Selasa, 09 Agustus 2011

KERAJAAN GALUH


Galuh merupakan salah satu kerajaan otonom di kemaharajaan  Sunda,  yang wilayah kekuasaanya disebelah timur sungai Citarum, dan sebelah barat sungai cipamali (Kali Brebes sekarang).
       
Kata galuh berasal dari kata sangsekerta, yang berarti batu permata. Dengan demikian, keraajaan Galuh  artinya kerajaan batu permata yang indah gemerlapan.
      
Kerajaan Galuh  merupakan kelanjutan dari kerajaan Kendan di era Tarumanagara. Kerajaan Galuh  ini didirikan  oleh Wretikandayun, putra bungsu dari Sang Kandiawan yang berkuasa di Kendan selama 15 tahun (597-612 M). Karena ia  berkedudukan  di Medang Jati, sehingga Sang Kandiawan kemudian terkenal dengan nama Rahiyangta ri Medang Jati.
      
Sejarah mengenai Galuh ini terdapat dalam suatu naskah kuno berbahasa Sunda yang ditulis  pada awal abad ke-16 M, ”Carita Parahiyangan”,. Dalam naskah ini  diceritakan mengenai kerajaan Galuh yang dimulai oleh Rahiyangta  ri Medang Jati yang  menjadi resi  selama 15 tahun. Selanjutnya kekuasaan diteruskan oleh anaknya, Wretikandayun, yang kemudian dianggap sebagai pendiri cikal bakal kerajaan  atau istana Galuh. Dan sejarah Galuh ini juga diceritakan dalam naskah Wangsakerta yang ditulis pada abad ke-17 M.


A. Penguasa (raja raja) Galuh
      Raja-raja yang pernah berkuasa di kerjaan Galuh adalah:

  • Wretikandayun (670-702 M)
  • Rahyang Mandi minyak (702-709 M)
  • Rahyang Baratasenawa (709-716 M)
  • Rahyang Purbasora (716-723 M)
  • Sanjaya Harisdarma (723-724 M)
  • Adimulya Premanadikusuma (724-725 M)
  • Tamperan Barmawijaya (725-739 M)
  • Manarah (Ciung Wanara) (739-783 M)
  • Guruminda sang Minisri (783-799 M)
  • Prabu Kretayasa Dewakusalesywara Sang Triwulan  (799806 M)
  • Sang Welengan (806-813 M)
  • Prabu Linggbumi (813-852 M)
  • Prabu Gajah Kulon Rakeyan Wuwus (819-891 M)
      
Setelah Prabu Lingga Bumi  (813-852 M) atau mulai dari  Prabu Gajah    Kulon Rakeyan Wuwus (819-891 M), hingga Prabu Niskala wastukancana penguasa selanjutnya dipegang sama dengan penguasa-penguasa Sunda, sehingga kerajaan ini dikenal dengan nama Sunda Galuh atau Galuh pakuan. 
      
Setelah Wastukancana meninggal, kerajaan dibagi 2 untuk pemerintahan anak-anaknya. Disebelah barat sungai Citarum dengan pusat pemerintahan di Pakuan dipimpin oleh Susuk Tunggal, sedang Prabu Dewa Niskala berkuasa di Kawali (Galuh) sebelah timur sungai Citarum. Tetapi kemudian disatukan lagi oleh cucunya, Sri Baduga Maharaja Jayadewata, yang kemudian dalam sejarah  dikenal sebagai era Pakuan Pajajaran.

B. Profile Penguasa Galuh

1. Wretikandayun (670-702 M)
Wretikandayun atau Sang Wretikandayun berkuasa di Galuh pada tahun 534-592 Saka atau tahun 612-670 M  atau 58 tahun sebagai Raja kendan, dan merupakan bagiaan dari kerajaan Tarumanagara. Dan ia menjadi Raja Galuh yang merdeka pada tahun 592-624 Sakala  atau tahun 670-702 Masehi, selama 32 tahun.

2. Rahyang Mandi Minyak (702-709 M)
Sang Mandiminyak  atau PrabuMandiminyak menjadi raja Galuh menggantikan ayahnya, Wretikandayun. Dan ia berkuasa   selama 7 tahun dari tahun 624-631 Saka atau 702-709 Masehi. 

Mandiminyak merupakan putra bungsu dari Wretikandayun. Ia merupakan putra ke-3 Wretikandayun. kakaknya bernama Sempak Waja, ia tidak menjadi raja karena ompong, dan kakaknya kedua, bernama Jantaka tidak bisa  menjadi raja karena kemir atau burut. 
  • Rahyang Baratasenawa (709-716 M)
  • Rahyang Purbasora (716-723 M)
  • Sanjaya Harisdarma (723-724 M)
  • Adimulya Premanadikusuma (724-725 M)
  • Tamperan Barmawijaya (725-739 M)
  • Manarah (Ciung Wanara) (739-783 M)
  • Guruminda sang Minisri (783-799 M)
  • Prabu Kretayasa Dewakusalesywara Sang Triwulan  (799806 M)
  • Sang Welengan (806-813 M)
  • Prabu Linggbumi (813-852 M)
  • Prabu Gajah Kulon Rakeyan Wuwus (819-891 M)

      

(Sumber: dari berbagai sumber)
Drs. Atja, Tokoh tokoh Galuh Menurut Wangsakerta, Harian Pikiran rakyat, 17 Mei 1990.

SUMEDANG LARANG ERA ISLAM


       Kerajaan Sumedang Larang adalah salah satu dari kerajaan Sunda  yang berdiri pada abad ke 12 M. Pada awalnya kerajaan ini merupakan kerajaan Hindu  tetapi kemudian menjadi kerajaan Islam pada abad ke-15 M.
     Kerajaan ini memegang peranan penting, sebagai penerus kerajaan Sunda (yang waktu itu lebih dikenal dengan nama kerajaan Pajajaran), karena setelah direbutnya ibukota Pakuan Pajajaran, Sumedang larang dianggap sebagai penerus kerajaan sunda tersebut. Sejak itu Sumedang larang disamping dianggap sebagai penerus Pajajaran, yang memiliki otoritas  yang luas untuk menentukan nasibnya sendiri..

Asal Usul
      Kerajaan Sumedang larang didirikan oleh Prabu Aji Putih atas perintah Prabu Suryadewatya sebelum keraton Galuh di pindahkan ke Pakuan (Bogor sekarang).  Seiring dengan perubahan zaman dan kepemimpinan, nama Sumedang Larang  mengalami beberapa kali perubahan. Pada awal berdirinya sumedang larang bernama Kerajaan Tembong Agung, yang dipinpi oleh Prabu Aji Putih dengan ibukota di Leuwi Hideung (sekarang berada di kecamatan Darmaraja). Tembong Agung berarti Kelihatan besar / luhur (tembong berarti kelihatan, sedang agung berarti besar dan luhur).
      Pada zaman Prabu tajimalela namanya kemudian diganti menjadi Himbar Buana, yang berarti menerangi alam. Prabu Tajimalela pernah berkata Insun medal insun madangan.” (artinya: Saya dilahirkan saya menerangi) dari perkataan Tajimalela inilah kemudian nama Sumedang Larang diambil. Dengan demikian kata Sumedang berasal dari kata insun madangan yang disingkat Sumedang, yang  berarti saya menerangi, dan ada juga yang menulis berasal dari kata insun medal yang mengalami perubahan pengucapan. Sedang kata Larang berarti sesuatu yang tidak ada tandingannya.
     Transisi kerajaan Sumedang larang dari kerajaan Hindu (sunda Wiwitan) ke dalam Islam, dimulai sejak masa pemerintahan Ratu pucuk Umun. Ratu Pucuk umun yang merupakan ketrurunan dari rajaraja kuno dari Sumedang menikah dengan Pangeran Santri. Dan pada masanyalah Sumedang larang mengalami islamisasi yang menyeluruh. Hal ini dilanjutkan oleh anaknya, Prabu geusan Ulun, yang  kemudian menjadi pewaris mahkota raja Pajajaran, sehingga ia kemudian dianggap sebagai penerus penguasa Pajajaran.


RATU PUCUK UMUN  (1530-1578 M),
         Ratu Pucuk umun atau ratu Inten Dewata  merupakan Raja (ratu) Sumedang Larang yang pertama kali masuk Islam. Ia naik tahta Sumedang Larang menggantikan ibunya, Nyi Mas Ratu Patuakan.  Ia merupakan  seorang keturunan rajaraja sumedang kuno, yang kemudian masuk Islam, dan berkuasa bersama suaminya, Pangeran Santri memerintah Sumedang Larang.  Pada masanya ibukota  kerajaan Sumedang Larang dipindahkan dari Ciguling ke Kuatamaya.
      Pada pertengahan abad ke-16 M, mulailah corak agama Islam mewarnai perkembangan Sumedang Larang. Ia sendiri kemudian masuk Islam dan menikah dengan Pangeran Kusumahdinata (1505-1579 M), yang terkenal dengan nama Pangeran santri, atau  Ki Gedeng Sumedang. Pangeran santri yang memerintah Sumedang bersama istrinya, sambil menyebarkan islam ke seluruh wilayah kerajaan.
    Pangeran Santri adalah putra dari pangeran Palakaran (Pangeran Pamalekaran / dipati tetarung), putra arya dammar (sultan Palembang). Ibunya  Ratu Martasari (Nyi Mas ranggawuluung), anak  Syekh Maulana Abdurrahman (Sunan Panjuman) serta  cicit dari Syekh Datuk Kahfi, seorang ulama  keturunan Arab Hdramaut, yang berasal dari Mekah dan menyebarkan Islam di berbagai penjuru kerajaan Sunda.
     Pangeran Kusumah dinata terkenal dengan nama Pangeran santri karena  asalnya dari pesantren dan pewrilakunya yang sangat alim. Dengan pernikahannya tersebut, berakhirlah  masa kerajaan Hindu di Sumedang Larang. Dan sejak itu menyebarlah Islam di seluruh penjuru Sumedang larang.
     Dari hasil pernikahan antara Pucuk Umun dan Pangeran santri melahirkan 6 orang putra,yaitu
  1. Pangeran Angkawijaya, yang kemudian dikenal dengan nama Prabu Geusan ulun, yang menggatikan menjadi raja Sumedang Larang. Ia merupakan  raja Sumedang Larang terbesar dan terakhir kerajaan Sumedang Larang.
  2. Kiai rangga Haji, yang mengalahkan Aria Kuda Panjalu dari Narimbang, suapaya memeluk Islam.
  3. Kiai Demang Watang di Walakung
  4. Santowaan  Wirakusumah yang keturunannya berada di pagaden dan Pamanukan Subang.
  5. Santowaan Cikeruh
  6. Santowaan Awi Luar.
     Ratu pucuk Umun  dimakamkan di Gunung Ciung Pasarean gede kota Sumedang.


PRABU GEUSAN ULUN (mp. 1579-1608 M).
       Pangeran Geusan Ulun menjadi raja Sumedang Larang menggatikan ayah dan ibunya, Pangeran Santri dan Ratu Pucuk Umun pada tahun 1579 M. Ia menetapkan Kutamaya sebagai ibukotanya.
     Pada masanya kerajaan Pajajaran Galuh Pakuan sedang dalam masa kehancurannya, yang diserang oleh Banten dibawah pimpinan Sultan Maulana Yusuf.  Dan pada tahun 1579 M (8 Mei 1579 M), ibukota Pajajaran, Pakuan, runtuh.
       Sebelum peristiwa jatuhnya Pakuan terjadi, Prabu Ragamulya Surya Kencana, Raja Pajajaran terakhir mengutus 4 orang kepercayaannya, yang dikenal dengan Kandaga Lante, yang terdiri dari: Sanghiyang Hawu (Jaya perkosa), Batara Adipati Wiradijaya (Nangganan), Sanghiyang Kondanghapa dan Batara Pencar Buang (Terong peot) dan  berhasil menyelamatkan atribut pakaian kebesaran maharaja Sunda, yang terdri dari: mahkota emas simbol kekuasaan raja Pakuan,  kalung bersusun 2 dan 3, serta perhiasan lainnya, seperti benten, siger, tampekan dan kilat bahu. Atribut-atribut  kebeesaaran tersebut kemudian diserahkan kepada raden Angkawijaya yang kemudian naik tahta Sumedang larang dengan gelar Prabu Geusan Ulun (mp. 1579-1601 M).
     Meskipun tempat penobatan raja, Palangka Sriman di Pakuan diboyong ke Banten oleh Maulana Yusuf, tetapi ia tidak bisa memboyong mahkota kebesaran Sunda. Sehingga Sumedang Larang lah yang tetap dianggap sebagai  penerus kemaharajan Sunda terakhir.
     Prabu Geusan Ulun adalah raja terbesar dan terakhir. Penerusnya, rangga Gempol I yang masih berdarah Cirebon kemudian bergabung dengan mataram, sehingga Sumedang Larang berubah statusnya dari kerajaan menjadi kabupatian.
    

Wilayah Kekuasaan
      Wilayah kekuasaan Sumedang Larang meliputi  Kuningan, Garut, Bandung, Tasik dan Suykabumi (wilayah Priangan). Kecuali Galuh (Ciamis). Pada masanya kerajaan Sumedang mengalami kemajuan yang pesat  dibidang sosial, budaya , agama, militer dan pemerintahan.
     Tetapi ketika dianggap sebagai penerus kekuasaan dari Pajajaran, luas wilayahnya semakin luas. Di barat  berbatasan dengan sungai Cisadane, di timur berbatasan dengan sungai Cipamali (brebes, purwekerto, cilacap, Banyumas), kecuali Cirebon dan jayakarta, batas utara laut Jawa dan selatannya samudra hindia.

Konflik Dengan Cirebon
     Dalam upayanya memperdalam agama Islam, Prabu Geusan Ulun pernah ke Demak, yang diikuti oleh 4 perwira utamanya yang disebut kandaga lante. Setelah dari Demak, ia mampir di Cirebon Disini ia bertemu dengan penguasa Cirebon, Panembahan Ratu.
      Prabu Geusan Ulun  terkenal mempunyai perilaku yang santun, disamping  sangat tampan, sehingga disenangi penduduk Cirebon, termasuk prameswari Panembahan Ratu, yang bernama Ratu Harisbaya. Sang ratu sangat tertarik dan jatuh cinta  pada Geusan Ulun, sehingga ketika rombongan  Prabu Geusan Ulun pulang ke Sumedang, ia dengan tanpa sepengetahuannya ikut rombongan. Karena mengancam akan bunuh diri, akhirnya ia di bawa pulang ke Sumedang.
     Karena kejadian ini Panembahan Ratu marah besar dan mengirim pasukan untuk  merebut kembali  ratu Harisbaya, sehingga terjadi perang antara Cirebon dan Sumedang.
     Dengan penengah sultan Agung dari Mataram yang meminta agar panembahan ratu menceraikan ratu Harisbaya, yang aslinya berasal dari Pajang-Demak yang dinikahkan oleh sultan Agung dengan Panembahan Ratu. Panembahan Ratu bersedia dengan syarat  menyerahkan wilayah  barat sungai Cilutung (sekarang Majalengka) untuk menjadi wilayah Cirebon.
     Karena peperangan itu pula ibukota Sumedang larang dipindahkan ke Gunung Rengganis, yang sekarang disebut dengan Dayeuh Luhur.

Prameswari dan Putra Putri Prabu Geusan Ulun
     Prabu  Geusan Ulun memiliki 3 orang istri, yang pertama Nyi Mas Cukang Gedeng Waru, putri Sunan Pada. Yang kedua adalah Ratu Harisbaya, yang berasal dari Pajang Demak, dan yang ketiga adalah Nyi Mas Pasarean. Dari ketiga istrinya tersebut, ia memiliki 15 orang anak, yaitu:
  1. Pangeran rangga Gede, yang merupakan cikal bakal bupati Sumedang.
  2. Raden  Aria Wiraraja
  3. Kiai Kadu rangga Gede
  4. Kiai rangga Patrakalasa di Cunduk kayu
  5. Raden Aria Rangga Pati di Haur koneng
  6. Raden Ngabehi Watang
  7. Nyi Mas Demang Cipaku
  8. Raden Ngabehi Martayudha di Ciawi
  9. Raden rangga Wiratama di Cibeureum
  10. Raden rangga Nitinagara di Pagaden dan Pamanukan
  11. Nyi Mas Rangga pamade
  12. Nyi Mas Dipati Ukur di Bandung
  13. Raden Suriadiwangsa, putra ratu Harisbaya dari panembahan Ratu
  14. Pangeran Tumenggung Tegal Kalong
  15. Raden kiai Demang Cipaku di dayeuh Luhur.

Akhir Kerajaan Sumedang Larang
      Prabu Geusan Ulun merupakan raja terakhir Sumedang larang, karena penguasa  selanjutnya memilih menjadi  bagian dari Mataram dan pangkat raja turun menjadi adipati (bupati) pada masa pemerintahan rangga Gempol I pada tahun 1620 M.

 (Sumber: dari berbagai sumber di internet)