Minggu, 14 Agustus 2016

DEMUNAWAN, RAJARESI DARI SAUNGGALAH (KUNINGAN)

Kata Pengantar


Salah seorang yang banyak dibicarakan dalam Naskah Carita Parahiyangan adalah tokoh yang bernama Rahiyangtang Kuku atau disebut juga dengan nama Sang Seuweukarma, atau dikenal juga dengan nama Resi Demunawan. Resi Demunawan merupakan pendiri istana Saunggalah di Kuningan.






NASKAH

A.. SILSILAH DAN KEKUASAAN
Rajaresi Demunawan atau rahiyangtang Kuku atau dikenal juga dengan nama  Sang Seuweu Karma. Ia dkienal sebagai raja yang adil, sehingga gelar Seuweu Karma berkaitan dengan keadilan ini. Seuweu dalam bahasa indonesia berarti anak atau putra, karma berarti adil, atau berkaitan dengan huku keadilan. Karena ia sangat bijak dalam menentukan hukum, dan ia sendiri dikenal dengan gelar rajaresi (resiguru) artinya raja yang ahli juga dalam bidang keagamaan, dikenal arif dan bijaksana. Dan dalam Naskah Carita Parahiyangan diungkapkan betapa arifnya dia sehinngga dikenal sebagai “tempat panyuluhan jalma rea (Tempat meminta pendapat banyak orang)”.
Rajaresi Demunawan merupakan putra kedua dari pasangan Rahiyang Sempak Waja dengan istrinya, Pwah Rababu. Ia merupakan adik dari Prabu Purbasora (Raja Galuh ke-4 yang mengkudeta Prabu Sena), dan kakak lain bapak, Prabu Sena (Raja galuh ke-3).
Demunawan menikah dengan putri penguasa Kuningan, Sang Pandawa atau Prabu Wiragati, yang bernama Pohaci Sangkari pada tahun 671 M.
Ketika masih di Kuningan,  dalam naskah Wangsakaerta (Pustaka rajya rajya-i Bhumi Nusantara) ia tinggal di  keraton yang ada di kuningan yang dinamakan  Sangkarmasaya, yang berarti tempat sang karma, yaitu tempat Demunawan tinggal menetap dan memerintah daerahnya. Tetapi ketika ia berkuasa atas Kuningan dan Galunggung, ia berkuasa di saunggalah. Saunggalah berasal dari kata saung berarti Rumah, dan Galah berarti panjang. Dengan demikian arti Saung Galah berarti Rumah panjang, atau Keraton yang memanjang.

1.. Rahiyang Sempak Waja (620-   M)
Rahiyang Semplak Waja atau Batara dangiang Guru merupakan anak tertua Wretikandayun  yang lahir tahun 620 M. Sempak waja tidak menjadi raja karena ia ompong. Dengan demikian ia kemudin  memilih menjadi resiguru (batara dangiang guru)  di Galunggung. Sempak Waja menikah dengan Pwah Rababu dan mempunyai 2 anak, yaitu: Prabu Purbasora dan Resi Demunawan.
Prabu Purbasora karena merasa anak tertua dan dilahirkan dari anak tertua raja pendiri Galuh. Karena itu ia merasa paling berhak atas tahta galuh. Dengan alasan moralitas kemudian Prabu Purbasora pada tahun 716 M mengkudeta  Raja Galuh, yaitu Prabu Sena yang merupakan adiknya seibu.

2.. Menerima Tahta dari Ayah dan Mertua
Setelah pasca kudeta Sonjaya terhadap Prabu Purbasora (kakak Demunawan). Untuk mengeksiskan kekuasaan Demunawan, maka pada tahun 723 M Demunawan mendapatkan tahta  raja Kuningan dari mertuanya, Sang Pandawa. Dan ia juga mendapat tahta Galunggung dari ayahnya, Batara dangiang Guru sempak Waja. Dengan demikian kekuasaan Demunawan kemudian meliputi Kuningan dn juga Galunggung.
Dengan berlalunya waktu, dan menjadikan kerajaan Saunggalah menjadi kerajaan yang disegani baik otoritasnya dalam kekuasaan dan juga dalam keagamaan. 

B. KONSTALASI POLITIK GALUH TAHUN  723 M PASCA KUDETA SONJAYA TERHADAP PURBASORA
Setelah terjadi kudeta Sonjaya terhadap Prabu Purbasora pada tahun 723 M, maka konstalasi perpolitikan di kerajaan galuh berubah. Meskipun Sonjaya dapat mengalahkan Prabu Purbasora dan dapat menguasai Galuh. Tetapi Sonjaya tidak serta merta menguasai galuh secara keseluruhan.
Galuh dalam sejarahnya dibangun dalam otokrasi keagamaan. Karena itu otokrasi keagamaan mempunyai wilayahnya yang independen. Dengan demikian meskipun sistem pemerintahan Galuh dikuasai  tidak otomatis menguasai seluruhnya. Karena Galuh mengakui kekuasaan otokrasi dari para penguasa agama. Sehingga dengan dikuasainya Galuh tidak serta merta dapat menguasai seluruh wilayah, terutama yang berkaitan dengan otokrasi kekuasaan keagamaan. Dan otokrasi kekuasaan keagamaan yang sangat dihormati di Galuh adalah Kabataraan Galunggung, yang didirikan oleh putra pertama pendiri Galuh, Wretikandayun, yang bernama Batara dangiang Guru Sempak Waja.
Otoritas Galunggung waktu itu masih dipegang oleh tokoh yang sangat dihormati oleh masyarakat Galuh, yaitu Batara Dangiang Guru Rahiyang Sempak Waja. Yang secara silsilah merupakan ayah dari Prabu Purbasora, dan kakek dari Sonjaya itu sendiri.
Dengan demikian, meskipun Sonjaya dapat menguasai istana galuh, tetapi  secara de fakto masih tidak diakui sebagai penguasa Galuh secara keseluruhan, karena belum diakui oleh otokrasi kekuasaan keagamaan, terutama Galunggung. Apalagi ketika Sonjaya diuji oleh Batara dangiang Guru untuk mengalahkan raja raja di daerah Kuningan, Tetapi Sonjaya tidak mampu mengalahkannya.
Sehingga Sonjaya kemudian meminta ijin kepada Batara dangiang Guru Sempak Waja, untuk menjadikan Resi Demunawan dari Saunggalah untuk menjadi raja Galuh. Sonjaya memandang bahwa  Resi Demunawan merupakan adik dari Prabu Purbasora.  Tetapi permintaan  ini ditolak oleh Sempak waja, karena ia merasa curiga bahwa hal itu hanya siasat Sonjaya untuk memancing Demunawan masuk dalam perangkapnya di galuh, setelah itu membinasakannya. Dan alasan Sempak waja yang kedua adalah karena ia tidak rela Demunawan menjadi bawahan Sonjaya. Di ketahui juga bahwa Sonjaya waktu itu juga telah menjadi raja di Pakuan.
Karena Sonjaya tidak dapat menguasai ketiga penguasa di Kuningan (tiga serangkai dari Kuningan: sang Pandawa, sang wulan dan ), maka Sonjaya akhirnya menerima siapapun yang ditunjuk oleh Batara dangiang Guru yang hendak memegang pemerintahan di galuh. Batara dangiang Guru sempak waja kemudian menunjuk Premanadikusumh, putra patih Wijaya atau cucu Purbasora (atau buyut Sempak Waja itu sendri). Dan untuk mengontrol kekuasaan di Galuh sebagai penyeimbang, maka sonjaya kemudian menunjuk putranya, yang bernama Temperan Barmawijaya menjadi patih di Galuh.
Tidak hanya itu, dalam membendung kekuasaan Sonjaya di Galuh, maka Batara Dangiang guru Sempak Waja kemudian mengukuhkan kedudukan Demunawan di Kuningan. Pada tahun 723 M, Demunawan dinobatkan menjadi raja di Kuningan menggantikan kedudukan mertuanya, Sang pandawa atau Prabu Wiragati.  Dan pada waktu itu juga ia kemudian meyerahkan wilayah kekuasaan galunggung kepadanya. Karena ia menerima tahta Galunggung, yang mempunyai otoritas keagamaan yang sangat disegani, maka dikemudian hari ia dikenal dengan gelar raja Resi Demunawan.
Dengan demikian Demunawan  berkuasa atas wilayah Kuningan dan juga Galunggung, yang kemudian hari dinamakan kerajaan Saunggalah, karena memilih Saunggalah sebagai ibukota pemerintahannya.
Dengan pembentukan kerajaan baru yang independen ini seolah Batara Dangiang Guru telah membuat tandingan kerajaan Galuh. Karena kerajaan Sunda dan Galuh itu sendiri tidak berani mengutak ngatik kekuasaan Resiguru demunawan di Saunggalah.

1.. Sonjaya Pada Tahun 732 M Mendapat Tahta Medang Bumi Mataram
Setelah kekuasaan galuh diserahkan kepada Premanadikusumah, Sonjaya kemudian kembali ke Pakuan. Tetapi pada tahun 732 M, Sonjaya dinobatkan menjadi penguasa (raja) menggantikan ayahnya, Prabu Sena, yang telah berkuasa sebelumnya. Prabu Sena setelah dikudeta oleh Prabu Sena pada tahun 716 M, ia melarikan diri ke Medang Bhumi Mataram, kerajan istrinya, sanaha, berasal. Ia kemudian menjadi raja di sana. 
Sebagai konsekwensi kepindahan Sonjaya ke Bhumi Mataram, maka kekuasaan Sunda kemudian di serahkan kepada putranya, Prabu Temperan Barmawiajaya.

2. Prabu Temperan Barmawijaya
Setelah mendapat tahta kerajaan Sunda pada tahun 732 M, dari ayahnya, Sonjaya. Prabu Temperan merasa perlu untuk mengeksikan diri sebagai raja, terutama ddi daerah Galuh.
Karena itu untuk mengeksiskan kekuasaannya di kedua kerajaan Prabu Temperan kemudian menyingkirkan kekuasaan Premanadikusumah dari tahta Galuh. Dan hal ini mendapat  kesempatan ketika Premanadikusumah sedang dalam pertapaannya.
Dan hal ini diungkapkan dalam Naskah Carita Parahiyangan:
“Di wates Sunda, aya pandita sakti, dipateni tanpa dosa, ngaranna Bagawal Sajalajala. Atma pandita teh nitis, nya jadi Sang Manarah. Anakna Rahiang Tamperan duaan jeung dulurna Rahiang Banga. Sang manarah males pati.”

B. GALUH TAHUN 739 M PASCA KUDETA SANG MANARAH
Pada tahun 739 M terjadi perang besar di Kerajaan Galuh. Hal ini diakibatkan oleh kudeta yang dilakukan oleh Sang Manarah (Ciung Wanara) terhadap penguasa Sunda Galuh,  Prabu Temperan, yang menyebabkan Prabu temperan meninggal dunia pada tahun 739 M. Dengan demikian tahta galuh sejak tahun 739 M dipegang oleh Sang Manarah.
 Sisa pasukan kerajaan  dipimpin anak Temperan, yang beernama  Hariang Banga, juga mulai terdesak.  Hariang Banga dapat ditangkap dan dipenjara oleh Ciung Wanara, tetapi Hariang Banga dapat meloloskan diri. Dan ia mulai menyusun kembali pasukan untuk menyerang Galuh.
Prabu Sonjaya yang sudah menjadi raja di Jawa (Medang Mataram) sangat marah ketika mendengar anaknya, Prabu Temperan, meninggal akibat kudeta tersebut. Sehingga ia kemudian mengerahkan pasukan dari Mataram untuk menyerang Galuh dengan 4 kekuatan besar. Pasukan satu bernama Tomarasakti dipimpin oleh Sanjaya; pasukan 2 bernama Samberjiwa dipimpin oleh Rakai Panangkaran (putra sanjaya), pasukan 3 bernama Bairawamamuk dipimpin oleh Panglima Jagat Bairawa, pasukan 4 bernama Batarakroda, dipimpin oleh Langlang Sebrang. Dan dari barat juga bergerak tentara dari ibukota Pakuan menuju menyerang Galuh yang dipimpin oleh Hariang Banga dan patihnya.
Tetapi perang besar ini kemudian dapat dihentikan oleh Raja resi Demunawan yang waktu itu berusia 93 tahun, dengan diadakan gencatan senjata. Perundingan gencatan senjata  digelar di keraton Galuh pada tahun 739 M. Kesepakatanpun tercapai: Galuh harus diserahkan kepada Sang Manarah, dan Sunda kepada Rahiyang Banga (cucu Sanjaya), dan Sanjaya memimpin Medang Mataram. Dengan demikian Sunda Galuh yang selama tahun 723-739 M, merupakan satu kekuasaan terpecah kembali. 
Dan untuk menjaga agar tak terjadi perseturuan, Manarah dan banga kemudian dinikahkan  dengan kedua cicit Demunawan. Manarah dengan gelar Prabu Jayaperkosa Mandaleswara Salakabhuwana, memperistri Kancanawangi, sedang Banga sebagai raja Sunda  bergelar Prabu Kertabhuwana Yasawiguna Hajimulya, mengawini adik Kancanawangi yang bernama Kancanasari.


Dengan demikian Resi Demunawan telah melakukan kebijakan yang sangat cerdas, meskipun sistem kenegaraan telah terpisah, tetapi seluruh tataran sunda dibangun dengan kekeluargaan. Dengan perkawinan keluarga Saunggalah dengan istana Galuh dan juga Istana Pakuan, seolah ikatan keluarga dijalin lagi melalui suatu ikatan perkawinan keraton Saunggalah, Galuh dan Pakuan. Dan dikemudian hari ikatan tersebut dijalin, sehingga kerajaan sunda di Pakuan, Galuh dan Saunggalah, seolah menjadi satu kesatuan. Dan ketiga kota tersebut kemudian dijadikan menjadi ibukota kerajaan sunda, tergantung raja sunda dimana berasal. Dan penguasa terkenal dikemudian hari, Prabu Darmasiksa, yang digelari titisan Wisnu berasal dari istana saunggalah ini.


(lanjut)
By Adeng lukmantara
Peminat Studi Peradaban Sunda dan Islam

Sumber: dari berbagai Sumber