Jumat, 19 Agustus 2016

SANGKURIANG : TOKOH LEGENDA YANG INSPIRATIF

Oleh 
Adeng Lukmantara
Peminat Study Peradaban Sunda dan Islam
Asal Hariang Sumedang


Kata Pengantar

Dalam pelajaran di sekolah dulu, kita mengenal cerita cerita legenda, yaitu suatu kisah yang dikaitkan dengan terjadinya suatu tempat. Salah satu contoh yang terkenal mengenai legenda ini, diantaranya: Cerita Sangkuring.
Kisah Sangkuriang ini, di tanah Sunda sudah diceritakan turun temurun dari nenek moyang hingga sekarang. Bujangga Manik seorang penulis dan pengembara Sunda pada abad ke-15 M, telah menyinggung nama Sangkuriang dalam naskahnya (naskah karya Bujangga Manik  ini masih tersimpan di Oxford University Inggris):
“Leumpang aing ka baratkeun, datang ka bukit Patenggeng. Sasakala Sang Kuriang, masa dek nyitu Citarum, burung tembey kasiangan”
(Berjalanan aku ke barat, datang dari Bukit Patenggeng, Legenda Sang Kuriang, bagaimana mau membendung Citarum, gagal karena kesiangan)

Entah Cerita Legenda atau dongeng atau sejarah, kisah tentang Sangkuriang ini telah menjadi bagian terpenting dalam sejarah peradaban tanah Sunda. Cerita mengenai Sangkuriang merupakan cerita legenda yang sangat spektakuler, Karena kronologisnya sesuai dengan kronologi letusan gunung Sunda, pembentukan danau Bandung purba dan lahirnya gunung Tangkuban Parahu.
Bahkan seorang Geolog Belanda yang bernama R.W. Van Bemmelen (1936) begitu terpana ketika mendengar kisah Sangkuriang ini. Dalam Karyanya The Geological Hystory of Bandung Region , dan juga bukunya yang monumental The Geology of Indonesia, R.W. Van Bemmelen masih menyelipkan sasakala Sangkuriang.
Keterpanaan ini karena menurutnya kisah Sangkuriang begitu cocok dengan kisah pembentukan Danau Bandung Purba dan letusan Katastropi gunung Tangkuban Perahu. Dan hal yang menarik juga karena pada beberapa daerah toponimi atau penamaan wilayah begitu erat kaitannya dengan sasakala Sangkuriang ini.
Dalam kisah Legenda Sangkuriang ada beberapa tempat yang disebut berkaitan dengau danau purba Bandung, diantaranya nama nama gunung yang ada di sekitar Bandung. Setidaknya ada 4 gunung yang dikaitkan dengan cerita Sangkuriang, yaitu:  Gunung Bukit Tunggul, Gunung Burangrang, Gunung Tangkuban Perahu dan Gunung Manglayang.
Jika Gunung Bukit Tunggul dikaitkan dengan kayu yang dibuat untuk perahu, dan  tunggul bekas tebangan.  Tunggul dalam bahasa sunda berarti Sisa batang kayu (yang sudah ditebang)  yang masih utuh dengan akarnya dan masih tertanam di tanah. Gunung Burangrang dikaitkan dengan sisa sisa tumpukan kayu ( rangrang dalam bahasa sunda berarti sisa dahan, ranting dan daun daunan) dari kayu untuk perahu. Gunung Tangkuban perahu, berkaitan dengan kekesalan Sangkuriang karena kegagalannya, sehingga menendang perahu hingga terbalik. Tangkuban Perahu sendiri dalam bahasa sunda berarti perahu yang terbalik. Sedang Gunung Manglayang ada hubungannya, ketika Sangkuriang menjebol  bendungan di Sanghiyang Tikoro karena gagal membangun hingga waktu pajar. Sumbatan danau itupun ia lemparkan ke arah timur dan kini menjadi gunung Manglayang.
Kisah Sangkuriang pada hakekatnya merupakan sejarah komplik. Menurut Edi S Ekadjati  pada hakekatnya komplik itu akan timbul secara alamiyah dalam kehidupan manusia. Komplik antara Sangkuriang dan ibunya (Dayang Sumbi) ibarat saling berhadapannya konvensi (tradisi) dan inovasi (modern) dalam konsep kebudayaan..
Dan menurutnya juga ditinjau dari Sudut pandang lain, kisah Sangkuriang itu menggambarkan tokoh manusia sunda (laki laki) yang dinamis, kukuh pendirian, tidak gampang putus harapan, berani, banyak akal dan teguh pada kemauan. Sedang Dayang Sumbi mewakili perempuan sunda yang memegang kuat nilai nilai tradisi dan pendiran (terlarang anak menikah dengan ibunya) dan juga banyak akal.

Adeng Lukmantara
Peminat Studi Peradaban Sunda dan Islam
Asal Hariang Sumedang


BAB I.. SANGKURIANG DALAM KISAH

1.. Kisah Dayang Sumbi dan Si Tumang
Alkisah di negeri kahiyangan tempatnya para dewa, ada dewa san dewi yang dihukum turun ke bumi dengan wujud binatang karena melakukan kesalahan. Yang laki laki (dewa) berwujud anjing dan kemudian dikenal dengan nama Si Tumang. Dan yang wanita berbentuk babi hutan (bagong) yang kemudian dikenal dengan nama Bagong Wayungyang (dewi Wayung Hyang). Untuk kembali lagi ke alam para dewa, dewa dewi yang sudah berwujud binatang itu harus bertapa dan juga melakukan kehidupan di bumi.
Pada suatu hari, seorang raja yang bernama Sungging Prabangkara dengan rombongannya melakukan perburuan ke hutan dimana para dewa itu berada. Di hutan sang raja kencing, dan air kencingnya tertampung dalam daun Caring (Keladi Hutan). Tidak jauh dari tempat kencing Sang Raja,  Bagong Wayung Hiyang yang telah yang  sedang bertapa, merasa kehausan, hingga meminum air seni sang raja yang ada dalam daun caring.
Setelah meminum air seni tersebut, secara ajaib Bagong (babi hutan) jelmaan Dewi Wayung Hiyang itu hamil, dan kemudian melahirkan seorang anak wanita yang cantik. Dan bayi wanita yang cantik tersebut dengan tidak disengaja ditemukan oleh Sang raja Sungging Prabangkara, dan membawanya pulang ke istana, bersama anjing yang menunggu bayi tersebut.  Ia tidak menyadari bahwa bayi wanita yang cantik itu merupakan putrinya sendiri. Dan anjing itu kemudian dikenal dengan nama Si Tumang.
Bayi wanita itu kemudian oleh sang raja dinamakan Rara Sati dan setelah dewasa kemudian dikenal dengan nama Dayang Sumbi.  Dikisahkan bahwa setelah remaja (gadis), Dayang Sumbi kemudian menjadi remaja yang sangat cantik. Sehingga diperebutkan oleh para pangeran dan para raja yang ada di negerinya.

2.. Kelahiran dan Kepergian Sangkuriang
Menenun untuk membuat pakaian seolah menjadi keahlian yang harus dimiliki oleh para putri bangsawan, termasuk putri raja. Hal ini diungkapkan pula dalam naskah bujangga manik, bahwa ibu Bujangga Manik yang merupakan putri bangsawan sunda mempunyai keahlian dalam menenun, dan kesehariannnya sibuk dalam menenun.
Karena dayang sumbi merupakan salah satu putri bangsawan atau putri raja, maka ia juga mempunyai keahlian dalam bidang menenun ini. Dan jika tidak ada acara kenegaraan atau hal hal yang penting, keseharian Dayang Sumbi banyak dihabiskan dalam menenun untuk membuat pakaian. 
Dan kisah selanjutnya justru diawali dengan proses tenun menenun ini. Pada suatu hari ketika sedang asyiknya menenun kain, torompong (torak) tenunan jatuh ke bale bale bawah. Karena merasa malas mengambil, maka terlontar sumpah serapah dari Putri Dayang Sumbi.  Dayang Sumbi berjanji bahwa siapa saja yang mengambilkan torompong yang jatuh, jika jenis kelamin laki laki maka akan dijadikan suami, sedang jika berjenis kelamin wanita, maka akan dijadikan saudarinya.
Si Tumang yang telah menjadi anjing istana, dan selalu setia menjaga keputren Dayang Sumbi, ketika mengetahui torompong Sang Putri jatuh, kemudian ia mengambilkan Torompong tersebut, dan memberikannya ke Dayang Sumbi di lantai atas.
Melihat bahwa yang mengambil Torompong itu adalah seekor anjing, Dayang Sumbi gundah dan seolah tidak percaya. Tetapi karena sudah bersumpah, maka mau tidak mau Dayang Sumbi harus menerima Si Tumang yang menjadi suaminya.
Hal ini justru membuat aib bagi keluarga kerajaan.  Mendengar hal tersebut kemudian sang raja marah, dan karena merasa aib, akhirnya sang raja mengasingkan Dayang Sumbi ke hutan di perbukitan dengan di temani oleh Seekor anjing yang bernama Situmang.
Konon pada malam bulan purnama, si Tumang dapat kembali ke wujud aslinya sebagai dewa yang tampan. Dayang Sumbi mengira ia bermimpi bercumbu dengan dewa yang tampan. Padahal  sang Dewa adalah perwujudan dari Si Tumang. Tidak lama kemudian Dayang Sumbi hamil, dan melahirkan seorang anak laki laki yang tampan, yang kemudian dinamakan Sangkuriang.
Dengan berlalunya waktu, akhirnya Sangkuriang telah menjadi seorang anak yang kuat,tampan dan pandai berburu. Pada suatu hari  Dayang Sumbi  menginginkan makan hati menjangan. Maka ia menyuruh putranya Sangkuriang dengan ditemani oleh Si Tumang untuk berburu menjangan. Tetapi seolah hari itu merupakan hari kesialan Sangkuriang, sehingga ia tidak menemukan buruan satupun.
Dan ketika itu ada lewat seekor bagong (babi hutan), dan menyuruh Si Tumang untuk mengejarnya. Tetapi karena Babi tersebut merupakaan jelmaan dari Dewi wayung Hiyang, yang merupakan nenek dari sangkuriang, Si Tumang tidak berusaha mengejarnya, malah diam.
Hal itu membuat Sangkuriang marah, sudah seharian tidak menemukan buruan, malah babi hutan di depan mata dibiarkan. Pada awalnya untuk menakut nakuti Si Tumang dengan menombak Si Tumang, supaya mengejar sang babi. Tetapi Si Tumang tidak bergerak sedkitpun. Maka karena saking marahnya, Sangkuriang kemudian menumbak Si Tumang, hingga mati.
Karena menjangan tidak didapat, maka Si tumang kemudian diambil hatinya. Dan memberikan kepada ibunya untuk dimasak dan dimakan.
Dayang Sumbi mulai curiga ketika Si Tumang tidak ada. Dan ketika ia mengetahui bahwa yang dimakannya merupakan hati Si Tumang, yang merupakan ayah dari Sangkuriang. Maka kemarahan Dayang Sumbi memuncak, dan memukul kepala Sangkuriang dengan peralatan yang terbuat dari tempurung kelapa hingga terluka, dan meninggalkan bekas.
Karena ketakutan, kemudian Sangkuriang melarikan diri dari rumahnya. Dan selanjutnya sangkuriang mengembara mengelilingi dunia. Dalam pengembaraannya, Sangkuriang diceritakan berguru kepada banyak pertapa yang sakti. Dan Sangkuriang kemudian tumbuh menjadi anak remaja yang kuat, sakti, tampan dan gagah perkasa.
Dan diceritakan, ibunya Dayang Sumbi, merasa menyesal ditinggal oleh anaknya. Ia terus memanggil Sangkuriang, tetapi Sangkuriang malah semakin lari menjauh. Dan ia terus berusaha untuk mencari anaknya, sambil bertapa dan memohon kepada sang penguasa agar dipertemukan kembali dengan anaknya yang menghilang.

3.. Pertemuan Kembali dan Kisah Cinta yang Kandas
Dayang Sumbi meskipun sudah berumur, tetapi karena hanya makan tumbuh tumbuhan, kecantikannya tetap terjaga. Sehingga seolah masih gadis remaja. Dan Sangkuriang yang telah menjadi seorang pengembara, tetap mengembara ke arah barat, hingga bertemu dengan seorang gais yang Sangat Cantik.
Sangkuriang tidak menyadari bahwa gadis belia yang cantik itu merupakan ibunya. Sedang Dayang Sumbi juga tidak menyadari bahwa pemuda yang gagah dan tampan itu merupakan putranya, sangkuriang, yang ia cari bertahun tahun.
Dan dikisahkan bahwa kedua insan itu memadu asmara, sehingga terjadi kisah percintaan yang  romantis. Tetapi ketika Dayang Sumbi sedang membelai rambut Sangkuriang, ia merasa kaget, ketika meraba bekas luka dikepala Sangkuriang.  Ia masih teringat tentang pukulan dikepala sangkuriang dan meninggalkan bekas. Dan hal ini diutarakannya ke Sangkuriang. Bahwa ia merupakan putranya yang dicarinya bertahun tahun. Tetapi Sangkuriang tidak mempercayainya, dan Sangkuriang memandang bahwa alasan Dayang Sumbi hanyalah alasan untuk tidak dikawininya. Dan Sangkuriang tetap memaksa untuk menikah dengan  Dayang Sumbi.
Dan kemungkinan supaya tidak menyakiti hati anaknya yang ia cari, maka dayang Summbi bersedia menikah denga Sangkuriang dengan Syarat membuat telaga (danau) dengan membendung Sungai Citarum dan juga perahu dalam satu malam.  Dayang Sumbi seolah membuat suatu hal yang tidak mungkin bisa dilakukan oleh manusia. Dengan permintaan demikian seolah dapat meredam keinginan Sangkuriang untuk mengawininya.
Tetapi Sangkuriang adalah orang yang tangguh, kuat pendirian dan juga sakti. Ia menyanggupi permintaan dayang Sumbi.  Ia kemudain membendung Sungai citarum. Dan ia juga membuat perahu. Diceritakan ketika membuat perahu  dari pohon lametang yang ada di timur, tunggul (akar dan pokok pohon) kemudian menjadi Gunung Bukit Tunggul. Dahan, ranting dan daun daunan menumpuk ke sebelah barat, yang kemudian dikenal dengan Gunung Burangrang.
Dengan bantuan para Guriang, bendungan hampir bisa diselesaikan bersamaan dengan selesainya pembuatan perahu. Hal ini sangat mencemaskan Dayang Sumbi. Dan ia mulai memutar otak untuk menggagallkan rencana Sangkuriang, yang di depan mata pasti tercapai.
Dayang Sumbi  kemudian mengambil daun kingkilaban tujuh lembar, dibungkusnya dengan kain putih hasil tenunannya (boeh rarang), lalu diiris halus. Potongan ini ditaburkan ke arah timur. Hal ini untuk merekayasa pencahayaan. Jadi seolah  fajar menyingsing di ufuk timur. Cahaya membersit, pertanda matahari akan terbit. Hal ini juga menandai ayam mulai berkukuruyuk.
Tentu hal ini membuat ketakutan para guriang (makhluk halus) yang membantu Sangkuriang membendung Citarum. Para Guriang mengira fajar mulai terbit. Karena itu kemudian para guriang tersebut pergi  melarikan diri ke alamnya.
Karena merasa gagal, sangkuriang sangat marah, maka bendungan yang ada di Sanghyang Tikoro dijebolnya. Dan sumbat aliran sungai Citarum dilempar ke arah timur dan dikemudian hari menjadi Gunung Manglayang. Dan air danau / bendunganpun surut seketika. Dan perahu kemudian ditendangnya hingga  menjadi gunung Tangkuban Perahu sekarang (tangkuban perahu berarti perahu tretelungkup/ terbalik).
Karena merasa ditipu kemudian sangkuriang mengejar dayang Sumbi hingga gunung Putri. Dsini para penulis kisah seolah kehilangan jejak. Konon di gunung putri ini Dayang Sumbi meninggalkan tanda berupa setangkai bunga jaksi (atau para penulis cerita sering  mengatakan dayang sumbi berubah menjadi setangkai bunga jaksi). Sedang Sangkuriang sering dikatakan ngahiyang, demikian para penulis cerita, karena memang jejak setelah itu tidak diketahui.

BAB II.. SANGKURIANG DAN SEJARAH DANAU BANDUNG PURBA.

1.. Kesesuaian Cerita Dengan Terjadinya Danau Bandung Purba
Para ahli geologi banyak yang kagum (atau ada yang mengatakan terpana) terhadap kisah Sangkuriang ini, karena ketersesuaian dengan sejarah pembentukan danau Bandung Purba dan letusan Katastropi gunung Tangkuban Perahu. Dan hal yang menarik juga karena pada beberapa daerah toponimi atau penamaan wilayah begitu erat kaitannya dengan kisah Sangkuriang ini.
Berdasarkan kisah,  Sangkuriang diminta dayang Sumbi untuk membuat danau dan perahu, membendung Sungai Citarum dalam satu malam. Menurut para ahli geologi, kisah Sangkuriang jika dibandingkan dengan sejarah terbentuknya Danau Bandung purba, melalui 4 tahap.
Tahap pertama: Sangkuriang menebang pohon Lametang untuk bahan perahu yang berada di sebelah timur. Pohon itu ditebangnya kemudian runtuh ke arah barat. Sisa tunggulnya kemudian menjadi Gunung Bukittunggul. Runtuhnya pohon begitu dahsyat sehingga menimbulkan gempa. Sisa batang yang runtuh memanjang barat timur menjadi tinggian Sesar Lembang. Bagian ranting dan batang pohon dalam bahasa Sunda disebut Rangrang, diinterpretasikan sebagai Gunung Burangrang. Kejadian ini terjadi sebelum terbentuknya perahu.
Tahap kedua: Setelah menebang pohon Sangkuriang tidak langsung membuat perahu, tetapi membendung Sungai citarum dulu, agar tergenang menjadi danau, Pada tahap ini Gunung Sunda meletus, materialnya membendung Citarum di utara Padalarang. Maka tergenanglah menjadi Danau Bandung Purba.
Tahap ketiga, setelah sungai dibendung, Sang Kuriang melanjutkan membuat perahu. Danau sudah terbendung, airnya mulai tergenang. Pada tahap ini diungkapkan bahwa Dayang Sumbi mulai cemas atas keberhasilan dari Sangkuriang, sehingga kemudian mengambil daun kingkilaban tujuh lembar, dibungkusnya dengan kain putih hasil tenunannya (boeh rarang), lalu diiris halus. Potongan ini ditaburkan ke arah timur. Jadi seolah  fajar menyingsing di ufuk timur. Cahaya membersit, pertanda matahari akan terbit, Hal ini membuat Sangkuriang marah besar, maka maka bendungan yang ada di Sanghyang Tikoro dijebolnya (sekarang ditemukan bahwa tempat Sangkuring menjebol Bendungan bukan di Sanghiyang tikoro tetapi di Cukang Rahong).
 Dan sumbat aliran sungai Citarum dilempar ke arah timur dan dikemudian hari menjadi Gunung Manglayang. Dan perahu kemudian ditendangnya hingga  menjadi gunung Tangkuban Perahu sekarang (tangkuban perahu berarti perahu tretelungkup/ terbalik). Dengan demikian pada tahap ini bersamaan dengan lahirnya lahir gunung tangkuban perahu. Hal ini dianggap bersesuaian dengan penelitian bahwa Gunung Tangkuban Perahu adalah gunung yang berusia lebih muda dibandingkan gunung-gunung di sekitarnya (Gunung Bukit Tunggul dan Gunung Burangrang).
Pada tahap ketiga ini, ketika danau sudah tergenang, dari dalam kaldera Gunung Sunda terjadi gejolak aktivitas gunung api. Terjadi letusanletusan dari beberapa lubang kawah. Karena kawah kawahnya berjajar barat-timur, maka rona gunung ini terlihat seperti perahu yang terbalik bila dilihat dari selatan.
Tahap keempat, karena melihat kemarahan Sangkuriang, Dayang  Sumbi kemudian berlari ke arah timur, dan secepat kilat Sang Kuriang mengejarnya. Di sebuah bukit kecil, hampir saja Dayang Sumbi tertangkap. Bukit tempat menghilangnya Dayang Sumbi disebut Gunung Putri
Dan dewasa ini, memaknai dari tahap 4 ini, dikenal dengan upaya penyelamatan, atau upaya mitigasi. Ketika ada gunung meletus atau  gejolak gunung api,  kita harus mencari tempat di punggungan yang aman, yang tidak akan tersapu aliran lahar, terjangan awan panas dan hujan abu.

....

(Lanjut............)


By Adeng Lukmantara
Peminat Studi Peradaban Sunda dan Islam

Sumber: 
Ekadjati, Edi.S., Dari Pentas Sejarah Sunda, Kiblat Buku Utama, Bandung 2014
Internet : Id. Wikipedia, Geomagz (Majalah Geologi Populer), dll







Selasa, 16 Agustus 2016

SRI JAYABUPATI, RAJA KERAJAAN SUNDA KE-20

Kata Pengantar


Dalam naskah Carita Parahiyangan, disebut nama Prabu Detya Maharaja. Dan dalam naskah Wangsakerta dan juga Prasasti yang ditemukan di Cibadak menjelaskan tentang Raja Sunda yang ke-20 Prabu Detya Maharaja ini, yaitu Maharaja Sri Jayabhupati.
Ada hal yang unik dari Raja Sri Jayabhupati ini, yaiti dari gelar dan prasasti yang ditemukan mengenainya bercorak jawa timuran. Karena ia sendiri merupakan menantu dari Raja Darmawangsa Teguh.
Meskipun belum begitu komplit, karena data yang minim, dan hanya merupakan cuplikan cuplikan. Mudah mudahan ke depannya ada perbaikan.


NASKAH

BAB I SILSILAH DAN KELUARGA
Sri jayabupati atau lengkapnya Prabu Detya Maharaja Sri Jayabhupati merupakan raja kerajaan sunda ke-20, yang berkuasa dari tahun 1030-1042 M. Ia naik tahta menggantikan ayahnya Prabu sanghiyang Ageng (mp. 1019-1030 M).
Dalam Carita Parahiyangan Sri Jayabhupati sebut “Prabu Datia Maharaja” yang berkuasa di tanah sunda selama 12 tahun, dan di Galuh selama 7 tahun.
Ayahnya Prabu sanghiyang Ageng (mp. 1019-1030 M), dan ibunya merupakan  putri asal Sriwjaya, yang masih kerabat Raja Wura Wuri.
Ayahnya, Prabu sangiang Ageung menikahkan  Sri Jayabupati dengan putri raja terakhir Dinasti Sonjaya, Raja Darmawangsa Teguh.

a.. Sri Jayabhupati dinikahkan  Dengan Putri Darmawangsa Teguh
Dalam sistem kerajaan klasik, perkawinan antar kerajaan biasanya dijalin untuk memperkokoh negara tersebut. Baik dari keluarga laki laki atau keluarga waniita akan menjadi kuat karena ikatan perkawinan ini. Setidaknya untuk menyerang salah satu dari keluarga tersebut akan mendapat konsekwensi bantuan dari kerajaan yang menjadi menantua atu mertuanya.
Hal ini mungkin dilakukan oleh Raja Sunda waktu itu, Prabu Sanghiyang Ageung dan raja Medang Bhumi Mataram waktu itu, Darmawangsa Teguh. Kerajaan Sunda dikenal secara tradisi merupakan kerajaan yang tangguh dan stabil. Karena kemungkinan ikatan perkawinan untuk memperkuat satu sama lain.
Hal tersebut ditambah dengan untuk mempererat kekeluargaan kembali. Karena seperti diungkapkan sebelumnya, bahwa kerajaan Bhumi Mataram, masih merupakan satu keturunan. Karena dinasti yang berkuasa disana merup[akan turunan dari Sonjaya, yang berasal dari tanah Sunda.
Dengan mengawinkan Sri Jayabupati dengan putri dari Darmawangsa Teguh, Bagi Prabu Sanghiyang Ageung (ayah Sri Jayabupati), memperolh 2 keuntungan, yaitu: tetap Menjalin silaturahmi dengan dinasti Sonjaya, karena Sonjaya berasal dari  Sunda. Dan yang kedua Prabu sanghiyang Ageung seolah ingin memeperkokoh kedudukannya  dalam tatanan global. Karena Prabu Sanghiyang Ageung beristrikan putri dari Sriwijaya. Karena itu seakin kokhlah keberadaan Prabu Sanghiyang Ageung ini, menjadi besan raja Sriwijaya dan mempunyai menantu dari Medang Bhumi Mataram.

b.. Gelar dan Corak Jawatimuran
Sri jayabhupati bergelar Sri Jayabhupati Maharaja: Jayabhupati Jaya Manahen Wisnumurti Samarawijaya   calakabhuana  mandalecwaranindita Harogowardhana wikramottunggadewa.
 Gelar ini bercorak Keraton Jawa Timur-an, merupakan  hadiah perkawinan dari mertuanya, Sri Dharmawangsa Teguh. Hadiah nama gelar semacam itu, diterima pula oleh Prabu Airlangga, menantu Sri Darmawangsa Teguh lainnya, dan digunakan sebagai gelar resmi, setelah Prabu Airlangga menjadi raja. Istrinya merupakan adik dari  Dewi Laksmi, istri Airlangga (1019-1042 M), yang kemudian menjadi prameswarinya.  Karena pernikahannya tersebut, ia kemudian mendapat anugrah gelar dari mertuanya (Dharmawangsa), gelar ini yang dicantumkan dalam prasasti Cibadak.

c.. Keluarga
Sri jayabupati menikah dengan anak Prabu Darmawangsa, dan merupakan adik dari Dewi Laksmi, istri dari raja Airlangga. Dari istrinya putri Darmawangsa, ia mempunyai beberapa orang anak,  diantaranya: Prabu dharmaraja yang dikemudian hari menggantikan sebagai raja, dan wikramajaya yang menjadi panglima angkatan laut.
Sri Jayabhupati menikah juga dengan Dewi Pertiwi, yang kemudian mempunyai anak yang bernama  Resiguru Batara Hiyang Purnawijaya. Dan lain lain.
Setelah ia meninggal, tahta jatuh ke anaknya yang bernama Prabu Dharmaraja (1042-1065 M), atau dalam Naskah Carita Parahiyangan  disebut “ Nu Hilang di Winduraja”, yang menjadi raja sunda  selama 23 tahun. 
  
BAB II MASA PEMERINTAHAN
Pada masa kekuasaannya, Sri Jayabhupati diuntungkan oleh sistem kekeluargaan besar di zamannya. Ibunya merupakan putri dari raja Sriwijaya, sedang istrinya berasal dari Medang Bhumi Mataram. Jadi secara politik, dia diuntungkan oleh sistem kekluargaan tersebut.
Tetapi hal ini menjadi lain, ketika justr terjadi persaingan antara Sriwijaya dengan penguasa Medang Bhumi Mataram waktu itu. Dan penulis sejarah sering mengatakan bahwa kerajaan mertuanya hancur  kalah karena serangan raja Wura Wuri, yang merupakan sekutu Sriwijaya di Jawa. 

BAB III PRASASTI PENINGGALAN SRI JAYABHUPATI
Prasasti peninggalan Sri Jayabhupati ditemukan di daerah Cibadak Sukabumi, sehingga kemudian prsasti ini dikenal dengan nama Prsasati jayabhupati atau Prasasti Cibadak.
Prasasti ini terdiri dari 40 baris sehingga memerlukan 4 buah batu untuk menulisnya. Prasasti ini ditulis dalam bahasa  dan huruf Jawa kuno, yang sekarang  disimpan di museum pusat, dengan code D73 (dari Cicatih), D96, D97, D98

Isi ketiga batu pertama (menurut Pleyte):

D73
//0// Swasti  shakawarsatita 952 Karttikamasatithi dwadashi  shuklapa –ksa.ha.ka.ra. wara Tambir. Iri ka diwasha nira prahajyan Sunda maharaja Shri Jayabhupati Jayamana-hen wisnu murtti samarawijaya shaka labhuw anamandales waranindita harogowardhana wikra mottunggadewa, ma-

D96
Gaway tepek i purwa sanghyang tapak ginaway  denira shri jayabhupati prahajyan Sunda. Mwang tan hanani baryya baryya shila. Irikang iwah tan pangalapa ikan sesini iwah. Makahiyang sanghyang tapak wates kapujan I hulu, I sor makahingan  ia sanghyang tapak wates kapujan I wungkalogong kalih matangyan pinagawayaje n pra sasti pagepageh. Mangmang sapatha.

D 97:
Sumpah denira prahajyan  sunda. Iwirnya nihan. 
  
Terjemahan:
Selamat, dalam tahun saka 952 bulan kartika tanggal 12 bagian terang, hari hariang, kaliwon, ahad, wuku tambir. Inilah saat raja Sunda Maharaja Sri Jayabupati  Jayamahen Wisnumurti Samarawijaya Sakalabuwana mandaleswara  nindita haro gonawardhana wikramottung gadewa, membuat  tanda  disebelah timur sanghiyang tapak. Dibuat  oleh Srijayabhupati Raja Sunda. Dan jangan ada yang melanggar  ketentuan ini. Disungai ini jangan (ada yang) menangkap ikan  di sebelah sini sungai dalam batas  daerah pemujaan  sanghiyang tapak di sebelah hulu.  Disebelah hilir dalam batas daerah  pemujaan sanghiyang tapak pada dua batang  pohon besar. Maka dibuatlah prasasti (maklumat) yang dikukuhkan dengan  sumpah)

Sumpah yang diucapkan oleh raja Sunda  lengkapnya tertera pada prasasti  ke-4 (D 98). Terdiri dari 20  baris, yang intinya menyeru semua  kekuatan gaib didunia dan di surga agar ikut  melindungi keputusabn raja.. Siapapun yang menyalahi  ketentuan tersebut diserahkan penghukumannya  kepada semua kekuatan itu agar dibinasakan  dengan menghisap otaknya, menghirup  darahnya, memberantakan ususnya  dan membelah dadanya. Sumauh itu ditutup dengan kalimat seruan, ” I wruhhanta kamunghyang kabeh” ( Ketahuilah olehmu parahiyang semuanya).


Tanggal pembuatan Prasasti Jayabupati ini bertepatan dengan 111 Oktober 1030 M, Isi prasasti ini dalam segala hal  menunjukan corak jawa timur, tidak hanya huruf, bahasa dan gaya , melainkan juga gelar raja di lingkungan raja di keraton Dharmawangsa, karena ia sendiri merupakan menantu dari Dharmawangsa.

(Lanjut.....)

By Adeng Lukmantara
Sumber: Id.Wikipedia


Minggu, 14 Agustus 2016

DEMUNAWAN, RAJARESI DARI SAUNGGALAH (KUNINGAN)

Kata Pengantar


Salah seorang yang banyak dibicarakan dalam Naskah Carita Parahiyangan adalah tokoh yang bernama Rahiyangtang Kuku atau disebut juga dengan nama Sang Seuweukarma, atau dikenal juga dengan nama Resi Demunawan. Resi Demunawan merupakan pendiri istana Saunggalah di Kuningan.






NASKAH

A.. SILSILAH DAN KEKUASAAN
Rajaresi Demunawan atau rahiyangtang Kuku atau dikenal juga dengan nama  Sang Seuweu Karma. Ia dkienal sebagai raja yang adil, sehingga gelar Seuweu Karma berkaitan dengan keadilan ini. Seuweu dalam bahasa indonesia berarti anak atau putra, karma berarti adil, atau berkaitan dengan huku keadilan. Karena ia sangat bijak dalam menentukan hukum, dan ia sendiri dikenal dengan gelar rajaresi (resiguru) artinya raja yang ahli juga dalam bidang keagamaan, dikenal arif dan bijaksana. Dan dalam Naskah Carita Parahiyangan diungkapkan betapa arifnya dia sehinngga dikenal sebagai “tempat panyuluhan jalma rea (Tempat meminta pendapat banyak orang)”.
Rajaresi Demunawan merupakan putra kedua dari pasangan Rahiyang Sempak Waja dengan istrinya, Pwah Rababu. Ia merupakan adik dari Prabu Purbasora (Raja Galuh ke-4 yang mengkudeta Prabu Sena), dan kakak lain bapak, Prabu Sena (Raja galuh ke-3).
Demunawan menikah dengan putri penguasa Kuningan, Sang Pandawa atau Prabu Wiragati, yang bernama Pohaci Sangkari pada tahun 671 M.
Ketika masih di Kuningan,  dalam naskah Wangsakaerta (Pustaka rajya rajya-i Bhumi Nusantara) ia tinggal di  keraton yang ada di kuningan yang dinamakan  Sangkarmasaya, yang berarti tempat sang karma, yaitu tempat Demunawan tinggal menetap dan memerintah daerahnya. Tetapi ketika ia berkuasa atas Kuningan dan Galunggung, ia berkuasa di saunggalah. Saunggalah berasal dari kata saung berarti Rumah, dan Galah berarti panjang. Dengan demikian arti Saung Galah berarti Rumah panjang, atau Keraton yang memanjang.

1.. Rahiyang Sempak Waja (620-   M)
Rahiyang Semplak Waja atau Batara dangiang Guru merupakan anak tertua Wretikandayun  yang lahir tahun 620 M. Sempak waja tidak menjadi raja karena ia ompong. Dengan demikian ia kemudin  memilih menjadi resiguru (batara dangiang guru)  di Galunggung. Sempak Waja menikah dengan Pwah Rababu dan mempunyai 2 anak, yaitu: Prabu Purbasora dan Resi Demunawan.
Prabu Purbasora karena merasa anak tertua dan dilahirkan dari anak tertua raja pendiri Galuh. Karena itu ia merasa paling berhak atas tahta galuh. Dengan alasan moralitas kemudian Prabu Purbasora pada tahun 716 M mengkudeta  Raja Galuh, yaitu Prabu Sena yang merupakan adiknya seibu.

2.. Menerima Tahta dari Ayah dan Mertua
Setelah pasca kudeta Sonjaya terhadap Prabu Purbasora (kakak Demunawan). Untuk mengeksiskan kekuasaan Demunawan, maka pada tahun 723 M Demunawan mendapatkan tahta  raja Kuningan dari mertuanya, Sang Pandawa. Dan ia juga mendapat tahta Galunggung dari ayahnya, Batara dangiang Guru sempak Waja. Dengan demikian kekuasaan Demunawan kemudian meliputi Kuningan dn juga Galunggung.
Dengan berlalunya waktu, dan menjadikan kerajaan Saunggalah menjadi kerajaan yang disegani baik otoritasnya dalam kekuasaan dan juga dalam keagamaan. 

B. KONSTALASI POLITIK GALUH TAHUN  723 M PASCA KUDETA SONJAYA TERHADAP PURBASORA
Setelah terjadi kudeta Sonjaya terhadap Prabu Purbasora pada tahun 723 M, maka konstalasi perpolitikan di kerajaan galuh berubah. Meskipun Sonjaya dapat mengalahkan Prabu Purbasora dan dapat menguasai Galuh. Tetapi Sonjaya tidak serta merta menguasai galuh secara keseluruhan.
Galuh dalam sejarahnya dibangun dalam otokrasi keagamaan. Karena itu otokrasi keagamaan mempunyai wilayahnya yang independen. Dengan demikian meskipun sistem pemerintahan Galuh dikuasai  tidak otomatis menguasai seluruhnya. Karena Galuh mengakui kekuasaan otokrasi dari para penguasa agama. Sehingga dengan dikuasainya Galuh tidak serta merta dapat menguasai seluruh wilayah, terutama yang berkaitan dengan otokrasi kekuasaan keagamaan. Dan otokrasi kekuasaan keagamaan yang sangat dihormati di Galuh adalah Kabataraan Galunggung, yang didirikan oleh putra pertama pendiri Galuh, Wretikandayun, yang bernama Batara dangiang Guru Sempak Waja.
Otoritas Galunggung waktu itu masih dipegang oleh tokoh yang sangat dihormati oleh masyarakat Galuh, yaitu Batara Dangiang Guru Rahiyang Sempak Waja. Yang secara silsilah merupakan ayah dari Prabu Purbasora, dan kakek dari Sonjaya itu sendiri.
Dengan demikian, meskipun Sonjaya dapat menguasai istana galuh, tetapi  secara de fakto masih tidak diakui sebagai penguasa Galuh secara keseluruhan, karena belum diakui oleh otokrasi kekuasaan keagamaan, terutama Galunggung. Apalagi ketika Sonjaya diuji oleh Batara dangiang Guru untuk mengalahkan raja raja di daerah Kuningan, Tetapi Sonjaya tidak mampu mengalahkannya.
Sehingga Sonjaya kemudian meminta ijin kepada Batara dangiang Guru Sempak Waja, untuk menjadikan Resi Demunawan dari Saunggalah untuk menjadi raja Galuh. Sonjaya memandang bahwa  Resi Demunawan merupakan adik dari Prabu Purbasora.  Tetapi permintaan  ini ditolak oleh Sempak waja, karena ia merasa curiga bahwa hal itu hanya siasat Sonjaya untuk memancing Demunawan masuk dalam perangkapnya di galuh, setelah itu membinasakannya. Dan alasan Sempak waja yang kedua adalah karena ia tidak rela Demunawan menjadi bawahan Sonjaya. Di ketahui juga bahwa Sonjaya waktu itu juga telah menjadi raja di Pakuan.
Karena Sonjaya tidak dapat menguasai ketiga penguasa di Kuningan (tiga serangkai dari Kuningan: sang Pandawa, sang wulan dan ), maka Sonjaya akhirnya menerima siapapun yang ditunjuk oleh Batara dangiang Guru yang hendak memegang pemerintahan di galuh. Batara dangiang Guru sempak waja kemudian menunjuk Premanadikusumh, putra patih Wijaya atau cucu Purbasora (atau buyut Sempak Waja itu sendri). Dan untuk mengontrol kekuasaan di Galuh sebagai penyeimbang, maka sonjaya kemudian menunjuk putranya, yang bernama Temperan Barmawijaya menjadi patih di Galuh.
Tidak hanya itu, dalam membendung kekuasaan Sonjaya di Galuh, maka Batara Dangiang guru Sempak Waja kemudian mengukuhkan kedudukan Demunawan di Kuningan. Pada tahun 723 M, Demunawan dinobatkan menjadi raja di Kuningan menggantikan kedudukan mertuanya, Sang pandawa atau Prabu Wiragati.  Dan pada waktu itu juga ia kemudian meyerahkan wilayah kekuasaan galunggung kepadanya. Karena ia menerima tahta Galunggung, yang mempunyai otoritas keagamaan yang sangat disegani, maka dikemudian hari ia dikenal dengan gelar raja Resi Demunawan.
Dengan demikian Demunawan  berkuasa atas wilayah Kuningan dan juga Galunggung, yang kemudian hari dinamakan kerajaan Saunggalah, karena memilih Saunggalah sebagai ibukota pemerintahannya.
Dengan pembentukan kerajaan baru yang independen ini seolah Batara Dangiang Guru telah membuat tandingan kerajaan Galuh. Karena kerajaan Sunda dan Galuh itu sendiri tidak berani mengutak ngatik kekuasaan Resiguru demunawan di Saunggalah.

1.. Sonjaya Pada Tahun 732 M Mendapat Tahta Medang Bumi Mataram
Setelah kekuasaan galuh diserahkan kepada Premanadikusumah, Sonjaya kemudian kembali ke Pakuan. Tetapi pada tahun 732 M, Sonjaya dinobatkan menjadi penguasa (raja) menggantikan ayahnya, Prabu Sena, yang telah berkuasa sebelumnya. Prabu Sena setelah dikudeta oleh Prabu Sena pada tahun 716 M, ia melarikan diri ke Medang Bhumi Mataram, kerajan istrinya, sanaha, berasal. Ia kemudian menjadi raja di sana. 
Sebagai konsekwensi kepindahan Sonjaya ke Bhumi Mataram, maka kekuasaan Sunda kemudian di serahkan kepada putranya, Prabu Temperan Barmawiajaya.

2. Prabu Temperan Barmawijaya
Setelah mendapat tahta kerajaan Sunda pada tahun 732 M, dari ayahnya, Sonjaya. Prabu Temperan merasa perlu untuk mengeksikan diri sebagai raja, terutama ddi daerah Galuh.
Karena itu untuk mengeksiskan kekuasaannya di kedua kerajaan Prabu Temperan kemudian menyingkirkan kekuasaan Premanadikusumah dari tahta Galuh. Dan hal ini mendapat  kesempatan ketika Premanadikusumah sedang dalam pertapaannya.
Dan hal ini diungkapkan dalam Naskah Carita Parahiyangan:
“Di wates Sunda, aya pandita sakti, dipateni tanpa dosa, ngaranna Bagawal Sajalajala. Atma pandita teh nitis, nya jadi Sang Manarah. Anakna Rahiang Tamperan duaan jeung dulurna Rahiang Banga. Sang manarah males pati.”

B. GALUH TAHUN 739 M PASCA KUDETA SANG MANARAH
Pada tahun 739 M terjadi perang besar di Kerajaan Galuh. Hal ini diakibatkan oleh kudeta yang dilakukan oleh Sang Manarah (Ciung Wanara) terhadap penguasa Sunda Galuh,  Prabu Temperan, yang menyebabkan Prabu temperan meninggal dunia pada tahun 739 M. Dengan demikian tahta galuh sejak tahun 739 M dipegang oleh Sang Manarah.
 Sisa pasukan kerajaan  dipimpin anak Temperan, yang beernama  Hariang Banga, juga mulai terdesak.  Hariang Banga dapat ditangkap dan dipenjara oleh Ciung Wanara, tetapi Hariang Banga dapat meloloskan diri. Dan ia mulai menyusun kembali pasukan untuk menyerang Galuh.
Prabu Sonjaya yang sudah menjadi raja di Jawa (Medang Mataram) sangat marah ketika mendengar anaknya, Prabu Temperan, meninggal akibat kudeta tersebut. Sehingga ia kemudian mengerahkan pasukan dari Mataram untuk menyerang Galuh dengan 4 kekuatan besar. Pasukan satu bernama Tomarasakti dipimpin oleh Sanjaya; pasukan 2 bernama Samberjiwa dipimpin oleh Rakai Panangkaran (putra sanjaya), pasukan 3 bernama Bairawamamuk dipimpin oleh Panglima Jagat Bairawa, pasukan 4 bernama Batarakroda, dipimpin oleh Langlang Sebrang. Dan dari barat juga bergerak tentara dari ibukota Pakuan menuju menyerang Galuh yang dipimpin oleh Hariang Banga dan patihnya.
Tetapi perang besar ini kemudian dapat dihentikan oleh Raja resi Demunawan yang waktu itu berusia 93 tahun, dengan diadakan gencatan senjata. Perundingan gencatan senjata  digelar di keraton Galuh pada tahun 739 M. Kesepakatanpun tercapai: Galuh harus diserahkan kepada Sang Manarah, dan Sunda kepada Rahiyang Banga (cucu Sanjaya), dan Sanjaya memimpin Medang Mataram. Dengan demikian Sunda Galuh yang selama tahun 723-739 M, merupakan satu kekuasaan terpecah kembali. 
Dan untuk menjaga agar tak terjadi perseturuan, Manarah dan banga kemudian dinikahkan  dengan kedua cicit Demunawan. Manarah dengan gelar Prabu Jayaperkosa Mandaleswara Salakabhuwana, memperistri Kancanawangi, sedang Banga sebagai raja Sunda  bergelar Prabu Kertabhuwana Yasawiguna Hajimulya, mengawini adik Kancanawangi yang bernama Kancanasari.


Dengan demikian Resi Demunawan telah melakukan kebijakan yang sangat cerdas, meskipun sistem kenegaraan telah terpisah, tetapi seluruh tataran sunda dibangun dengan kekeluargaan. Dengan perkawinan keluarga Saunggalah dengan istana Galuh dan juga Istana Pakuan, seolah ikatan keluarga dijalin lagi melalui suatu ikatan perkawinan keraton Saunggalah, Galuh dan Pakuan. Dan dikemudian hari ikatan tersebut dijalin, sehingga kerajaan sunda di Pakuan, Galuh dan Saunggalah, seolah menjadi satu kesatuan. Dan ketiga kota tersebut kemudian dijadikan menjadi ibukota kerajaan sunda, tergantung raja sunda dimana berasal. Dan penguasa terkenal dikemudian hari, Prabu Darmasiksa, yang digelari titisan Wisnu berasal dari istana saunggalah ini.


(lanjut)
By Adeng lukmantara
Peminat Studi Peradaban Sunda dan Islam

Sumber: dari berbagai Sumber


Senin, 25 Juli 2016

PRABU GEUSAN ULUN 1558-1603 M)

Pengantar

Tulisan ini diilhami  karena ada orang yang mempertanyakan tentang Prabu Geusan Ulun. Siapakah dia dan apa peranannya dalamperadaban Sunda klasik. Penulis mencoba merangkum tulisan dari berbagai sumber, termasuk  tulisan tulisan di internet, dalam bentuk yang lebih simple yang dinamakan oleh penulis dengan istilah novel sejarah. Istilah tersebut mungkin kurang cocok dan mungkin akan diperdebatkan. Tetapi seperti kisah kisah yang ditulis oleh penulis sebeleumnya, seperti ciung wanara, Sonjaya, Pajajaran burak dan lain sebagainya, telah ditulis seperti itu. Yah minimal, pembaca memahami, bahwa kejadian itu terjadi pada tahun itu. Jadi bukan sejarah yang tumpang tindih.
Karena tulisan ini masih baru rangkuman dari berbagai tulisan, mungkin banyak kutipan dari penulis penulis lain, mohon maklum adanya.  Sambil menyelam minum air, itu kata peribahasa, Sambil mencari sumber yang akurat dari berbagai buku, mengapa tidak ditulis sesuai dengan ide kita sendiri.
Informasi sedikit merupakan awal pencarian. Itulah yang menjadi prinsip kami dalam menulis semua tulisan yang di tulis. Untuk menulis tulisan yang sempurna, mungkin suatu hal yang tidak mungkin, karena data sumber yang serba sedikit. Disamping itu,manusia itu punya opini sendiri, karena itu tidak semua orang akan mengikuti opini kita, tetapi yang terpenting adalah kita telah memulai membuat opini sesuai opini penulis itu sendiri. Karena lain padang lain belalang, lain otak di kepala, lain pula pemikirannya.
Menggugah kaum muda, mungkin itu harapan terbesar dari penulis.Mudah mudahan ke depannya banyak pecinta sejarah kebudayaannya sendiri di kalangan kita sendiri,sehingga ada sejarah kesinambungan. Sehingga pembuat sejarah berikutmya tidak hanya berangkat dari nol ke nol.
Hidup itu harus membuat sejarah, begitu kata orang bijak. Jangan menjadi kaum yang diombang ambing sejarah. Sehingga kita dalam sejarah hanya menjadi pelengkap penderita dalam menempuh sejarah kehidupan.
Tiada gading yang tak retak. Tulisan ini mudah mudahan bermamfaat untuk kita semua. Minimal bagi penulisnya, sebagai upaya belajar dan belajar mencari kesempurnaan dalam hidup. Terima kasih.
.
A.. SUMEDANG LARANG AWAL ABAD KE-16 M.
Sumedang Larang adalah nama kerajaan yang berdiri pada abad ke-13M, dan mulai mengeksiskan diri menjadi suatu kerajaan yang indpenden diakhir kejatuhan kerajaan pajajaran pada akhir abad ke 16 M. . Kerajaan ini berdiri dan merupakan bagian dari kerajaan Sunda Galuh. Dan secara hierarki Sumedang Larang merupakan bagian dari kerajaan Galuh.
Sumedang Larang oleh Bujangga Manik, seorang pengembara dari kerajaan Sunda dalam naskah yang ditulisnya diakhir abad ke-15 M disebut dengan nama Medang Kahiyangan. Dan dalam naskah Carita Parahiyangan  wilayah Sumedang ini juga disebut dengan nama Medang Kahiyangan.
Sumedang Larang didirikan oleh Batara Prabu Aji Putih, seorang tokoh keagamaan di lingkungan kerajaan Galuh yang mumpuni. Dan ia kemudian mendirikan suatu kebataraan atau kabuyutan atau padepokan  di wilayah  Sumedang (daerah Cipaku Darmaraja sekarang). Kabataraan atau Kabuyutan dalam tradisi Sunda merupakan suatu tempat yang disakralkan oleh masyarakat Sunda  dan mempunyai suatu kekuasaan yang independen, baik wilayah maupun otoritasnya terutama dalam bidang keagamaan
Sumedang menjadi suatu negara  mula mula dibangun oleh anak Prabu aji Putih yang bernama Prabu Tajimalela. Prabu Tajimalela hidup sezaman dengan raja sunda yang bernama Ragamulya Luhur Prabawa (mp. 1340-1350 M) dan juga tokoh Suryadewata, orang tua Batara Gunung Bitung dari Talaga. . Prabu tajimalela ini memiliki banya nama diantaranya Prabu resi Agung Cakrabuana dan Batara Tuntang Buana. Dan nama kerajaannya pun berevolusi dari nama Tembong Agung yang dibangun oleh Prabu Aji Putih kemudian menjadi Himbar Buana di era Prabu Tajimalela, Medang kahiyangan dan Sumedang Larang d era berikutnya.
Dalam tradisi Sunda Klasik sistem kenegaraan dalam tradisi Sunda lebih bercorak  sistem negara Federal seperi sekarang ini. Suatu wilayah kerajaan negara bagian (negara dalam negara) diakui independensinya. Dan negara yang muncul kemudian selalu setia terhadap kerajaan utamanya. Demikian juga Sumedang Larang yang secara hirarki menjadi bagian dari kerajaan Galuh, dan merupakan suatu wilayah dari kerajaan Sunda (atau Sunda Galuh).
Hingga awal abad ke-16 M, Sumedang larang mengambil corak agama Hindu sebagai agama resminya, meskipun secara tradisi masyarakatnya masih berpegang teguh kepada kepercayaan aslinya. Baru pada awal abad ke-16 M, Sumedang Larang telah beralih menjadi suatu kerajaan yang berbasiskan Islam, dengan adanya pernikahan putri kerajaan Sumedang Larang, Ratu Pucuk Umun dengan seorang bangsawan dari kerajaan Cirebon, yang bernama Pangeran Kusumah Dinata, atau dikemudian hari terkenal dengan nama Pangeran Santri.
Setidaknya terdapat 9 penguasa Sumedang larang dari Batara Prabu Aji Putih hingga Ratu Pucuk Umun. Secara berurutan penguasa Sumedang larang itu antara lain:
..Batara Prabu Aji Putih
..Prabu Tajimalela (Batara Tuntang Buana)
.. Prabu Lembu Agung (Prabu Jayabrata/ Prabu Lembu Peteng Aji)
.. Prabu gajah Agung (Prabu Atmabrata)
.. Prabu Pagulingan (Prabu Wirajaya Jagabaya)
.. Sunan Guling ( Prabu Mertalaya)
.. Sunan Tuakan (Prabu Tirta Kusuma)
.. Ratu Sintawati (Nyi Mas Patuakan)  menikah dengan Sunan Corenda dari Talaga
.. Ratu Satyasih (Ratu Inten Dewata / bergelar Ratu Pucuk Umun), menikah dengan Pangeran Santri dari Cirebon.

1.. Sumedang Larang tahun 1558 M
Di Sumedang Larang, tepatnya di Ibukota Kutamaya, pada tahun 1558 M (1480 Saka) telah lahir seorang bayi laki laki di Istana kerajaan  dari ibu seorang ratu (ibu negara)  Ratu Pucuk Umun. Dan bayi tersebut oleh ayahnya, Pangeran Santri diberi nama Pangeran Angka Wijaya. Pangeran Angka wijaya ini dikrmudian hari setelah menjadi raja, dikenal dengan nama  Prabu Geusan Ulun.
Pangeran Angkawijaya  tumbuh dibawah bimbingan ayahnya yang terkenal sebagai turunan ulama dan ksatria (panglima)  yang gagah berani dan juga penganut Islam yang taat. Ayah Sang Bayi terkenal dengan julukan Pangeran Santri, karena ia merupakan lulusan pesantren, disamping ketaatan terhadap agama yang luar biasa. Pangeran Santri berkuasa di Kerajaan  Sumedang Larang bersama istrinya, Ratu Pucuk Umun, yang merupakan turunan dan pewaris tahta Sumedang Larang.
Pangeran Santri dan istrinya Ratu Pucuk Umun merupakan penguasa Sumedang Larang yang beragama Islam pertama kali. Ratu pucuk Umun mengikuti jejak suaminya, Pangeran Santri menjadi muslimah pertama di kalangan istana Sumedang Larang. Pada masanya, mereka membangun ibukota kerajaan di Kutamaya, dan kemudian  memindahkan ibukota Sumedang Larang  dari Ciguling ke ibukota baru tersebut ( Kutamaya). Dan Prabu Geusan Ulun lahir diibukota baru tersebut.

a.. Pangeran Santri (1505-1579 M)
Pangeran Kusumahdinata atau terkenal dengan sebutan Pangeran Santri, merupakan penguasa (raja) Sumedang larang yang pertama kali menganut agama Islam. Pada agama Islam dijadikan agama resmi kerajaan, dan dia danggap yang berjasa dalam islamisasi di kerajaaan Sumedang Larang.
Pangeran Santri merupakan cucu dari Syekh Maulana Abdurahman  (Sunan Panjunan) dan  cicit dari Syekh Datuk Kahfi, dan  merupakan putra dari Pangeran Maulana Muhammad. Maulana Muhammad terkenal dengan nama Pangeran Palakaran menikah dengan putri dari Sindangkasih (Majalengka) yang bernama Nyi Amrillah. Dari pernikahan ini lahirlah Ki Gedeng Sumedang atau terkenal juga dengan nama Pangeran Santri.
Syekh Datuk Kahfi adalah  seorang ulama keturunan Arab Hadramaut yang berasal dari Mekah, dan yang merupakan salah seorang yang berjasa dalam menyebarkan agama Islam di tanah sunda era awal.
Pangeran Santri lahir pada tangga 6 bagian gelap bulan Jesta tahun 1427 M (29 Mei 1505 M), dan  dilantik menjadi raja sumedang  pada tanggal 13 bagian gelap bulan Asuji tahun 1452 Saka (21 Oktober 1530 M), dengan gelar Pangeran Kusumah Dinata, bersama istrinya.
Karena ia masih punya kekerabatan dengan kesultanan Cirebon, setelah mengawini Ratu Pucuk umun, maka Sumedang Larang dengan otomatis berada dalam lingkaran kekuasaan kesultanan Cirebon. Meskipun telah  menjadi penguasa Islam di tanah Sumedang Larang, Pangeran Santri tetap mempertahankan independensi Sumedang dari pengaruh kesultanan Cirebon, dan ia tidak melakukan komplik dengan negara induknya, Pajajaran. Pangeran santri lebih senang melakukan islamisasi di tanah Sumedang daripada ia melakukan komplik horizontal dengan Pajajaran. Karena itu meskipun Sumedang Larang telah Islam, tetapi oleh Pajajaran tidak dianggap  membahayakan bagi kekuasaan Pajajaran. Karena itu ketika Pajajaran jatuh, maka justru mahkota diserahkan kepada putra mahkota atau anak dari Pangeran Santri yang bernama Prabu Geusan Ulun.
Pangeran Santri dinobatkan sebagai Penguasa (raja) Sumedang Larang pada tanggal 13 bagian gelap bulan Asuji tahun 1452 Saka atau sekitar tanggal  21 Oktober 1530 M. Dan tiga bulan setelah penobatannya, pada tanggal 12 bagian terang bulan Margasira tahun 1452 saka di keraton Pakungwati diselenggarakan perjamuan syukuran untuk merayakan kemenangan kesultanan Cirebon atas Galuh, dan sekaligus merayakan penobatan Pangeran Santri.
Pada masa Pangeran santri berkuasa, Pajajaran sedang diambang kekalahan melawan Pasukan Maulana Yusuf dari Banten. Dan pada tanggal 8 Mei 1579 M (atau tanggal 11 bulan Wesaka 1501 Saka.
Sebelum Pajajaran Jatuh, pada tanggal 22 April 1578 M, pada hari jum’at bertepatan dengan hari idul fitri di keraton Kutamaya Pangera santri menerima 4 Kandaga Lante yang dipimpi oleh Sanghiyang Hawu atau Jaya Perkosa. Dan ketiganya lagi adalah: Batara Dipati Wiradijaya (Nangganan), Sanghiyang Kondang hapa, dan Batara Pancar Buana (Mbah Terong peot).
Pangeran Santri meninggal pada 2 Oktober 1579 M, lima bulan setelah runtuhnya kerajaan Pajajaran, yang diserang oleh tentara kesultanan Banten, dibawah pimpinan Sultan Maulana Yusuf.

b.. Ratu Pucuk Umun (mp. 1530-1578M)
Ratu Pucuk umun atau Ratu Inten Dewata  adalah seorang wanita yang merupakan turunan dari Raja Raja Kuno Sumedang. Ia mewarisi tahta dari ayah dan ibunya, Sunan Corenda /Shintawati. Karena ayahnya Sunan Corenda berasal dari Sindangkasih (Majalengka), ada kemungkinan perkawinan dihubungkan dengan sistem kekerabatan. Dan waktu itu Majalengka atau Sindangkasih telah lebih dulu masuk Islam berkat jasa kakek dari Pangeran Santri, Maulana Abdurrahman. Dan ayah Pangeran santri yang bernama Maulana Muhammad, yang menikah dengan salah seorang putri bangsawan yang bernama Nyi Siti Armillah. Kemungkinan  kekerabatan antara ayah Ratu Pucuk Umun (Sunan Corenda) dengan Nyi Amrillah ini yang akhirnya menjodohkan antara angeran Santri dengan Ratu Pucuk Umun (Ratu Inten Dewata). Ratu Pucuk Umun mengikuti keyakinan suaminya, Pangeran Santri, yang beragam Islam. Dengan demikian proses Islamisasi di Sumedang Larang terkesan lebih halusa dan tidak terjadi konfrontasi seperti daerah daerah di eks Pajajaran lainnya.
Dari perkawinannya dengan Pangeran Santri, ia dikaruniai 6 anak,yaitu: Pangeran Angkawijaya (Prabu Geusan Ulun), Kiai Rangga Haji, Kiai Demang Watang  Walakung, Santoan Wirakusumah, Santowaan Cikeruh dan Santowaan Awiluar. Karena merupakan anak pertama, maka Pangeran Angkawijaya kemudian diangkat menjadi raja menggantikan ayahnya. Satowan Wirakusumah menurunkan keturunan di Pagaden Subang.
Prabu Geusan Ulun merupakan anak pertama pasangan penguasa Sumedang Pangeran Santri dan Ratu Pucuk Umun.  Ia lahir pada tanggal 3 bagian terang bulan Srawana tahun 1480 Saka ( 19 Juli 1558 M). Karena anak pertama, kemudian ia diangkat menjadi putra mahkota, dan menggantikan ayah dan ibunya menjadi Raja Sumedang Larang.
Dengan demikian Prabu Geusan Ulun dari pihak ibu merupakan turunan Raja raja Sumedang kuno, sedang dari pihak ayah merupakan turunan pendakwah Islam pertama di tanah sunda, Syekh Datuk Kahfi atau yang terkenal dengan nama Syekh Nurjati.




B. TANAH SUNDA HINGGA AWAL TAHUN 1579 M
Di tanah Sunda hingga awal tahun 1579 M terdapat 3 kekuasaan besar di tatar Sunda yang sudah menganut agama Islam, yaitu Kesultanan Cirebon di bawah pimpinan Panembahan Ratu, Sumedang Larang di bawah pimpinan Pangeran Santri, Kesultanan Cirebon dibawah pimpinan pimpinan Sultan Maulana Yusuf.
Jika kesultanan Cirebon sangat agresif menyerang kerajaan Pajajaran di bagian timur dan selatan yang berbasis kerajaan Galuh, dan sebelum tahun tahun 1530 M, wilayah tersebut dapat dikuasai. Dan puncaknya dengan perkawinan putri  Raja Sumedang Larang dengan Bangsawan dari Cirebon menandai dominasi kesultanan Cirebon di bekas tanah Galuh. Meskipun berbeda dengan wilayah lain, Sumedang Larang etap menjaga independensinya sebagai negarayang merdeka. Sehingga pada tahun 1530 M diadakan syukuran diibukota kerajaan Cirebon di Pakungwati,  perayaan kemanangan Cirebon atas Galuh dan juga penobatan Pangeran Santri sebagai Raja Sumedang Larang, yang merupakan kerabat dari sultan cirebon itu sendiri.
Sedang di wilayah bagian barat, kesultanan Banten sedang berada diatas angin. Setelah Sunan Gunung Jati meninggal. Hasanuddin mengeksiskan diri menjadi kesultanan yang terpisah dari Cirebon, dan memproklamirkan dirinya sebagai penguasa pertama (sultan) yang independen di wilayah banten. Sehingga Sultan Maualana Hasanuddin dan diteruskan oleh anaknya, Sultan Maulana Yusuf   sangat agresif untuk menaklukan pusat Ibukota pajajaran di Pakuan. Dan puncaknya terjadi di era sultan maulana Yusuf berkuasa, ibukota Pajajaran, Pakuan dapt ia taklukan pada tahun 1579 M. Tepatnya pakuan jatuh pada tanggal 8 Mei 1579 M, seperti diungkapkan dalam kitab Pustaka Nusantara,  tentang kejatuhan ibukota kerajaan Pajajaran, Pakuan, disebutkan: ” Pajajaran sirna  ing ekadasa suklapaksa wesakamasa sewu limang atus punjul siki ikang sakakala” ( Pajajaran lenyap pada tanggal 11 bagian terang bulan wesaka tahun 1501 saka). Tanggal tersebut bertepatan  dengan 8 Mei 1579 M.
Karena masih keturunan dari Sri Baduga Maharaja Prabu Jayadewata atau Prabu Siliwangi dari istrinya Subang Larang, Sulltan Maulana Yusuf merasa paling berhak atas tahta di wilayah Pajajaran. Disamping itu juga secara silsilah, ia juga merupakan paling berhal atas tahta sunda di eks Pajajaran, karena baik di pihak bapak dan dari pihak ibu, masuh turunan bangsawan Sunda. Dan mungkin ia juga menegetahui bahwa raja raja sunda merupakan turunan dari raja raja di banten sebelumnya, yaitu dari kerajaan Salakanagara di sekitar Pandeglang sekarang. Jadi Sultan Maulana Yusuf seolah ingin membuktikan bahwa dirinyalah yang paling berhal atas tahta Pakuan. Karena itu ia sangat agresif menyerang ibukota Pakuan, meskipun ibukota tersebut sudah ditinggalkan oleh rajanya sejak tahun 1567 M.
Untuk mendapatkan legitimasi sebagai raja Sunda, Sultan maulana Yusuf setidaknya mengincar 2pusaka kerajaan Pajajaran yang menjadi simbol  menjadi penguasa di tanah Sunda tersebut, yaitu Mahkota kerajaan yang terkenal dengan nama Sang Binokasih, dan tempat penisbatan raja raja Sunda yang dikenal dengan nama Palangka Sriman Sri Wacana.
Setelah ibukota pakuan dapat ditaklukan pada tahun 1579 M, Sultan Maulana Yusuf hanya bisa memboyong tempat penisbahan raja raja palangka Sriman Sriwacana, sedangkan Mahkota sang Binokasih diselamatkan oleh 4 Senopati utama kerajaan Pajajaran yang disebut Kandaga Lante untuk diserahkan kepada Prabu Geusan Ulun di kerajaan umedang Larang. Ke-4 kandaga Lante tersebut adalah: Jaya perkosa (Sanghiyang Hawu ), Batara Adipati Wiradijaya (Nangganan), Sanghiyang Kondanghapa dan Batara Pencar Buang (Embah Terong peot).
Ke-4 Kandaga lante berhasil menyelamatkan atribut pakaian kebesaran maharaja Sunda, yang terdri dari: mahkota emas simbol kekuasaan raja Pakuan,  kalung bersusun 2 dan 3, serta perhiasan lainnya, seperti benten, siger, tampekan dan kilat bahu. Atribut-atribut  kebeesaaran tersebut kemudian diserahkan kepada raden Angkawijaya, putra Ratu Inten Dewata (1530-1579 M) yang kemudian naik tahta Sumedang larang dengan gelar Prabu Geusan Ulun (mp. 1579-1601 M).
Karena sikapnya yang tidak kompromis dari Sultan maualan Yusuf, para bangsawan Pajajaran yang masih tersisa seolah enggan untuk menyeerah, dan menyerahkan lambang kebesaran kerajaan Sunda tersebut kepada Sultan maulana Yusuf tersebut. Karena itu mereka kemudian mencari sosok dari turunan raja raja Sunda yng masih eksis di bekas kerajaan Pajajaran. Kerajaan galuh yang berhak atas tahta tersebut, telah kehilangan tahtanya sejak ahun 1530 M, sejak kekalahannya dari penguasaCirebon. Dan hanya 1 turunan raja raja Sunda tempo dulu yang masih eksis dan independen, meskipun secara agama ia telah menganut agamaIslam, yaitu Pangeran Angkawijaya di kerajaan Sumedang larang.
Tahun penaklukan ibukota Pajajaran hampir sama dengan meninggalnya penguasa Sumedang larang, pangeran Santri. Sehingga tahta Sumedang secara otomatis jatuh kepada Pangeran Angkawiajaya, yang bergelar Prabu Geusan Ulun. Meskipun ibukota Pakuan dapat ditaklukan oleh Sultan Maulana yusuf, tidak berarti seluruh kekuasaan Pajajaran jatuh padanya. Bahkan karena mahkota kerajaan Jatuh tangan Prabu Geusan Ulun, maka kekuasaan Pajajaran yang tidak dikuasai oleh kesultanan Cirebon dan juga Banten menjadi milik kekuasaan Sumedang Larang.
C. MENJADI RAJA SUMEDANG LARANG DAN PEWARIS TAHTA PAJAJARAN

1. Menjadi raja kerajaan Sumedang Larang.
Sebelum Pangeran Santri, ayah Prabu Geusan Ulun meninggal pada 2 Oktober 1579 M. Pada tanggal 22 April 1578 M, pada hari jum’at bertepatan dengan hari idul fitri di keraton Kutamaya Pangera santri kedatangan 4 Kandaga Lante dari Pajajaran yang dipimpin oleh Sanghiyang Hawu atau Jaya Perkosa. Dan ketiganya lagi adalah: Batara Dipati Wiradijaya (Nangganan), Sanghiyang Kondang hapa, dan batara Pancar buana (bah Terong peot). Mereka membawa atribut lambang kekuasaan Pajajaran, berupa mahkota Binokasih dan lainnya, untuk dipersembahkan kepada putra mahkota Sumedang Larang, Prabu Geusan Ulun, sebagai lambang pewaris kerajaan Pajajaran.
Dan tidak lama setelah peristiwa itu, Pangeran Santri meninggal pada 2 Oktober 1579 M. Dan secara otomatis Pangeran Angkawirya dinobatkan sebagai raja menggantikan ayahnya,dengan gelar Prabu Geusan Ulun. Dengan demikian ia kemudia memeiliki keabsahaan sebagai penguasa Sumedang larang dan juga mewarisi wilyah eks pajajaran yang tidakk dikuasai oleh Banten dan Cirebon.
Jaya Perkosa amerupakan seorang senopatii kerajaan Pajajaran. Batara Wiradijaya atau sekarang disebut dengan Mbah Nangganan, dimasa pajajaran menjabat sebagai Nangganan.  Batara

a.. Konstalasi Politik Bekas kerajaan Demak Setelah Sultan Trenggana Meninggal
Setelah Sultan Trenggono meninggal pada tahun 1546 M,  kerajaan Demak berada diambang kehancuran. Pengganti Sultan Trenggono,  putranya yang bernama Sunan Prawoto terbunuh pada tahun 1549 M dalam perang melawan Arya Penangsang (sepupu Prawoto) yang menjabat Bupati Jipang. Arya Penangsang menganggap bahwa dirinya yang berhak menjadi sultan menggantikan Sultan trenggono.   Hadiwijaya atau Joko Tingkir yang merupakan menantu Sultan Trenggono jaga menganggap dirinya berhak menjadi raja Demak, karena ia merupakan menantu Sang raja, dan hal ini mendapat dukungan dari Ratu kalinyamat (bupati Jepara) yang juga merupakan adik Prawoto. Hadiwijaya kemudian mengadakan Sayembara, bahwa yang dapat mengalahkan Arya penangsang, akan mendapat wilayah Pati dan Mataram. Dan sayembara ini diikuti oleh  Ki ageng pamanahan dan Ki Penjawi. Dan Arya Penangsang dapat dikalahkan. Karena jasanya tersebut, kemudian Ki Ageng Pamanahan mendapat tanah di mataram, sedang KiPenjawi mendapat tanah di Pati.
Setelah menjadi raja, Hadiwijaya kemudian memindahkan ibukotanya dari Demak ke Pajang. Setelah hadiwijaya meninggal tahun 1582 M, terjadi perebutan kekuasaan antara putra bungsu hadiwijaya yang bernama Pangeran benawa, dan menantunya (suami anak pertama sang raja) yang bernama Arya Pengiri, yang merupakan putra dari Sunan Prawoto. Dengan dukungan panembahan Kudus, dan juga perkawinan anaknya, ratu Harisbaya  dengan Sultan Cirebon, akhirnya Arya Pengiri naik tahta menjadi raja pada tahun 1583 M.  Pada awalnya sultan Cirebon, panembahan ratu mendukung Pangeran Benawa, tetapi karena perkawinan dengan anaknya, akhirnya panembahan Ratu mendukung Arya Pangiri. Tetapi pada tahun 1586M, Pangeran Benawa dengan bantuan Sutawijaya dari mataram memberontak terhadap Arya pangiri, dan arya pangiri dapat dikalahkan. Pada tahun itu juga akhirnya pangeran benawa menjadi raja Pajang yang ketiga hingga tahun 1587 M. Setelah itu Pajang menjadi bawahan sutawijaya dari mataram.

b.. Berkunjung Ke Demak dan Pajang
Setelah Prabu Geusan Ulun berkuasa pada tahun 1579 M, tidak lama setelah itu, ia melakukan kunjungan ke Demak dan Pajang. Waktu itu kekuasaan Islam di jawa berpusat di Pajang dengan rajannya, Hadiwijaya atau Joko Tingkir.
Prabu Geusan Ulun merupakan turunan bangsawan islam yang disegani. Ia berkunjung ke Pajang kemungkinan besar untuk mempelajari agama dan sistem pemerintahan di negeri itu. . Disini ia berjumpa dengan Ratu Harisbaya, dan kemungkinan sudah ada benang cinta diantara mereka berdua.
Tetapi setelah Joko Tingkir meninggal pada tahun 1582 M, terjadi perebutan kekuasaan. Sebagian ulama dan pembesar ada yang mendukung suami anak pertama raja yang bernama Arya Pangiri, yang juga anak dari Sunan Prawoto. Dan ada pula yang mendukung anak bungsu Joko Tingkir yang bernama pangeran Benawa. Dan salah satu yang mendukung Pangeran Benawa adalah Panembahan Ratu yang merupakan sultan Cirebon. Untuk mendapat dukungan panembahan ratu, akhirnya Arya pangiri menikahkan anaknya, yang bernama Ratu Harisbaya dengan Panembahan ratu.
Ratu Harisbaya terkenal akan kecantikannya. Ia merupakan putri Pajang  berdarah Madura.. Latar belakang Arya Pangiri menjodohkan anaknya, ratu Harisbaya, dengan Panembahan Ratu, penguasa Cirebon, agar Panembahan Ratu bersifat netral. Karena setelah raja Pajang atau  Hadiwijaya (Joko Tingkir),  meninggal terjadi perebutan kekuasaan di keraton Pajang, yang didukung oleh Panembahan Ratu, yang menghendaki yang menggantikan Hadiwijaya adalah Pangeran Banowo putra bungsunya. Tetapi dipihak turunan  keluarga Sultan Trenggono di Demak menghendaki Arya Pangiri putra Sunan Prawoto, dan merupakan menantu Hadiwijaya. Karena itu kenetralan Panembahan Ratu, akhirnya Arya pangiri kemudian yang menjadi penguasa Pajang berikutnya.
Setelah kunjungan selesai, akhirnya Prabu Geusan Ulun meninggalkan Pajang, dan singgah di keraton kesultanan Cirebon, dan disambut  oleh panembahan Ratu, penguasa Cirebon, yang secara silsilah masih paman.
Di keraton Cirebon, iaberjumpa kembali dengan Ratu harisbaya. Ratu harisbaya memintanya  untuk membawanya ke Sumedang. Hal ini ditolak oleh Prabu Geusan Ulun, karena akan merusak kekerabatannya dengan Sultan Cirebon tersebut. Tetapi ketika rombongan raja Prabu Geusan Ulun meninggalkan Cirebon, Ratu Harisbaya, mengikutinya. Dan ketika di perjalanan diketahui, bahwa Sang ratu ikut dalam rombongan, dan ia disuruh kembali, ia mengancam akan bunuh diri. Dilema bagi sang Prabu, yang akhirnya membawanya ke Sumedang.
Mengetahui istrinya ikut dalam rombongan Prabu Geusan Ulun. Maka Sultan Cirebon marah besar, maka terjadi perselisihan antara kedua kerajaan tersebut. Panembahan Ratu memintanya untuk mengembalikan Ratu Harisbaya tersebut, sehingga ia mempersiapkan tentaranya untuk mengejar rombongan kerajaan Sumedang. Tetapi tentaranya itu dapat dipukul mundur oleh pasukan Sumedang.
Peristiwa Ratu harisbaya ini memancing peperangan antar kedua kerajaaan tersebut. Dan untuk antispasi keamanan, maka ibukota kerajaan kemudian dipindahkan ke daerah yang lebih tinggi di Dayeuh Luhur.
Dengan mediasi kerajan mataram, akhirnya disepakati bahwa Panembahan Ratu akan menceraikan Ratu Harisbaya, dengan syarat Talak, bahwa wilayah Sindangkasih  (Majalengka sekarang) harus diberikan ke Cirebon.

c. Kemarahan Jaya Perkosa
Ketika ada mediasi antara Prabu Geusan Ulun dengan Panembahan ratu dari Cirebon, dengan memberikan talak berupamenyerahkan wilayah Sindangkasih (majalengka sekarang) membuat Jaya perkosa marah besar.
Jaya Perkosa melihat bahwa Cirebon waktu itu merupakan negara terlemah di bekas kerajaan pajajaran. Karena itu ia kemudian berencana untuk menguasai kembali wilayah Cirebon jika terjadi peperangan besar antara Sumedang Larang dan kerajaan Cirebon. Karena kekusaan baik kesltanan Pajang atau kesultanan banten sedang berada dalamperpecahan intern.
Dia termasuk seorang mantan pembesar pajajaran  yang idealis. Dengan peristiwaHarisbaya seolah menjadikan awal dalam upaya upaya tersebut.  Setidaknya dengan peristiwaHarisbaya dapatmempermalukan kesultanan Cirebon. Sehingga kemungkinan mereka akan menyerang ke Sumedang. Dan jika menyerang ada kemungkinan pasukanannya dapat dikalahkan.
Tetapi dengan pemberian talak wilayah Sindangkasih (Majalengka) kepada Cirebon, seolah perjuangannya  memberikan mahkota ke Prabu Geusan Ulun sia sia. Karean ia sekuat tenaga mempertahankan wilayahnya, meskipun sejengkal ia pertahankan. Tetapi hanya karena peristiwa wanita, seolah segala usahanya dianggap sia sia.  Karena itu setelah itu ia bersumpah untuk tidak lagi mengabdi kepada penguasa setelahnya.

2.  Daerah Kekuasaan Prabu Geusan Ulun
Setelah mewarisi mahkota kerajaan Pajajaran yang dibawa oleh 4 Kandaga Lante Pajajaran. Maka secara otomatis kekuasaan Sumedang Larang meewarisi seluruh kekuasaan Pajajaran yang tidak dikuasai oleh Kesultanan Cirebon dan juga kesulatanan Banten. Dan menurut babad, daerah kekuasaannya meliputi di sebelah timur dibatasi oleh sungai Cipamali. Disebelah barat dibatasi oleh Sungai Cisadane. Dan sebelah utara (Bekasi, karawang,Bogor, Sukabumi, Cianjur, Subang, Bandung dan Indramayu) dan selatan (Tasikmalaya, Sukabumi,Garut, Ciamis) dibatasi oleh laut. Kekuasannya di timur hingga Cilacap, Purwekerto, Purbalingga dan lain sebagainya.
Karena berbagai hal kekuasaan Prabu GeusanUlun lama kelamaan menyempit hanya meliputi: kabupaten Sumedang, garut, tasikmalaya dan bandung.  Hal ini disebabkan  diantaranya perselisihan antara kesultanan Cirebon dengan Sumedang larangkarena peristiwa Putri Harisbaya yang kemudian jadi istrinya. Dimana Sumedang larang harus rela menyerahkan wilayah Majalengka ke kesultanan Cirebon.
Dan diakhir  kekuasannya, ia berkuasa di 40 penguasa daerah parahiyangan, yang terdiri diantaranya: 22 Kandaga Lante dan 18 Umbul. Hal ini berdasar dari Surat Rangga Gempol III (Pangeran Panembahan Kusumah Dinata VI), bupati Sumedang waktu itu, yang dikirimkan kepada penguasa VOC Belanda di Batavia, Gubernur Jendral Willem Van Outhoorn. Surat itu dibuat pada hari senin, 2 Rabi’ul Awal tahun Je atau 4 Deseember 1690 M, yang dimuat dalam buku harian VOC di Batavia tanggal 31 januari 1691 M. Dalam surat tersebut, Rangga gempol II menuntut agar kekuasaanya dipulihkan kembali seperti kekuasaan buyutnya yang meliputi 44 penguasadaerah parahiyangan.
Ke-44 daerah kekuasaan Prabu Geusan Ulun di akhir kekuasaannya tersebut, adalah:
..Di Kabupaten Bandung
Tibanganten
Batulayang
Kahuripan
Tarogong
Curug Agung
Ukur
Marunjung
Daerah Ngabai Astramanggala
Kabupaten Parakanmuncang
Selacau
Daerah Ngabai Cucuk
Manabaya
Kadungora
Kandangwesi (bungbulang)
Galunggung (Singaparna)
Sindangkasih
Cihaur
Taraju
Kabupaten Sukapura
Karang
Parung
Panembong
Batuwangi
Saung Watang (Mangunreja)
Daerah Ngabai Indawangsa di Taraju
Suci
Cipiniha
Mandala
Nagara (Pameungpeuk)
Cidamar
Parakan Tiga
Muara
Cisalak
Sukakerta

(lanjut......)
(By: Adeng Lukmantara, dari berbagai Sumber di Internet)