahun sakanya satu lima kosong satu.”
      Benteng Pakuan terkenal sangat kokoh yang sulit ditembus. Setelah 12 tahun ditinggal raja, Pakuan masih bisa bertahan, dan baru dapat dibobol Banten dengan cara halus.
      Dalam naskah Banten diceritakan bahwa benteng Pakuan baru dapat dibobol setelah terjadinya penghianatan. Komandan kawal  benteng Pakuan mersa sakit hati  karena tidak memperoleh  kenaikan pangkat. Ia adalah saudara ki  Jongjo, seorang kepercayaan Panembahan Yusuf. Tengah malam Ki Jongjo bersama pasukan khusus menyelinap ke dalam kota setelah  pintu benteng  terlebih dulu  dibukakan saudaranya itu.
     Kisah ini mungkin diragukan tentang kebenarannya, tetapi hal ini menggambarkan  betapa tangguhnya benteng Pakuan yang dibuat prabu Sri Baduga  (Prabu Siliwangi). Setelah ditinggalkan  oleh raja selama 12 tahun, pasukan  Banten masih  terpaksa menggunakan cara halus untuk menembusnya.
  

c. Diboyongnya Palangka Sriman Ke Banten & Penyelamatan mahkota oleh 4 kandaga lante ke Sumedang Larang

     Dengan berhasilnya menduduki ibukota pakuan, Sultan Maulanan Yusuf  kemudian memboyong benda-benda  yang menjadi simbol kemaharajaan Sunda ke Banten, termasuk singgasana penobatan maharaja Sunda, Palangka Sriman Sriwacana. Dengan diboyongnya Palangka Sriman ini menandai berakhirnya kemaharajaan Sunda dan berakhirnya zaman Pajajaran (1482-1579 M).
     Palangka Sriman, yang merupakan simbol  tempat duduk  kala seorang raja  dinobatkan, kemudian di boyong dari Pakuan ke Surasowan   Banten oleh Maulana Yusuf. Batu  berukuran 200 x 160 x 20 cm diboyong ke Banten  karena tradisi  politik  Sunda waktu itu mengharuskan  demikian. Karena, pertama, dengan dirampasnya Palangka  tersebut, di Pakuan  tidak mungkin  lagi dinobatkan  raja baru. Kedua,  dengan memiliki palangka itu, Maulana Yusuf   merupakan  penerus kekuasaan Pajajaran yang sah, karena buyut  perempuannya adalah putri Sri baduga Maharaja.
      Tetapi Maulana Yusuf tidak bisa memboyong mahkota raja, karena telah diselamatkan oleh 4 ksatria sunda yang disebut Kandaga Lante dan menyerahkannya kepada raja Sumedang larang.
      Menurut Sumber sejarah Sumedang Larang, ketika peristiwa jatuhnya Pakuan terjadi, 4 orang kepercayaan Prabu ragamulya Surya Kancana, raja pajajaran terakhir, yang dikenal dengan Kandaga Lante, yang terdiri dari: Sanghiyang Hawu (Jaya perkosa), Batara Adipati Wiradijaya (Nangganan), Sanghiyang Kondanghapa dan Batara Pencar Buang (Terong peot) berhasil menyelamatkan atribut pakaian kebesaran maharaja Sunda, yang terdri dari: mahkota emas simbol kekuasaan raja Pakuan,  kalung bersusun 2 dan 3, serta perhiasan lainnya, seperti benten, siger, tampekan dan kilat bahu. Atribut-atribut  kebeesaaran tersebut kemudian diserahkan kepada raden Angkawijaya, putra Ratu Inten Dewata (1530-1579 M) yang kemudian naik tahta Sumedang larang dengan gelar Prabu Geusan Ulun (mp. 1579-1601 M). Dan Sumedang larang inilah sebenarnya yang kemudian dianggap sebagai penerus kemaharajan Sunda terakhir, yang tidak pernah bisa dikuasai oleh Banten dan Cirebon.
    
*) Meskipun tahun alif baru dgunakan oleh Sultan  Agung Mataram dalam tahun 1633 M, tetapi  dengan perhitungan mundur, tahun kejatuhan  Pakuan 1579 itu memang  akan jatuh pada tahun alif.

 
d. JATUHNYA WILAYAH LAIN
      Seperti halnya, Pakuan, yang merupakan benteng terakhir maharajaan Sunda, yang jatuh  di tangan kesultan banten pada tahun 1579 M. Wilayah-wilayah lain  satu persatu ditaklukan oleh pasukan Banten dan juga Cirebon- Demak.
     Raja Talaga, Sunan Parunggangsa ditaklukan cirebon tahun 1529 M. Ia dan juga putrinya, Ratu Sunyalarang, juga menantunya Ranggamantri pucuk umun secara sukarela masuk Islam, dan mengakui kekuasaan Cirebon.
      Di Sumedang larang, Ratu Setyasih atau Ratu Inten Deawata atau Ratu Pucuk Umun (1530-1579 M),  meskipun tidak pernah kalah perang dan tidak pernah dikuasai oleh Cirebon, harus mengakui  kekuasaan Cirebon dan masuk Islam, meskipun tetap independen, dan tidak pernah dikuasai. Ratu Setyasih kemudian menikah dengan pangeran Santri.
      Di Kerajaan Kuningan, Ratu Selawati menyerah kepada pasukan Cirebon. Salah seorang putrinya kemudian menikah dengan anak angkat sunan gunung jati, yang bernama Suranggajaya. Suranggajaya ini kemudian  diangkat menjadi bupati Kuningan dengan gelar Sang adipati Kuningan, karena kuningan menjadi bagian Cirebon.
     Di Kerajaan Galuh, penguasa Galuh yang bernama Prabu ujang Meni, yang bergelar Maharaja Cipta sanghiyang di Galuh beruasah mempertahankan wilayahnya dari pasukan Cirebon. Tapi karena kekuatannya tidak seimbang, ia bersama putranya yang bernama Ujang ngekel yang kemudian naik tahta galuh bergelar  Prabu Di Galuh Ciptapermana (mp. 1595-1608 M), juga mau tak mau harus mengakui kekuasaan Cirebon, dan juga secara sukarela masuk Islam. Demikian juga kerajaan sindang kasih (Majalengka) dan juga Panjalu.

KERAJAAN SUNDA (669-1579 M)


       Kerajaan Sunda merupakan  kelanjutan dari kerajaan tarumanagara, yang didirikan oleh Tarusbawa pada tahun 561 caka sunda (669 M). Seperti halnya Tarumanagara, yang dikenal karena ibukotanya di sekitar sungai Citarum, nama kerjaan Sunda juga diazaskan atas nama ibukotanya Sundapura.
     Raja terakhir Tarumanagara, Sri Maharaja Linggawarman yang berkuasa 3 tahun,  dari tahun 666 -669 M, mempunyai 2 orang putri. Putri tertuanya, Dewi Manasih menikah dengan tarusbawa dari Sunda, sedang putri yang kedua Sobakancana menikah dengan Depuntahyang Srijanayasa, pendiri kerajaan Sriwijaya.
      Setelah Linggawarman meninggal, kekuasaan Tarumanagara turun kepada menantunya, Tarusbawa, yang memindahkan ibukotanya ke Sundapura. Hal ini juga yang menyebabkan  penguasa Galuh, Wretikandayun (612-702 M).
     Setelah kekalahan kerajaan Sunda oleh Banten, maka kerajaan Sunda sering disebut dengan nama kerajaan Pajajaran, yang dinisbahkan kepada nama ibukotanya, Pakuan Pajajaran.

  Luas Wilayah & Kekuasaan
  Menurut naskah Wangsakerta, kerajaan Sunda merupakan kerajaan yang menggantikan kerajaan Tarumanegara.  Sejak zaman Sanjaya (mp. 723-732 M) sampai dengan Sribaduugamaharaja, wilayah kekuasaan kerajaan sunda meliputi seluruh Jawa barat sekarang, DKI Jakarta, bagian barat Jawa Tengah (daerah Banyumas, Brebes, Purwekerto, Cilacap), dari ujung kulon disebelah barat hingga sungai Cipamali (kali Brebes) dan sungai Ciserayu (kali Serayu)  di sebelah timur, dan Lampung. Salah seorang penguasa Sunda yang menikah dengan putri dari penguasa Lampung adalah Prabu Niskala Wastu Kancana.      
     Tentang perbatasan wilayah timur, diceritakan dalam tulisannya oleh Bujangga Manik, seorang intelektual Sunda waktu itu dan juga seorang pelancong dan pendeta Hindu. Bujangga Manik atau Prabu jaya pakuan  melakukan perjalanan ke Jawa, dan Bali untuk mengunjungi tempat-tempat suci agama Hindu pada awal abad 16 M. Tulisan bujangga Manik  sekarang tersimpan di perpustakaan Boedlian, Oxford University, Inggris sejak tahun 1627 M.
       Jaya pakuan menulis dalam perajalanan pertamanya:
” Sadatang ka tungtung Sunda, meuntasing di Cipamali,. Datang ka alas jawa.”
( Ketika  ku mencapai perbatasan (tungtung = ujung / akhir) sunda, ku menyebrangi sungai Cipamali. Dan masuklah ke hutan Jawa).
Kemaharajaan Sunda merupakan gabungan dari beberapa kerajaan yang berdiri secara otonom. Kerajaan-kerajaan tersebut, antara lain:
Cirebon Larang
Cirebon Girang
Sindang Barang
Sukapura (galunggung)
Kidanglamatan
Galuh
Astuna Tajeknasinng
Sumedang Larang
Ujung Muhara
Ajong Kidul
Kamuning Gading
Pancakaki
Tanjung Singguru
Nusakalapa
Banten Girang
Ujung kulon
Galunggung
Panjalu

 Ibukota
     Pusat pemerintahan (ibukota) kerajaan sunda berpindah-pindah. Setidaknya ada 4 tempat yang pernah menjadi ibukota atau pusat pemerintahan kerajaan Sunda, yaitu: Sundapura (Prahyangan Sunda), Galuh, Kawali dan Pakuan Pajajaran. Disamping itu terdapat juga kota Saunggalah, yang pernah menjadi ibukota putra-putra mahkota raja, pada masa Rahiyang darmasiksa dan putranya, Prabu Ragasuci.
      Menurut Saleh Danasasmita (1975:4), pusat kerajaan Sunda yang berpindah-pindah itu pernah berlokasi secara kronologis sebagai berikut: Galuh, Pakuan, Saunggalah, Pakuan, Kawali, dan Pakuan. Dengan demikian ibukota kerajaan Sunda berakhir pada waktu kerajaan Sunda berkedudukan di Pakuan Pajajaran. Sehingga kerajaan Sunda  waktu itu lebih terkenal dengan nama Pakuan Pajajaran, yang dinisbahkan kepada nama ibukotanya.
     Dengan demikian, istilah kerajaan Pajajaran diakhir kerajaan Sunda harus diartikan sebagai kerajaan yang ibukotanya bernama Pakuan Pajajaran.

  1. Sundapura (Parahiyangan Sunda)
      Sundapura atau Parahyangan adalah ibukota awal dari kerajaan Sunda. Kota ini menjadi pusat pemerintahannya di era pendirinya, Prabu Tarusbawa, kemudian Sanjaya. Ibukota Sundapura didirikan oleh raja Tarumanagara, Purnawarman.

  1. Galuh
       Galuh adalah suatu wilayah yang sekarang disebut Ciamis. Galuh  berasal dari bahasa sangsekerta  yang berarti batu permata. Pada awalnya Galuh merupakan ibukota kerajaan Kendan di era Tarumanagara, yang didirikan oleh Wretikandayun. Tetapi kemudian terkenal sebagai ibukota kerajaan yang merdeka setelah Tarumanagara mengalami kemunduran, dan dialihkan ke Sundapura, oleh Tarusbawa. Galuh menjadi ibukota kerajaan Galuh itu sendiri, yang diperintah oleh Wretikandayun  hingga prabu Gajah kulon. Setelah Prabu gajah Kulon, Galuh dan Sunda merupakan satu kesatuan dan hanya disebut Sunda saja (atau Sunda Galuh).
      Galuh menjadi ibukota kerajaan Sunda ketika masa pemerintahan Prabu Sanghiyang Ageng (mp. 1019-1030 M).. Masa pemerintahan Galuh berakhir  kira-kira tahun 1333 M, ketika Raja Adiguna Linggawisesa atau sang Dumahing Kending ( mp. 1333-1340 M) mulai bertahta di Kawali, sedangkan kakanya Prabu Citrganda atau Sang Dumahing Tanjung bertahta di Pakuan Pajajaran.

  1. Saunggalah
       Saunggalah menjadi ibukota kerajaan Sunda  ketika masa awal pemerintahan Prabu Guru Darmasiksa (mp. 1175-1297 M) selama 12 tahun, tetapi kemudian ia memindahkan pusat kerajaannya di Pakuan. Pusat pemerintahan di Saunggalah diteruskan oleh anaknya Prabu Ragasuci yang memerintah tanah Sunda pada tahun 1297-1303 M.

  1. Kawali
      Dari tahun 1333 sampai dengan 1482 M, pusat pemerintahan Sunda  (ibukota) berkedudukan di Kawali. Karena itu periode ini disebut sebagai zaman kawali dalam pemerintahan kerajaan Sunda dan mengenal 5 orang raja. Lain dengan Galuh, nama Kawali terabadikan  dalam 2 preasasti batu peninggalan Prabu Wastukencana yang tersimpan di Astana Gede Kawali. Dalam prasasti itu di tegaskan ” Mangadeg di kuta kawali” (bertahta di kota kawali) dan keratonnya disebut Surawisesa, yang dijelaskan sebagai ”Dalem Sipawindu hurip ” (Keraton yang memberikan ketenangan hidup).
     Diantara raja-raja Sunda yang menjadikan Kawali sebagai ibukotanya, adalah: Prabu Lingga Dewata (mp. 1311-1333 M), Prabu Ajiguna Wisesa (mp. 1333-1340 M), dan Wastukancana.

  1. Pakuan
       Ibukota terakhir kerajaan Sunda adalah Pakuan. Pakuan menjadi pusat seluruh wilayah Sunda ketika masa pemerintahan Sri Baduga Maharaja, hingga kejatuhannya di masa cicitnya. Era Sri Baduga Maharaja atau yang terkenal dengan nama Prabu Siliwangi, kerajaan Sunda lebih terkenal dengan nama kerajaan Pajajaran, yang dinisbahkan kepada pusat pemerintahannya Pakuan Pajajaran.
      Pakuan terkenal memiliki pertahanan yang kuat, baik secara alami maupun kokohnya benteng pertahanan. Kokohnya benteng pertahanan ini pada awalnya merupakan jasa daripada sang Banga (Hariang Banga) pada tahun 739 M, yang waktu itu berada di bawah pengaruh Sang Manarah (Ciung Wanara) yang berkuasa di kraton Galuh. Kemudian benteng pertahanan diperkuat lagi di era pemerintahan Sri Baduga Maharaja Jayadewata (Prabu Siliwangi).
         Dalam laporan Tome Peres (1513) disebutkan bahwa letak ibukota kerajan Sunda, yang ia katakan sebagai (Dayeuh), dan terletak di daerah pegunungan 2 hari perjalanan dari pelabuhan Kalapa di muara Ciliwung.

f. Antara Galuh, Saunggalah, dan Pakuan
     Telah disebutkan, kehadiran orang Galuh sebagai Raja Sunda di Pakuan saat itu belum dapat diterima; sama halnya dengan kehadiran Sanjaya dan Tamperan sebagai orang Sunda di Galuh pada masa sebelumnya. Karena perbedaan daerah asal inilah, Prabu Darmaraksa (891-895) akhirnya tewas mengenaskan. Nyawanya berakhir di tangan seorang menteri Sunda yang fanatik.
     Semenjak peristiwa itu, setiap raja Sunda yang baru dinobatkan selalu memperhitungkan tempat kediaman yang akan dipilihnya menjadi ibukota. Maka dari itu, pusat pemerintahan sering berpindah-pindah dari timur ke barat dan sebaliknya (antara 895 hingga 1482 M). Sebagai contoh: ayah Sri Jayabhupati berkedudukan di Galuh, namun Jayabhupati sendiri memilih tinggal di Pakuan; tetapi putra Jayabhupati berkedudukan di Galuh lagi. Begitu pula dengan Prabu Guru Dharmasiksa (1175-1187) yang menurut Kropak 406, mula-mula berkedudukan di Saunggalah, kemudian pindah ke Pakuan. Putranya, Prabu Ragasuci, berkedudukan di Saunggalah. Jadi, ada kalanya Galuh menjadi kerajaan utuh terlepas dari Kerajaan Sunda, ada kalanya berperan sebagai "kerajaan kembar" bersama Sunda.

*) Dayeuh dalam bahasa sunda berarti kota. Banyak nama di wilyaha Pasundan yang daiawali dengan nama dayeuh, seperti: dayeuh Luhur di sumedang, hal ini menandakan bahwa kota itu pernah menjadi ibukota atau kota penting dikerajaan tersebut.
**)Menurut Ekadjati (93:75) ada 4 kawasan yang pernah menjadi ibukota kerajaan Sunda, yaitu: Galuh, Parahyangan Sunda, Kawali dan Pakuan Pajajaran.

 
(Sumber: Dari berbagai sumber)