Selasa, 01 November 2011

Filsafat Menyontek

Pertemuan yang intens dengan siabah membuat diri saya semakin mendapat pencerahan. Siabah adalah nama seseorang yang dia sendiri tidak mau disebutkan namanya, tetapi ia terkenal dengan nama siabah. Nama siabah sendiri merupakan penghormatan pada ayahnya (yang selalu dipanggil abah) yang begitu bijak dan termasuk tokoh sunda yang memang  termarjinalkan karena hegemoni perpolitikan di negeri ini yang kurang menghormati budaya  local yang kaya.

Siabah sendiri  pernah mesantren di cimahi Bandung, pernah pendidikan ikatan dinas PT, IPTN (sekarang PT. DI) di Bandung, dan pernah jadi kartawan tetap di PT tersebut. Kemudian karena kerja di kontraktor ia juga melanglang buana ke jawa timur dan Kalimantan timur. Bandung, Jakarta, Surabaya, bontang, Samarinda, Balikpapan  merupakan kota-kota yang pernah ia kunjungi, Karena ia pernah kerja atau pendidikan dikota itu.

Disamping itu siabah ini adalah penulis yang tekun. Ia menulis sejarah peradaban islam, biografi lebih dari 1500 tokoh dan intelektual muslim.   Ia banyak sekali membaca buku-buku keislaman dan ia meringkasnya menyangkut pembicaraan biografi dan pemikiranya. Karena latar belakang yang kompleks membuat siabah setidaknya  mempunyai pengetahuan yang luas menyangkut berbagai hal, sejarah keagamaan, politik, tekhnologi dan lain-lain, disamping nantinya menjadi teman diskusi yang sangat mengesankan.

Dan salah satu yang sangat mengesankan saya, adalah pembahasan tentang filsafat menyontek. Menurut siabah permasalahan menyontek anak sekolah untuk nilai ujian di bangsa ini menjadi masalah yang hampir sama dengan masalah korupsi dan kolusi pada system birokrasi kita. Gerakan menyonteks yang berlangsung tiap tahun ketika musim ujuian nasional di sekolah-sekolah untuk penilaian yang sesaat. Bagi siabah ini merupakan gerakaan yang sangat mengkhawatirkam bagi kelangsungan masa depan anak bangsa. Gerakan tersebut meupakan gerakan awal generasi korup masa depan.

Menyonteks dalam hubungan belajar mengajar, terutama dalam hubungannya  menentukan penilaian secara keseluruhan, menurut siabah adalah kesalahan yang sangat mendasar. Karena jika dibiarkan akan merusak system dan proses belajar. Jika orang sudah tidak mempercayai lagi sebuah system dan proses maka orang akan males dan skeptis. Jika sudah demikian maka segala harapan orang akan sendirinya mati. Dan jika proses demikian berlanjut maka Negara ini akan dikuasai oleh manusia-manusia rakus yang lambat laun akan menghancurkan Negara secara perlahan-lahan. Jadi inilah bahasanya jika proses contek menyontek dibiarkan dalam tataran proses belajar anak bangsa.

Siabah menambahkan lagi, menurutnya siabah itu adalah orang yang anti dalam contek menyontek. Sebagai orang yang selalu rangking satu di sekolah, dengan tidak nyontekpun selalu mempunyai nilai tertinggi di kelasnya. Jadi untuk apa nyontek.  Bagi orang pintar, bagi orang cerdas nyonteks itu adalah suatu keharaman bagi dirinya baik secara langsung maupun tidak langsung. Karena kalau nyontek baginya tidak akan bisa menilai dirinya dengan orang lain dalam lingkungan akademik. Jadi yang dinamai test bagi orang-orang pinter dan cerdas adalah suatu keharusan dan merupakan suatu hal yang logis untuk selalu dilakukan untuk menilai seseorang dan menilai sutu proses belajar. Karena tanpa test maka kita aakan sulit menilai intelektualitas seseorang atau suatu komunitas bangsa. Jadi ketika contek mencontek dibiarkan atau dilegalkan seperti sekarang ini maka  kita akan sulit  menentukan kualitas anak didik, dan kita juga akan sulit menentukan kualitas sekolah, kulaitas pengajar dan seterusnya.

Sebenarnya yang sangat membahayakan adalah ketika sudah tidak ada lagi anak didik yang idealis. Tatanan membiarkan contek mencontek akan menghilangkan generasi idealis ini. Dan jika sudah tidak ada lagi generasi idealis maka kehancuran Negara akan semakin cepat di depan mata. Karena hal-hal idealis dimatikan, sehingga sangat sulit juga dalam menentukan  penilaian. Karena nantinya Negara akan di atur oleh orang rakus, korup. Dan jika system ada ditangan-tangan generasi korup, maka orang akan males untuk berdikari, males berkarya dan seterusnya.  Jadi Negara bagai di atur oleh orang mati, maka Negara akan stagnan, sehingga Negara akan sendirinya hancur.


(Pemikiran-pemikiran Siabah, Hasil Suatu Diskusi : By Adeng Lukmantara)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar