Jumat, 15 Mei 2015

RADEN WIJAYA, PANGERAN SUNDA SANG PENDIRI KERAJAAN MAJAPAHIT

Pengantar

Yang menjadi cerita selanjutnya setelah Ciung Wanara, dan dilanjutkan dengan Cerita Rakeyan Jambri Sang Maharaja Sonjaya, The First and the Greatest King in The Java (raja pertama dan terbesar di jawa), dan yang ketiga disini akan menceritakan tentang Raden Wijaya,  seorang Pangeran dari Sunda sang pendiri dari Kerajaan Majapahit.
Tentang Raden Wijaya ini memang sangat menarik untuk dibicarakan. Karena ia merupakan pendiri kerajaan Majapahit, yang  berkuasa dari tahun 1293 M hingga 1309 M. Tetapi yang menjadi pertanyaan, mengapa tokoh sebesar Raden Wijaya ini tidak diterangkan secara detail sejarah asal usulnya oleh para sejarawan Jawa kuno. Seolah ada yang ditutupi, dan merupakan keengganan untuk mengungkap secara detail, padahal ia merupakan tokoh besar.
Tentang Nama Raden Wijaya ini  Pararton menulis nama Harsawijaya. Sedang Kitab Nagarakratagama yang ditulis pada abad ke-14 M, menyebut Dyah Wijaya. Sedang dalam Prasasti Kudadu yang dikeluarkan oleh Wijaya sendiri pada tahun 1204 M, yaitu Nararya Sanggramawijaya.
Banyak perdebatan tentang Raden Wijaya sang pendiri Majapahit itu? Darimana asalnya, siapa ibu dan bapaknya.  Jawabannya hingga kini masih diperdebatkan. Karena latar belakang Raden Wijaya yang belum  jelas dalam dokumen sejarah hingga kini.
Ada yang mengaitkan Raden Wijaya dengan Wangsa Rajasa. Menurut kitab Pararaton ia adalah putra dari Mahisa Campaka Narasinga Murti Ratu Anggabaya, waktu itu Singasari diperintah oleh Wisnu Wardhana. Tetapi hal itu juga tidak dapat meyakinkan para sejarawan, dan hal ini baru dalam perkiraan.
Ada yang mengaitkan Raden Wijaya dengan tanah Sunda. Betulkah Raden Wijaya justru berasal dari tanah Sunda, ayah dari tanah sunda dan ibu dari Singhasari. Setidaknya kitab Babad Tanah Jawi berkata demikian, yang mengatakan bahwa Raden Wijaya adalah Jaka Susuruh Pajajaran.  Tidak hanya Babad Tanah Jawi yang berkata demikian, dalam Naskah Wangsakerta  pada Pustaka Rajyarajya i Bhumi Nusantara yang ditulis pada abad ke-17 M, mengatakan bahwa Raden Wijaya adalah putra dari Pasangan Rakeyan Jayadarma dari kerajaan Sunda yang menikah dengan Dyah Lembu Tal atau Dyah Singamurti. Putri dari Mahisa Campaka dari kerajaan Singashari. Naskah Wangsakerta adalah karya intelektual yang hebat yang dibuat pada abad ke-17 M. Para sejarawan nasional seolah kebakaran jenggot dengan naskah ini, karena itu ada keengganan mereka untuk menerimanya.
Rakeyan Jayadarma adalah putra mahkota Raja Sunda, yang meninggal masih muda. Ayah dari Rakeyan Jayadarma adalah Prabu Darmasiksa, adalah raja Sunda Galuh. Karena suaminya meninggal maka Dyah Singamurti kemudian pamit kepada mertuanya, Prabu Darmasiksa (raja sunda kala itu). Dyah Singamurti tidak mau tinggal lama lama di pakuan, dan ingin pulang ke Singashari sambil membawa anaknya, Wijaya.
Dalam cerita sunda, diceritakan bahwa Raja Raja majapahit adalah turunan dari Hariang Banga (raja Sunda ke-4), seorang raja yang menjadi saingan dari Ciung Wanara. Turunan dari Hariang Banga, yang bernama Prabu darmasiksa (raja ke-26) mempunyai anak yang bernama Jaya Darma. Dan Jaya darma adalah ayah dari Raden Wijaya tersebut.
Tentang mana yang betul dan mana yang salah, antara Kitab pararton dan kitab Nagarakratagam juga ada perbedaan. Jika kitab Pararaton menyebut Raden wijaya anak dari Maahisa campaka, seorang pangeran dari Singasari. Menurut Kitab pararaton, Narasinghamurti adalah Mahisa campaka, putra Mahisa Wongateleng. Sedang dalam kitam Nagarkratagama, menyebut raden Wijaya adalah putra Dyah lembu Tal, putra Narasinghamurti.
Jadi ada kesesuaian antara Kitab nagarakratagama dengan naskah wangsakerta dalam Pustaka Rajyarajya i bhumi Nusantara, dalam hal nama Dyah lembu tal, putra dari Mahisa Campaka.
 Naskah Wangsakerta menulis bahwa Raden Wijaya berasal dari kerajaan Sunda. Karena itu sejarah raden Wijaya  disini akan dimulai dulu dari zaman pajajaran (kerajaan Sunda) di era Prabu darmasiksa yang berkuasa pada abad ke-13 M.

NASKAH

RADEN  WIJAYA,  PANGERAN  SUNDA PENDIRI KERAJAAN MAJAPAHIT  (WILWATIKA)

BAB I PAKUAN PAJAJARAN DI TAHUN 1280-AN
Pada tahun 1280-an ibukota kerajaan Sunda, Pakuan, geger, karena kematian sang putra mahkota kerajaan Sunda, Pangeran Jayadarma, yang mendadak di usia yang relatif muda. Ada desas desus di masyarakat bahwa sang putra mahkota itu diracun.  
Hal ini menjadikan istri sang putra mahkota, Dyah Lembu Tal yang berasal dari Singasari sangat terpukul dan resah.  Ia akhirnya memutuskan untuk kembali ke Singasari ke tempat mereka berasal. Ia berpamitan kepada mertuanya Prabu Darmasiksa untuk kembali ke tanah Jawa (singasari) dengan membawa putranya, hasil perkawinannya dengan Rakeyan jayadarma yang masih kecil, yang bernama Wijaya atau lengkapnya Sang Nararya Sanggramawijaya
Wijaya sebenarnya secara otomatis menjadi putra mahkota kerajaan Sunda, setelah ayahnya, Rakeyan Jayadarma meninggal. Tetapi karena ketidakjelasan status Dyah Lembu Tal yang ditinggal suaminya, menjadikan Sang Putra mahkota Sunda itu akhirnya di ajak pulang oleh ibunya  ke negeri kakeknya dari pihak ibunya dari kerajaan Singasari.

1.. Sang Kakek: Prabu Darmasiksa Raja Sunda ke-25
Dalam naskah Carita parahiyangan  kakek Wijaya, yang bernama Prabu Darmasiksa, raja kerajaan Sunda ke-25, dipuji sebagai titisan Dewa Wisnu.

Disilihan deui ku Sang Rakéyan Darmasiksa, pangupatiyan Sanghiyang Wisnu, inya nu nyieun sanghiyang binayapanti, nu ngajadikeun para kabuyutan ti sang rama, ti sang resi, ti sang disri, ti sang tarahan, tina parahiyangan.
Ti naha bagina?T i sang wiku nu ngawakan jati Sunda, mikukuh Sanghiyang Darma ngawakan Sanghiyang Siksa.

Prabu Darmasiksa atau Prabu Ghuru Darmasiksa  merupakan raja ke-25 dari kerajaan Sunda dihitung dari maharaja Tarusbawa.  Dalam naskah wangsakerta kitab  Pustaka Rājya-Rājya i Bhumi Nusāntara, Prabu  Darmasiksa disebut dengan gelar Prabu Sanghyang Wisnu atau disebut juga Sang Paramārtha Mahāpurusa
Prabu Darmasiksa naik tahta sunda menggantikan ayahnya, Prabu Dharmakusuma (mp. 1156-1175 M), dan  berkedudukan di Pakuan. Prabu Dharmakusuma merupakan raja sunda ke-24, yang berkuasa selama 18 tahun. Dalam Naskah carita Parahiyangan, Prabu darmasiksa ini disebut dengan Sang Lumahing Winduraja (yang dipusarakan di Winduraja).
Menurut Carita Parahiyangan, Prabu Darmasiksa ini dikaruniai mempunyai umur yang panjang, dan berkuasa selama 150 tahun. (Lawasniya ratu saratuslimapuluh tahun). Sedang dalam naskah Wangsakerta menyebut angka 122 tahun sejak 1097-1219 saka atau 1175-1297 M. Sebagai perbandingan, setidaknya ada 10 penguasa di Jawa Pawathan yang sezaman dengan masa pemerintahannya.
Ia naik tahta 16 tahun setelah Prabu Jayabaya (1135-1159 M), penguasa Kediri Jenggala yang meninggal. Ia juga memiliki kesempatan menyaksikan lahirnya kerajaan Majapahit pada tahun 1293 M yang didirikan oleh Cucunya, Wijaya.

a.. Istri dan Anak anaknya
Prabu Darmasiksa menikah dengan putri dari kerajaan Sriwijaya (Swarnabhumi), keturunan Maharaja Sanggramawijayo tunggawarman. Dari perkawinannya dengan putri Swarnabhumi Raja Sunda tersebut  berputera beberapa orang, dua orang di antaranya masing-masing yaitu: Rakryan Jayagiri atau  Rakryan Jayadarma dan Rakryan Saunggalah atau sang Prabhu Ragasuci .

a.1. Rakryan Jayadarma
Rakryan Jayadarma menikah dengan keluarga Prabhu Jayawiçnuwardhana dari kerajaan Singashari, yaitu Dewi Singhamurti, yang merupakan putri dari  Mahisa Campaka. Dalam naskah Wangsakerta Dewi Singhamurti itu namanya Dyah Lembu Tal.
Dari perkawinannya dengan Dewi Singhamurti, Rakeyan Jayadarma mempunyai anak yang bernama Sang Nararya Sanggramawijaya. Yang dikemudian hari menjadi pendiri dan raja pertama  Wilwatikta atau kerajaan Majapahit, dengan gelar Kretarajasa Jayawardana atau Rahadyan Wijaya.
Rakryan  Jayagiri Sang Jayadarmma tidak pernah menjadi Raja Sunda karena ia meninggal masih muda (ayahnya masih hidup). Karena itu, Dewi Singhamurti dengan putranya yaitu Raden Wijaya waktu masih kanak-kanak kembali ke negeri asalnya hidup bersama mertuanya yaitu Mahisa Campaka di Singashari.

a.2.  Rakryan Ragasuci
Rakryan Ragasuci menikah dengan Darapuspa,  putri Maharaja Trailokyaraja Maulibhuçanawarmmadewa, Raja Melayu Dharmaçraya. Sedang kakaknya Darapuspa yaitu Darakencana menjadi istri Prabhu Kretanagara dari Singashari. Dan kakandanya Darakencana yaitu Tribhuwanaraja Mauliwarmmadéwa dijadikan rajamuda pada waktu itu juga. Kemudian dinobatkan menjadi raja menggantikan ayahnya.
Adapun perkawinan Sang Prabu Ragasuci dengan puteri Melayu Darapuspa berputera beberapa orang, salah satu di antaranya Sang Prabu Citraghanda Bhuwanaraja, yang menggantikan ayahnya yaitu Sang Prabu Ghuru Dharmasiksa menjadi raja Sunda.

a.3. Raden Wijaya
Wijaya sang pendiri Majapahit, dalam buku buku sejarah biasanya di namai Raden Wijaya. Padahal dalam sejarah tempo dulu (pada abad 13-14 M) belum dikenal gelar raden. Wijaya dalam Naskah Pararton  disebut dengan Harsawijaya.  Naskah Negarakretagama yang ditulis pada pertengahan abad ke-14 M, menyebut dengan Dyah Wijaya. Dan dalam prasasti Kudadu disebut dengan Nararya Sanggramawijaya.
Raden Wijaya adalah putra Rakeyan Jayadarma, putra mahkota kerajaan Sunda yang meninggal karena diracun, dan merupakan cucu dari Prabu Darmasiksa, raja sunda ke-26. Ibu Raden Wijaya bernama  Dewi Singhamurti atau Dyah Lembu Tal merupakan putra  Mahisa Campaka  dari kerajaan Singashari, ketika suaminya meninggal, ia membawa sang putra kembali ke negeri asalnya Singashari.
Di Singhasari ia dibesarkan dilingkungan istana. Diceritakan  bahwa ketika Raden Wijaya menginjak remaja, ia sangat pandai, mahir dalam segala ilmu, mahir memanah dan mahir dalam ilmu kenegaraan serta ilmu yang lainnya. Karena  Raden Wijaya  tinggal di keraton Singhasari bersama saudaranya yaitu Prabu Kretanagara, serta dia selalu belajar kepada beberapa menteri dan senapati dan orang-orang yang mahir dalam ilmu pengetahuan. Karena itu, ketika Prabhu Kretanagara menjadi raja Singashari, Raden Wijaya dijadikan senapati angkatan perang Singhasari.
Ia menikah dengan putri dari raja Singahsari, Prabu Kertanegara. Karena itu ketika Prabu Kertanegara meninggal karena serangan dari Jayakatwang dari kediri. Dan ia dapat memamfaatkan serangan kerajaan Mongol terhadap kediri, sehingga kediri hancur. Maka ia kemudian diangkat menjadi raja, dan sekaligus membangun kerajaan baru yang kemudian dinamai kerajaan majapahit atau Wilwatika.
Ia diangkat menjadi raja pada  tanggal 15 kartika 1215 saka atau 10 november 1293 m, dengan gelar Kertarajasa Jayawardhana.

BAB II. PERSELISIHAN KERAJAAN KEDIRI DAN SINGHOSARI
Meskipun negara serumpun dan cukup berdekatan, seolah terjadi perebutan pengaruh antara 2 kerajaan di wilayah timur Jawa, yaitu antara kerajaan kediri dan kerjaan Singhasari. Keinginan saling menguasai seolah telah menjadi dendam diantara 2 kerajaan tersebut. Karena itu mencari kelengahan selalu dicari untuk dapat menguasai lawannya tersebut.

1.. Jayakatwang (w.1293 M)
Jayakatwang ada yang mengatakan bahwa ia merupakan raja kerajaan Kediri dan ada yang mengatakan bahwa ia merupakan bupati geleng gelang (sekitar wilayah Madiun sekarang), tetapi yang terkenal dalam sejarah bahwa jayakatwang adalah Raja Kediri.
Semenjak Kediri dikalahkan oleh Ken Arok dari Singasari  pada masa pemerntahan Kertajaya pada tahun 1222 M. Dan semenjak itu Kerajaan Kediri berada dalam pengaruh kerajaan Singosari. Anak Kertajaya yang bernama Jayasabha menggantikan Kertajaya dan berkuasa hingga tahun 1258 M. Dan setelah itu digantikan oleh putra Jayasabha yang bernama Sastrajaya, yang berkuasa hingga tahun 1271 M. Dan tahun itu juga kekuasaan Kediri jatuh kepada anak Sastajaya yang bernama Jayakatwang.
Sistem kekerabatan antara Singosari dan Kediri dijalin dengan pernikahan putra Jayakatwangyang bernama Ardharaja dengan putri Raja Singosari waktu itu Kertanegara.
Keinginan Jayakatwang untuk menguasai Singasari seolah mendapat jalan, ketika kedatangan Wirondaya, putra Aria Wiraraja, yang karena sering menantang Raja Kertanegara kemudian  dipindah menjadi penguasa di Sumenep madura. Wirondaya memberikan surat dari ayahnya, Aria wiraraja, yang menyarankan agar Jayakatwang segera menyerang Singosari, karena sebagian pasukan kerajaan Singosari sedang ke luar jawa. Dan Jayakatwang mengirim pasukan kecil dibawah pimpinan Jaran Guyang dari sebelah utara. Dan pasukan kecil ini kemudian dapat dikalahkan oleh pasukan Raden Wijaya, salah seorang menantu Raja Kertanegara.
Pasukan Jaran Guyang itu hanyalah taktik Jayakatwang, untuk memudahkan serangan ke ibukota. Dan iapun mengirim pasukan besar dibawah pimpinan Patih Mahisa Mundarang, yang menyerang dari selatan. Dan akhirnya raja Singaosari, Kertanegara tewas. Sehingga kekuasaan Jawa sekarang berada di tangan Jayakatwang, dan Kediri sebagai ibukotanya. Dan atas saran dari Aria Wiraraja agar aden Wijaya yang menjadi menantu Raja Kertanegara agar diampuni dan diberi hutan tarik, yang nantinya untuk kawasan perburuan.

2.. Prabu Kertanegara (w.1292 M)
Kertangegara merupakan penguasa dari kerajaan Singasari yang berkuasa dari tahun 1268 hingga 1292 M.  Ia dianggap sbagai penguasa terbesar dan sekaligus terakhir dari kerajaan Singasari. Ia merupakan putra dari raja Wisnuwardana yang berkuasa dari tahun 1248 hingga 1268 M. Ibu raden Wijaya bernama Waning Hyun  (Jayawardhani), yang merupakan putri dari Mahisa Wong Ateleng, putra Ken Arok.
Kertanegara tidak mempunyai anak laki laki. Dari istrinya yang  bernama Sri Bajradewi ia mempunyai 4 orang anak semuanya wanita, yang bernama: Tribuwaneswari, Narendraduhita, Jayendradewi dan Gayatri. Dan salah satunya dinikahi oleh Raden Wijaya dan Ardharaja, putra Jayakatwang. Tetapi setelah menjadi raja Majapahit, keempat putri Kertanegara itu dinikahi oleh Raden Wijaya.
Pada masa kekuasaanya, Kertanegara  berusaha untuk menancapkan pengaruhnya di dunia melayu. Karena itu ia kemudian mengirimkan ekspedisinya ke sumatra dengan nama ekspedisi Pamalayu. Ekspedisi ini bertujuan untuk menjalin kekuatan bersama untuk menghadapi ekspansi Mongol  dari dnasti Yuan yang bermarkas di Khan Balik (Beijing sekarang). Ekspedisi ini dilakukan 2 kali, salah satunya pada tahun 1275 dibawah pimpinan Kebo Anabrang.
Pada tahun 1289 M, datang utusan dari Kubelai Khan yang meminta Kertanegara untuk tunduk di bawah kekuasaan Mongol, Tetapi hal ini ditolak. Karena itu pada tahun 1293 M, pasukan Mongol mendarat di jawa untuk menyerang Singosari karena telah dianggap menghina kerajaan Mongol.
Karena kerajaan Singasari telah tumbang, dan rajanya tewas pada tahun 1292 M oleh Jayakatwng. Kedatangan pasukan Mongol pada tahun 1293 M ini dimamfaatkan oleh Raden Wijaya untuk menghancurkan kerajaan Kediri dibawah kekuasaan Jayakatwang. Dan setelah dapat mengalahkan Jayakatwang, pasukan Mongol ini kemudian diserang oleh pasukan Wijaya, sehingga kemudian tentara ongol meninggalkan jawa.

(lanjut)

(bY Adeng Lukmantara)
Sumber: Dari berbagai sumber