Minggu, 04 September 2016

KAIRAGA, PENULIS PRODUKTIF DALAM PERADABAN SUNDA KLASIK, PENULIS NASKAH CARITA RATU PAKUAN



PENGANTAR

Membaca tulisan Atep Kurnia, penulis lepas bergiat di Pusat Studi Sunda (PSS) diinternet, yang diposting oleh Aditia Gunawan,  dalam tulisannya yang berjudul  Kairaga dan Karya Karyanya. Sungguh tulisan yang sangat menakjubkan. Seolah menemukan mutiara, yang sedang dicari begitu tentang tokoh Kairaga ini. Dan seolah tidak ada celah untuk menambah dan mengolah isi tulisan ini, sehingga mengenai Kairaga ini merupakan Saduran atau kutipan dari tulisan Atep Kurnia ini.
Kekaguman terhadap karya Kairaga ketika membaca Naskah Carita Ratu Pakuan yang salah satunya adalah kisah perpindahan Keraton Surawisesa di Kawali (keraton Timur) di sekitar Ciamis sekarang ke Keraton Pakuan Pajajaran di bogor sekarang (keraton barat), iring iringan para ratu (Ratu Ambetkasih dan istri istri lainya) diceritakan dengan narasi yang mengagumkan.
Mungkin banyak orang sunda yang belum begitu mengetahui tentang Kairaga ini.  Kairaga merupakan mutiara dalam peradaban Sunda klasik, yang tulisannya hingga sekarang masih ditemui. Dan salah satu karyanya Naskah Carita Ratu Pakuan, sering dikutip banyak penulis ketika menceritakan iring iringan perpindahan keraton dari Kawali ke Pakuan di era Sri Baduga Maharaja Prabu Jayadewata atau Prabu Siliwangi.
Seperti yang diceritakan dalam prasasti Batutulis, bahwa Sribaduga Maharaja dilantik menjadi raja di 2 tempat, pertama mendapat tahta dari ayahnya Prabu Dewa Niskala di istana Galuh di Kawali, karena itu ia kemudian menempati istana Kawali. Dan setelah itu ia kemudian diangkat menjadi raja di Pakuan mengantikan mertuanya, Prabu Susuk Tunggal, dan ia memilih istana Pakuan untuk memerintahnya. Karena itu terjadilah perpindahan dari keraton Kawali ke Pakuan. Dan iring iringan itu diceritakan dalam Naskah Carita Ratu Pakuan. Naskah ini telah dibahas dan diterjemahkan oleh Atja (1970).

NASKAH

BAB I SILSILAH KAIRAGA
Salah seorang penulis dalam peradaban Sunda Klasik. Ia setidaknya menulis 5 buah naskah Sunda klasik yang sudah diungkap. Dan kemungkinan banyak juga yang ia tulis yang belum diungkap, karena hinga kini ada sekitar 50-an naskah sunda yang ada di Perpustakaan Nasional dan Kabuyuta Ciburuy Garut yang masih belum diungkap. Hal itu juga belum naskah naskah sunda klasik yang ada di perpustakaan luar negeri (belanda dan inggris).
Tentang Kairaga ini berdasar Naskah Ratu Pakuan (1970) karya Atja dan Tiga Pesona Sunda Kuna (2009) susunan J Noorduyn dan A. Teeuw, dapat disimpulkan bahwa Kairaa adalah seorang petapa yang tinggal di sekitar Sutanangtung, Gunung Larang Srimanganti. Gunung ini merupakan nama kuno untuk Gunung Cikuray kabupaten Garut sekarang.
Melalui penelusuran dan penafsiran Pleyte yang ada pada Naskah ratu Pakuan dan Tiga Pesona Sunda Kuno , Kairaga diperkirakan hidup pada awa abad ke-18 M. Penelusuran dan penafsiran Plyte ini didasarkan atas perbandingan naskah naskah yang ditulisnya dengan Naskah Carita Waruga Guru yang menunjukan kesamaan corak huruf.
Kairaga tidak meninggalkan keturunan, karena itu karya karyanya yang ia tulis diturunkan kepada kerabat-kerabatnya. Dan ketika Raden saleh, seorang pelukis terkenal, pada tahun 1856 M mencari cari peninggalan purabakala atas inisiatif Masyarakat Seni dan Ilmu Pengetahuan Batavia (BGKW), naskah Kairaga ini diserahkan kepada pelukis tersebut.

BAB II KARYA KARYA YANG DINISBATKAN KEPADA KAIRAGA
Hingga kini setidaknya ada 5 naskah sunda klasik yang dinisbahkan kepada Kairaga. Kelima naskah tersebut adala: Carita Ratu Pakuan (Kropak 410), Kropak 411, Carita Purnawijaya (Kropak 416), Kawih Paningkes (Kropak 419), Gambaran Kosmologi Sunda (kropak 420) dan Darmajati (Kropak 423).
Bukti kepenulisan Kai Raga dinyatakannya dalam bentuk kolofon pada masing-masing naskah di atas dan posisinya biasanya berada di akhir teks. Pada Kropak 410 dan 411, ada keterangan: sadu pun, sugan aya sastra leuwih sudaan, kurang wuwuhan. Beunang diajar nulis di Gunung Larang Srimanganti dan beunang nganggeuskeun di sukra wage gununglarang srimanganti. Ini carik kai raga. (Maaflah, bila ada tulisan berlebih, mohon dikurangi, jika kurang tambahi. Hasil belajar menulis di Gunung Larang Srimanganti dan telah selesai dituliskan pada hari Jumat wage di Gununglarang Srimanganti. Ini juru tulis Kai Raga) (Atja, 1970 dan Undang A. Darsa, 2007).
Demikian pula Carita Purnawijaya (Kropak 416) dan Darmajati (Kropak 423), keduanya menunjukkan keterangan yang sama. Kata-kata yang dimaksud adalah: sugan aya sastra ala de ma, sugan salah gantian, sugan kurang wuwuhan. Beunang Kai Raga nulis, di gunung Larang Sri Manganti (kalaulah ada tulisan jelek dan sia-sia, jika keliru perbaikilah, apabila kurang harap dilengkapi. Tulisan hasil Kai Raga, di Gunung Larang Srimanganti) (Undang A. Darsa, dkk. 2004).
Sementara menurut Atja (1970), Kawih Paningkes (Kropak 419) diakhiri dengan kata-kata: ini kang nulis kai raga nu keur tapa di sutanangtung. Sedangkan Gambaran Kosmologi Sunda (Kropak 420), menurut Undang A. Darsa dan Edi S. Ekadjati (2006) diakhiri dengan kata-kata: ini kang anulis Kai Raga, eukeur tapa di Sutanangtung. Sugan kurang wuwuhan, leuwih sudaan (inilah penulis bernama Kai Raga, tengah bertapa di Suta Nangtung. Bila ada kekurangan mohon ditambah, jika berlebihan mohon dikurangi)
.
BAB III ISI KARYA
Secara garis besar, karya tulis Kai Raga dapat dibagi ke dalam dua bagian. Pertama, yang masuk ke rumpun sejarah. Kedua, masuk ke rumpun keagaamaan. Naskah Sunda kuno karya Kai Raga yang mewakili rumpun sejarah adalah Carita Ratu Pakuan (Kropak 410). Sementara yang mewakili keagaamaan adalah Carita Purnawijaya (Kropak 416), Kawih Paningkes (Kropak 419), Gambaran Kosmologi Sunda (Kropak 420), dan Darmajati (Kropak 423).
Sementara Kropak 411, sejauh ini belum diketahui keberadaannya. Karena dalam Perpustakaan Nasional Republik Indonesia: Katalog induk naskah-naskah Nusantara jilid 4 (1998), naskah tersebut tidak didapatkan lagi datanya. Akan tetapi, catatan Pleyte dalam Poernawidjaja’s Hellevaart, of de Volledigeverlossing, Vierde bijdrage tot de kennis van het oude Soenda (1914), jelas menyebutkan keberadaan naskah tersebut. Dengan demikian, besar kemungkinan naskah tersebut telah raib dari koleksi Perpustakaan Nasional.
Carita Ratu Pakuan, sebagaimana catatan Atja (1970), dibagi dua bagian. Pertama, me-ngenai gunung-gunung pertapaan para pohaci yang akan menitis kepada para putri pejabat calon istri Ratu Pakuan atau Prabu Siliwangi. Kedua, mengenai kisah Putri Ngambetkasih diperistri Ratu Pakuan.
Carita Purnawijaya (Poernawidjaja’s Hellevaart) merupakan adaptasi naskah Jawa kuno yang bernapaskan agama Buddha, Kunjarakarna. Isinya menerangkan Purnawijaya yang mendapatkan pencerahan dari Dewa Utama, perjalanannya ke neraka, dan serta uraian masalah-masalah filosofis yang dia dapatkan. Naskah ini mirip sekali isinya dengan Darmajati, meski di beberapa bagian ada yang berbeda.
Selanjutnya, naskah Kawih Paningkes dan Gambaran Kosmologi Sunda pada dasarnya berisi tentang segala macam renungan mengenai masalah-masalah keagamaan. Gambaran Kosmologi Sunda berisi dialog antara Pendeta Utama dengan Pwah Batari Sri me-ngenai bagaimana semua mahluk menjalankan tugasnya masing-masing sesuai bayu, sabda, dan hedap anugerah dari Sang Pencipta. Selain itu, juga ada disebutkan me-ngenai tuntunan peribadatan yang harus dilakukan.
Sementara, Kawih Paningkes, menurut Ayatrohaedi, dkk. (1987), berisi lembaran mengenai ajaran agama yang bercampur antara kepercayaan Hindu dengan kepercayaan pribumi. Hal tersebut terbukti dengan disebutkannya nama dewa dan dewi agama Hindu dengan nama-nama pohaci dan apsari yang khas Pasundan.

(lanjut.....)

(Sumber: Atep Kurnia, penulis lepas bergiat di Pusat Studi Sunda (PSS). Di internet postingan Aditia Gunawan,  dalam tulisannya yang berjudul  Kairaga dan Karya Karyanya.)
 










BUYUT NI DAWIT, PERTAPA DAN SEORANG PENULIS DI ERA SUNDA KLASIK

Pengantar
Politik bumi hangus dalam penghancuran ibukota Pakuan Pajajaran, menimbulkan permasalahan yang rumit hingga kini, yatu terputus peradaban Sunda klasik dengan generasi sekarang. Yang menyebabkan generasi sekarang harus bersusah payah untuk menemukan khazanah peradabannya yang hilang. Karena berbagai khazanah keilmuan  hilang dengan hilangnya pusat peradaban.
Ketika suatu istana dihancurkan maka isi dari istana itu sendiri akan dengan sendirinya hancur.  Padahal di istana itulah biasanya merupakan tempat  warisan peradaban beratus ratus tahun ditulis   juga akan  hilang. Di istana juga biasanya ada perpustkaan yang mencatat raja raja sebelumnya dan silsilah penguasanya. Bahan tulisan biasanya terbuat dari kertas atau daun lontar dan semacamnya adalah yang gampang atau rapuh terhadap kerusakan, apalagi kalau terjadi pembakaran. Dengan demikian seolah peradaban yang dibangun beratus ratus tahun, musnah seiring musnahnya tempat peradaban itu sendiri. Dan generasi selanjutnya hanya bisa “kokoreh” mencari sisa sisa peradaban, itupun harus dengan bersusah payah.
Dalam pengungkapan kembali sisa sisa peradaban Sunda di era modern  mungkin kita harus berterima kasih kepada ilmuwan atau sejarawan yang hebat semacam: Edi S Ekadjati, Saleh Danasasmita, Atja, Undang A darsa, Ayatrohaedi dan lain lain, dan juga sejarawan Belanda yang bersusah payah mengungkap berbagai naskah Sunda. Meskipun mungkin masih banyak yang belum diungkap atau belum dibahas atau yang harus diungkap. Mudah mudahan ke depannya muncul generasi generasi pengungkap sejarah yang cerdas dari kalangan sunda, sehingga kesinambungan sejarah untuk menemukan jatidiri bangsa terungkap.
Dan pada pembahasan dibawah ini, adalah tentang Buyut Ni Dawit, yang merupakan salah seorang penulis naskah dalam peradaban Sunda Klasik. Seperti kita ketahui bahwa dalam peradaban Sunda Klasik, ada beberapa penulis atau penyalin naskah, diantaranya: Penulis Naskah Carita Parahiyangan yang namanya masih belum diketahui, Bujangga Manik, Buyut Ni Dawit, Sang Bujangga Resi Laksha, Kairaga, Pangeran wangsakerta dan lain lain.
Meskipun data baru sedikit yang ditampilkan, dan masih merupakan saduran, tetapi sesuai dengan prinsip “data sedikit merupakan awal dari pencarian.”. Jadi sangat sayang jika data yang sangat bermamfaat ini tidak ditulis dulu dalam blog ini, Dan setelah itu berarti adalah awal dari pencarian data yang lebih banyak.

NASKAH

BAB I TENTANG BUYUT NI DAWIT

Salah seorang penulis dalam peradaban Sunda Klasik. Buyut Ni Dawit merupakan seorang pertapa perempuan, penulis Naskah Sewaka Darma.
Berdasar Naskah Sewaka Darma (Kropak 408), ia `berasal dari kuta Wawatan dan pernah bertapa di pertapaan Ni Teja Puru Bancana.
Kuta Wawatan, menurut para sejarawan terletak di Priangan sebelah timur, karena penulis naskah Sewaka Darma menyebutkan nama Kendan, Medang, dan Menir yang masing-masing merupakan tempat kediaman Resi Guru Manikmaya, Kandiawan, dan Wretikandayun di daerah Priangan timur.
Pertapaan Ni Teja Puru Bancana berada di Gunung Kumbang (1216 m  dpl). Gunung ini terletak di Kabupaten Brebes sekarang (jawa tengah) atau tepatnya mungkin di suatu tempat yang dunamakan gunung Sagara (800 dpl). Yang letaknya di lereng selatan Gunung Kumbang tempat dimana naskah naskah kuno di temukan.
Meskipun penduduk kampungnya sekarang telah tiada setelah peristiwa pengambilan naskah oleh bupat Brebes Rd. Aria Tjandranegara. Tempat tersebut sejak dulu hingga sekarang dianggap mempunyai nilai spiritual tretentu bagi masyarakatmya., dimana penduduk sekitarnya hingga kini merupakaan masyarakat sunda, dan dalam beberapa aspek  kehidupanya masih cukup memegang teguh  tradisi leluhurnya. Tempat Gunung Sagara sampai saat ini masih ada dan dikeramatkan.

BAB II KARYA

Karya yang ditulis oleh Buyut Ni Dawit sekaramg ini dkenal demgan nama  Naskah Sewaka Darma atau Kropak 408. Dan naskah aslinya masih tersimpan di Museum Nasional Jakarta. Beberapa naskah kuno yang ada di gunung sagara lereng selatan gunung Kumbang diambil oleh Raden Aria Tjandranegara, Bupati Brebes (mp. 1880-1885 M), pada tanggal 14 November 1882, kemudian diserahkan ke K.F. Holle untuk diteliti, yang khabarnya kemudian dismpan di Bataviaasch Genootschap Van Kunsten en Wetenschappen.
Sebagai koleksi Museum Nasional Jakarta, naskah Sewaka Darma  diberi nama register Kropak 408. Orang yang pertama mengumumkan naskah ini adalah Saleh Danasasmita dan kawan kawan tahun 1987. Naskah ii tretra pada daun lontar yang ditoreh peso pangot,  pisau khusus untuk menulis pada daun, bambu, atau kayu. Huruf dan bahasa yang dipakai adalah Sunda Kuno. Bentuknya puisi. Naskah ini terdiri darin37 helai daun rontal, 74 halaman, dan hanya 67 halaman yang terisi.
Tentang kapan naskah ini ditulis, tetapi para ahli menilai naskah ini dibuat pada abad ke-15 M. Berdasarkan isinya, usia naskah jauh lebih tua dari tipe hurufnya yang berasal dari abad ke-18 Masehi. Karena ajaran yang tersurat di dalamnya mengenai kelepasan jiwa (moksa) dengan gaya penuh kesungguhan, sulitlah diterima bila hal itu dikerjakan dalam suasana abad ke-18, bahkan abad ke-17 sekalipun. Pekerjaan itu hanya mungkin dilakukan pada saat agama Islam belum merupakan anutan umum di tatar Sunda. Sehingga diduga naskah ini merupakan salinan dari naskah yang lebih tua. Mungkin sekali naskah aslinya disusun paling tidak dalam abad ke-15 Masehi ketika anasir Hindu dalam kehidupan religi masyarakat Sunda belum merosot terlalu jauh
Isi naskah Sewaka Darma secara umum berbicara mengenai ajaran yang menguraikan cara persiapan jiwa untuk menghadapi maut sebagai gerbang peralihan ke dunia gaib. Menurut Danasasmita, dkk. naskah ini merupakan salah satu bukti tentang berkembangnya aliran Tantrayana di kawasan Jawa Barat pada masa silam. Ajarannya menampilkan campuran aliran Siwa Sidanta yang menganggap semua dewa sebagai penjelmaan Siwa dengan agama Buda Mahayana.
Sewaka Darma dibuka dengan kalimat:

Ini kawih panyaraman, pikawi[h]eun ubar keueung, ngaranna pangwereg darma, ngawangun rasa sorangan, [h]awa[k[aneun sang sisya, nu huning sewaka darma.

(Inilah kawih [kidung] nasihat, untuk dikawihkan sebagai obat rasa takut, namanya penggerak darma, [untuk] membangun rasa pribadi, [untuk], diamalkan para siswa, yang paham sewaka darma).
Istilah “kawih” sampai sekarang masih digunakan oleh masyarakat Sunda dalam pengertian lagu atau nyanyian vokal. “Panyaraman” masih mempunyai kesamaan dengan bahasa Sunda sekarang, berasal dari kata “caram” (di Priangan barat umumnya menggunakan kata “carek” yang searti dengan kata ini), artinya “larang” atau “peringatan”. “Kawih
panyaraman” berarti “nyanyian (tentang) larangan” atau “nyanyian (tentang) peringatan”, yang bisa juga berarti “nyanyian (suatu) nasihat”.

Berdasarkan teks tersebut naskah ini ternyata bernama Kawih Panyaraman, dan merupakan teks yang cukup panjang, yaitu 37 lembar dengan tulisan sebanyak 67 halaman. Apakah teks Kawih Panyaraman ini bisa dan biasa dinyanyikan (dikawihkeun), hal ini tidak dapat dipastikan. Akan tetapi bila dipegang asumsi bahwa istilah “kawih” dalam naskah ini masih searti dengan istilah “kawih” zaman sekarang, maka ada kemungkinan bahwa teks ini bisa dan biasa dinyanyikan pada zamannya. Sampai abad ke-19, bahkan pertengahan abad ke-20, untuk membaca suatu teks yang panjang, orang Sunda biasanya akan membacanya sambil dinyanyikan. Tujuannya, seperti dikemukakan Moriyama (2005:66), bagi orang Sunda, mendaraskan dangding (ditembangkeun) adalah hiburan sekaligus pendidikan. Bisa dibandingkan pula dengan artefak hidup seni pertunjukan buhun yang masih hidup sekarang dan menonjolkan sisi isi teks lagu, yaitu pantun. Pantun yang teksnya sangat panjang disajikan dengan cara dikawihkeun (dinyanyikan) pula. Teks Kawih Panyaraman sangat “hidup” karena memberikan pesan isi, namun sebaliknya secara karawitan—bila teks ini pada zamannya bisa dan biasa dinyanyikan—maka naskah ini merupakan teks mati karena tidak bisa memberikan gambaran bagaimana teks ini seharusnya dinyanyikan seperti pada zamannya.


(lanjut……)

By Adeng Lukmantara
peminat Studi Peradaban Sunda dan Islam

(Sumber: saduran dan ringkasan dari : Wikipedia, Facebook Salakanagara. Naskah-sunda.blogspot.com, wacana.com,  , sasananuswantara.wordpress.com dll)



Senin, 22 Agustus 2016

SI KABAYAN : TOKOH IMAJINATIF YANG INSPIRATIF

Oleh 
Adeng Lukmantara
Peminat Studi Peradaban Sunda dan Islam
Asal Hariang Sumedang Jawa barat


Pengantar

Salah satu fungsi dari belahan otak kanan adalah imajinasi atau menghayal. Mengenai kata mengkhayal atau imajinasi, jika dikaitkan dengan tokoh, mungkin orang sunda akan  teringat pada cerita atau dongeng tentang Si Kabayan.
Cerita Si kabayan seolah sudah menjadi cerita turun temurun masyarakat sunda sejak dulu. Si Kabayan ini adalah tokoh imajinasi yang sangat terkenal di tataran sunda. Si Kabayan adalah si penghayal besar. Kadang orang memandang waktu itu sangat negatif "pangedulan" alias males.
Yang diketahui dari kita tentang Si Kabayan ini adalah tokoh yang suka berkelakar, humoris, kadang dianggap malas tetapi selalu memberikan solusi yang sangat cerdas.
Saya tidak tahu masuk mana tokoh Sikabayan ini. Apakah dia masuk kategori kecenderungan pengguna otak kiri atau otak kanan. Tapi yang jelas si Kabayan ini adalah tokoh imajinatif ditanah sunda yang sangat inspiratif, karena dia selalu dihubungkan dengan solusi masyarakat di zamannya. 
Karena sangat inspiratif, maka tokoh si Kabayan ini telah ditulis dalam beratus ratus judul, telah disinetronkan dalam berbagai versi dan telah difilmkan dalam dalam beberapa judul. 
Jadi tokoh Sikabayan ini merupakan tokoh imajinatif yang sangat inspiratif, meskipun diizamannya dia sering disebut pangedulan, atau tidak kreatif.

Adeng Lukmantara
Peminat Studi Peradaban Sunda dan Islam
Asal Hariang Sumedang


SI KABAYAN : TOKOH IMAJINATIF YANG INSPIRATIF

BAB I SI KABAYAN DALAM SUATU CERITA

1.. Pemeran Utama Cerita Si Kabayan
Dalam suatu cerita, tokoh utama dalam kisah Si Kabayan hanya 4 orang, yaitu Si Kabayan itu sendiri, Si Iteung istrinya, Si Abah yang merupakan mertua laki-laki Si kabayan (bapak Si Iteung), dan Ambu yang merupakan mertua perempuan Si Kabayan. Sedang tokoh tokoh lainnya merupakan pelengkap, tergantung pada tema ceritanya.
Si kabayan selalu diidentikan orang yang polos, agak malas, tetapi agak cerdas, banyak ide disamping humoris. Keberhasilan dalam menyelesaikan berbagai permasalahan yang rumit, kadang di luar nalar dizamannya. Keberhasilan bisa berupa kemujuran, atau memang karena logika yang masuk akal.
 Si Iteung digambarkan sebagai wanita yang cantik, berwajah agak hitam tetapi manis (hitam manis / Si hideung santeun) yang menjadi kembang desa dan primadona para jejaka di desa, tetapi si kabayan dapat memenangkan persaingan, dan dapat merebut hati Si Iteung.
Si Abah merupakan orang tua Si Iteung, yang sebenarnya tidak mau mempunyai menantu seperti Si Kabayan. Tetapi kemudian harus terpaksa merelakan anaknya di kawin oleh si Kabayan, karena kegigihan Si kabayan dalam memperjuangkan untuk meluluhkan hati anaknya Si Iteung.
Ambu merupakan ibu dari Si Iteung, dan dikenal tokoh bijaksana, yang sering mendamaikan kesalahpahaman pemikiran Si Kabayan dengan suaminya (Si Abah) yang kadang terkenal agak kurang menyukai sifat sifat Si Kabayan.
Sedang Tokoh lain hanyalah tokoh pelengkap tergantung pada tema cerita Si Kabayan. Tetapi kebanyakan cerita berasal dari konflik antara Si Kabayan dan mertuanya, Si Abah. Maka dalam cerita cerita atau film film tentang Si Kabayan, kadang kadang muncul dari Si Abah diantaranya kata: Si Borokokok atau Si Ontohod, untuk istilah yang diberikan kepada Si Kabayan.
2.. Sifat Dasar Si Kabayan
Si kabayan di daerah nusantara merupakan tokoh jenaka yang tiada duanya. Ceritanya berkembang mengikuti perkembangan zaman. Tetapi ada keunikan dari tokoh ini yang tetap melekat, yaitu kepolosan yang seolah tidak ada obsesi dan tendensi; selalu memperlihatkan sikap orang kampung (agak kampungan); tidak pernah merasa tersinggung jika dikritik atau dihina dan selalu menanggapinya dengan santai; seperti orang malas tetapi selalu berpikir (merenung); daya imajinatifnya selalu melampaui zamannya, cerdas dan banyak akal. Jika menghadapi permasalahan yang rumit sekalipun tetap dalam wajah dan kondisi yang tidak pernah panik, dan solusi atau pemecahan permasalahan kadang sulit di duga tetapi masuk akal, dan dengan solusi permasalahan yang cemerlang.
Si Kabayan adalah seorang perenung yang luar biasa. Perenung merupakan istilah untuk kata orang yang sering merenung memikirkan sesuatu ynag kadang di luar pemikiran  zamanya. Karena itu ia kadang imajinatifnya melebihi zamanya dan di luar pikiran masyarakat sekitarnya. Karena itu mertuanya kadang menganggap si kabayan seperti orang yang malas (pangeudulan) dan seorang penghayal besar.
Karena pemikiran yang luar biasa, banyak akal  dan gigih dalam memperjuangkan kemauannya, meskipun seperti orang kampungan dan pemalas. Tetapi justru sikap yang demikian yang dapat meluluhkan hati Si Iteung, bunga desa si mojang  hideung santeun (Si Iteung yang hitam manis).
2.. Perbandingan dengan Tokoh Lain
Kadang orang mensejajarkan tokoh Si kabayan ini dengan Abu Nawas atau Nasrudiin dalam sastra Arab pada abad pertengahan. Seperti halnya Abu Nawas atau Nasruddin adalah tokoh jenaka yang sangat cerdas, seseorang yang membuat ketidakmungkinan menjadi mungkin dengan keberhasilan yang luar biasa dan dilakukan dengan hal hal yang jenaka.
Meskipun terlalu jauh mensejajarkan Si Kabayan dengan tokoh seperti Abu Nawas dan juga Nasruddin, tetapi Tokoh Si kabayan ini hanya ada satu satunya di Nusantara yang begitu membumi. Dan hanya ada dalam kebudayaan masyarakat Sunda.
Wikipedia menulis bahwa si kabayan merupakan tokoh imajinatf dari budaya Sunda. Polahnya dianggap lucu, polos, tetapi sekaligus cerdas. Atep Kurnia dalam tulisannya mengutip pendapat Rassers (1941) yang menilai tokoh si kabayan ini adalah tokoh ambivalen. Selain sebagai penghubung dan pewarta dari sang pencipta, ia juga mewakili totalitas dan kekuatan masyarakat yang bersifat membangun, tetapi juga menghambat. Oleh karena itu Rassers menganggap Si kabayan adalah pahlawan budaya sekaligus tukang tipu.
Entah dari mana tokoh sikabayan ini berasal. Kadang orang memandang bahwa Si Kabayan hanyalah tokoh fiktif. Tetapi ada yang mengatakan bahwa tokoh si kabayan ini adalah tokoh nyata yang pernah ada di Banten.

BAB II CERITA SI KABAYAN DARI MASA KE MASA
Dalam peradaban di Indonesia, yang mempunyai sejarah lisan terbanyak yang diceritakan secara turun temurun dan menjadi cerita tokoh pandir terkemuka adalah tokoh yang bernama Sikabayan. Jika di peradaban timur tengah tempo dulu mengenal cerita tokoh pandir terkemuka, yaitu Abu Nawas, dalam peradaban sunda ada Si Kabayan.
Tokoh si kabayan ini merupakan cerita dongeng yang banyak diceritakan dalam hubungannya dengan ide ide yang brilyan dalam masyarakat biasa di zamannya. Meskipun terlihat pandir dan juga konyol, tetapi dari berbagai cerita mengenai sikabayan mengindikasikan bahwa dia adalah seorang pemikir dan tokoh yang selalu dikaitkan dalam menyelesaikan masalah yang cukup rumit di masyarakatnya. Meskipun terkesan malas, tetapi dari berbagai cerita alasannnya cukup memberikan info dalam memberikan penyelesaian masalah masalah di zamannya, dengan perumpamaan yang sangat mengagumkan.
Suatu cerita lisan menunjukan bahwa mungkin tokoh ini ada di zaman dahulu. Meskipun kita tidak pernah tahu sejak zaman kapan tokoh ini berada. Tetapi dari kisah kisah menunjukan bahwa dia memang ada, dan sangat berbekas dalam hati masyarakat, sehingga selalu mengenangnya dan menceritakannya dari masa ke masa. Karena tidak mungkin masyarakat menceritakan tanpa ada sebab dan musababnya.  Dan hal ini hanya ada di daerah sunda, di daerah lain tidak ditemukan tokoh semacam ini, termasuk dalam peradaban jawa.
Tokoh Si Kabayan, kadang di ceritaan sebagai tokoh konyol, pandir dan malas, tetapi dengan ide ide dan kemauan yang besar dan brilyan. Karena segala permasalahan yang rumitpun oleh si kabayan ini bisa diselesaikan, meskipun terkadang agak konyol. Dia dianggap malas dimungkinkan karena ia berada di lingkungan pedesaan yang segala sesuatu harus bekerja dengan tenaga dan gerak, tidak ada sedikitpun ruang untuk merenung dan berpikir. Dari sinilah seolah dia juga seorang penghayal yang tiada bandingnya.
sangat beda tipis dengan berpikir, merenung adalah salah satu cara untuk berpikir. Si kabayan juga terkenal dengan tokoh berkemauan besar. Buktinya ia telah memenangkan hati Nyi Iteung, mojang desa yang menjadi bunga desa sehingga menjadi istrinya.  Dia memang penghayal besar, yang selalu dikaitkan dengan penyelesaian masalah yang rumit dengan mudah dapat diselesaikan meskipun agak konyol.
Yang dingat dari kisah si kabayan yang selalu diceritakan oleh ayah dan ibu saya, adalah tentang sayembara menaklukan gajah yang sedang ngamuk. Banyak orang sakti yang tidak bisa menundukan gajah yang sedang ngamuk dan marah tersebut. Hal itu kedengaran oleh Sikabayan. Dan ketika sedang merenung memikirkan cara menaklukan gajah yang sedang ngamuk tersebut, tiba tiba ada seekor nyamuk yang bunyi pas di depan mukanya. Maka oleh sikabayan nyamuk itu ditepuk oleh dua tangannya, sehingga mati.
Dari kejadian ini si kabayan mencoba menarik logika dan kesimpulan. “Nyamuk saja yang kecil sekali tepuk sudah mati, apalagi gajah yang besar”. Meskipun logikanya agak konyol, tetapi begitulah si kabayan, kadang dengan ide kecil dan sepele inilah seseorang biasanya menjadi berani. Dengan logika tersebut Si Kabayan dengan gagahnya memberanikan diri untuk ikut sayembara menangkap gajah yang sedang marah dan ngamuk tersebut.
Keberpihakan memang selalu ada pada si kabayan. Karena hadiahnya akan dikawinkan dengan seorang putri raja. Mendengar suaminya akan mengikuti sayembara, maka sang istri cemburu, sehingga ketika ia mau pergi ikut sayembara, di nasinya ia campurkan sedikut racun yang bisa melumpuhkan. Tadinya nasi ini untuk bekal si kabayan.
Maka berangkatlah si kabayan ke lokasi gajah yang sedang mengamuk. Alangkah kagetnya si kabayan, melihat gajah yang begitu besar dan sedang marah. Sehingga banyak pohon yang tumbang karena amukan sang gajah. Melihat demikian hati si kabayanpun mulai ciut, dan ia mencoba naik pada pohon besar. Tetapi terus dikejar oleh sang gajah, dan sang gajah tersebut menunggu di bawah sambil mendorong dorong pohon yang dinaiki si kabayan tersebut, sehingga nasi yang dibawanyapun jatuh, dan dimakan oleh sang gajah. Karena beracun maka sang gajahpun pingsan.
Karena jasanya dalam menaklukan gajah ini si kabayan mendapat banyak hadiah, meskipun ia tidak mengawini salah seorang putri raja. Karena tujuannya hanya ikut menaklukan sang gajah.

BAB III SI KABAYAN DAN KONSEP AL BAYAN
Istilah Si Kabayan ada yang mengaitkan dengan kosa kata awalnya, yang menurut salah satu pendapat berasal dari kata Al bayan. Meskipun kadang pendapat ini ada yang menyatakan disebut dengan istilah kirata atau dikira kira tapi nyata. Tetapi justru mungkin pendapat inilah yang masuk akal. Dan menurut pendapat ini Si Kabayan adalah tokoh nyata yang berasal dari Banten selatan. Sebagai tokoh Islam yang berada di lingkungan istana kerajaan yang waktu itu didominasi masih bercorak Hindu. Atau juga kemungkinan di era Islam di era Mataram yang cenderung feodalistik. Si Kabayan seolah ingin mempertahankan sifat kesundaan, yaitu egaliter.
Al Bayan berasal dari kosa kata arab yang berarti bukti kebenaran. Dan turunan dari kata al bayan ini ada istilah tabayun. Karena itu si kabayan bertabayun untuk mencetuskan tentang egaliterianisme masyarakat, dan menggugat feodalisme yang diusung sufisme jawa, karena bertentangan dengan budaya sunda yang egaliter.
Tentang mengapa baahwa dari seorang penda’wah  atau pencerah malah dikenal menjadi seorang yang dikenal sebagai seorang yang pandir atau yang lucu. Hal ini dipersamakan dengan nasib Abu Nawas. Seperti diketahui bahwa Abu Nawas sebenarnya adalah ilmuwan mumpuni. Sebagai ahli bahasa dan juga sastra, dan diakhir hayatnya menjadi tokoh sufi.
Setiap zaman memang kadang beda dalam mengungkapkan pendapatnya atau keinginan atau imajinatifnya tentang masa depan. Hal itu juga mungkin sangat sulit untuk mengungkapkan hasil renungan terhadap masyarakat sekitar, apalagi di lingkungan petani atau masyarakat kampung biasa. Seolah angan adalah sesuatu yang tidak seharusnya dimiliki oleh mereka semua. Penilaian masyarakat sekitar hanya pada hal yang realistis, yaitu kekayaan atau bekerja dan bekerja. Tidak ada ruang untuk memikirkan yang lainnya.
Disamping itu di lingkungan kerajaan atau birokrasi, kadang orang sombong terhadap jabatannya. Karena itu sangat sulit untuk mengingatkannya, apalagi oleh rakyat biasa. Karena itu ketika akan mengkritik atau mengingatkan amasyarakat sekitar atau mengungkapkan hasil renungan atau pendapat diperlukan bukti kebenaran yang tidak menyinggung yang dikritiknya. Maka disinilah sebenarnya si Kabayan itu berkiprah. Ia harus bertabayun memberikan bukti kebenaran dengan cerdik di lingkungan masyarakat yang stagnan atau feodal.
Masyarakat sunda yang egaliter seolah perlu mengkritik segala kejumudan dalam segala hal dan feodalisme yang mula kental di masyarakat sunda, karena pengaruh dari luar (Mataram atau Belanda). Karena itu tokoh si kabayan ini berusaha untuk mengkritik dengan cerdik baik kasar dan halus terhadap gejala gejala yang bertentangan dengan dengan sifat dasar yang egaliter.
Tetapi orang di zamannya tidak mau tahu dan sombong atas segala sindiran halus dan kasar yang ditempuh si kabayan. Dan justru malah terjadi penilian yang salah terhadap si kabayan yang dianggap sebagai penghayal besar dan cenderung males. Dan streotif ini terjadi hingga kini. Meskipun demikian, yang dikagumi hingga kini adalah kecerdasannya dalam menyelesaikan suatu masalah dengan brilyan tanpa orang merasa tersinggung dengan pencapaiannya.

Jadi si kabayan telah memberikan suatu bukti kebenaran atau tabayun. Jadi si kabayan ini seolah dicela tetapi justru dikenang sepanjang masa. Dan ide ide kreatifnya menginspirisakan banyak ide ide cerita. Sehingga telah berpuluh puluh judul cerita tentang si kabayan ini di tulis. Dan juga sering di sinetronkan dan juga di filmkan. Jadi sesuai judul si kabayan adalah tokoh imajinatif masyarakat sunda yang hidup dan sangat inspiratif. 


.............. (Lanjut)


By Adeng Lukmantara
Sumber:
Koran: Pikiran Rakyat
Internet: Wikpedia, Atep Kurnia (Cerita Rakyat: Si Kabayan, dari buku ke buku)



Jumat, 19 Agustus 2016

SANGKURIANG : TOKOH LEGENDA YANG INSPIRATIF

Oleh 
Adeng Lukmantara
Peminat Study Peradaban Sunda dan Islam
Asal Hariang Sumedang


Kata Pengantar

Dalam pelajaran di sekolah dulu, kita mengenal cerita cerita legenda, yaitu suatu kisah yang dikaitkan dengan terjadinya suatu tempat. Salah satu contoh yang terkenal mengenai legenda ini, diantaranya: Cerita Sangkuring.
Kisah Sangkuriang ini, di tanah Sunda sudah diceritakan turun temurun dari nenek moyang hingga sekarang. Bujangga Manik seorang penulis dan pengembara Sunda pada abad ke-15 M, telah menyinggung nama Sangkuriang dalam naskahnya (naskah karya Bujangga Manik  ini masih tersimpan di Oxford University Inggris):
“Leumpang aing ka baratkeun, datang ka bukit Patenggeng. Sasakala Sang Kuriang, masa dek nyitu Citarum, burung tembey kasiangan”
(Berjalanan aku ke barat, datang dari Bukit Patenggeng, Legenda Sang Kuriang, bagaimana mau membendung Citarum, gagal karena kesiangan)

Entah Cerita Legenda atau dongeng atau sejarah, kisah tentang Sangkuriang ini telah menjadi bagian terpenting dalam sejarah peradaban tanah Sunda. Cerita mengenai Sangkuriang merupakan cerita legenda yang sangat spektakuler, Karena kronologisnya sesuai dengan kronologi letusan gunung Sunda, pembentukan danau Bandung purba dan lahirnya gunung Tangkuban Parahu.
Bahkan seorang Geolog Belanda yang bernama R.W. Van Bemmelen (1936) begitu terpana ketika mendengar kisah Sangkuriang ini. Dalam Karyanya The Geological Hystory of Bandung Region , dan juga bukunya yang monumental The Geology of Indonesia, R.W. Van Bemmelen masih menyelipkan sasakala Sangkuriang.
Keterpanaan ini karena menurutnya kisah Sangkuriang begitu cocok dengan kisah pembentukan Danau Bandung Purba dan letusan Katastropi gunung Tangkuban Perahu. Dan hal yang menarik juga karena pada beberapa daerah toponimi atau penamaan wilayah begitu erat kaitannya dengan sasakala Sangkuriang ini.
Dalam kisah Legenda Sangkuriang ada beberapa tempat yang disebut berkaitan dengau danau purba Bandung, diantaranya nama nama gunung yang ada di sekitar Bandung. Setidaknya ada 4 gunung yang dikaitkan dengan cerita Sangkuriang, yaitu:  Gunung Bukit Tunggul, Gunung Burangrang, Gunung Tangkuban Perahu dan Gunung Manglayang.
Jika Gunung Bukit Tunggul dikaitkan dengan kayu yang dibuat untuk perahu, dan  tunggul bekas tebangan.  Tunggul dalam bahasa sunda berarti Sisa batang kayu (yang sudah ditebang)  yang masih utuh dengan akarnya dan masih tertanam di tanah. Gunung Burangrang dikaitkan dengan sisa sisa tumpukan kayu ( rangrang dalam bahasa sunda berarti sisa dahan, ranting dan daun daunan) dari kayu untuk perahu. Gunung Tangkuban perahu, berkaitan dengan kekesalan Sangkuriang karena kegagalannya, sehingga menendang perahu hingga terbalik. Tangkuban Perahu sendiri dalam bahasa sunda berarti perahu yang terbalik. Sedang Gunung Manglayang ada hubungannya, ketika Sangkuriang menjebol  bendungan di Sanghiyang Tikoro karena gagal membangun hingga waktu pajar. Sumbatan danau itupun ia lemparkan ke arah timur dan kini menjadi gunung Manglayang.
Kisah Sangkuriang pada hakekatnya merupakan sejarah komplik. Menurut Edi S Ekadjati  pada hakekatnya komplik itu akan timbul secara alamiyah dalam kehidupan manusia. Komplik antara Sangkuriang dan ibunya (Dayang Sumbi) ibarat saling berhadapannya konvensi (tradisi) dan inovasi (modern) dalam konsep kebudayaan..
Dan menurutnya juga ditinjau dari Sudut pandang lain, kisah Sangkuriang itu menggambarkan tokoh manusia sunda (laki laki) yang dinamis, kukuh pendirian, tidak gampang putus harapan, berani, banyak akal dan teguh pada kemauan. Sedang Dayang Sumbi mewakili perempuan sunda yang memegang kuat nilai nilai tradisi dan pendiran (terlarang anak menikah dengan ibunya) dan juga banyak akal.

Adeng Lukmantara
Peminat Studi Peradaban Sunda dan Islam
Asal Hariang Sumedang


BAB I.. SANGKURIANG DALAM KISAH

1.. Kisah Dayang Sumbi dan Si Tumang
Alkisah di negeri kahiyangan tempatnya para dewa, ada dewa san dewi yang dihukum turun ke bumi dengan wujud binatang karena melakukan kesalahan. Yang laki laki (dewa) berwujud anjing dan kemudian dikenal dengan nama Si Tumang. Dan yang wanita berbentuk babi hutan (bagong) yang kemudian dikenal dengan nama Bagong Wayungyang (dewi Wayung Hyang). Untuk kembali lagi ke alam para dewa, dewa dewi yang sudah berwujud binatang itu harus bertapa dan juga melakukan kehidupan di bumi.
Pada suatu hari, seorang raja yang bernama Sungging Prabangkara dengan rombongannya melakukan perburuan ke hutan dimana para dewa itu berada. Di hutan sang raja kencing, dan air kencingnya tertampung dalam daun Caring (Keladi Hutan). Tidak jauh dari tempat kencing Sang Raja,  Bagong Wayung Hiyang yang telah yang  sedang bertapa, merasa kehausan, hingga meminum air seni sang raja yang ada dalam daun caring.
Setelah meminum air seni tersebut, secara ajaib Bagong (babi hutan) jelmaan Dewi Wayung Hiyang itu hamil, dan kemudian melahirkan seorang anak wanita yang cantik. Dan bayi wanita yang cantik tersebut dengan tidak disengaja ditemukan oleh Sang raja Sungging Prabangkara, dan membawanya pulang ke istana, bersama anjing yang menunggu bayi tersebut.  Ia tidak menyadari bahwa bayi wanita yang cantik itu merupakan putrinya sendiri. Dan anjing itu kemudian dikenal dengan nama Si Tumang.
Bayi wanita itu kemudian oleh sang raja dinamakan Rara Sati dan setelah dewasa kemudian dikenal dengan nama Dayang Sumbi.  Dikisahkan bahwa setelah remaja (gadis), Dayang Sumbi kemudian menjadi remaja yang sangat cantik. Sehingga diperebutkan oleh para pangeran dan para raja yang ada di negerinya.

2.. Kelahiran dan Kepergian Sangkuriang
Menenun untuk membuat pakaian seolah menjadi keahlian yang harus dimiliki oleh para putri bangsawan, termasuk putri raja. Hal ini diungkapkan pula dalam naskah bujangga manik, bahwa ibu Bujangga Manik yang merupakan putri bangsawan sunda mempunyai keahlian dalam menenun, dan kesehariannnya sibuk dalam menenun.
Karena dayang sumbi merupakan salah satu putri bangsawan atau putri raja, maka ia juga mempunyai keahlian dalam bidang menenun ini. Dan jika tidak ada acara kenegaraan atau hal hal yang penting, keseharian Dayang Sumbi banyak dihabiskan dalam menenun untuk membuat pakaian. 
Dan kisah selanjutnya justru diawali dengan proses tenun menenun ini. Pada suatu hari ketika sedang asyiknya menenun kain, torompong (torak) tenunan jatuh ke bale bale bawah. Karena merasa malas mengambil, maka terlontar sumpah serapah dari Putri Dayang Sumbi.  Dayang Sumbi berjanji bahwa siapa saja yang mengambilkan torompong yang jatuh, jika jenis kelamin laki laki maka akan dijadikan suami, sedang jika berjenis kelamin wanita, maka akan dijadikan saudarinya.
Si Tumang yang telah menjadi anjing istana, dan selalu setia menjaga keputren Dayang Sumbi, ketika mengetahui torompong Sang Putri jatuh, kemudian ia mengambilkan Torompong tersebut, dan memberikannya ke Dayang Sumbi di lantai atas.
Melihat bahwa yang mengambil Torompong itu adalah seekor anjing, Dayang Sumbi gundah dan seolah tidak percaya. Tetapi karena sudah bersumpah, maka mau tidak mau Dayang Sumbi harus menerima Si Tumang yang menjadi suaminya.
Hal ini justru membuat aib bagi keluarga kerajaan.  Mendengar hal tersebut kemudian sang raja marah, dan karena merasa aib, akhirnya sang raja mengasingkan Dayang Sumbi ke hutan di perbukitan dengan di temani oleh Seekor anjing yang bernama Situmang.
Konon pada malam bulan purnama, si Tumang dapat kembali ke wujud aslinya sebagai dewa yang tampan. Dayang Sumbi mengira ia bermimpi bercumbu dengan dewa yang tampan. Padahal  sang Dewa adalah perwujudan dari Si Tumang. Tidak lama kemudian Dayang Sumbi hamil, dan melahirkan seorang anak laki laki yang tampan, yang kemudian dinamakan Sangkuriang.
Dengan berlalunya waktu, akhirnya Sangkuriang telah menjadi seorang anak yang kuat,tampan dan pandai berburu. Pada suatu hari  Dayang Sumbi  menginginkan makan hati menjangan. Maka ia menyuruh putranya Sangkuriang dengan ditemani oleh Si Tumang untuk berburu menjangan. Tetapi seolah hari itu merupakan hari kesialan Sangkuriang, sehingga ia tidak menemukan buruan satupun.
Dan ketika itu ada lewat seekor bagong (babi hutan), dan menyuruh Si Tumang untuk mengejarnya. Tetapi karena Babi tersebut merupakaan jelmaan dari Dewi wayung Hiyang, yang merupakan nenek dari sangkuriang, Si Tumang tidak berusaha mengejarnya, malah diam.
Hal itu membuat Sangkuriang marah, sudah seharian tidak menemukan buruan, malah babi hutan di depan mata dibiarkan. Pada awalnya untuk menakut nakuti Si Tumang dengan menombak Si Tumang, supaya mengejar sang babi. Tetapi Si Tumang tidak bergerak sedkitpun. Maka karena saking marahnya, Sangkuriang kemudian menumbak Si Tumang, hingga mati.
Karena menjangan tidak didapat, maka Si tumang kemudian diambil hatinya. Dan memberikan kepada ibunya untuk dimasak dan dimakan.
Dayang Sumbi mulai curiga ketika Si Tumang tidak ada. Dan ketika ia mengetahui bahwa yang dimakannya merupakan hati Si Tumang, yang merupakan ayah dari Sangkuriang. Maka kemarahan Dayang Sumbi memuncak, dan memukul kepala Sangkuriang dengan peralatan yang terbuat dari tempurung kelapa hingga terluka, dan meninggalkan bekas.
Karena ketakutan, kemudian Sangkuriang melarikan diri dari rumahnya. Dan selanjutnya sangkuriang mengembara mengelilingi dunia. Dalam pengembaraannya, Sangkuriang diceritakan berguru kepada banyak pertapa yang sakti. Dan Sangkuriang kemudian tumbuh menjadi anak remaja yang kuat, sakti, tampan dan gagah perkasa.
Dan diceritakan, ibunya Dayang Sumbi, merasa menyesal ditinggal oleh anaknya. Ia terus memanggil Sangkuriang, tetapi Sangkuriang malah semakin lari menjauh. Dan ia terus berusaha untuk mencari anaknya, sambil bertapa dan memohon kepada sang penguasa agar dipertemukan kembali dengan anaknya yang menghilang.

3.. Pertemuan Kembali dan Kisah Cinta yang Kandas
Dayang Sumbi meskipun sudah berumur, tetapi karena hanya makan tumbuh tumbuhan, kecantikannya tetap terjaga. Sehingga seolah masih gadis remaja. Dan Sangkuriang yang telah menjadi seorang pengembara, tetap mengembara ke arah barat, hingga bertemu dengan seorang gais yang Sangat Cantik.
Sangkuriang tidak menyadari bahwa gadis belia yang cantik itu merupakan ibunya. Sedang Dayang Sumbi juga tidak menyadari bahwa pemuda yang gagah dan tampan itu merupakan putranya, sangkuriang, yang ia cari bertahun tahun.
Dan dikisahkan bahwa kedua insan itu memadu asmara, sehingga terjadi kisah percintaan yang  romantis. Tetapi ketika Dayang Sumbi sedang membelai rambut Sangkuriang, ia merasa kaget, ketika meraba bekas luka dikepala Sangkuriang.  Ia masih teringat tentang pukulan dikepala sangkuriang dan meninggalkan bekas. Dan hal ini diutarakannya ke Sangkuriang. Bahwa ia merupakan putranya yang dicarinya bertahun tahun. Tetapi Sangkuriang tidak mempercayainya, dan Sangkuriang memandang bahwa alasan Dayang Sumbi hanyalah alasan untuk tidak dikawininya. Dan Sangkuriang tetap memaksa untuk menikah dengan  Dayang Sumbi.
Dan kemungkinan supaya tidak menyakiti hati anaknya yang ia cari, maka dayang Summbi bersedia menikah denga Sangkuriang dengan Syarat membuat telaga (danau) dengan membendung Sungai Citarum dan juga perahu dalam satu malam.  Dayang Sumbi seolah membuat suatu hal yang tidak mungkin bisa dilakukan oleh manusia. Dengan permintaan demikian seolah dapat meredam keinginan Sangkuriang untuk mengawininya.
Tetapi Sangkuriang adalah orang yang tangguh, kuat pendirian dan juga sakti. Ia menyanggupi permintaan dayang Sumbi.  Ia kemudain membendung Sungai citarum. Dan ia juga membuat perahu. Diceritakan ketika membuat perahu  dari pohon lametang yang ada di timur, tunggul (akar dan pokok pohon) kemudian menjadi Gunung Bukit Tunggul. Dahan, ranting dan daun daunan menumpuk ke sebelah barat, yang kemudian dikenal dengan Gunung Burangrang.
Dengan bantuan para Guriang, bendungan hampir bisa diselesaikan bersamaan dengan selesainya pembuatan perahu. Hal ini sangat mencemaskan Dayang Sumbi. Dan ia mulai memutar otak untuk menggagallkan rencana Sangkuriang, yang di depan mata pasti tercapai.
Dayang Sumbi  kemudian mengambil daun kingkilaban tujuh lembar, dibungkusnya dengan kain putih hasil tenunannya (boeh rarang), lalu diiris halus. Potongan ini ditaburkan ke arah timur. Hal ini untuk merekayasa pencahayaan. Jadi seolah  fajar menyingsing di ufuk timur. Cahaya membersit, pertanda matahari akan terbit. Hal ini juga menandai ayam mulai berkukuruyuk.
Tentu hal ini membuat ketakutan para guriang (makhluk halus) yang membantu Sangkuriang membendung Citarum. Para Guriang mengira fajar mulai terbit. Karena itu kemudian para guriang tersebut pergi  melarikan diri ke alamnya.
Karena merasa gagal, sangkuriang sangat marah, maka bendungan yang ada di Sanghyang Tikoro dijebolnya. Dan sumbat aliran sungai Citarum dilempar ke arah timur dan dikemudian hari menjadi Gunung Manglayang. Dan air danau / bendunganpun surut seketika. Dan perahu kemudian ditendangnya hingga  menjadi gunung Tangkuban Perahu sekarang (tangkuban perahu berarti perahu tretelungkup/ terbalik).
Karena merasa ditipu kemudian sangkuriang mengejar dayang Sumbi hingga gunung Putri. Dsini para penulis kisah seolah kehilangan jejak. Konon di gunung putri ini Dayang Sumbi meninggalkan tanda berupa setangkai bunga jaksi (atau para penulis cerita sering  mengatakan dayang sumbi berubah menjadi setangkai bunga jaksi). Sedang Sangkuriang sering dikatakan ngahiyang, demikian para penulis cerita, karena memang jejak setelah itu tidak diketahui.

BAB II.. SANGKURIANG DAN SEJARAH DANAU BANDUNG PURBA.

1.. Kesesuaian Cerita Dengan Terjadinya Danau Bandung Purba
Para ahli geologi banyak yang kagum (atau ada yang mengatakan terpana) terhadap kisah Sangkuriang ini, karena ketersesuaian dengan sejarah pembentukan danau Bandung Purba dan letusan Katastropi gunung Tangkuban Perahu. Dan hal yang menarik juga karena pada beberapa daerah toponimi atau penamaan wilayah begitu erat kaitannya dengan kisah Sangkuriang ini.
Berdasarkan kisah,  Sangkuriang diminta dayang Sumbi untuk membuat danau dan perahu, membendung Sungai Citarum dalam satu malam. Menurut para ahli geologi, kisah Sangkuriang jika dibandingkan dengan sejarah terbentuknya Danau Bandung purba, melalui 4 tahap.
Tahap pertama: Sangkuriang menebang pohon Lametang untuk bahan perahu yang berada di sebelah timur. Pohon itu ditebangnya kemudian runtuh ke arah barat. Sisa tunggulnya kemudian menjadi Gunung Bukittunggul. Runtuhnya pohon begitu dahsyat sehingga menimbulkan gempa. Sisa batang yang runtuh memanjang barat timur menjadi tinggian Sesar Lembang. Bagian ranting dan batang pohon dalam bahasa Sunda disebut Rangrang, diinterpretasikan sebagai Gunung Burangrang. Kejadian ini terjadi sebelum terbentuknya perahu.
Tahap kedua: Setelah menebang pohon Sangkuriang tidak langsung membuat perahu, tetapi membendung Sungai citarum dulu, agar tergenang menjadi danau, Pada tahap ini Gunung Sunda meletus, materialnya membendung Citarum di utara Padalarang. Maka tergenanglah menjadi Danau Bandung Purba.
Tahap ketiga, setelah sungai dibendung, Sang Kuriang melanjutkan membuat perahu. Danau sudah terbendung, airnya mulai tergenang. Pada tahap ini diungkapkan bahwa Dayang Sumbi mulai cemas atas keberhasilan dari Sangkuriang, sehingga kemudian mengambil daun kingkilaban tujuh lembar, dibungkusnya dengan kain putih hasil tenunannya (boeh rarang), lalu diiris halus. Potongan ini ditaburkan ke arah timur. Jadi seolah  fajar menyingsing di ufuk timur. Cahaya membersit, pertanda matahari akan terbit, Hal ini membuat Sangkuriang marah besar, maka maka bendungan yang ada di Sanghyang Tikoro dijebolnya (sekarang ditemukan bahwa tempat Sangkuring menjebol Bendungan bukan di Sanghiyang tikoro tetapi di Cukang Rahong).
 Dan sumbat aliran sungai Citarum dilempar ke arah timur dan dikemudian hari menjadi Gunung Manglayang. Dan perahu kemudian ditendangnya hingga  menjadi gunung Tangkuban Perahu sekarang (tangkuban perahu berarti perahu tretelungkup/ terbalik). Dengan demikian pada tahap ini bersamaan dengan lahirnya lahir gunung tangkuban perahu. Hal ini dianggap bersesuaian dengan penelitian bahwa Gunung Tangkuban Perahu adalah gunung yang berusia lebih muda dibandingkan gunung-gunung di sekitarnya (Gunung Bukit Tunggul dan Gunung Burangrang).
Pada tahap ketiga ini, ketika danau sudah tergenang, dari dalam kaldera Gunung Sunda terjadi gejolak aktivitas gunung api. Terjadi letusanletusan dari beberapa lubang kawah. Karena kawah kawahnya berjajar barat-timur, maka rona gunung ini terlihat seperti perahu yang terbalik bila dilihat dari selatan.
Tahap keempat, karena melihat kemarahan Sangkuriang, Dayang  Sumbi kemudian berlari ke arah timur, dan secepat kilat Sang Kuriang mengejarnya. Di sebuah bukit kecil, hampir saja Dayang Sumbi tertangkap. Bukit tempat menghilangnya Dayang Sumbi disebut Gunung Putri
Dan dewasa ini, memaknai dari tahap 4 ini, dikenal dengan upaya penyelamatan, atau upaya mitigasi. Ketika ada gunung meletus atau  gejolak gunung api,  kita harus mencari tempat di punggungan yang aman, yang tidak akan tersapu aliran lahar, terjangan awan panas dan hujan abu.

....

(Lanjut............)


By Adeng Lukmantara
Peminat Studi Peradaban Sunda dan Islam

Sumber: 
Ekadjati, Edi.S., Dari Pentas Sejarah Sunda, Kiblat Buku Utama, Bandung 2014
Internet : Id. Wikipedia, Geomagz (Majalah Geologi Populer), dll