Jumat, 31 Januari 2014

MENCARI SEJARAWAN YANG BENAR BENAR BERBICARA SEJARAH

Sangat sulit memang mencari sejarawan idealis yang ingin mengungkap sejarah yang sesungguhnya dari suatu peradaban, baik di wilayahnya atau dalam tataran yang lebih luas. Kita harus angkat topi kepada sejarawan yang mendedikasikan untuk sejarah itu sendiri, tanpa kepentingan polittik sesaat yang ditunggangi oleh penguasa di zamannya. Sulit memang mencari sesuatu yang ideal, tetapi tidaklah sulit mencari orang yang benar-benar mendedikasikan dalam sejarah.  Dan tidak sulit juga mengidentifikasikan sejarawan kacung atau sejarawan bayaran, hanya untuk kepentingan sesaat atau bayaran untuk melegalkan kepentingan seseorang. Sebagai contoh dalam kasus Rancamaya, untuk melegalkan perumahan Rancamaya di Bogor, para tokoh yang ingin menghancurkan sisa-sisa sejarah, berusaha untuk membenarkan bahwa memang situs Rancamaya adalah mitos, dengan juru bicaranya seseorang yang menganggap dirinya sebagai sejarawan. Orang inilah yang disebut sejarawan kacung, yang tidak layak diambil pendapatnya.
Mungkin yang harus dijadikan prinsip oleh sejarawan sekarang adalah “informasi yang sedikit merupakan awal dari pencarian”. Maksudnya jika ada informasi sejarah, maka sebenarnya harus dari sanalah kita meneliti sejarah.  Harus kita sadari bahwa tidak mungkin, dalam hitungan ratusan tahun dengan jumlah populasi yang banyak tidak mempunyai sejarah. Yang jelas dengan komunitas yang banyak dengan lokasi yang menyebar pasti ada sejarahnya. Sesuatu hal yang tidak mungkin kalau tidak punya sejarah.
Sumber sejarah bisa digali dari berbagai cerita masyarakat, atau mitos sekalipun. Tetapi hal ini belum bisa disebut sejarah, karena sejarah harus berdasar pada sumber tulisan, misal prasasti atau karya tulis yang dibuat di zaman pelaku sejarah atau sejarawan negara lain yang menceritakan tentang kerajaan atau wilayah tersebut dizamannya. Tetapi mitos sebenarnya bisa dijadikan sebagai awal dari pencarian bukti tertulis. Setiap cerita atau mitos kadang di awali dari sejarah daaerahnya/ seseorang diwilayahnya. Tetapi karena sumber lisan sangat dominan dalam budaya indonesia, maka cerita sejarah kadangmengalami penambahan atau pegurangan. Penambahan atau pengurangan (distorsi) sejarah terjadi karena daya ingat seseorang yang terbatas, terutama penceritaan dari generasi-ke generasi pasti ada sesuatu yang hilang atau ditambah. Sehingga cerita kehilangan makna sejarah, karena hanya mengandalkan lisan, dan hanya sedikit yang di tulis dalam bentuk tulisan.
Dari anggapan ini, kita sebagai generasi yang kekurangan sejarah, jangan terlalu prontal dalam membangun paradigma sejarah. Tetapi sejarah harus dikembalikan pada pengungkapan sejarah yang sebenarnya yang didasari oleh berbagai informasi sejarah. Informasi sejarah adalah tulisan sejarah. Jika tidak ada tuisan di negara kita, maka kita harus mencari sumber lain dari sejarah negara lain di zamannya.
Negara indonesia memasuki wilayah sejaarah baru pada abad ke-4 masehi, setelah ditemukan prasasti kerajaan di kutai di kalimantan. Dan  sumber sejarah pertama di jawa ditemukan di wilayah tatar sunda (wilayah barat jawa), dengan ditemukannya prasasti peninggalan dari kerajaan Tarumanagara. Sejarah kerajaan Tarumanagara semakin kuat karena ada sejarawan dari negara lain (Cina) yang menceritakan kerajaan ini. Di tanah sunda juga ada naskah waangsakerta yang banyak menceritakan tentang kerajaan Tarumanegara ini. Meskipun naskah ini  kadang diperebatkan karena kehebatannya dalam mengungkap sejarah padahal ditulis di abad ke-17 M, sehingga sebagian sejarawan beranggapan “tidak mungkin” penulis sejarah kita dapat mengungkap sejarah begitu detailnya.Sehngga karya dari wangsakerta ini tidak dajarkan dalam sejarah di negeri ini.
      Jika orang yang berpikir sejarah, mungkin sejarawan negeri ini harus mengacungkan jempolnya pada Pangeran Wangsakerta ini, meskipun karyanya banyak diragukan orang karena demikian detailnya, tetapi bagi sejarawan yang idealis ini merupakan karya besar yang memungkinkan penyelidikan sejarah dinegeri ini lebih gampang. Karena awal penyelidikannya sudah jelas. Apakah cerita dalam tulisan wangsakerta itu memang sejarah atau bukan. Yang berarti para sejarawan  berikutnya harus bekerja lebih intensif untuk memberikan sejarah yang lebih akurat.
Dalam sejarah sunda, sumber yang paling bisa dijadikan pengkajian sejarah, disamping naskah wangsakerta juga ada naskah Carita parahiyangan yang ditulis apa abad ke-16 M, disaat kehancuran kerajaan pajajaran  dengan anaisis yang cukup membantu pengungkapan sejarah sunda. Meskipun berlatar belakang sejarah Galuh, dan tidak menceritakan kerajaan sunda yang detail, tetapi cukup memberi informasi yang penting, termasuk urutan penguasa, lamanya berkuasa, tempat dimakamkan, dan kondisi saat berkuasannya raja tretentu yang dianggap gagal dan berhasil. Naskah carita Parahiyangan ini, tidak hanya para sejarawan negeri ini yang meneliti, tetapi sejumlah sejarawan belanja juga meneliti tentang naskah ini.
Disamping naskah Carita parahiyangan, naskah primer lainnya adalah naskah Bujangga Manik. Bujangga manik adalah bangsawaan sunda yang kemudiaan mengambil jalan  resi/ pendeta sebaagai jaalan hidupnya. Ia kemudian melakuan perjalanan ke timur termasuk bali, dan menceritakan tempat-tempat yang dilewatinya. Sejumlah tempat sekarang banyak yang sudah ada sejak dulu. Setidaknya jika perkiraan Prabu Bujangga Manik melakukan perjaanan diawal abad ke-16 M, dari lokasi-lokasi yang beraada di naskah ujangga manik, berarti sudah ada 400 tahun yang lalu.
Dari cerita Bujangga manik, nama Sumedang  belum dikenal, nama sumedang dizamnaanya masih disebut Medang Kahiyangan, sedang gunung tanpomas dan sungai cimanuk sudah dikenal di masanya. Lokasi atau koata atau tempat yang cukup dikenal tua dalam sejarah sunda adalah galuh (sekarang lokasinya sekitar ciamis). Galunggung, dan Kuningan. Kuningan adalah kota yang didirikan sekitar abad ke 8 atau 9 M, oleh Seuweukarma (Demunawan), yang mempunyai pengaruh yang besar terhadap kerajaan sunda, karena pengaruh kekuasaan agamanya. Jadi jika ada sejarawan yang mengait-ngaitkan asal nama kuningan dengan abad sesudahnya, termasuk dengan sejarah sunan Gunung Jati adalah kebohongan besar, kecuali hubungannya dengan sejarah penaklukan Kuningan oleh Sunan Gunung Jati, siapa yang menaklukan, penguasa kuningan waktu itu dan lain-lain, hal tersebut memang  sejarah. Tetapi jika mengait-ngaikan asal usul nama setelah abad ke 8 M, maka berarti sudah ada rekayasa. Galunggung adalah nama tempat yang banyak disebut-sebut dalam cerita parahiyangan. Galunggung merupakan pusat keagamaan di kemaharajaan sunda. Tempat ini sangat berpengaruh karena didirikan oleh anak pendiri kerajaan Galuh, yang bernama Sempak Waja. Turunan Sempak Waja inilah yang dikemudian hari paling dihormati dalam bidang keagamaan di tanah sunda. Galunggung sekarang ini hanya dikenal sebagai nama gunung, yaitu gunung Galunggung yang pernah meletus di era tahun 1990-an.
 Dalam Sejarah kita banyak dikisahkan sebagai sejarah bumi hangus, jika suatu negara berkuasa maka saingannya atau wilayah terdekat harus dibumihanguskan. Sejarah Singosari dan Kediri menandai sejarah bumi hangus tersebut. Di era Pajajaran terakhir juga demikian, setelah pakuan dikuasai oleh kerajaan banten, istana kerajaan ada kemungkinan dihancurkan, karena untuk menghilangkan agar tidak ada lagi raja yang diangkat di tanah tersebut. Sehingga simbol pengangkatan raja-raja juga diboyong ke Sarasowan Banten. Jadi kerajaan Pajajaran seolah sirna, karena simbol kejayaannya sudah hancur dan hingga kini sisa-sisanya belum ditemukan di mana berada.
Karena belum ditemukan hingga kini, maka kaum yang mengidolakan sedemikian besarnya atau yang tidak menerima realitas, sehinggga membangun mitos-mitos bahwa balatentaranya berubah menjadi hariamau. Dan kaum sejarawan beriktnya juga seolah prustasi karena belum ditemukannya sisa-sisa kerajaan Pajajaran, sehingga banyak dimamfaatkan oleh pengembang perumahan, jadilah sejarawan kacung, yang menerima dalil sejarah karena bayaran, atau pesanan, seperti kasus Rancamaya. Padahal dalam Carita parahiyangan diceritakan bahwa Sri Baduga Maharaja atau Prabu siliwangi dipusarakan di Rancamaya. Harusnya para sejarawan mengkaji dan menyelidiki, dimana letak pusara atau makam Prau Siliwangi tersebut, bukan malah dengan mudahnya membangun dalil karena bayaran.
Citarum merupakan pusat peradaban sunda di mulai. Sungai peradaban, begitulah yang sangat cocok untuk menamai kata lebih untuk sungai ini. Karena Dari nama sungai inilah kerajaan Tarumanagara beasal. Jadi kemungkinan di sekitar aliran sungai Citarum ini pasti terdapat pusat-pusat peradaban sunda. Citarum hingga kini masih sangat berperan bagi peradaban masa kini. Citarum adalah penghasil listrik terbesar, disana setidaknya ada 3 bendungan besar, yaitu Jatiluhur, saguling dan citara yang menghasilkan ratusan megawatt listrik, yang mensuplay jawa barat dan juga jakarta.
     Sifatnya yang mengalir, sungai dianggap sebagai sumber penghidupan, sehingga lama kelamaan menjadi pusat peradaban. Tetapi kadang sungai itu juga mengalami aliran yang deras atau  banjir, sehingga sungai kadang bisa meluluhlantakan pusat-pusat peradaban di alirannya.  Karena sebagai transfortasi terpenting, kemungkinan di sekitar aliran sungai citarum terdapat pusat-pusat peradaban atau pusat-pusat keagamaan. Naskah Wangsakerta meceritakan tentang percandian di wilayah sungai Citarumin ini. Hingga sekitar tahun 1990-an, berita ini dianggap bohong, Tetapi ditahun 1990-an dengan ditemukan situs candi di Batujaya, menandai bahwa naskah ini tidaklah bohong. Percandian di Batujaya dikatakan sebagai penemuan candi terbesar di tahun 1990-an. Candi-candi ditemukan digundukan-gundukan/ bukit-bukit kecil di persawahan di Batujaya Karawang.
Denga demikian Sejarah harusnya membuat orang lebih insfiratif. Sejarah itu bukan hapalan kekuasaan dari tahun ke tahu atau dokrin-dokrin sejarah yang dipaksakan seperti kalau kita belajar sejarah dinegeri ini, sejarah yang penuh rekayasa. Sebenarnya bagi generasi sekarang ini harusnya lebih instens dalam mempelajari sejarah, karena sumber-sumber sejarah demikian gampang untuk di akses. Meskipun perlu penelusuran dari sumber satu dengan sumber yang lain, tetapi setidaknya, kita tidak harus seperti zaman sejarawan “ATJA” yang berusaha untuk menterjemahkan bahasa kuno ke dalam bahasa sekarang ini.
Dan sejarah juga harusnya membuat inspiratif dari berbagai bidang, sebagai contoh, dalam bidang perfilman, para produser dan sutradara generasi muda sekarang harusnya banyak treinsfirasi oleh sejarah ini. Bukan hanya film-film horor atau kekerasan yang menjadi wilayah tontnan indonesia yang tidak mendidik. Sebagai misal “tentang kekuasaan setelah Prabu Siliwangi atau Prabu jayadewata” atau dimasa Prabu Surawisesa. Dalam Carita Parahiyangan diceritakan bahwa Prabu Surawisesa di zamannya melakukan 15 kali pertempuran dengan pasukan Cirebon-Demak, dan tidak mengalami kekalahan, perang di Kalapa (Jakarta) dengan Arya Burah, perang di Tanjung, di Ancol Kiyi, Wahanten girang (Banten), di simpang, di Gunung Batu, di Saung agung,  di Rumbut, d Gunung Banjar, di Padang, di Pagoakan, di Muntur, di Hanum dan di Madangkahiyangan (sumedang). Baru setelah penggantinya satu persatu wilayahnya dapatditaklukan. Kalapa dalam carita parahiyangan di taklukan pada era Raja Nusa Mulya, raja terakhir 5 generasi setelh Prabu Surawisesa.
Kembali lagi ke awal, sejarah harusnya memberikan banyak insfiratif bagi generasi skarang. Di tanah Sunda banyak sekali guru dan dosen sejarah, tetapi kebanyakan dari mereka adalah para dokriner yang siap memberikan dokrin-dokrin sejarah, bukan ahli sejarah atau peneliti sejarah, atau termasuk yang suka menulis dan mendokumentasikan sejarah. Jadi meskipun sudah ada buku, mereka kebanyakan bagai sejarawan di masa lisan (prasejarah) hanya menceritakan kata penulis sejarah yang ditunjuk oleh penguasa, tanpa ikut serta menjadi  pengkritik sejarah dan juga pengembang dan penulis sejarah. Mereka juga mungkin banyak yang tidak pernah membaca Carita parahiyangan, atau Naskah Bujangga Manik, atau Naskah Wangsakerja, yang termasuk sumber sejarah primer di tanah sunda. Padahal, sebenarnya sumber primer tersebut harusnya menjadi insfirasi penyelidikan sejarah sejarah yang lebih lengkap.
Saya teringat oleh nasehat seseorang, yang mungkin juga mengutip dari orang lain  juga, “Jika tidak jadi pembuat sejarah, jadilah penulis sejarah. Meskipun anda bukan ahli sejarah. Dan yang paling baik dari itu semua adalah sebagai pembuat sejarah di masanya”. Sejarah disini bukan sejarah dalam arti sejarah an sich, tetapi menyangkut juga ilmu-ilmu lainnya, termasuk tekhnologi


By Adeng Lukmantara
(lokasi di Cipanas Cileungsing Buahdua Sumedang)

Jumat, 10 Januari 2014

MEMBANGKITKAN LAGI KEMAUAN (NGABANGKITKEUN DEUI KAHAYANG)

   
Orang tua siabah dari dulu selalu menasehatinya, "Jang lamun hirup teh kudu loba kahayang (Nak kalau hidup itu harus banyak kemauan). Masalah berhasil atau tidak berhasil itu merupakan urusan lain, Mungkin karena kurang yakin terhadap kahayang (kemauan) sendiri atau karena kurang sabar atau kurang tekun dalam menggapai kemauan ini sehingga tidak berhasil. Yang penting dari semua itu berarti kita telah mencoba melakukan hal tersebut."
     Kemauan atau kahayang siabah itu sangat banyak, tetapi yang paling diidamkan oleh siabah bukan harta yang banyak ataupun kedudukan yang mumpuni. Tetapi siabah hanya ingin melakukan perubahan pola pikir kaumnya atau kalau lebih luasnya bangsa ini agar lebih baik. Siabah tidak merasa puas dengan keadaan ekonomi yang mungkin cukup untuk diri dan keluarganya, sedang masayarakat banyak dibiarkan menderita, karena memang sengaja disingkirkan atau istilah orang iinteleknya "dimarjinalkan" dengan dihilangkannya akses-akses menuju perbaikan, atau memang mau tidak mau termarjinal (terpinggirkan  dengan sendirinya) karena intelektual, pola pikir dan kemampuan ekonomi yang terbatas atau melarat.
     Tujuan negara dibangun sesungguhnya untuk membangun masyarakat adil dan makmur atau masyarakat yang sejahtera. Tetapi hal itu merupakan tulisan diatas kertas yang dibaca tiap minggu ketika upacara atau upacara besar, yang mungkin setiap orang sudah bosan untuk mendengarkannya. Realitasnya kekuasaan demi kekuasaan hanya mengikuti tradisi-tradisi kekuasaan pendahulunya tanpa perubahan pola pikir, bahwa sesungguhnya kita membangun negara itu untuk kemakmuran masyarakat.
     Jika melihat sejarah, karena negara ini dibangun di bekas jajahan yang sama (hindia Belanda), maka bersatunya masyarakat Indonesia ini sebenarnya lebih disebabkan oleh penderitaan yang sama, bukan oleh suatu cita-cita besar membangun bangsa besar atau membangun masyarakat yang makmur. Hanya sgelintir orang idealis yang mencita-citakan bangsa ini menjadi bangsa yang besar, masyarakatnya yang adil dan makmur, yang ia tuangkan dalam mukadimah dan Undang-undang. Itupun dalam sejarahnya yang membuat undang-undang tersebut banyak yang dipenjara oleh penguasa selanjutnya yang lebih pragmatis. Orang-orang idealis pencetus undang-undang dasar yang mulia banyak yang dipenjara dan disingkirkan, karena perbedaan politis. Itulah perjalanan sejarah, pada realitasnya yang benarpun kadang tidak banyak mendapat tempat.
      Siabah dalam hal ini tidak akan berbicara tentang sejarah, tetapi siabah hanya ingin mengajak kepada rekan-rekan terpelajar atau para penguasa negeri ini agar memulai membangun pola pikir baru dari sama menderita ke arah membangun bangsa yang lebih bermartabat ke depan. Meskipun kita membangga-banggakan negeri sendiri sebagai negeri bermartabat, negeri yang kaya. Kita harus banyak membandingkan dengan negara lain. Sebagai misalnya, mengapa gaji profesional kita di negeri yang kata orang sebagai negeri kaya justru lebih besar dari gaji pembantu negeri tetangga seberang.. Dari pendapatan saja kita masih kalah oleh para pembantu, jadi dimana cita-cita anak bangsa ini, diamana 'kaharayang:' yang sebenarnya dari anak bangsa ini. Dari hal tersebut diatas saja sudah membuktikan bahwa sesungguhnya bangsa ini disi oleh penguasa-penguasa yang tidak punya kahayang (kemauan) untuk membangun bangsanya semartabat dengan bangsa yang sudah makmur, minimal sama dengan negeri JIran, setidaknya dari segi penghasilan.

By Adeng Lukmantara
(foto. bersama ibu, lokasi di Cipanas Cileungsing Buahdua Sumedang)

JANGAN AJARKAN CERITA KERAJAAN SINGOSARI DI PELAJARAN SEKOLAH NASIONAL

    “Jangan ajarkan cerita kerajaan singosari dalam pelajaran nasional, biarkan cerita itu diajarjan di daerahnya saja,” Demikian siabah berkomentar tentang pelajaran sejarah yang banyak membahas tentang kerajaan tersebut. Siabah menambahkan:” mending tiap daerah mencoba menggali sejarahnya sendiri yang sangat kaya, yang banyak dilupakan oleh kaum intelektual daerahnya, sehingga jiwa mengekor menjadi bagian dari karakter hidupnya, karena tidak bangga terhadap sejarahnya sendiri.
     Dalam sejarah singosari sangat erat kaitannya dengan intrik kudeta, merebut istri orang, dan saling bunuh membunuh antara keturunan yang berbeda. Dalam cerita,  Ken Arok mengkudeta Tunggul Ametung, dan merebut istrinya,  Ken Dedes. Setelah Ken Arok meninggal, kekuasaannya jatuh ke putranya, tetapi kemudian dibunuh oleh putra dari turunan Tunggul Ametung. Dibunuh lagi oleh turunan Ken Arok dan dibunuh lagi oleh turunan Tunggul Ametung.
     Jika cerita Singosari itu diceritakan di daerahnya (jawa timur) maka hal itu tidak menjadi masalah karena itu merupakan bagian dari sejarahnya. Tapi apa hubungannya cerita tersebut jika diceritakan dalam buku sejarah secara nasional. Tidak ada korelasi yang jelas, dengan tujuan bangsa yang hendak dicapai. Karena jika diajarkan terus maka politik bumi hangus, politik balas dendam akan menjadi bagian sejarah indonesia ke depan, karena ada pembenaran sejarah.
     Para sejarawan daerah harusnya mulai kritis. Misalnya sejarawan aceh, mulailah membuat sejarah yang komprehensif tentang aceh, yang kaya akan hasil intelekttualnya dan juga pengaruhnya yang luas. Dalam sejarah aceh sangat berpengaruh terhadap masuknya islam di negeri nusantara termasuk indonesia sekarang ini, Bahkan jawa berada di bawah pengaruhnya. Para wali kebanyakan ada kaitannya dengan aceh ini. Contoh lain adalah kerajaan banjar, yang dulu menguasai kalimantan selatan, ka;imantan tengah dan sebagaian kalimantan timur dan barat.  Mereka mempunyai raja-raja yang heroik. Demikian juga kerajaan kutai, kerajaan pertama di indonesia. Juga kerajaan Sunda/ Pajajaran yang sumber sejarahnya juga sangat kuat.
       Cerita Singosari diceritakan karena ada kaitannya degan Majapahit yang dianggap sebagai awal dari cerita indonesia, untuk memberi kesan bahwa indonesia sekarang ini telah disatukan oleh majapahit. Hal ini juga sangat keliru. Indonesia adalah wilayah ex. Jajahan belanda yang dulu disebut dengan hindia belanda. Jadi tidak ada keterkaitan antara Majapahit dan Indonesia. Sejarah Majapahit sengaja direkayasa untuk membuat suatu pembenaran bahwa indonesia sudah dibangaun sejak dulu. Padahal negara indonesia sekarang ini adalah seluruhnya bekas jajahan belanda (hindia belanda)
      Pembenaran bukan berarti kebenaran. Pembenaran dilakukan biasanya dalam hubungannya dengan kekuasaan dan pengaruh. Bagaimana suatu bangsa itu supaya kokoh maka biasanya dibuat mitos-mitos yang jauh dari sejarah yang sebenarnya. Sejarah majapahit dan singosari memang ada, tetapi tidak sesignifikan kekuasaan Hindia Belanda,
     Kembali lagi ke dalam cerita singosari, jika diajarkan secara nasional, maka secara psikologi kita mengajarkan pada politik pembenaran dan politik bumi hangus atau politik balas dendam yang sangat kental dalam sejarah ke-indonesiaan,
     Harusnya ke depan kaum sejarawan lebih arif dalam membuat pelajaran sejarah. Jangan membuat kita dibuai oleh ajaran yang justru sebenarnya sangat kontradiktif dengan cita-cita bangsa Indnesia modern. Harusnya kita berpatokan pada “ikut mencerdaskan bangsa”, dengan suatu kajian sejarah yang sebenarnya dan sangat kaya, jangan terjerumus pada budaya mencari pembenaran.
    Banyak cerita sejarah yang mungkin bisa ditampilkan. Dan bukan hanya itu, yang tidak kalah pentingnya adalah menceritakan juga tentang hasil karya yang diaabangun oleh pelaku sejarah tersebut. Jika hubungannya dengan intelektual, hingga kini di indonesia tidak pernah mengalahkan karya-karya dari kerajaan aceh. Dan secara arsitektural mungkin perlu dikaji lagi daerah mana yang dominan. Tetapi dari peneuan-penemuan candi, kerjaan-kerajaan di jawa tengahlah yang sangat dominan dlam segi arsitektural. Dibidang kemiliteran banyak yang harus diungkapkan: kerajaan majapahit, kerajaan mataram, kerajaan sunda, kerajaan sriwijaya, kerajaan banten dan lainnya.

    Jadi kesimpulannya, kita harus arif dalam memandang sejarah, daripada menceritakan perebutan wanita, saling bunuh membunuh antara keturunan, maka seyogyannya kaum sejarawan mulai berpikir yang lebh cerdas dalam membuat cerita dalam pelajaran sejarah Indonesia yang beragam. Harus lebih mengarah kepada hasil karya, baik hasil karya tulisan, maupun karya-karya arsitektural, dan tetap mengkaji yang sebenarnya pengaruh kekuasaannya.

Selasa, 03 Desember 2013

JALUR SELATAN JAWA BARAT MUTIARA YANG DISIA-SIAKAN

    Bali sangat gencar membangun fasiliatas wisata diberbagai pelosok wilayahnya, sehingga sekarang banyak alternatif obyek wisata di Bali yang banyak dikunjungi. Jadi jika ke Bali sekarang wisatawan tidak hanya ke pantai kuta, pantai sanur, besakih, bedugul atau kintamani yang biasa dikunjungi oleh wisatawan paketan. padahal sebenarnya banyak sekali obyek wisata lainnya di Bali yang sangat bagus untuk dikunjungi.
    Jika melihat tentang  Bali di televisi, sangat sempurna untuk tujuan wisata. Dan masyarakat Bali seolah telah menangkap peluang dengan bagus, dengan memaksimalkan segala potensi, baik alam maupun kekayaan budaya.
     Di Jawa, mungkin Jogjakarta yang men-serius-kan diri dalam obyek wisata ini. Wilayah Yogyakarta sangat kaya akan warisan kebudayaan tempo dulu berupa bangunan candi yang spektakuler seperti candi borobudur atau candi roro jongrang, dan candi lainnya. Disni juga ada keraton yang masih lestari. Tetapi kelemahan dari Jogjakarta adalah tidak punya pantai putih yang indah seperti Bali. 
      Di daerah pulau jawa yang mempunyai keindahan pantai seperti bali adalah di pantai selatan Jawa Barat. Seperti Pangandaran, dan lainnya hingga ke Pelabuhan Ratu di Sukabumi. Jadi jika melihat peluang sebenarnya jalur pantai selatan Jawa Barat adalah gugusan mutiara yang disia-siakan. 
     Waktu pilkada jawa barat, calon gubernur yang mengkampanyekan tentang pembangunan wilayah selatan adalah bapak Dikdik dari independen. Pa Dikdik adalah putra jawa barat yang banyak melanglangbuana ke luar jawa barat karena tugas mengharuskan pindah-pindah ke daerah lain. Mungkin dia banyak melihat, banyak menyaksikan, banyak membandingkan bahwa sesungguhnya wilayah selatan jawa barat mempunyai potensi yang sangat besar Dengan membuka akses ke selatan berarti membuka potensi. Tetapi Dikdik mungkin orang yang belum berhasil, dan ide-idenya harus kandas, seiring dengan tergerusnya dia dari calon gubernur, karena suaranya yang minim di tempat buncit. 
      Dalam pilkada gubernur  tersebut dimenangkan oleh Ahmad Heryawan dan Dedy Mizwar. Jika Ahmad Heryawan atau Aher mengetahui peluang, harusnya semacam bapak Dikdik itu dirangkul misal menjadi asisten khusus untuk pembangunan wilayah selatan. Tidak akan rugi jika Aher menggandeng dia untuk pembangunan wilayah selatan Jawa Barat, yang hingga kini seolah disia-siakan. 
      Kembali lagi ke potensi wialayah selatan yang menurut siabah bagai mutiara yang disia-siakan. Harusnya mulai digarap dengan serius. Yang pertama yang harus dibangun adalah akses melingkar dari pelabuhan ratu ke pameumpeuk garut, tasikmalaya kemudian ke pangandaran di ciamis / banjar. Kemudian membangun akses-akses dari utara langsung ke selatan, misal dari bandung ke Jampang dan lain-lain. Kemudian membangun bandara international di wilayah selatan, misal di tasikmalaya. Kalau perlu Bandara Atang Sonjaya diperbesar dan dipermodern, sehingga nantinya bisa menjadi akses ke daerah-ddaerah wisata diselatan jawa barat, pangandaran, garut dan lain-lain. ............. (lanjut)

Minggu, 01 Desember 2013

NASEHAT SIABAH KEPADA AHER DAN DEDI MIZWAR

 
Menurut siabah kesalahan manusia yang sulit untuk dihilangkan adalah bahwa mereka merasa telah melakukan banyak hal sesuai dengan prestasinya. Padahal hal demikian telah banyak dilakukan oleh orang-orang sebelumnya, atau justru pencapaiannya mungkin lebh dari yang sekarang ini. Mudah-mudahan kebiasaan seperti ini tidak terjadi pada pasangan gubernur jawa barat sekarang ini, Aher dan Dedi Mizwar. Tetapi sebagai manusia yang selalu diliputi oleh kesalahan, tugasnya 'amar ma'ruf nahi munkar harus selalu didengungkan walaupun terasa pahit. Konon semakin banyak orang yang mengingatkan kepada kita maka sesungguhnya orang itu begitu perhatiaanya terhadapnya sama besarnya dengan pengharapannya agar menjalankan tugas berada dalam rel yang benar.
    Kata Mang Dadang mah Siabah ini kapasitasnya sebagai apa? kok menulis  memakai kata "Nasehat Siabah kepada Aher dan Dedi Mizwar",. Menurut Mang Dadang mereka itu seorang gubernur dan wakil gubernur, sedangkan Siabah itu siapa?. Suatu kritikan yang menurut siabah benar juga. Yang jelas menurut Mang dadang tidak ada hak siabah memberi nasehat kepada gubernur dan wakil gubernur, karena siabah ini rakyat biasa.
    Siabah tidak mau berpolemik tentang kapasitas siabah yang orang biasa menasehati sang gubernur, menurut siabah itu merupakan tanggung jawab manusia dengan manusia yang lainnya, yang harus saling mengingatkan dalam kebenaran, dalam kebaikan (fastabiqul khairat),
     Analisis Siabah terhadap Aher, menurut Siabah ketika Aher pertama kali menang menjadi gubernur dan wakilnya Dede Yusuf, mungkin mereka termasuk orang yang tidak percaya bahwa mereka akan menjadi gubernur, karena lawannya yang begitu hebat-hebat. Ditahun pertamanya merupakan tahun euforia karena ketidakpercayaan dan  penyesuaian dengan sistem birokrasi yang baru. Di tahun kedua mereka baru bisa menerima realitas bahwa mereka benar-benar jadi gubernur. Tahun kedua merupakan tahun penyesuaian dan pembelajaran yang sebenarnya. Tahun ketiga mereka baru bisa menjadi gubernur yang sebenarnya, dan ditahun ini mereka mulai mengetahui orang-orang yang sejalan dengannya. Ditahun ke-4 sebenarnya proses pematangan kekuasaanya, dan mungkin ditahun-tahun ini ide-ide barunya baru muncul. Di tahun ke-4 ini ketika ide-idenya mulai matang, ditahun ke-5 justru harus melakukan terobosan-teobosan untuk memenangkan pilkada berikutmya.
   Diakhir tahun kepemimpinannya, biasanya mereka menyanyangkan terhadap diri sendiri bahwa sebenarnya mereka seharusnya banyak melakukan hal-hal yang signifikan. Tetapi karena harus berhadapan dengan akhir kepemimpinnya, maka mereka harus melakukan terobosan terobosan untuk melakukan pemenangan pilkada berikutnya.
    Ketika pilkada berikutnya dimenangkan, harusnya bapak Aher melakukan lompatan besar, dan terobosan baru dengan pencapaian-pencapan yang signifikan. Karena di tahun ke-6 ini proses pematangan dalam berpikir dan dalam melakukan kebijakan sesungguhnya di mulai. Hasil karya sekarang dan ke depan jangan diukur 5 tahun ke belakang, karena  5 tahun ke belakang adalah proses pembelajaran dalam birokrasi yang itu-itu saja(stagnan). Harusnya Aher pada tahun ini melakukan lompatan-lompatan yang besar, melakukan revolusi dalam kebijakan di jawa barat yang mempunyai potensi ekonomi sangat besar. Tetapi sepertinya mengikuti kebijakan pendahulunya, yaitu kebijakan yang mengekor dibelakang kebijakan Jakarta tetap dipertahankan.
      Keberhasilan 5 tahun ke belakang mungkin terlalu banyak melihat pencapaian di dalam wilayahnya, tanpa melihat dari kejauhan. Menurut siabah kadang-kadang kita harus melihat daerah kekuasaan kita dari jauh, atau membandingkan dengan pencapaian-pencapaian di daerah lainnya. Karena akan begitu nampak kekurangan-kekuragannya.  Tetapi karena terbiasa memandang dari dalam, sesuatu yang biasapun seolah begitu wah, padahal didaerah lain hal itu belum apa-apanya.
       Seperti ketika siabah pulang kampung ke kampung halaman di jawa barat. sangat kontras ketika melalui jalan di wilyah jawa barat, padahal itu merupakan jalan provinsi, Kata istri siabah yang orang jawa timur, tidak ada pilihan ketika melewati jalan-jalan yang dialaluinya, maksudnya saking jeleknya, sehingga tidak ada pilihan lagi, mau tidak mau harus melewati jalan itu. Hal itu belum masuk  ke jalan desa-desa. Jika menanggapi komentar-komentar istri siabah tentang jalan yang dilaluinya,  ia memuji kesabaran orang sunda, dan menurutnya jika hal ini terjadi di Jawa Timur  maka orang-orang akan protes atau demo. Jadi mengapa  dikampungnya jalan lebih mendingan dari jalan di kampung suaminya.
     Kesabaran yang dipendam oleh para sopir melalui jalan jelek tersebut, bukan karena ia tidak mau protes. karena menurutnya harus protes ke siapa, karena para penguasa tetap diam dan tetap tidak mau tahu. Mereka mengumpat tiap hari terhadap pemimpin-pemmpin mereka yang tidak pernah memperdulikan kaum lemah. Umpatan-umpatan yang didengar setiap hari oleh pengguna jalan,  mungkin akan menjadi hambatan sang pemimpin dalam menuju surga. Padahal dulu akses jalan ke kampung tersebut  tidak pernah sejelek itu,. Sesungguhnya siapa yang salah, kebijakan yang salah atau pemimpin yang tidak pernah memperhatikan rakyatnya atau pemimpin yang telah puas terhadap kebijakan-kebijakan yang telah dianggapnya sebagai kebijakan yang berhasil. Sebenarnya siabah bukan hanya kasihan terhadap masyarakatnya, tetapi juga kepada para pemimpinnya yang telah membuat hambatan menuju surga. Hal ini mungkin berbeda dari para pejabat, yang tiap hari menggunakan mobil Volvo atau Mrcedes Benz, dan di rumahnya  dipenuhi oleh fasilitas negara  yang taiada terbatas.
   Siabah selalu mengingatkan bahwa sesungguhnya keberhasilan penguasa suatu daerah adalah banyak membuat akses warganya agar lebih mudah, Adalah kebohongan yang besar jika kita berbicara tentang kemakmuran, kesejahteraan dan kemajuan sedang jalan-jalan di wilayahnya, aksesnya begitu memprihatinkan, begitu jeleknya atau bahkan tidak ada akses sama sekali, Atau akses yang awalnya bagus, ketika kita berkuasa ternyata banyak yang rusak, jadi tolak ukur keberhasilannya dimana?
   Konon orang yang banyak membuka akses masyarakat lebih baik, atau lebih banyak maka akan memudahkan kita dalam menuju surga. Surgaa jika dikonfersikan dalam arti di dunia, berarti kesejahteraan masyarakat, karena nikmat yang begitu besar di surga. jadi ketika seseorang banyak membangun akses jalan yang bagus, yang manusiawi sesungguhnya mereka telah membangun  jalan menuju surga kesejahteraan.
   Jadi menurut siabah jika seseorang berkuasa jangan muluk-muluk kita berbicara tentang kemakmuran masyarakat, kesejahteraan masyarakat, sedangkan jalan dimana-mana jelek. Padahal akses jalan sesungguhnya merupakan dasar menuju kemakmuran. karena dengan akses/ jalan bagus maka perekonomian akan jalan sendiri.
    Dan yang perlu dibangun di daerah jawa barat adalah fasilitas transfortasi yang layak, dan secara ekonomi dapat membangkitkan kinerja ekspor. Karena siabah melihat bahwa disamping transfortasi darat banyak yang rusak. Transfortasi udara dan lautpun jauh dari kata yang layak. Padahal potensi ekonomi yang sangat besar, penduduk terbanyak, tempat para tenaga ahli atau juga pekerja yang melanglang ke mana-mana (banyak yang ke luar pulau). Suatu potensi transfortasi udara yang sangat menjanjikan, disamping itu daerah jawa barat merupakan surganya wisata kuliner, wisata alam dan mode.
      Siabah karena sering berada di luar daerahnya, sehingga mereka dengan jelas memandang daerahnya sendiri sebagai surgawi yang penuh potensi. tetapi karena kurang keberanian dalam melakukan kebijakan (atau mungkin kurang punya ide). Konon kekurangan orang jawa barat itu kurang suka pamer, sehingga  mereka kadang kurang bisa keras menepuk dadanya sendiri. Ide-ide yang brilyan kadang dipendam di dalam hati, sehingga ide-ide besar pun seolah tidak banyak bermamfaat.
      Menurut siabah kita harus 'loba kahayang', harus banyak kemauan, sehingga ide-ide itu  akan muncu dengan sendirinya. Dan jangan lekas puas terhadap prestasi yang kita kerjakan. Karena sifat lekas puas sebenarnya justru menutup diri dari keberhasilan-keberhasilan yang sesungguhnya. Karena jika kita lekas puas terhadap pencapaian-pencapaian yang kita kerjakan, berarti kita baru puas terhadap asumsi-asumsi yang dibuat kita sendiri, bukan oleh pendapat banyak pihak.
      Jika melihat potensi yang dimiliki oleh wilayah jawa barat sesungguhnya, harusnya kita banyak melakukan lompatan-lompatan besar, atau membuat alternatif-alternatif  ataupun membuat terobosan-terobosan yang besar. Jawa barat itu adalah potensi yang tiada terbatas, disini terdapat ppusat-pusat intelektual yang bergengsi, alamnya bagaikan surga yang memberikan banyak keindahan yang sangat layak untuk dikunjungi, pusat mode di indonesia, dan surganya kuliner dinegeri ini. Disamping itu pusat-pusat industri juga terdapat di daerah ini.
       Melihat potensi tersebut harusnya  hal ini memberikan ide-ide untuk membuat akses-akses transfortasi untuk mempermudah orang untuk mengunjunginya. Tetapi rupanya hal inilah yang justru tidak digarap sama sekali oleh para penguasa  jawa barat. Suatu potensi yang disia-siakan.  Menurut siabah di jawa barat itu tidak akan rugi jika dibangun bandara atau lapangan pesawat terbang 3 buah juga yang bertaraf international, karena potensi ekonomi yang sangat menjanjikan, potensi penduduk yang sangat melimpah, dan potensi wisata yang sangat mejanjikan. Harusya di Jawa barat itu minimal ada 23 bandara yang dibangun berbarengan,  bisa di Karawang, atau di majalengka, di bandung dan daerah selatan, di Tasikmalaya. Jika bapak gubernur sering jalan-jalan ke luar pulau, sangat banyak para pekerja yang bekerja di berbagai pulau, sbegai tenaga ahli atau sebagai tenaga kerja/ kontraktor, dimana mereka  kadang tiap bulan atau tiap tiga bulan mereka harus pulang pergi dari kampung halamannya ke pulau tersebut.
     Disamping itu, potensi ekspor dari jawa barat harus melalui pelabuhan tanjung priuk di jakarta, sehingga kjawa barat harus puas dengan kebagian 40 persen dari jasa ekspor inpor, sedang 60 persennya harus berbagi dengan pemilik pelabuhan. Suatu kerugian yang sangat besar. Keuntungan yang harusnya bisa untuk membangun daerahnya justru harus rela dbagi dengan perbandingan yang lebih kecil. Suatu kesalahan yang sangat patal. harusnya di jawa barat dibangun pelabuhan bertaraf international seperti di karawang atau di subang.
     Jika PT. angkasa Pura tidak berminat membangun bandara di Jawa barat, maka bisa bekerja sama dengan pengelola dunia. Dan jika Pelindo tidak berminat untuk membangun pelabuhan di jawa barat, hal ini juga harusnya membuka peluang kita untuk bekerjasama dengan pelabuhan dunia, atau bisa dikelola sendiri dengan membangun perusahaan  daerah. Hal itu sagngat tergantung pada kemauan dari gubernurnya. kalau tidak ada kemauan atau teu boga kahayang, harusnya jangan jadi gubernur saja, karena hal ini berarti dia telah menghambat masyarakatnya untuk maju.
     Menurut siabah harusnya gubernur jawa barat itu membuat terobosan-terobosan yang spektakuler, jangan membiarkan hanya menjadi pengikut yang merasa puas dengan pencapaian-pencapaian, padahal tidak melakukan apa-apa.
    Jika melihat bandara ibukota propinsi di bandung misalnya, sangat jauh dari kota-kota  di balikpapan misalnya. Apalagi dibandingkan dengan surabaya, medan, makasar, sungguh sangat memprihatinkan. Menurut siabah kita ini mempunyai penduduk terbesar, potensi wisata yang besar, potensi tenaga ahli yang besar, tapi karena dadanya kurang dibusungkan. Potensi yang besar dibiarkan hilang begitu saja.
    Empat tahun lalu ketika kerja siabah di bontang kalimantan timur, bandara sepingan Balikpapan belum apa-apa. tetapi 2 tahun yang lalu sudah ada perubahan, dan sekarang mungkin balikpapan akan mempunyai bandara yang signifikan, Di Bandung dari dulu cuma itu itu saja. jadi sesungguhnya sangat sulit dimana sesungguhnya keberhasilan ketika  berkuasa,
     Mungkin dulu siabah sering menyampaikan hal demikian ke facebook bapak dede yusuf yang waktu itu menjadi waikil  gubernur, dan  sudah 5 tahun, ternyata ketika siabah ke bandung melalui bandara Husein, sungguh sangat memprihatinkan.  Bandara kota besar mungkin fasilitasnya jauh dari layak untuk ukuran kota besar. Hal ini menunjukan bahwa sesungguhnya para penguasanya kurang mempunyai greget untuk membangun, kurang greget dalam menangkap peluang dan  kurang bisa membusungkan dadanya. ,,,,,,,,,,,,,,
      Jadi suatu kesempatan yang baik bagi bapak Aher untuk melakukan lompatan-lompatan besar, karena di tahun ke-6 ini merupakan tahun kematangan seorang gubernur, karena setelah 5 tahun ke-depan mereka harus lengser dengan sendirinya. Sungguh suatu kegagalan jika kita tidak melakukan apa-apa, tanpa melakukan terobosan-terobosan yang signifikan. Mungkin kita akan cuma dikenang dalam daftar yang hanya lewat dalam daftar gubernur yang tidak mempunyai prestasi yang lebih. Jadi apa yang membedakan diri kita semasa berkuasa dengan gubernur sebelumnya. Jika dibandingkan dan ditelusuri dengan seksama, mungkin prestasi kita belum sberapa. Jadi alangkah indahnya jika bapak Aher sekarang ini memulai melakukan terobosan-terobasan atau lompatan-lompatan besar untuk membangun daerahnya dengan prestasi yang mungkin akan dikenang oleh generasi berikutnya.    ......(lanjut)

By. Adeng Lukmantara
(Foto. Abah Olin bersama cucu-nya, Lokasi di Hariang Buahdua Sumedang)

Kamis, 28 November 2013

MENYEDERHANAKAN LOGIKA BERPIKIR JIKA MENJADI PENGUASA DAERAH/ NEGARA

Banyak orang berpikir muluk-muluk jika menjadi penguasa, ingin mensejahterakan masyarakat, ingin membuat daerahnya maju, atau idiom-idiom lainnya yang seolah akan terlaksana begitu mudahnya. Padahal pada realitasnya mereka hanya seperti penguasa-penguasa lainnya yang punya keberuntungan bisa dengan mudah berkuasa, dan tidak melakukan apa-apa, kecuali kebiasaan-kebiasaan yang sebenarnya bisa dilakukan oleh setiap orang jika berkuasa.

Jika seseorang berkuasa pada intinya hanya melakukan tradisi-tradisi yang seolah bahwa dia telah begitu berjasa dalam membangun daerahnya, padahal sesungguhnya masyarakat dibiarkan stagnan, dan keeradaan sang penguasa hanya menggantikan tradisi-tradisi sebelumnya yang sangat membosankan. Mengapa hal ini terjadi? Karena para penguasa terlalu berpikir yang muluk-muluk padahal tidak melakukan apa-apa kecuali upacara-upacara  yang stagnan.

Ada trik dari siabah jika anda berkuasa menjadi penguasa suatu daerah. Menurut siabah banyak orang terlalu muluk-muluk ketika berkuasa padahal realitasnya mereka tidak melakukan apa-apa, atau kebanyakan mereka tidak melakukan apa-apa karena memang mereka tidak tahu apa yang harus dilakukan. Menurut siabah kebanyakan para penguasa sesungguhnya tidak melakukan apa-apa karena dia terlalu rumit dalam berpikir, sehingga harus disederhanakan agar prestasi selama berkuasa nampak jelas, yaitu:

1. Menurut siabah yang petama kali ada kata-kata yang harus mulai ditinggalkan atau dihindari jika kita berkuasa, yaitu:
  • Penguasa harus menghindari berkata “harus”. Kata harus ini,  harus itu, harus demikian dan sebaginya. Kata harus adalah milik orang-orang males, sehingga tidak banyak pilihan. Menurut siabah ketika sesorang berkuasa mulailah pergunakan kata “bagaimana” atau dalam istilah sundanya “kumaha”. Kita harus berbicara bagaimana bukan harus. Jadi jika kita berpikir supaya masyarakat itu sejahtera itu bagaimana, bukan harus sejahtera. Jadi bagaimana masyarakat itu sejahtera. Setelah ada pertanyaan bagaimana atau kumaha? Maka menurut siabah menginjak ke point yang kedua yaitu pemetaan masalah.
  • Penguasa harus menghindari kata-kata " Tergantung peran serta  masyarakat atau tergantung kerja sama masyarakat". Atau kata-kata untuk menghindari tanggung jawab lainnya. Sang penguasa harus pandai mencari akar permasalahannya, kemudian mengungkapkan solusi-solusinya, dan mengungkapkan sisi kebaikan dan keburukan masa depan jika kebijakan diambil.

2. Pemetaan. Seorang penguasa harus pandai memetakan masalah. Contoh jika kita ingin mensejahterakan masyarakat, jangan terlalu muluk-muluk masyarakat harus berpendidikan tinggi atau yang lainnya. Tetapi harus pada pokok permasalahan sebenarnya yaitu akses-akses menuju kesejahteraan. Jika kita hanya berpikir bahwa dengan sekolah masyarakat akan berubah sehingga akan tercapai kesejahteraan dikemudian hari. Mungkin hal itu benar atau betul, tetapi sekolah perlu puluhan tahun, untuk itu. Jadi sebenarnya yang paling utama menuju kesejateraan masyarakat adalah membuat akses menuju kesejahteraan. Akses itu adalah akses jalan atau akes transformasi dari daerah ke daerah lainnya. Karena jika akses apapun dibuka maka banyak peluang didepannya. Jadi intinya penguasa yang berhasil adalah yang banyak membuat jalan  yang manusiawi, yang tidak banyak bolong-bolong seperti sekarang ini. Jika jalan bagus, akses ke berbagai kampung biasa dengan mudah diakses maka perekonomian akan berjalan dengan sendirinya, Jadi kita tidak usah banyak ngomong kesejahteraan rakyat padahal jalanya rusak-rusak, itu adalah pembohongan yang nyata,

3. Maping. Setelah kita memetakan masalah sebenarnya, kita harus belajar maping, atau mewanai daerah-daerah yang bermasalah baik secara ekonomi, akses jalan atau mutu pendidikan atau daerah-daerah yang sudah dibangun. Maping sagat bermamfaat supaya tidak terjadi kebijakan yang bertumpuk pada suatu daerah, sedang daerah lain dibiarkan terlunta-lunta.

4. Peta. Jika menonton film tentang Muhammad Al fatih, sang penguasa Turki Utsmani yang menaklukan ibukota Romawi, Konstantinopel, yang terkenal selama ratusan tahun tidak pernah tertaklukan. Al atih adalah orang yang menguasai medan perang yang akan dilakukannya, sehingga ia dapat menaklukan benteng konstantinopel yang terkenal sangat kokoh, karena ia sangat menguasai medan perang. Di lantai ruang kerjanya sang sultan terdapat peta daerah kekuasaanya dan daerah-daerah yang akan ditaklukannya. Ia sangat menguasai peta, sehingga ia tahu lokasi mana saja yang perlu diabangun benteng, dan dimana ia harus menyerang, kemana kalau terdesak dan sebagainya. Dengan menguasai peta berarti menguasai peta permasalahan tiap daerah. Jadi menurut siabah kalau kita jadi pengasa harus mengikuti apa yang dilakukan oleh penguasa-penguasa besar. Kalau perlu diruang kerja harus ada peta besar daerah kekyuasaan kita, dan jika perlu kita harus mewarnai apa-apa yang kurang dan apa-apa yang sudah dikerjakan. Sehingga sangat jelas permasalahan yang sebenarnya. Jika suatu daerah terisolir maka harus dibuat jalan, Jika daerah itu sering banjir maka harus dicari permaslahannya, Jika daerah itu sumber kemacetan maka harus ada penangannan yang lebih atau akses alternatif.


5. Sering Keiling daerah kekuasaannya tanpa  ada protokoler. Untuk semua hal tersebut diatas kita harus sering berkeliling ke daerah kekuasaan kita tanpa pengawalan yang ketat atau protokoler. Karena jika ada protokoler sebenanya telah ada kebohongan dalam setiap kunjungan.

Itulah 5 tips dari siabah, jika kita berkuasa atau memimpin suatu daerah. Siabah tidak terlalu muluk-muluk mengharap kepada para penguasa di negeri ini, karena kebanyakan dari mereka lebih banyak faktor keberuntungan daripada prestasi. Tapi tiak masalah, hanya kata siabah itu hanya berpesan, jika kita berkuasa karena faktor apapun (keturunan, keberuntungan dan lainnya), maka kuasailah daerah kekuasaan kita dalam arti yang sebenarnya, kuasai permasalahannya, sehingga kita akan dengan mudah dalam menyelesaikannya. Dan menurut siabah yang terpenting dalam kita berkuasa adalah membuka semua akses daerah kekuasaan kita, yaitu membangun jalan-jalan yang bagus, yang menghubungkan antar daerah kekuasaan kita, Jika akses sudah bagus, maka masyarakat akan dengan sendirinya bergerak. Ekonomi akan dengan sendirinya meningkat, karena sumber daya alam yang mereka tanam akan dengan mudah di jual ke daerah lain.








Sabtu, 20 April 2013

MENGENALKAN KEMBALI PEMIKIRAN SUNDA KLASIK, SUATU PERBINCANGAN DENGAN SIABAH

   
Menarik sekali berbincang-bincang dengan Siabah tentang sejarah pemikiran sunda yang kata Siabah memang sudah dilupakan oleh para intelektuanya atau memang sengaja dilupakan. Berbicara tentang kesjarahan dalam hubungannya dengan naskah-naskah sunda klasik, menurut siabah meskipun sudah mulai bermunculan yang mulai meng"eksis"kan pada kajian kesundaan, seperti kelompok "Salakanagara", tapi menurut siabah masih terlalu sedikit daripada penduduk tataran sunda yang lebih dari 45 juta jiwa.
   Menurut siabah:" Sekarang  ini banyak orang sunda yang tidak mengenal naskah naskah peninggalan kaum intelektual nenek moyangnya.  Yang lebih mengkhawatirkan lagi justru hal ini juga melanda kalangan intelektual masyarakat sunda itu sendiri. Mereka lebih peduli dengan sejarah sejarah  yang berasal dari daerah lain daripada daerahnya sendiri. Nasionalisme yang dikembangkan oleh bangsa ini telah menggerus sendi sendi budaya bangsanya sendiri. Mereka mendidik anak bangsa yang tidak pernah mengenal hasil budayanya sendiri. Mereka telah mendidik manusia-manusia mengambang yang tidak mempunyai pijakan yang sangat kokoh."
    Siabah membandingkan dengan bangsa jepang yang termasuk bangsa yang maju/ Siabah berkata:"Berbeda dengan Jepang, meskipun mereka telah menjadi negara maju, tetapi  komunikasi eengan sejarah masa lampaunya tidak pernah dilupakan, Makanya cerita-cerita masa lampaunya telah banyak menginspirasi kemajuan jepang itu sendiri juga termasuk yang berkaitan dengan kisah-kisah lama yang termodernkan. Karena itu jepang meerupakan negara yang sangat modern yang tidak terputus dengan peradaban masa lampaunya."
    Siabah mengkritik ketidakpedulian kaum intelektual sunda terhadap sejarahnya sendiri yang justru mendapat dukungan dari penguanya yang dinilai siabah tidak terlalu cerdas. Menurut siabah:"Masyarakatnya yang kurang peduli,  mendapat tempat pada penguasanya yang  kurang cerdas, sehingga potensi masa lampau yang dapat memperkaya kekinian justru  terputus, atau dengan kata lain, bahwa masayarakat sunda  kini telah terputus dengan peradaban masa lampaunya, sehingga dalam menjalani kehidupannya mereka telah kehilangaan orientasi (disorientation) terhadap peradabannya itu sendiri. Menjadi manusia sempurna dalam arti yang tidak melakukan apa apa telah melanda masyarakat sunda.  Padahal dalam sejarahnya, manusia sunda adalah maanusia proses yang menuju kepada perbaaikan ke perbaikan selanjutnya (rancage). Dan dapat dilihat dari kisah carita parahiyangan bagaimana para leluhur kita membuat suatu kerajaan, mereka meninggalkan pertapaan karena kritik dari seekor burung, yang mengatakan bahwa “sang pendiri? Yang awalnya seorang pertapa telah dikritik habis-habisan, bahwa dia hanya orang yang tidak berguna yang pekerjaannya hanya duduk saja dan tidak bisa melakukan apa-apa."
    Siabah juga mengatakan bahwa pentingnya menjaga situs-situs kebudayaan klasik sebagai tanggung jawab terhadap generasi berikutnya. Siabah berkata:"Menjaga hasil karya peraadaban klasik harusnya  merupakan suatu kebanggan dari anak bangsa sekarang ini. Meskipun dari kebudayaan yang berbeda, dari agama yang berbeda. Karena hasil peadaban masa lampau akan menginspirasi anaak bangsanya dikemudian hari. Karena itu menjaga situs-situs kebudayaan kuno bukan berarti menjaga tahayulisme seperti yang dikembangkan kaum dukun, tetapi lebih upaya daripada pencarian jatidiri kita sebagai manusia sunda, untuk membangun peradabannya ke depan."

Pembodohan dari kaum sejarawan nasional
    Siabah tidak hanya menyoroti tentang ketidakpedulian masyarakatnya tehadap kebudayaan sunda itu sendiri, tetapi memang ada pembodohan yang dikembangkan oleh kaum sejarawan penguasa. Si abah berkata:"Jauhnya masyarakat sunda dari kebudayaannya bukan hanya dikarenakan ketidakpedulian dari masyarakatnya, tetapi lebih disebabkan oleh para sejarawan nasional yang dikuti oleh kaum sejarawan sunda yang kurang kritis terhadap berbagai permasahan kesundaan. Para sejarawan nasional telah bersikukuh menjadikan kitab negarakertagama sebagai sumber sejarah rujukan untuk membuat peran-peran majapahit agar lebih menonjol. Para sejarawan sunda yang berpendidikan formal kebanyakan kurang percaya diri menjadikan carita parahiyangan sebagai sumber berita tentang keberadaan kerajaan sunda."
    Siabah berkata:"Sejarawan nasional telah membuat sejarah majaoahit seolah menjadi cikal bakal negara indonesia. Padahal indonesia merupana warisan dari ex. Jajahan belanda. Jadi secara de fakto sejarah indonesi bermula dari penjajahan belanda. Karena 100 persen negara indonesia merupakan ex, jajahan belanda., yang tidak ada hubungannya dengan kerajaan majapahit yang sudah hancur pada abad 15 M. Jadi tidak ada hubungannya antara majapahit dengan indonesia sekarang ini."
     Siabah iri dengan negara-negara maju, seperti di inggris yang banyak membuat fil-filmya yang diangkat dari cerita-cerita klasiknya. Siabah berkata:"Negara negara barat sepeti dalam cerita-cerita di negeri inggris banyak dipengaruhi oleh cerita-cerita trdisionalnya, meskipun kadang tidak masuk akal. Tapi bagi mereka bukan masuk akal atau tidaknya, hal tersebut tidak terlalu penting. Yang penting darinya adalah cerita-cerita tersebut dianggap sebagai awal dari penyelidikan untuk pengkajian sejarahnya. Jadi perbedaan kaum intelek di negeri elisabet dengan sejarawan kita adalah, jika mereka mencari sumber dari sumber sedikit kemudian dilakukan penyelidikan-penyelidikan. Kalau dinegeri ini informasi yang banyakpun seolah dibiarkan terlunta, karena keengganan untuk berpikir dan sikap pengekornya begitu kuat, apalagi informasi sedikit, oleh para sejarawan kita dianggap sebagai dongeng yang tiada berguna. Makanya jangan heran situs-situs di tanah sunda seolah di telan bumi. Keberadaannya juga selalu ditutup-tutupi oleh kaum intelektualnya itu sendiri."

Tanggung Jawab Generasi Sekarang
     Siabah menekankan tentang tanggungjawab dari gebnerasi sekarang ini, untuk mengumpulkan cerita, cerita atau dongeng-dongeng, atau sejarah yang berkaitan dengan pembentukan sutu daerah atau kerajaan, yang kemudian dipublikasikan. Menurut siabah:"Sebeleum mencapai ke tingkat penyelidikan kesejarahan tanah sunda, generasi sekarang mungkin  harus membuka wacana seluas-luasnya, dengan mengumpulkan sumber yang banyak dari berbagai pelosok tataran sunda. Kumpulkan dan publikasikan, mungkin sekarang ini yang harus kita lakukan, hingga munculnya kaum intelaktual /sejarawan  sunda yang kritis yang tidak terikat oleh kaum sejarawan para penguasa, yang cenderung menghilangkan potensi-potensi kesejarahan sunda itu sendiri."
    Menuerutnya juga:" Cerita-cerita, dongeng-dongeng dari tanah sunda dari siapapun mulai sekarang harus mulai dikumpulkan dan dipublikasikan. Hal ini untuk mendorong sistem crosscek sejarah dari sumber-sumber yang mungkin memiliki cerita sama tetapi dari analisa yang berbeda, sehingga menimbulkan cerita atau sejarah berbeda."
     Siabah juga mengkritik para pembuat sejarah kekuasaan, sejarah hanya untuk legitimasi kekuasaan yang ada. Menurut siabah:"Jangan percaya kepada kaum sejarawan sekarang ini, karena sejarawan indonesia, termasuk dari sunda adalah pendukung atau penganut sejarah kekuasaan. Jadi bagi mereka sejarah yang mendukung dan menguntungkan kekuasaan yang sedang berkuasa itulah yang mereka dukung dan kembangkan. Padahal sejarah itu sendiri adalah independen. Tetapi semua buku wajib kita miliki dan baca untuk memperkaya intelektual kita itu sendiri, Tetapi menyangkut kesimpulan sejarah, kita mungkin harus mengembangkan sejarah yang kritis. Dan yang terpenting dari kita sekarang ini adalah kita harus berprinsip, sekecil apapun informasi, sedikit apapun berita, harus dijadikan awal dari penyelidikan kita terhadap sejarah."

(Mengenal Pemikiran Pemikiran Siabah, hasil dari suatu diskusi By. Adeng Lukmantara)
Foto. Abah Olin & Emut Muchtar (adiknya)