Minggu, 14 Agustus 2016

DEMUNAWAN, RAJARESI DARI SAUNGGALAH (KUNINGAN)

Kata Pengantar


Salah seorang yang banyak dibicarakan dalam Naskah Carita Parahiyangan adalah tokoh yang bernama Rahiyangtang Kuku atau disebut juga dengan nama Sang Seuweukarma, atau dikenal juga dengan nama Resi Demunawan. Resi Demunawan merupakan pendiri istana Saunggalah di Kuningan.






NASKAH

A.. SILSILAH DAN KEKUASAAN
Rajaresi Demunawan atau rahiyangtang Kuku atau dikenal juga dengan nama  Sang Seuweu Karma. Ia dkienal sebagai raja yang adil, sehingga gelar Seuweu Karma berkaitan dengan keadilan ini. Seuweu dalam bahasa indonesia berarti anak atau putra, karma berarti adil, atau berkaitan dengan huku keadilan. Karena ia sangat bijak dalam menentukan hukum, dan ia sendiri dikenal dengan gelar rajaresi (resiguru) artinya raja yang ahli juga dalam bidang keagamaan, dikenal arif dan bijaksana. Dan dalam Naskah Carita Parahiyangan diungkapkan betapa arifnya dia sehinngga dikenal sebagai “tempat panyuluhan jalma rea (Tempat meminta pendapat banyak orang)”.
Rajaresi Demunawan merupakan putra kedua dari pasangan Rahiyang Sempak Waja dengan istrinya, Pwah Rababu. Ia merupakan adik dari Prabu Purbasora (Raja Galuh ke-4 yang mengkudeta Prabu Sena), dan kakak lain bapak, Prabu Sena (Raja galuh ke-3).
Demunawan menikah dengan putri penguasa Kuningan, Sang Pandawa atau Prabu Wiragati, yang bernama Pohaci Sangkari pada tahun 671 M.
Ketika masih di Kuningan,  dalam naskah Wangsakaerta (Pustaka rajya rajya-i Bhumi Nusantara) ia tinggal di  keraton yang ada di kuningan yang dinamakan  Sangkarmasaya, yang berarti tempat sang karma, yaitu tempat Demunawan tinggal menetap dan memerintah daerahnya. Tetapi ketika ia berkuasa atas Kuningan dan Galunggung, ia berkuasa di saunggalah. Saunggalah berasal dari kata saung berarti Rumah, dan Galah berarti panjang. Dengan demikian arti Saung Galah berarti Rumah panjang, atau Keraton yang memanjang.

1.. Rahiyang Sempak Waja (620-   M)
Rahiyang Semplak Waja atau Batara dangiang Guru merupakan anak tertua Wretikandayun  yang lahir tahun 620 M. Sempak waja tidak menjadi raja karena ia ompong. Dengan demikian ia kemudin  memilih menjadi resiguru (batara dangiang guru)  di Galunggung. Sempak Waja menikah dengan Pwah Rababu dan mempunyai 2 anak, yaitu: Prabu Purbasora dan Resi Demunawan.
Prabu Purbasora karena merasa anak tertua dan dilahirkan dari anak tertua raja pendiri Galuh. Karena itu ia merasa paling berhak atas tahta galuh. Dengan alasan moralitas kemudian Prabu Purbasora pada tahun 716 M mengkudeta  Raja Galuh, yaitu Prabu Sena yang merupakan adiknya seibu.

2.. Menerima Tahta dari Ayah dan Mertua
Setelah pasca kudeta Sonjaya terhadap Prabu Purbasora (kakak Demunawan). Untuk mengeksiskan kekuasaan Demunawan, maka pada tahun 723 M Demunawan mendapatkan tahta  raja Kuningan dari mertuanya, Sang Pandawa. Dan ia juga mendapat tahta Galunggung dari ayahnya, Batara dangiang Guru sempak Waja. Dengan demikian kekuasaan Demunawan kemudian meliputi Kuningan dn juga Galunggung.
Dengan berlalunya waktu, dan menjadikan kerajaan Saunggalah menjadi kerajaan yang disegani baik otoritasnya dalam kekuasaan dan juga dalam keagamaan. 

B. KONSTALASI POLITIK GALUH TAHUN  723 M PASCA KUDETA SONJAYA TERHADAP PURBASORA
Setelah terjadi kudeta Sonjaya terhadap Prabu Purbasora pada tahun 723 M, maka konstalasi perpolitikan di kerajaan galuh berubah. Meskipun Sonjaya dapat mengalahkan Prabu Purbasora dan dapat menguasai Galuh. Tetapi Sonjaya tidak serta merta menguasai galuh secara keseluruhan.
Galuh dalam sejarahnya dibangun dalam otokrasi keagamaan. Karena itu otokrasi keagamaan mempunyai wilayahnya yang independen. Dengan demikian meskipun sistem pemerintahan Galuh dikuasai  tidak otomatis menguasai seluruhnya. Karena Galuh mengakui kekuasaan otokrasi dari para penguasa agama. Sehingga dengan dikuasainya Galuh tidak serta merta dapat menguasai seluruh wilayah, terutama yang berkaitan dengan otokrasi kekuasaan keagamaan. Dan otokrasi kekuasaan keagamaan yang sangat dihormati di Galuh adalah Kabataraan Galunggung, yang didirikan oleh putra pertama pendiri Galuh, Wretikandayun, yang bernama Batara dangiang Guru Sempak Waja.
Otoritas Galunggung waktu itu masih dipegang oleh tokoh yang sangat dihormati oleh masyarakat Galuh, yaitu Batara Dangiang Guru Rahiyang Sempak Waja. Yang secara silsilah merupakan ayah dari Prabu Purbasora, dan kakek dari Sonjaya itu sendiri.
Dengan demikian, meskipun Sonjaya dapat menguasai istana galuh, tetapi  secara de fakto masih tidak diakui sebagai penguasa Galuh secara keseluruhan, karena belum diakui oleh otokrasi kekuasaan keagamaan, terutama Galunggung. Apalagi ketika Sonjaya diuji oleh Batara dangiang Guru untuk mengalahkan raja raja di daerah Kuningan, Tetapi Sonjaya tidak mampu mengalahkannya.
Sehingga Sonjaya kemudian meminta ijin kepada Batara dangiang Guru Sempak Waja, untuk menjadikan Resi Demunawan dari Saunggalah untuk menjadi raja Galuh. Sonjaya memandang bahwa  Resi Demunawan merupakan adik dari Prabu Purbasora.  Tetapi permintaan  ini ditolak oleh Sempak waja, karena ia merasa curiga bahwa hal itu hanya siasat Sonjaya untuk memancing Demunawan masuk dalam perangkapnya di galuh, setelah itu membinasakannya. Dan alasan Sempak waja yang kedua adalah karena ia tidak rela Demunawan menjadi bawahan Sonjaya. Di ketahui juga bahwa Sonjaya waktu itu juga telah menjadi raja di Pakuan.
Karena Sonjaya tidak dapat menguasai ketiga penguasa di Kuningan (tiga serangkai dari Kuningan: sang Pandawa, sang wulan dan ), maka Sonjaya akhirnya menerima siapapun yang ditunjuk oleh Batara dangiang Guru yang hendak memegang pemerintahan di galuh. Batara dangiang Guru sempak waja kemudian menunjuk Premanadikusumh, putra patih Wijaya atau cucu Purbasora (atau buyut Sempak Waja itu sendri). Dan untuk mengontrol kekuasaan di Galuh sebagai penyeimbang, maka sonjaya kemudian menunjuk putranya, yang bernama Temperan Barmawijaya menjadi patih di Galuh.
Tidak hanya itu, dalam membendung kekuasaan Sonjaya di Galuh, maka Batara Dangiang guru Sempak Waja kemudian mengukuhkan kedudukan Demunawan di Kuningan. Pada tahun 723 M, Demunawan dinobatkan menjadi raja di Kuningan menggantikan kedudukan mertuanya, Sang pandawa atau Prabu Wiragati.  Dan pada waktu itu juga ia kemudian meyerahkan wilayah kekuasaan galunggung kepadanya. Karena ia menerima tahta Galunggung, yang mempunyai otoritas keagamaan yang sangat disegani, maka dikemudian hari ia dikenal dengan gelar raja Resi Demunawan.
Dengan demikian Demunawan  berkuasa atas wilayah Kuningan dan juga Galunggung, yang kemudian hari dinamakan kerajaan Saunggalah, karena memilih Saunggalah sebagai ibukota pemerintahannya.
Dengan pembentukan kerajaan baru yang independen ini seolah Batara Dangiang Guru telah membuat tandingan kerajaan Galuh. Karena kerajaan Sunda dan Galuh itu sendiri tidak berani mengutak ngatik kekuasaan Resiguru demunawan di Saunggalah.

1.. Sonjaya Pada Tahun 732 M Mendapat Tahta Medang Bumi Mataram
Setelah kekuasaan galuh diserahkan kepada Premanadikusumah, Sonjaya kemudian kembali ke Pakuan. Tetapi pada tahun 732 M, Sonjaya dinobatkan menjadi penguasa (raja) menggantikan ayahnya, Prabu Sena, yang telah berkuasa sebelumnya. Prabu Sena setelah dikudeta oleh Prabu Sena pada tahun 716 M, ia melarikan diri ke Medang Bhumi Mataram, kerajan istrinya, sanaha, berasal. Ia kemudian menjadi raja di sana. 
Sebagai konsekwensi kepindahan Sonjaya ke Bhumi Mataram, maka kekuasaan Sunda kemudian di serahkan kepada putranya, Prabu Temperan Barmawiajaya.

2. Prabu Temperan Barmawijaya
Setelah mendapat tahta kerajaan Sunda pada tahun 732 M, dari ayahnya, Sonjaya. Prabu Temperan merasa perlu untuk mengeksikan diri sebagai raja, terutama ddi daerah Galuh.
Karena itu untuk mengeksiskan kekuasaannya di kedua kerajaan Prabu Temperan kemudian menyingkirkan kekuasaan Premanadikusumah dari tahta Galuh. Dan hal ini mendapat  kesempatan ketika Premanadikusumah sedang dalam pertapaannya.
Dan hal ini diungkapkan dalam Naskah Carita Parahiyangan:
“Di wates Sunda, aya pandita sakti, dipateni tanpa dosa, ngaranna Bagawal Sajalajala. Atma pandita teh nitis, nya jadi Sang Manarah. Anakna Rahiang Tamperan duaan jeung dulurna Rahiang Banga. Sang manarah males pati.”

B. GALUH TAHUN 739 M PASCA KUDETA SANG MANARAH
Pada tahun 739 M terjadi perang besar di Kerajaan Galuh. Hal ini diakibatkan oleh kudeta yang dilakukan oleh Sang Manarah (Ciung Wanara) terhadap penguasa Sunda Galuh,  Prabu Temperan, yang menyebabkan Prabu temperan meninggal dunia pada tahun 739 M. Dengan demikian tahta galuh sejak tahun 739 M dipegang oleh Sang Manarah.
 Sisa pasukan kerajaan  dipimpin anak Temperan, yang beernama  Hariang Banga, juga mulai terdesak.  Hariang Banga dapat ditangkap dan dipenjara oleh Ciung Wanara, tetapi Hariang Banga dapat meloloskan diri. Dan ia mulai menyusun kembali pasukan untuk menyerang Galuh.
Prabu Sonjaya yang sudah menjadi raja di Jawa (Medang Mataram) sangat marah ketika mendengar anaknya, Prabu Temperan, meninggal akibat kudeta tersebut. Sehingga ia kemudian mengerahkan pasukan dari Mataram untuk menyerang Galuh dengan 4 kekuatan besar. Pasukan satu bernama Tomarasakti dipimpin oleh Sanjaya; pasukan 2 bernama Samberjiwa dipimpin oleh Rakai Panangkaran (putra sanjaya), pasukan 3 bernama Bairawamamuk dipimpin oleh Panglima Jagat Bairawa, pasukan 4 bernama Batarakroda, dipimpin oleh Langlang Sebrang. Dan dari barat juga bergerak tentara dari ibukota Pakuan menuju menyerang Galuh yang dipimpin oleh Hariang Banga dan patihnya.
Tetapi perang besar ini kemudian dapat dihentikan oleh Raja resi Demunawan yang waktu itu berusia 93 tahun, dengan diadakan gencatan senjata. Perundingan gencatan senjata  digelar di keraton Galuh pada tahun 739 M. Kesepakatanpun tercapai: Galuh harus diserahkan kepada Sang Manarah, dan Sunda kepada Rahiyang Banga (cucu Sanjaya), dan Sanjaya memimpin Medang Mataram. Dengan demikian Sunda Galuh yang selama tahun 723-739 M, merupakan satu kekuasaan terpecah kembali. 
Dan untuk menjaga agar tak terjadi perseturuan, Manarah dan banga kemudian dinikahkan  dengan kedua cicit Demunawan. Manarah dengan gelar Prabu Jayaperkosa Mandaleswara Salakabhuwana, memperistri Kancanawangi, sedang Banga sebagai raja Sunda  bergelar Prabu Kertabhuwana Yasawiguna Hajimulya, mengawini adik Kancanawangi yang bernama Kancanasari.


Dengan demikian Resi Demunawan telah melakukan kebijakan yang sangat cerdas, meskipun sistem kenegaraan telah terpisah, tetapi seluruh tataran sunda dibangun dengan kekeluargaan. Dengan perkawinan keluarga Saunggalah dengan istana Galuh dan juga Istana Pakuan, seolah ikatan keluarga dijalin lagi melalui suatu ikatan perkawinan keraton Saunggalah, Galuh dan Pakuan. Dan dikemudian hari ikatan tersebut dijalin, sehingga kerajaan sunda di Pakuan, Galuh dan Saunggalah, seolah menjadi satu kesatuan. Dan ketiga kota tersebut kemudian dijadikan menjadi ibukota kerajaan sunda, tergantung raja sunda dimana berasal. Dan penguasa terkenal dikemudian hari, Prabu Darmasiksa, yang digelari titisan Wisnu berasal dari istana saunggalah ini.


(lanjut)
By Adeng lukmantara
Peminat Studi Peradaban Sunda dan Islam

Sumber: dari berbagai Sumber


Senin, 25 Juli 2016

PRABU GEUSAN ULUN 1558-1603 M)

Pengantar

Tulisan ini diilhami  karena ada orang yang mempertanyakan tentang Prabu Geusan Ulun. Siapakah dia dan apa peranannya dalamperadaban Sunda klasik. Penulis mencoba merangkum tulisan dari berbagai sumber, termasuk  tulisan tulisan di internet, dalam bentuk yang lebih simple yang dinamakan oleh penulis dengan istilah novel sejarah. Istilah tersebut mungkin kurang cocok dan mungkin akan diperdebatkan. Tetapi seperti kisah kisah yang ditulis oleh penulis sebeleumnya, seperti ciung wanara, Sonjaya, Pajajaran burak dan lain sebagainya, telah ditulis seperti itu. Yah minimal, pembaca memahami, bahwa kejadian itu terjadi pada tahun itu. Jadi bukan sejarah yang tumpang tindih.
Karena tulisan ini masih baru rangkuman dari berbagai tulisan, mungkin banyak kutipan dari penulis penulis lain, mohon maklum adanya.  Sambil menyelam minum air, itu kata peribahasa, Sambil mencari sumber yang akurat dari berbagai buku, mengapa tidak ditulis sesuai dengan ide kita sendiri.
Informasi sedikit merupakan awal pencarian. Itulah yang menjadi prinsip kami dalam menulis semua tulisan yang di tulis. Untuk menulis tulisan yang sempurna, mungkin suatu hal yang tidak mungkin, karena data sumber yang serba sedikit. Disamping itu,manusia itu punya opini sendiri, karena itu tidak semua orang akan mengikuti opini kita, tetapi yang terpenting adalah kita telah memulai membuat opini sesuai opini penulis itu sendiri. Karena lain padang lain belalang, lain otak di kepala, lain pula pemikirannya.
Menggugah kaum muda, mungkin itu harapan terbesar dari penulis.Mudah mudahan ke depannya banyak pecinta sejarah kebudayaannya sendiri di kalangan kita sendiri,sehingga ada sejarah kesinambungan. Sehingga pembuat sejarah berikutmya tidak hanya berangkat dari nol ke nol.
Hidup itu harus membuat sejarah, begitu kata orang bijak. Jangan menjadi kaum yang diombang ambing sejarah. Sehingga kita dalam sejarah hanya menjadi pelengkap penderita dalam menempuh sejarah kehidupan.
Tiada gading yang tak retak. Tulisan ini mudah mudahan bermamfaat untuk kita semua. Minimal bagi penulisnya, sebagai upaya belajar dan belajar mencari kesempurnaan dalam hidup. Terima kasih.
.
A.. SUMEDANG LARANG AWAL ABAD KE-16 M.
Sumedang Larang adalah nama kerajaan yang berdiri pada abad ke-13M, dan mulai mengeksiskan diri menjadi suatu kerajaan yang indpenden diakhir kejatuhan kerajaan pajajaran pada akhir abad ke 16 M. . Kerajaan ini berdiri dan merupakan bagian dari kerajaan Sunda Galuh. Dan secara hierarki Sumedang Larang merupakan bagian dari kerajaan Galuh.
Sumedang Larang oleh Bujangga Manik, seorang pengembara dari kerajaan Sunda dalam naskah yang ditulisnya diakhir abad ke-15 M disebut dengan nama Medang Kahiyangan. Dan dalam naskah Carita Parahiyangan  wilayah Sumedang ini juga disebut dengan nama Medang Kahiyangan.
Sumedang Larang didirikan oleh Batara Prabu Aji Putih, seorang tokoh keagamaan di lingkungan kerajaan Galuh yang mumpuni. Dan ia kemudian mendirikan suatu kebataraan atau kabuyutan atau padepokan  di wilayah  Sumedang (daerah Cipaku Darmaraja sekarang). Kabataraan atau Kabuyutan dalam tradisi Sunda merupakan suatu tempat yang disakralkan oleh masyarakat Sunda  dan mempunyai suatu kekuasaan yang independen, baik wilayah maupun otoritasnya terutama dalam bidang keagamaan
Sumedang menjadi suatu negara  mula mula dibangun oleh anak Prabu aji Putih yang bernama Prabu Tajimalela. Prabu Tajimalela hidup sezaman dengan raja sunda yang bernama Ragamulya Luhur Prabawa (mp. 1340-1350 M) dan juga tokoh Suryadewata, orang tua Batara Gunung Bitung dari Talaga. . Prabu tajimalela ini memiliki banya nama diantaranya Prabu resi Agung Cakrabuana dan Batara Tuntang Buana. Dan nama kerajaannya pun berevolusi dari nama Tembong Agung yang dibangun oleh Prabu Aji Putih kemudian menjadi Himbar Buana di era Prabu Tajimalela, Medang kahiyangan dan Sumedang Larang d era berikutnya.
Dalam tradisi Sunda Klasik sistem kenegaraan dalam tradisi Sunda lebih bercorak  sistem negara Federal seperi sekarang ini. Suatu wilayah kerajaan negara bagian (negara dalam negara) diakui independensinya. Dan negara yang muncul kemudian selalu setia terhadap kerajaan utamanya. Demikian juga Sumedang Larang yang secara hirarki menjadi bagian dari kerajaan Galuh, dan merupakan suatu wilayah dari kerajaan Sunda (atau Sunda Galuh).
Hingga awal abad ke-16 M, Sumedang larang mengambil corak agama Hindu sebagai agama resminya, meskipun secara tradisi masyarakatnya masih berpegang teguh kepada kepercayaan aslinya. Baru pada awal abad ke-16 M, Sumedang Larang telah beralih menjadi suatu kerajaan yang berbasiskan Islam, dengan adanya pernikahan putri kerajaan Sumedang Larang, Ratu Pucuk Umun dengan seorang bangsawan dari kerajaan Cirebon, yang bernama Pangeran Kusumah Dinata, atau dikemudian hari terkenal dengan nama Pangeran Santri.
Setidaknya terdapat 9 penguasa Sumedang larang dari Batara Prabu Aji Putih hingga Ratu Pucuk Umun. Secara berurutan penguasa Sumedang larang itu antara lain:
..Batara Prabu Aji Putih
..Prabu Tajimalela (Batara Tuntang Buana)
.. Prabu Lembu Agung (Prabu Jayabrata/ Prabu Lembu Peteng Aji)
.. Prabu gajah Agung (Prabu Atmabrata)
.. Prabu Pagulingan (Prabu Wirajaya Jagabaya)
.. Sunan Guling ( Prabu Mertalaya)
.. Sunan Tuakan (Prabu Tirta Kusuma)
.. Ratu Sintawati (Nyi Mas Patuakan)  menikah dengan Sunan Corenda dari Talaga
.. Ratu Satyasih (Ratu Inten Dewata / bergelar Ratu Pucuk Umun), menikah dengan Pangeran Santri dari Cirebon.

1.. Sumedang Larang tahun 1558 M
Di Sumedang Larang, tepatnya di Ibukota Kutamaya, pada tahun 1558 M (1480 Saka) telah lahir seorang bayi laki laki di Istana kerajaan  dari ibu seorang ratu (ibu negara)  Ratu Pucuk Umun. Dan bayi tersebut oleh ayahnya, Pangeran Santri diberi nama Pangeran Angka Wijaya. Pangeran Angka wijaya ini dikrmudian hari setelah menjadi raja, dikenal dengan nama  Prabu Geusan Ulun.
Pangeran Angkawijaya  tumbuh dibawah bimbingan ayahnya yang terkenal sebagai turunan ulama dan ksatria (panglima)  yang gagah berani dan juga penganut Islam yang taat. Ayah Sang Bayi terkenal dengan julukan Pangeran Santri, karena ia merupakan lulusan pesantren, disamping ketaatan terhadap agama yang luar biasa. Pangeran Santri berkuasa di Kerajaan  Sumedang Larang bersama istrinya, Ratu Pucuk Umun, yang merupakan turunan dan pewaris tahta Sumedang Larang.
Pangeran Santri dan istrinya Ratu Pucuk Umun merupakan penguasa Sumedang Larang yang beragama Islam pertama kali. Ratu pucuk Umun mengikuti jejak suaminya, Pangeran Santri menjadi muslimah pertama di kalangan istana Sumedang Larang. Pada masanya, mereka membangun ibukota kerajaan di Kutamaya, dan kemudian  memindahkan ibukota Sumedang Larang  dari Ciguling ke ibukota baru tersebut ( Kutamaya). Dan Prabu Geusan Ulun lahir diibukota baru tersebut.

a.. Pangeran Santri (1505-1579 M)
Pangeran Kusumahdinata atau terkenal dengan sebutan Pangeran Santri, merupakan penguasa (raja) Sumedang larang yang pertama kali menganut agama Islam. Pada agama Islam dijadikan agama resmi kerajaan, dan dia danggap yang berjasa dalam islamisasi di kerajaaan Sumedang Larang.
Pangeran Santri merupakan cucu dari Syekh Maulana Abdurahman  (Sunan Panjunan) dan  cicit dari Syekh Datuk Kahfi, dan  merupakan putra dari Pangeran Maulana Muhammad. Maulana Muhammad terkenal dengan nama Pangeran Palakaran menikah dengan putri dari Sindangkasih (Majalengka) yang bernama Nyi Amrillah. Dari pernikahan ini lahirlah Ki Gedeng Sumedang atau terkenal juga dengan nama Pangeran Santri.
Syekh Datuk Kahfi adalah  seorang ulama keturunan Arab Hadramaut yang berasal dari Mekah, dan yang merupakan salah seorang yang berjasa dalam menyebarkan agama Islam di tanah sunda era awal.
Pangeran Santri lahir pada tangga 6 bagian gelap bulan Jesta tahun 1427 M (29 Mei 1505 M), dan  dilantik menjadi raja sumedang  pada tanggal 13 bagian gelap bulan Asuji tahun 1452 Saka (21 Oktober 1530 M), dengan gelar Pangeran Kusumah Dinata, bersama istrinya.
Karena ia masih punya kekerabatan dengan kesultanan Cirebon, setelah mengawini Ratu Pucuk umun, maka Sumedang Larang dengan otomatis berada dalam lingkaran kekuasaan kesultanan Cirebon. Meskipun telah  menjadi penguasa Islam di tanah Sumedang Larang, Pangeran Santri tetap mempertahankan independensi Sumedang dari pengaruh kesultanan Cirebon, dan ia tidak melakukan komplik dengan negara induknya, Pajajaran. Pangeran santri lebih senang melakukan islamisasi di tanah Sumedang daripada ia melakukan komplik horizontal dengan Pajajaran. Karena itu meskipun Sumedang Larang telah Islam, tetapi oleh Pajajaran tidak dianggap  membahayakan bagi kekuasaan Pajajaran. Karena itu ketika Pajajaran jatuh, maka justru mahkota diserahkan kepada putra mahkota atau anak dari Pangeran Santri yang bernama Prabu Geusan Ulun.
Pangeran Santri dinobatkan sebagai Penguasa (raja) Sumedang Larang pada tanggal 13 bagian gelap bulan Asuji tahun 1452 Saka atau sekitar tanggal  21 Oktober 1530 M. Dan tiga bulan setelah penobatannya, pada tanggal 12 bagian terang bulan Margasira tahun 1452 saka di keraton Pakungwati diselenggarakan perjamuan syukuran untuk merayakan kemenangan kesultanan Cirebon atas Galuh, dan sekaligus merayakan penobatan Pangeran Santri.
Pada masa Pangeran santri berkuasa, Pajajaran sedang diambang kekalahan melawan Pasukan Maulana Yusuf dari Banten. Dan pada tanggal 8 Mei 1579 M (atau tanggal 11 bulan Wesaka 1501 Saka.
Sebelum Pajajaran Jatuh, pada tanggal 22 April 1578 M, pada hari jum’at bertepatan dengan hari idul fitri di keraton Kutamaya Pangera santri menerima 4 Kandaga Lante yang dipimpi oleh Sanghiyang Hawu atau Jaya Perkosa. Dan ketiganya lagi adalah: Batara Dipati Wiradijaya (Nangganan), Sanghiyang Kondang hapa, dan Batara Pancar Buana (Mbah Terong peot).
Pangeran Santri meninggal pada 2 Oktober 1579 M, lima bulan setelah runtuhnya kerajaan Pajajaran, yang diserang oleh tentara kesultanan Banten, dibawah pimpinan Sultan Maulana Yusuf.

b.. Ratu Pucuk Umun (mp. 1530-1578M)
Ratu Pucuk umun atau Ratu Inten Dewata  adalah seorang wanita yang merupakan turunan dari Raja Raja Kuno Sumedang. Ia mewarisi tahta dari ayah dan ibunya, Sunan Corenda /Shintawati. Karena ayahnya Sunan Corenda berasal dari Sindangkasih (Majalengka), ada kemungkinan perkawinan dihubungkan dengan sistem kekerabatan. Dan waktu itu Majalengka atau Sindangkasih telah lebih dulu masuk Islam berkat jasa kakek dari Pangeran Santri, Maulana Abdurrahman. Dan ayah Pangeran santri yang bernama Maulana Muhammad, yang menikah dengan salah seorang putri bangsawan yang bernama Nyi Siti Armillah. Kemungkinan  kekerabatan antara ayah Ratu Pucuk Umun (Sunan Corenda) dengan Nyi Amrillah ini yang akhirnya menjodohkan antara angeran Santri dengan Ratu Pucuk Umun (Ratu Inten Dewata). Ratu Pucuk Umun mengikuti keyakinan suaminya, Pangeran Santri, yang beragam Islam. Dengan demikian proses Islamisasi di Sumedang Larang terkesan lebih halusa dan tidak terjadi konfrontasi seperti daerah daerah di eks Pajajaran lainnya.
Dari perkawinannya dengan Pangeran Santri, ia dikaruniai 6 anak,yaitu: Pangeran Angkawijaya (Prabu Geusan Ulun), Kiai Rangga Haji, Kiai Demang Watang  Walakung, Santoan Wirakusumah, Santowaan Cikeruh dan Santowaan Awiluar. Karena merupakan anak pertama, maka Pangeran Angkawijaya kemudian diangkat menjadi raja menggantikan ayahnya. Satowan Wirakusumah menurunkan keturunan di Pagaden Subang.
Prabu Geusan Ulun merupakan anak pertama pasangan penguasa Sumedang Pangeran Santri dan Ratu Pucuk Umun.  Ia lahir pada tanggal 3 bagian terang bulan Srawana tahun 1480 Saka ( 19 Juli 1558 M). Karena anak pertama, kemudian ia diangkat menjadi putra mahkota, dan menggantikan ayah dan ibunya menjadi Raja Sumedang Larang.
Dengan demikian Prabu Geusan Ulun dari pihak ibu merupakan turunan Raja raja Sumedang kuno, sedang dari pihak ayah merupakan turunan pendakwah Islam pertama di tanah sunda, Syekh Datuk Kahfi atau yang terkenal dengan nama Syekh Nurjati.




B. TANAH SUNDA HINGGA AWAL TAHUN 1579 M
Di tanah Sunda hingga awal tahun 1579 M terdapat 3 kekuasaan besar di tatar Sunda yang sudah menganut agama Islam, yaitu Kesultanan Cirebon di bawah pimpinan Panembahan Ratu, Sumedang Larang di bawah pimpinan Pangeran Santri, Kesultanan Cirebon dibawah pimpinan pimpinan Sultan Maulana Yusuf.
Jika kesultanan Cirebon sangat agresif menyerang kerajaan Pajajaran di bagian timur dan selatan yang berbasis kerajaan Galuh, dan sebelum tahun tahun 1530 M, wilayah tersebut dapat dikuasai. Dan puncaknya dengan perkawinan putri  Raja Sumedang Larang dengan Bangsawan dari Cirebon menandai dominasi kesultanan Cirebon di bekas tanah Galuh. Meskipun berbeda dengan wilayah lain, Sumedang Larang etap menjaga independensinya sebagai negarayang merdeka. Sehingga pada tahun 1530 M diadakan syukuran diibukota kerajaan Cirebon di Pakungwati,  perayaan kemanangan Cirebon atas Galuh dan juga penobatan Pangeran Santri sebagai Raja Sumedang Larang, yang merupakan kerabat dari sultan cirebon itu sendiri.
Sedang di wilayah bagian barat, kesultanan Banten sedang berada diatas angin. Setelah Sunan Gunung Jati meninggal. Hasanuddin mengeksiskan diri menjadi kesultanan yang terpisah dari Cirebon, dan memproklamirkan dirinya sebagai penguasa pertama (sultan) yang independen di wilayah banten. Sehingga Sultan Maualana Hasanuddin dan diteruskan oleh anaknya, Sultan Maulana Yusuf   sangat agresif untuk menaklukan pusat Ibukota pajajaran di Pakuan. Dan puncaknya terjadi di era sultan maulana Yusuf berkuasa, ibukota Pajajaran, Pakuan dapt ia taklukan pada tahun 1579 M. Tepatnya pakuan jatuh pada tanggal 8 Mei 1579 M, seperti diungkapkan dalam kitab Pustaka Nusantara,  tentang kejatuhan ibukota kerajaan Pajajaran, Pakuan, disebutkan: ” Pajajaran sirna  ing ekadasa suklapaksa wesakamasa sewu limang atus punjul siki ikang sakakala” ( Pajajaran lenyap pada tanggal 11 bagian terang bulan wesaka tahun 1501 saka). Tanggal tersebut bertepatan  dengan 8 Mei 1579 M.
Karena masih keturunan dari Sri Baduga Maharaja Prabu Jayadewata atau Prabu Siliwangi dari istrinya Subang Larang, Sulltan Maulana Yusuf merasa paling berhak atas tahta di wilayah Pajajaran. Disamping itu juga secara silsilah, ia juga merupakan paling berhal atas tahta sunda di eks Pajajaran, karena baik di pihak bapak dan dari pihak ibu, masuh turunan bangsawan Sunda. Dan mungkin ia juga menegetahui bahwa raja raja sunda merupakan turunan dari raja raja di banten sebelumnya, yaitu dari kerajaan Salakanagara di sekitar Pandeglang sekarang. Jadi Sultan Maulana Yusuf seolah ingin membuktikan bahwa dirinyalah yang paling berhal atas tahta Pakuan. Karena itu ia sangat agresif menyerang ibukota Pakuan, meskipun ibukota tersebut sudah ditinggalkan oleh rajanya sejak tahun 1567 M.
Untuk mendapatkan legitimasi sebagai raja Sunda, Sultan maulana Yusuf setidaknya mengincar 2pusaka kerajaan Pajajaran yang menjadi simbol  menjadi penguasa di tanah Sunda tersebut, yaitu Mahkota kerajaan yang terkenal dengan nama Sang Binokasih, dan tempat penisbatan raja raja Sunda yang dikenal dengan nama Palangka Sriman Sri Wacana.
Setelah ibukota pakuan dapat ditaklukan pada tahun 1579 M, Sultan Maulana Yusuf hanya bisa memboyong tempat penisbahan raja raja palangka Sriman Sriwacana, sedangkan Mahkota sang Binokasih diselamatkan oleh 4 Senopati utama kerajaan Pajajaran yang disebut Kandaga Lante untuk diserahkan kepada Prabu Geusan Ulun di kerajaan umedang Larang. Ke-4 kandaga Lante tersebut adalah: Jaya perkosa (Sanghiyang Hawu ), Batara Adipati Wiradijaya (Nangganan), Sanghiyang Kondanghapa dan Batara Pencar Buang (Embah Terong peot).
Ke-4 Kandaga lante berhasil menyelamatkan atribut pakaian kebesaran maharaja Sunda, yang terdri dari: mahkota emas simbol kekuasaan raja Pakuan,  kalung bersusun 2 dan 3, serta perhiasan lainnya, seperti benten, siger, tampekan dan kilat bahu. Atribut-atribut  kebeesaaran tersebut kemudian diserahkan kepada raden Angkawijaya, putra Ratu Inten Dewata (1530-1579 M) yang kemudian naik tahta Sumedang larang dengan gelar Prabu Geusan Ulun (mp. 1579-1601 M).
Karena sikapnya yang tidak kompromis dari Sultan maualan Yusuf, para bangsawan Pajajaran yang masih tersisa seolah enggan untuk menyeerah, dan menyerahkan lambang kebesaran kerajaan Sunda tersebut kepada Sultan maulana Yusuf tersebut. Karena itu mereka kemudian mencari sosok dari turunan raja raja Sunda yng masih eksis di bekas kerajaan Pajajaran. Kerajaan galuh yang berhak atas tahta tersebut, telah kehilangan tahtanya sejak ahun 1530 M, sejak kekalahannya dari penguasaCirebon. Dan hanya 1 turunan raja raja Sunda tempo dulu yang masih eksis dan independen, meskipun secara agama ia telah menganut agamaIslam, yaitu Pangeran Angkawijaya di kerajaan Sumedang larang.
Tahun penaklukan ibukota Pajajaran hampir sama dengan meninggalnya penguasa Sumedang larang, pangeran Santri. Sehingga tahta Sumedang secara otomatis jatuh kepada Pangeran Angkawiajaya, yang bergelar Prabu Geusan Ulun. Meskipun ibukota Pakuan dapat ditaklukan oleh Sultan Maulana yusuf, tidak berarti seluruh kekuasaan Pajajaran jatuh padanya. Bahkan karena mahkota kerajaan Jatuh tangan Prabu Geusan Ulun, maka kekuasaan Pajajaran yang tidak dikuasai oleh kesultanan Cirebon dan juga Banten menjadi milik kekuasaan Sumedang Larang.
C. MENJADI RAJA SUMEDANG LARANG DAN PEWARIS TAHTA PAJAJARAN

1. Menjadi raja kerajaan Sumedang Larang.
Sebelum Pangeran Santri, ayah Prabu Geusan Ulun meninggal pada 2 Oktober 1579 M. Pada tanggal 22 April 1578 M, pada hari jum’at bertepatan dengan hari idul fitri di keraton Kutamaya Pangera santri kedatangan 4 Kandaga Lante dari Pajajaran yang dipimpin oleh Sanghiyang Hawu atau Jaya Perkosa. Dan ketiganya lagi adalah: Batara Dipati Wiradijaya (Nangganan), Sanghiyang Kondang hapa, dan batara Pancar buana (bah Terong peot). Mereka membawa atribut lambang kekuasaan Pajajaran, berupa mahkota Binokasih dan lainnya, untuk dipersembahkan kepada putra mahkota Sumedang Larang, Prabu Geusan Ulun, sebagai lambang pewaris kerajaan Pajajaran.
Dan tidak lama setelah peristiwa itu, Pangeran Santri meninggal pada 2 Oktober 1579 M. Dan secara otomatis Pangeran Angkawirya dinobatkan sebagai raja menggantikan ayahnya,dengan gelar Prabu Geusan Ulun. Dengan demikian ia kemudia memeiliki keabsahaan sebagai penguasa Sumedang larang dan juga mewarisi wilyah eks pajajaran yang tidakk dikuasai oleh Banten dan Cirebon.
Jaya Perkosa amerupakan seorang senopatii kerajaan Pajajaran. Batara Wiradijaya atau sekarang disebut dengan Mbah Nangganan, dimasa pajajaran menjabat sebagai Nangganan.  Batara

a.. Konstalasi Politik Bekas kerajaan Demak Setelah Sultan Trenggana Meninggal
Setelah Sultan Trenggono meninggal pada tahun 1546 M,  kerajaan Demak berada diambang kehancuran. Pengganti Sultan Trenggono,  putranya yang bernama Sunan Prawoto terbunuh pada tahun 1549 M dalam perang melawan Arya Penangsang (sepupu Prawoto) yang menjabat Bupati Jipang. Arya Penangsang menganggap bahwa dirinya yang berhak menjadi sultan menggantikan Sultan trenggono.   Hadiwijaya atau Joko Tingkir yang merupakan menantu Sultan Trenggono jaga menganggap dirinya berhak menjadi raja Demak, karena ia merupakan menantu Sang raja, dan hal ini mendapat dukungan dari Ratu kalinyamat (bupati Jepara) yang juga merupakan adik Prawoto. Hadiwijaya kemudian mengadakan Sayembara, bahwa yang dapat mengalahkan Arya penangsang, akan mendapat wilayah Pati dan Mataram. Dan sayembara ini diikuti oleh  Ki ageng pamanahan dan Ki Penjawi. Dan Arya Penangsang dapat dikalahkan. Karena jasanya tersebut, kemudian Ki Ageng Pamanahan mendapat tanah di mataram, sedang KiPenjawi mendapat tanah di Pati.
Setelah menjadi raja, Hadiwijaya kemudian memindahkan ibukotanya dari Demak ke Pajang. Setelah hadiwijaya meninggal tahun 1582 M, terjadi perebutan kekuasaan antara putra bungsu hadiwijaya yang bernama Pangeran benawa, dan menantunya (suami anak pertama sang raja) yang bernama Arya Pengiri, yang merupakan putra dari Sunan Prawoto. Dengan dukungan panembahan Kudus, dan juga perkawinan anaknya, ratu Harisbaya  dengan Sultan Cirebon, akhirnya Arya Pengiri naik tahta menjadi raja pada tahun 1583 M.  Pada awalnya sultan Cirebon, panembahan ratu mendukung Pangeran Benawa, tetapi karena perkawinan dengan anaknya, akhirnya panembahan Ratu mendukung Arya Pangiri. Tetapi pada tahun 1586M, Pangeran Benawa dengan bantuan Sutawijaya dari mataram memberontak terhadap Arya pangiri, dan arya pangiri dapat dikalahkan. Pada tahun itu juga akhirnya pangeran benawa menjadi raja Pajang yang ketiga hingga tahun 1587 M. Setelah itu Pajang menjadi bawahan sutawijaya dari mataram.

b.. Berkunjung Ke Demak dan Pajang
Setelah Prabu Geusan Ulun berkuasa pada tahun 1579 M, tidak lama setelah itu, ia melakukan kunjungan ke Demak dan Pajang. Waktu itu kekuasaan Islam di jawa berpusat di Pajang dengan rajannya, Hadiwijaya atau Joko Tingkir.
Prabu Geusan Ulun merupakan turunan bangsawan islam yang disegani. Ia berkunjung ke Pajang kemungkinan besar untuk mempelajari agama dan sistem pemerintahan di negeri itu. . Disini ia berjumpa dengan Ratu Harisbaya, dan kemungkinan sudah ada benang cinta diantara mereka berdua.
Tetapi setelah Joko Tingkir meninggal pada tahun 1582 M, terjadi perebutan kekuasaan. Sebagian ulama dan pembesar ada yang mendukung suami anak pertama raja yang bernama Arya Pangiri, yang juga anak dari Sunan Prawoto. Dan ada pula yang mendukung anak bungsu Joko Tingkir yang bernama pangeran Benawa. Dan salah satu yang mendukung Pangeran Benawa adalah Panembahan Ratu yang merupakan sultan Cirebon. Untuk mendapat dukungan panembahan ratu, akhirnya Arya pangiri menikahkan anaknya, yang bernama Ratu Harisbaya dengan Panembahan ratu.
Ratu Harisbaya terkenal akan kecantikannya. Ia merupakan putri Pajang  berdarah Madura.. Latar belakang Arya Pangiri menjodohkan anaknya, ratu Harisbaya, dengan Panembahan Ratu, penguasa Cirebon, agar Panembahan Ratu bersifat netral. Karena setelah raja Pajang atau  Hadiwijaya (Joko Tingkir),  meninggal terjadi perebutan kekuasaan di keraton Pajang, yang didukung oleh Panembahan Ratu, yang menghendaki yang menggantikan Hadiwijaya adalah Pangeran Banowo putra bungsunya. Tetapi dipihak turunan  keluarga Sultan Trenggono di Demak menghendaki Arya Pangiri putra Sunan Prawoto, dan merupakan menantu Hadiwijaya. Karena itu kenetralan Panembahan Ratu, akhirnya Arya pangiri kemudian yang menjadi penguasa Pajang berikutnya.
Setelah kunjungan selesai, akhirnya Prabu Geusan Ulun meninggalkan Pajang, dan singgah di keraton kesultanan Cirebon, dan disambut  oleh panembahan Ratu, penguasa Cirebon, yang secara silsilah masih paman.
Di keraton Cirebon, iaberjumpa kembali dengan Ratu harisbaya. Ratu harisbaya memintanya  untuk membawanya ke Sumedang. Hal ini ditolak oleh Prabu Geusan Ulun, karena akan merusak kekerabatannya dengan Sultan Cirebon tersebut. Tetapi ketika rombongan raja Prabu Geusan Ulun meninggalkan Cirebon, Ratu Harisbaya, mengikutinya. Dan ketika di perjalanan diketahui, bahwa Sang ratu ikut dalam rombongan, dan ia disuruh kembali, ia mengancam akan bunuh diri. Dilema bagi sang Prabu, yang akhirnya membawanya ke Sumedang.
Mengetahui istrinya ikut dalam rombongan Prabu Geusan Ulun. Maka Sultan Cirebon marah besar, maka terjadi perselisihan antara kedua kerajaan tersebut. Panembahan Ratu memintanya untuk mengembalikan Ratu Harisbaya tersebut, sehingga ia mempersiapkan tentaranya untuk mengejar rombongan kerajaan Sumedang. Tetapi tentaranya itu dapat dipukul mundur oleh pasukan Sumedang.
Peristiwa Ratu harisbaya ini memancing peperangan antar kedua kerajaaan tersebut. Dan untuk antispasi keamanan, maka ibukota kerajaan kemudian dipindahkan ke daerah yang lebih tinggi di Dayeuh Luhur.
Dengan mediasi kerajan mataram, akhirnya disepakati bahwa Panembahan Ratu akan menceraikan Ratu Harisbaya, dengan syarat Talak, bahwa wilayah Sindangkasih  (Majalengka sekarang) harus diberikan ke Cirebon.

c. Kemarahan Jaya Perkosa
Ketika ada mediasi antara Prabu Geusan Ulun dengan Panembahan ratu dari Cirebon, dengan memberikan talak berupamenyerahkan wilayah Sindangkasih (majalengka sekarang) membuat Jaya perkosa marah besar.
Jaya Perkosa melihat bahwa Cirebon waktu itu merupakan negara terlemah di bekas kerajaan pajajaran. Karena itu ia kemudian berencana untuk menguasai kembali wilayah Cirebon jika terjadi peperangan besar antara Sumedang Larang dan kerajaan Cirebon. Karena kekusaan baik kesltanan Pajang atau kesultanan banten sedang berada dalamperpecahan intern.
Dia termasuk seorang mantan pembesar pajajaran  yang idealis. Dengan peristiwaHarisbaya seolah menjadikan awal dalam upaya upaya tersebut.  Setidaknya dengan peristiwaHarisbaya dapatmempermalukan kesultanan Cirebon. Sehingga kemungkinan mereka akan menyerang ke Sumedang. Dan jika menyerang ada kemungkinan pasukanannya dapat dikalahkan.
Tetapi dengan pemberian talak wilayah Sindangkasih (Majalengka) kepada Cirebon, seolah perjuangannya  memberikan mahkota ke Prabu Geusan Ulun sia sia. Karean ia sekuat tenaga mempertahankan wilayahnya, meskipun sejengkal ia pertahankan. Tetapi hanya karena peristiwa wanita, seolah segala usahanya dianggap sia sia.  Karena itu setelah itu ia bersumpah untuk tidak lagi mengabdi kepada penguasa setelahnya.

2.  Daerah Kekuasaan Prabu Geusan Ulun
Setelah mewarisi mahkota kerajaan Pajajaran yang dibawa oleh 4 Kandaga Lante Pajajaran. Maka secara otomatis kekuasaan Sumedang Larang meewarisi seluruh kekuasaan Pajajaran yang tidak dikuasai oleh Kesultanan Cirebon dan juga kesulatanan Banten. Dan menurut babad, daerah kekuasaannya meliputi di sebelah timur dibatasi oleh sungai Cipamali. Disebelah barat dibatasi oleh Sungai Cisadane. Dan sebelah utara (Bekasi, karawang,Bogor, Sukabumi, Cianjur, Subang, Bandung dan Indramayu) dan selatan (Tasikmalaya, Sukabumi,Garut, Ciamis) dibatasi oleh laut. Kekuasannya di timur hingga Cilacap, Purwekerto, Purbalingga dan lain sebagainya.
Karena berbagai hal kekuasaan Prabu GeusanUlun lama kelamaan menyempit hanya meliputi: kabupaten Sumedang, garut, tasikmalaya dan bandung.  Hal ini disebabkan  diantaranya perselisihan antara kesultanan Cirebon dengan Sumedang larangkarena peristiwa Putri Harisbaya yang kemudian jadi istrinya. Dimana Sumedang larang harus rela menyerahkan wilayah Majalengka ke kesultanan Cirebon.
Dan diakhir  kekuasannya, ia berkuasa di 40 penguasa daerah parahiyangan, yang terdiri diantaranya: 22 Kandaga Lante dan 18 Umbul. Hal ini berdasar dari Surat Rangga Gempol III (Pangeran Panembahan Kusumah Dinata VI), bupati Sumedang waktu itu, yang dikirimkan kepada penguasa VOC Belanda di Batavia, Gubernur Jendral Willem Van Outhoorn. Surat itu dibuat pada hari senin, 2 Rabi’ul Awal tahun Je atau 4 Deseember 1690 M, yang dimuat dalam buku harian VOC di Batavia tanggal 31 januari 1691 M. Dalam surat tersebut, Rangga gempol II menuntut agar kekuasaanya dipulihkan kembali seperti kekuasaan buyutnya yang meliputi 44 penguasadaerah parahiyangan.
Ke-44 daerah kekuasaan Prabu Geusan Ulun di akhir kekuasaannya tersebut, adalah:
..Di Kabupaten Bandung
Tibanganten
Batulayang
Kahuripan
Tarogong
Curug Agung
Ukur
Marunjung
Daerah Ngabai Astramanggala
Kabupaten Parakanmuncang
Selacau
Daerah Ngabai Cucuk
Manabaya
Kadungora
Kandangwesi (bungbulang)
Galunggung (Singaparna)
Sindangkasih
Cihaur
Taraju
Kabupaten Sukapura
Karang
Parung
Panembong
Batuwangi
Saung Watang (Mangunreja)
Daerah Ngabai Indawangsa di Taraju
Suci
Cipiniha
Mandala
Nagara (Pameungpeuk)
Cidamar
Parakan Tiga
Muara
Cisalak
Sukakerta

(lanjut......)
(By: Adeng Lukmantara, dari berbagai Sumber di Internet)

Rabu, 13 Juli 2016

THE SUNDA LAND PARK: PERLU ADANYA MINIATUR DESTINASI WISATA BUDAYA SUNDA

Tatar sunda sering disebut dengan nama Parahiyangan, tempat para rahiyang, yang datang dari nirwana / surga. Tanahnya  juga seolah tanah surga, yang mempunyai keindahan yang luar biasa, disamping kesuburan tanah dan kekayaan alamnya. Bagaikan surga sehingga kemudian menjadi destinasi / tujuan para pencari nafkah dari berbagai daerah. Meskipun hingga kini tanah bagai surga yang begitu indah ini belum dioptimalkan untuk tujuan /destinasi wisata yang utama.
Tidak seperti halnya pulau Bali yang bisa memangoftimalkan alamnya untuk tujuan wisata, sehingga pulau Bali bisa dianggap sebagai destinasi wisata nomor 1 di Indonesia.  Meskipun mungkin potensi secara keseluruhan di tatar sunda sebenarnya lebih menjanjikan.
Wisata alam masih menjadi nomor satu untuk destinasi wisata di tanah sunda. Setidaknya ada 5 daerah yang menjadi tujuan wisata di tatar sunda yang berkaitan dengan potensi alam ini, yaitu Bogor, Bandung, Garut, Pangandaran dan Pelabuhan Ratu.  Kedekatan Bogor dengan Jakarta yang merupakan ibukota di Indonesia, menjadikan daerah ini menjadi daerah tujuan wisata untuk daerah ibukota Jakarta dan sekitarnya. Dan dengan adanyanya jalan tol Cipularang yang mempersingkat perjalanan dari Jakarta ke Bandung, kota ini (Bandung)  juga telah menjadi tujuan utama liburan bagi sebagaian orang ibukota dan sekitarnya. Meskipun secara tradisi daerah  Bandung telah menjadi daerah wisata sejak dulu. Dan sekarang Garut juga  telah menjadi tempat wisata alternatif yang menjanjikan. Sedang Pangandaran dan juga Pelabuhan Ratu di Sukabumi juga telah menjadi destinasi wisata pantai sejak dulu.
Seolah belum begitu maksimal, untuk mengoptimalkan daerah tujuan wisata di tatar sunda, harusnya pemerintah daerah Jawa barat dan juga banten memetakan potensi wisata sesuai dengan potensinya. Perlu adanya zona zona wisata yang  nantinya diharapkan  akan menjadi destinasi wisata wisata alternatif. Setidaknya perlu di buat zona zona untuk mengoptimalkan destinasi wisata di tatar sunda. Jika diutara ada zona segitiga Bogor, Cianjur dan Sukabumi, yang secara alam mempunyai potensi yang sama untuk dikembangkan lebih optimal, baik dalam wisata alam atau wisata yang termodernkan. Zona Bandung mempunyai potensi banyak alternatif dan lebih mandiri untuk dikembangkan. Zona ini meliputi zona Bandung Subang, dimana  setidaknya mempunyai 3 obyek wisata utama, yaitu Lembang, Tangkuban Parahu dan Ciater. Untuk di pusat Bandung sendiri sebanernya daerah ini cukup mandiri. Setidaknya ada 3 produk yang bisa dimaksimalkan, yaitu:pusat mode, pusat kuliner dan juga pusat edukatif. Sedang untuk Bandung selatan, potensi alam cukup menjanjikan. Dan ada segitiga Bandung-Garut- Sumedang yang mungkin ke depannya juga sangat menjanjikan..
Disamping zona zona di atas, ada   zona Trans Selatan yang bisa dianggap sebagai surga wisata pantai yang belum dioptimalkan. Zona antara Pantai Pangandaran dan Pantai pelabuhan ratu, yang mungkin bisa dijadikan destinasi wisata baru selain kedua daerah ini.  Pantainya yang indah di selatan seolah kita telah menyianyiakan indahnya surga yang memang disediakan untuk dimamfaatkan secara optimal. Dan dengan akan berdirinya bandara international di Majalengka. Kemungkina besar ada zona baru wisata yang menjanjikan, seperti mungkin segitiga Majalengka, Sumedang dan Garut. Atau Majalengka  Cirebon dan Subang dan lain lain.
Semua hal diatas kita masih bicara destinasi wisata alam, baik pantai, air panas, keindahan alam, air terjun dan sebagainya. Disamping harus mengoptimalkan potensi alam untuk destinasi wisata. kita juga perlu memikirkan kemungkinan adanya wisata miniatur Budaya Sunda, yang belum digarap sama sekali. Padahal hal ini mungkin sangat menjanjikan, baik untuk edukatif maupun sarana wisata secara keseluruhan. Sehingga kemungkinan ada dua sasaran yang bisa dibidik, berupa mengenalkan budaya sunda secara utuh, baik untuk masyarakat sunda sendiri atau masyarakat lainnya dan juga sarana untuk liburan (wisata).
Jika di Jawa Timur ada Jatim Park 1 dan Jatim Park II. Mungkin yang cocok nama untuk obyek wisata seperti ini bisa dinama Pasundan park atau The Sunda Land Park. Karena nama Jabar Park, sepertinya kurang begitu membumi. Seperti Jatim Park di Batu-Malang Jawa timur, yang mempunyai 4 wahana, yaitu wahana edukasi, wahana anak, whana keluarga dan wahana ekstrim, The Sunda Land Park juga bisa mengadopsi seperti itu.  Dan  mungkin  lokasi  yang cocok untuk destinasi wisata ini diantara zona  segitiga Bandung -Sumedang- Garut. Karena zona tersebut bisa diakses dimana mana di daerah jawa barat.
Jika kita pernah ke Bali, mungkin kita akan melihat secara visual tentang masyarakat Bali. Secara visual kita bisa melihat bahwa seungguhnya masyarakat Bali bukan termasuk masyarakat yang modern. Karena secara keseluruhan sangat jarang ada industri di Bali atau bahkan tidak ada, dan mungkin lebih bisa disebut sebagai masyarakat tradisioanal.  Justru karena masyarakat Bali telah mempertahankan tradisionalisme dan juga mengoptimalkan potensi alam menjadi destinasi wisata, sehingga Bali telah berubah menjadi destiinasi wisata nomor 1 di indonesia..  

The Sunda Land Park
Tradisionalisme sunda, yang meliputi sejarah budaya dan hasil kebudayaan sunda, seakan belum  dijadikan sebagai suatu potensi wisata garapan.  Kita kebanyakan masih berbicara parsial  atau sebagian sebagian dari obyek wisata alam dan juga hiburan dan belum menyentuh secara global membicarakan warisan budaya sunda secara keseluruhan dan integral. Sehingga seolah cara berpikirpun masih berjalan sebagian sebagian, belum membentuk sebagai kekuatan atau potensi yang menjanjikan. Karena seolah belum banyak dibicarakan atapun sudah dibicarakanpun baru pada tahap tahap pengenalan. Seolah tidak ada upaya untuk menjadikan formula awal untuk menata peradaban ke depan. Karena mengenal saja belum, jangan harap mau berpikir jauh ke depan. karena angan angan atau cita cita yang tidak ada,. Jangankan  berpikir demikian untuk orang awam, untuk kaum intelekpun jauh daripada keinginan seperti hal terebut.
Jadi mungkin banyak yang belum berpikir untuk membangun suatu miniatur peradaban sunda secara global. Sehingga nantinya akan memberikan pandangan yang menyeluruh tentang budaya sunda, potensi dan upaya upaya untuk mengembangkannya ke depan. Karena itu miniatur peradaban sunda dalam bentuk visulaisasi, yang mungkin lebih cocok dinamakan The sunda Land park merupakan suatu kebutuhan yang sangat mendesak. Hal ini untuk menjadikan bahwa wilayah sunda nantinya akan mempunyai peluang besar untuk menjadi destinasi wisata nomor satu di negeri ini.
Seperti halnya Jatim Park yang ada di jawa timur, The Sunda Land park harus mencakup setidaknya 4 wahana wisata dalam satu kesatuan, yaitu: yang pertama merupakan wisata edukasi yang meliputi perkembangan peradaban sunda dari masa ke masa, menyangkut potensi ke depan. Yang kedua berupa wahana anak anak, yang ketiga berupa whana keluarga dan yang keempat berupa wahana ekstrim. Wahana yang kedua sampai keempat merupakan wahana hiburan. Karena hakekat wisata disamping mendapat ilmu, tujuan utamannya sebenarnya untuk hiburan, terutama hiburan keluarga dan juga hiburan yang menyangkut tantangan. Tokoh tokoh Si Kabayan, Si Cepot, Gareng, Dewala atau Semar dengan latar Jurasic atau kendaraaan  bisa menjadi latar luar dari The Sunda Land Park.
Sejak lama penulis memang sudah membayangkan The Sunda land park ini menyangkut 4 wahana tersebut. Dan yang pertama tema tentang pengenalan peradaban sunda menjadi hal yang mungkin menarik. Jika masuk ruangan pertama, mungkin yang akan di sajikan tentang apa itu Sunda Land atau tanah Sunda. Jika kita mempelajari Geografi atau ilmu bumi tempo dulu, sebenarnya indonesia purba merupakan bagian dari apa yang dinamakan Sunda Land yang meliputi Semenajung Malaya, Sumatra, jawa dan Kalimantan. Dan ada juga daerah Sahul, yang terdiri dari benua Australia dan Irian. Sedang kepulawauan sulawesi dan Maluku dan bali merupakan pemisah kedua daerah tersebut. Dan dimungkinkan juga ditampilkan tentang teori teori Sunda land yang dikembangkan oleh para ilmuwan mutakhir.
Setelah itu kemudian memasuki  lokasi yang menceritakan tentang peradaban di tanah sunda, yang meliputi pengungkapan terhadap Sejarah kerajaan Salakanagara, sejarah kerajaan Tarumanagara, sejarah Sunda dan Galuh, sejarah era Pajajaran, dan sejarah sejarah kerajaan negara bagian, seperti Medang kahiyangan (Sumedang larang), Indraprahasta, panjalu, Taslaga dan lain lain. Dan kemudian  sejarah perkembangan kerajaan Islam, dengan berdirinya kerahjaan Cirebon, banten dan penaklukan negeri negeri Pajajaran, hingga runtuhnya. Dan lebih menarik lagi nantinya mungkin ditengahnya perlu ditampilkan duplikat mahkota raja terakhir Pajajaran yang disebut mahkota Binokasih, Batu tempat penisbatan raja raja, duplikat Prsasti prasasti, silsilah raja raja dan lain sebagainya. Dan juga dimungkinkan untuk diceritakan tokoh tokoh penguasa utama seperti Purnawarman, atau Sonjaya dan lain sebagainya. Atau bahkan cerita Sangkuriang yang terkenal. dan khusus untuk Sonjaya mungkin bisa ditampilkan juga prasasti prasasti yang ada di jawa tengah yang menceritakan tentangnya. Cerita Ciung wanara juga mungkin bisa ditampilkan. Dan juga kisah Raden Wijaya yang merupakan keturunan sunda bisa diungkapkan juga disini. Termasuk juga raja Aswawarman dari Kutai, yang juga merupakan turunan dari tanah sunda ini (salakanagara).
Setelah itu dimungkinkan untuk masuk lokasi yang menceritakan tentang penguasa dan perannya setelah era kerajaan hingga sekarang untuk tiap daerah. Setelah itu kemudian memasuki lokasi yang menceritakan dan isi  karya karya intelektual kuno seperti: Naskah Bujangga Manik, Carita Parahiyangan, Naskah Wangsakerta, Amanat Galunggung, dan naskah naskah lainnya. Dan dimungkinkan masyarakat sunda akan terbuka dengan hasil kebudayaannya. Kalau diperlukan dibuat duplikatnya, yang agak mirip. Dan kalau dimungkinkan di ruiangan ini juga ditampilkan karya karya intelektual lainnya,seperti Kujang dan lain sebagainya.
Setelah itu kemudian memasuki lokasi yang menceritakan tentang tokoh tokoh dalam perjuangan, intelektual dan kaum agama,disamping menceritakan tentang peran, dasar pemikiran dan juga karya-karyanya.Hal ini untuk mebangkitkan intelektualitas dari para pengunjungnya. setelah itu kemudian measuki lokasi yang mebicarakan hasil budaya dari masyarakat sunda. Misal:Gamelan,macam macam wayang golek, angklung, calung, kuda renggong dan lain sebagainya, berupa hasil karya seni dan budaya masyarakat sunda.
Setelah itu memasuki ruangan yang mennceritakan tentang daerah daerah di tatar sunda, seperti: bandung, Sumedang, banten, cirebon, bogor, jakarta dan lain sebagainya. yang menyangkut sejarah, geografi, perguruan tinggi yang ada di daerah itu, tempat wisata, peta, silsilah penguasa dan lain sebagainya. sehingga akan membantu bagi para pencari data. dan di luarnya mungkin bisa ditampilkan duplikat semacam Kuda renggong yang merupakan ciri khas sumedang, atau Ondel ondel yang merupakan ciri khas jakarta. dan dimungkinkan juga menampilkan daerah daerah di luar jawa barat, jakarta dan banten yang menggunakan bahasa sunda atau dulunya merupakan bagian dari kerajaan galuh/ sunda seperti daerah berbahasa banyumasan.
Setelah itu dimungkinkan untuk lokasi tentang pengenalan tenang teori teori tetang tekhnologi dasar,  seperti hukum Newton, hukum Bernaulai dan lain sebagainya hingga teori teori tentang tekhnologi tentang pesawat terbang, perkapalan, perkereta apian dan lain sebagainya. Dan juga mungkin bisa diungkapkan sejarah tentang industri pesawat terbang (PT DI), dan duplikat duplikat hasil karyanya, dan hasil rancangannyanya yang tidak sempat dibuat. Perkmabangan tekhnologi militer, industri antaraiksa, nuklir dan industri lainnya, yang memungkinkan bisa membangkitkan idelaisme bagi para pengunjungnya.
Setelah itu kemudian memasuki area terbuka, yang pertama mungkin memasuki duplikat duplikas dari prasasti prasasti, baik yang ada di era tarumanagara, Sunda dan lain sebagainya, candi candi (seperti Candi cangkuang, candi Batujaya dan candi Cibuaya). Untuk candi mungkin miniatur, tetapi untuk prasasti, mungkin harusnya dibuat seperti aslinya. Dan juga mungkin juga miniatur seperti Gunung Padang.  Miniatur  gedung gedung dan istana, seperti istana Cirebon, istana banten, dan dimungkinkan duplikat istana Pajajaran yang dibuat oleh Prabu Susuk Tunggal, dan lain sebagainya. dan juga bisa ditampilkan miniatur gedung gedung era modern, seperti gedung sate, masjid masjid dan gedung gedung  bersejarah lainnya yang ada di tatar sunda.
Setelah itu mungkin arena perjuangan merebut kemerdekaan, dan lain sebagainya.Peristiwa proklamasi, perjanjian Linggarjati, dan perjanjian lainnya.  Juga mungkin bisa diceritakan juga tentang perang di Bekasi, bandung lautan api dan sebagainya
Dan setelah itu memasuki area / wahana untuk keluarga, seperti kolam renang untuk berbagai usia, dan juga area bermain anak anak, atau area bermain yang menyukai tantangan. Dan juga dilengkapi dengan restoran berbagai macam kuliner sunda, dengan desain untuk santai.
dan mungkin untuk menambah suasana yang lebih menarik lagi disertakan juga aquarium berbagai macam ikan, baik ikan air tawar maupun ikan air laut. Dan juga mungkin juga di tambah juga liokasi berbagai burung atau primata, meskipun tidak komplit. Atau hal mengenai binatang dan plora di buat semacam The SundaLand Park II misalnya.

Penutup
Visualisasi budaya itu sangat penting, untuk memudahkan dalam memahami hal hal yang berbau teoritis dalam dunia nyata. Dan hal ini akan lebih mudah dicerna oleh berbagai kalangan, terutama oleh orang awam (orang biasa).
Disamping itu visualisasi budaya akan mendapat respon yang cepat bagi para pengunjungnya, sehingga akan membangkitkan respon kebanggan, yang nantinya akan lebih mencintai budayanya sendiri.
The Sunda Land Park hanyalah khayalan dari penulis, yang dimungkinkan ada orang sunda kaya yang idealis yang dapat merealisasikan hal tersebut diatas. karena mungkin hingga kini belum ada, mudah mudahan ke depannya banyak generasi muda yang idealis.
Kebanyakan dari generasi kita adalah generasi ngarasula, yaitu generasi yang selalu mengeluh. karena itu meskipun kaya pun seolah menampilkan sebagai orang miskin, yang seolah selalu kekurangan, padahal kaya. dan akhirnya jangankan berpikir idealis, untuk kepentingan diri dan keluarganyapun pelitnya minta ampun. Apalagi berbicara atau memajukan budayanya sendiri, mungkin jauh dari angan angannya. Sehingga jangankan menjadi bangsa yang superior, yang memimpin, malah terjebak menjadi bangsa pengekor alias ngabuntut munding. Jadi jangankan menjadi bangsa pribumi di daerahnya sendiri,malah nantinya mungkin gnerasi seperti inia akan menjadi bangsalain di daerahnya sendiri
Mudah mudahan generasi urang sunda ke depan muncul generasi idealis, yang bisa menyisihkan sebagian kekayaannya untuk idelisme bangsanya. Kita kaya dan memang kaya, dan harus kaya. Miskin sekarang bukanlah takdir kita sepanjang kita berusaha untuk merubahnya. Kemauan kita sekarang meskipun belum terlaksana bukan berarti kita brehenti mengusahakannya. Sepanjang kemauan ada, pasti segala sesuatu terlaksana. Jadi kemiskinan dan kesusahan bukan untuk diekpoitasi. Apalagi jika orang lain sudah menganggap kita kaya,
Banyak orang sunda yang kaya, banyak orang sunda yang pinter, banyak arsitek orang sunda lulusan perguruan tinggi yang hebat di indonesia atau lulusan luar negeri dan lain sebagainya. banyak mahasiswa arsitek, sipil, ahli informatika dan  jurusan  lainnya dari dari perguruan tinggi yang hebat. Masa dari sekian tidak ada yang idealis. Masa tidak ada yang menyisihkan  sedikit waktunya untuk berkumpul memikirkan sesuatu yang idealis.
Yah mudah mudahan ke depannya muncul generasi generasi idealis yang tidak hanya memikirkan dirinya sendiri.

(By Adeng Lukmantara, Peminat Studi Peradaban Sunda dan Islam)

Rabu, 18 Mei 2016

SPIRIT URANG SUNDA



NYUNDA, NYANTRI, NYAKOLA

Kata Pengantar
Bab I      Pendahuluan
Bab II     Nyunda
Bab II     Nyantri
Bab IV    Nyakola
Bab V     Mengenal Sejarah Sunda
Bab VI    Islam di Tanah Sunda
Bab VII   Mengenal Sejarah Ilmu Pengetahuan dan Tekhnologi Di tanah Sunda
Bab VIII   Mengenal Produk Hasil Budaya            
Bab IX    Sunda Kiwari Suatu Potensi
Bab X     Penutup


Kata pengantar

Spirit Nyunda, Nyantri dan Nyakola mulai ramai diperbincangkan ketika Walikota Bandung, Ridwan Kamil menulis dalam statusnya di Facebook, yang mengungkapkan nasehat kakeknya, yaitu harus mempertahankan 3 N ( Nyunda, Nyantri dan Nyakola). Padahal spirit Nyunda, Nyantri dan Nyakola ini telah menjadi moto atau spirit dari organisasi Paguyuban Pasundan, yang telah berdiri diawal abad ke-20 M.
Meskipun wacana ini mulai bergaung lagi, tetapi orang masih bingung apa dan harus bagaimana supaya sesuai dengan konsep 3 N tersebut. Apakah istilah sunda itu dicirikan hanya dengan memakai iket dikepala atau memakai pakaian kebaya atau baju komprang.
Dengan demikian melalui tulisan ini semoga membawa mamfaat yang besar. Setidaknya menggali kembali tradisi sunda yang hilang. Karena bagaimanapun, tradisi yang dibangun ratusan tahun  seolah telah terputus dari generasinya yang baru.
Daripada merenungi tidak adanya pemimpin atau minimnya pemimpin  nasional dari dari kalangan  kita seperti yang dikeluhkan oleh orang orang yang prustasi tapi malas, mending kita mempersiapkan diri untuk mencetak, mendidik dan mempersiapkan pemimpin masa depan yang berkualitas
Tulisan ini belum selesai dn masih dalm suatu proses yang panjang. Karena itu ada peibahasa "Tiada gading yang tak retak". Tulisan ini jauh daripada sempurna.  Tetapi, ini merupakan awal dari suatu pencarian, jika tidak dimulai dan oleh siapa. Jadi kapan lagi.

Sebagai orang yang dilahirkan di Sumedang. Saya teringat akan perkataan Prabu Tajimalela selepas dari pertapaannya. Prabu Tajimalelal berkata: “Insun medal insun madangan”. Yang artinya saya dilahirkan saya menerangi / mencerahkan. Jadi intinya kita dilahirkan sebenarnya untuk mencerahkan masyarakat sekitarnya. Dan sebagai seorang muslim kita mengenal tokoh pencerah alam semesta, Nabi Muhammad SAW, pembawa risalah Islam.


BAB I

PENDAHULUAN

Pernyataan Walikota Bandung tentang nasehat kakeknya terhadap dirinya agar tetap mempertahankan spirit orang Sunda dalam menghadapi tantangan ke depan harus tetap berkomitmen terhadap apa yang dikatakan dengan kata 3-N, yang merupakan singkatan dari kata Nyunda, Nyantri, Nyakola.
Nyunda secara global dapat diartikan sebagai suatu istilah untuk menyatakan identitas kesundaan dalam konteks kehidupan, berbudaya, berperilaku dan lainnya, yang merupakan identitas tersendiri dari suatu bangsa. Istilah Nyantri secara umum merupakan suatu istilah bahwa dalam menjalani kehidupan harus tetap dibarengi oleh spirit keagamaan (agama Islam). Islam merupakan identitas urang sunda, karena hampir 100 persen urang Sunda beragama Islam. Sedang Nyakola berarti berwawasan intelektual. Jadi urang Sunda dalam menjalani kehidupannya harus dibarengi dengan semangat ingin belajar dan  memajukan ilmu pengetahuan.

Istilah Nyunda, Nyantri dan Nyakola merupakan suatu proses, karena istilah ketiga tersebut juga adalah suatu proses untuk menjadi orang sunda, yang selalu dibarengi dengan spirit keagamaan dan juga ilmu pengetahuan. Nyunda  berarti suatu proses belajar untuk menjadi orang sunda. Nyantri berarti suatu proses untuk belajar keagamaan dan upaya menjalankan keagamaan dalam konteks kehidupan. Nyakola merupakan suatu proses pembelajaran secara berjenjang, sebagai suatu upaya bahwa segala tindakan dan perilaku kita harus bisa dipertanggung jawabkan secara ilmu pengetahuan, berdasar pengetahuan dan ada pembelajaran untuk generasi berikutnya.

1) Walikota Bandung, Ridwal Kamil telah menggugah nasehat kakeknya dalam statusnya di media sosial Facebook, tentang pentingnya memepertahankan spirit: Nyunda, Nyantri dan Nyakola.
2)Istilah Nyunda, Nyantri dan Nyakola dapat diartikan juga, bahwa  Nyunda adalah suatu identitas bangsa, Nyantri diartikan sebagai religius, dan Nyakola diartikan dalam konteks berwawasan inteltual atau berdasar ilmu pengetahuan. Jadi urang Sunda itu harus punya komitmen kesundaan, yang religius dan berwawasan intelektual.



BAB II

NYUNDA

A.  Nyunda Dalam Suatu Istilah
Nyunda berasal dari kata sunda dengan awalan Ny, yang berarti sesuai dengan Sunda. Jika dikaitkan dengan tingkah laku masyarakatnya, nyunda dapat diartikan bahwa perbuatan atau tingkah laku seseorang atau masyarakat sesuai dengan budaya sunda atau sesuai dengan tradisi sunda. Dan memang istilah nyunda lebih mengarah pada seseorang yang tingkah lakunya sesuai dengan budaya sunda / tradisi sunda.
Ridwan Kamil ketika menjadi walikota Bandung membuat suatu kebijakan yang bernama Rebo Nyunda. Dimana pada hari itu (hari Rabu)  para pegawai negeri sipil diwajibkan memakai pakaian khas Sunda. Disamping sang walikota pada hari itu juga sang walikota mengimbau untuk menggunakan bahasa sunda untuk berkomunikasi dengan orang lain. Rebo nyunda ini mulai diberlakukan pada 6 November 2013. Hal ini merupakan implementasi dari Peraturan Daerah (Perda) kota Bandung  Nomor 9 Tahun 2012 pasal 10 ayat 1b yang menyebutkan bahwa setiap hari Rabu ditetapkan sebagai hari  berbahasa Sunda dalam semua kegiatan Pendidikan,  Pemerintahan dan kemasyarakatan.
Rebo Nyunda ini menurutnya bertujuan untuk melestarikan budaya sunda sebagai salah satu budaya lokal yang berkembang di tatar sunda. Rebo Nyunda ini kemudian dikuti oleh daerah lain,di tatar Sunda seperti Garut, kemudian Bogor yang memberlakukan Rebo nyunda pada November 2014.  Cianjur juga memberlakukan yang sama..
Para pegawai negeri sipil setiaphari rabu diwajibkan memakai atribut kesundaan, dan memakai bahasa sunda dalam beraktifitas dan melyani masyarakat. Atribut yang biasa digunakan oleh laki laki terdiri dari celana hitam dan baju hitam yang dikenal dengan baju kampret. Hal ini mirip dengan pakaian pencak silat, tetapi agak resmi. Dengan kepala memakai iket sepereti para pendekar silat.

B. Nyunda Dalam Suatu Proses
Nyunda disini bukan diartikan sebagai hanya memakai atribut pakaian Sunda dan juga bahasa sunda. Juga lebih dari itu yaitu berusaha mengimplementasikan budaya budaya sunda yang luhur dalam keseharian. Segala pemakaian atribut akan bernilai absurb jika tidak ada upaya untuk memahami kebudayaan dari budaya sunda itu sendiri. Karena itu disamping yang atribut yang nampak, juga harus dibarengi membangkitkan kembali nilai nilai budaya sunda itu sendiri...

Nyunda dalam arti proses berarti suatu upaya pengkajiam yang terus menerus mencari dan meneliti budaya sunda dari masa ke masa, dalam upaya mencari bahan pijakan untuk melangkah ke depan.
Produk budaya sunda dewasa ini dalam arti proses, dianggap bukan sebagai cerminan asli budaya sunda egaliter. Penjajahan ratusan tahun setidaknya telah menghilangkan begitu banyak hasil budaya dari peradaban yang telah dibuat ratusan tahun. Sehingga seolah kiat masih meraba raba, apakah budaya sunda sekarang merupakan cerminan asli budaya sunda yang dibangun oleh nenek moyang kita selama ratusan tahun. Atau merupakan produk budaya bangsa terjajah selama ratusan tahun, sehingga menghilangkan sikap egaliter..

C. Konsep Konsep Sunda Yang Mencerahkan
Seperti yang sudah diungkapkan diatas, bahwa nyunda berasal dari kata Sunda. Sunda  pada awalnya merupakan nama ibukota, tetapi kemudian menjadi nama negara , nama bahasa dan sekarang nama bangsa.
Nenenk moyang urang sunda dalam membangun masyarakatnya  dibangun dalam konsep yang mencerahkan. Dalam peradaban sunda klasik, kita akan menemukan suatu konsep konsep-pencerahan yang sangat menakjubkan, yang justru telah banyak ditinggalkan oleh masyarakat sunda kini.
Masyarakat kita kini telah begitu lama meninggalkan akar budaya, dan terjebak menjadi pengekor yang penurut mengikuti irama kaki-kaki didepannya. Dan  peran sebagai pengekor tetap dinikmati dan dipertahankan. Seolah hidup dibiarkan mengalir tanpa upaya-upaya memamfaatkan potensi yang sebenarnya sangat menjanjikan. Menjadi bangsa pengekor (bangsa buntut) mengikuti doktrin-doktrin yang sebenarnya sangat bertentangan dengan tradisi sunda, karena telah mengalami pembenaran-pembenaran.
Diantara konsep konsep mencerahkan yang telah oleh nenek moyang urang sunda antara lain:

1. Orang Sunda itu tidak Mengenal Konsep"Meneng" (Diam)
Nenek moyang orang sunda ternyata telah memberikan suatu doktrin doktrin yang sangat anti terhadap konsep diam, seperti orang bertapa. Hal ini diungkapkan dalam naskah Carita Parahiyangan. Hal ini diceritakan diawal naskah tersebut yang berkaitan dengan sejarah raja raja di Galuh. dalam naskah tersebut diceritakan seorang resi yang alim, ahli dalam bertapa, tetapi di kritik oleh sepasang  burung yang bernama si Uwur uwur. Ia dikritik oleh betina dari burung itu, yang katanya sang resi hanya diam saja, dan akan celaka jika tidak mempunyai keturunan.
Jadi dalam tradisi sunda kesempurnaan itu bukan di dapat hanya dari bertapa berdiam diri. Tetapi melalui suatu itikad dan usaha dalam kehidupan realitas. Dunia realitas banyak memberi peluang, membangun rumah tangga  untuk mendapatkan keturunan, mencari rizki, dan segala resiko yang harus dihadapi, itu merupakan suatu realitas hidup yang  harus dihadapi. Jadi inti kesmpurnaan orang sunda tidak pernah mengenal kata meneng atau diam atau hanya bertapa. Tetapi yang sempurna adalah orang yang berproses dalam dunia realitas.
Seperti halnya dalam kisah, bahwa nanti anaknya menjadi istri dari Wretikandayun, sang pendiri dari kerajaan Galuh. Dan nantinya melahirkan raja raja besar di tanah sunda, yang bergelar rahiyang. Karena itu justru turunan sang pertapa yang mengambil dunia realitas dan meninggalkan pertapaannya, nantinya melahirkan para rahiyang, raja raja sunda dikemudian hari.

2. Idealisme Penamaan Nama negara, ibukota atau Suatu tempat
a. Sunda
Sunda berarti suci, murni atau puritan. Dalam sejarah nama sunda pertama kali diproklamirkan atau diperkenalkan oleh Maharaja Purnawarman dari Kerajaan Tarumanagara, untuk menamai nama ibukotanya yang baru, Sundapura, yang berarti kota suci (pura yang suci).
Jadi dengan menamai Sunda untuk ibukotanya ini, mungkin purnawarman, ingin membuat identifikasi yang jelas dan tegas tentang orientasinya ke depan, yaitu kesucian, kemurnian atau puritan, atau bisa juga diartikan sebagai golongan putih. Bagaimanapun penamaan mencerminkan suatu idealisme seseorang. Purnawarman adalah seorang maharaja besar, yang banyak membangun pusat-pusat peradaban, membangun sarana-sarana infrastruktur seperti jalan atau waktu itu sungai merupakan saranan lalulintas yang efektif. Maka ia membangun terusan-terusan, irigasi dan lain sebagainya dalam rangka memakmurkan bangsanya, dan itu tercatat dalam sejarah.
Sunda, berarti suci, putih, murni atau puritan merupakan corak yang dicita-citakan Purnawarman. Jadi kemurnian , kesucian atau puritanisme adalah cita-cita yang hendak dibangun oleh pendirinya.

b.  Galuh
Ketika Wretikandayun menjadi pewaris tahta kerajaan Kendan, yang merupakan  negara bagian Tarumanagara, maka ia kemudian membangun sebuah ibukota baru yang akan menjadi pusat pemerintahan, Sang Wretikandayun manamainya dengan nama Galuh. Galuh adalah suatu kata yang berarti permata. Jadi disini Wretikandayun sang pendiri galuh, adalah seorang idealis. Dengan menamainya Galuh mengindikasikan tentang cita-citanya yang luhur yaitu membangun permata, permata kehidupan, permata dunia, sehingga orang selalu akan mengaguminya, atau membangun permata peradaban sehingga akan selalu dikenang oleh generasi berikutnya, karena dia telah meletakan kerangka yang baik, yaitu permata (galuh).
Karena itu tokoh-tokoh Galuh tempo dulu merupakan permata-permata seorang ksatria sunda, seperti Ciung Wanara, Aki Balangantrang, merupakan percik-percik sejarah sunda yang penuh dengan pelajaran tentang ksatria, dan strategi disamping tetap menjunjung tinggi persaudaraan. Tidak hanya itu, cerita Lutung Kasarung juga berlatar sejarah Galuh.

c. Pakuan
Pakuan  berasal dari kata Paku, yang berarti kokoh, berdiri kokoh, anceug, teguh, dan arti yang lain yang berhubungan dengan kekuatan dan keteguhan. Pakuan adalah nama Ibukota kerajaan Sunda, yang sering disambung  dengan nama Pajajaran (karena berjajar). Jika paku berjajar maka akan menjadi kekuatan yang amat kokoh. Nama yang sepadan dengan paku sering juga digunakan sebagai nama raja-raja sunda, seperti Prabu Susuk tunggal. Nama susuk tunggal fungsinya sama dengan paku. Hal ini mengindikasikan bahwa pendiri ibukota Sunda,, adalah seorang idealis yang menginginkan keteguhan dalam prinsip. Sehingga dalam sejarah, kerajaan Sunda adalah kerajaan yang paling teguh dan paling lama berkuasa di tanah jawa, dengan sistem yang paling baik.

d. Sumedang
   Sumedang berasal dari kata 'insun medal insun madangan' (saya dilahirkan saya menerangi), merupakan ungkapan yang sangat mencerahkan, yang dilontarkan oleh Prabu Tajimalela, ketika dia selesai bertapa. Prabu Tajimalela adalah putra Prabu Aji Putih. Prabu Tajimalela ini dianggap sebagai pendiri kerajaan Sumedang Larang yang sebenarnyya.
Pada awalnya Prabu Aji Putih mendapat restu dari Prabu Suryadewata untuk membangun suatu kerajaan keagamaan (kabuyutan) yang ia namai dengan nama Tembong Ageung (kelihatan besar). Prabu Aji Putih merupakan seorang idealis yang menginginkan generasi penerusnya akan menampakan diri menjadi bangsa yang besar, sehingga ia namai tembong ageung (kelihatan besar).
Dan ketika Prabu tajimalela berkuasa, setelah ia kembali dari pertapaanya, dan ia berkata 'insun medal insun madangan' , maka setelah itu nama kerajaan tembong ageung menjadi sumedang larang yang berasal dari "inSUN MEdal insun maDANGan' (saya dilahirkan saya menerangi) yang berarti pula 'saya dilahirkan saya mencerahkan'.
 Dengan demikian Prabu Tajimalela lebih ingiin mengokohkan peranannya dalam kehidupan,(eksistensi sunda dalam kehidupan) bahwa kita dilahirkan mempunyai suatu tugas yang sangat mulia yang itu menerangi atau mencerahkan manusia. Mencerahkan berarti menjadikan agar orang lain itu menjadi manusia2 yang cerdas dan pinter, sehingga dengan kecerdasannya maka akan diraih suatu kemakmuran dan kesejahteraan. Pencerahan juga berarti, jangan membiarkan orang lain hidup dalam kebodohan, hidup dalam kezumudan. Karena kebodohan adalah sumber utama dari segala malapetaka dan kemiskinan.. Ada idiom, orang bodoh pasti miskin....

2. Dari Kosa Kata
a. . Rancage
Dulu orang tua sering mengajari bahwa hidup itu harus rancage. Yang menjadi pertanyaan adalah apa arti 'rancage' itu, sehingga tokoh besar sunda, Ayip Rosidi, menamai piagam atau penghargaan yang bernama "Rancage" bagi orang yang berprestasi dalam hal kebudayaan.
Rancage adalah kosa kata Sunda yang sangat dinamis, yang berarti menuju ke tingkatan yang lebih tinggi (lebih baik). Seperti kita ketahui, dalam proses perjalanan manusia, ada tahapan untuk bisa berdiri tegak, jalan dan lari. Untuk bisa berjalan dikala kecil harus diajari berjalan selangkah demi selangkah, kemudian nantinya bisa berjalan sendiri dan kemudian lari. Contoh lain adalah dalam pencapaian ilmu, untuk menuju ke tahapan yang lebih tinggi, kita harus mengalami tahapan-tahapan pendidikan, dari SD, SMP, SMA dan perguruan tinggi.
Dengan demikian arti rancage disini berarti suatu proses atau tahapan atau upaya-upaya menjadi manusia yang lebih baik, (derajat lebih tinggi) dalam semua aspek kehidupan. Rancage adalah konsep otimistis dan konsep dinamisasi manusia sunda bahwa kita menjalani hidup harus tetap berproses secara bertahap menuju yang lebih baik.
Dan dalam bahasa sehari hari kata rancage sering diidentikan dengan kata "tanginas, rancingeus, cakep, rea kabisa, kreatif", suatu kata yang dinamis yang tidak puas dengan apa yang dicapai sekarang, dan berusaha terus untuk mencapai yang lebih baik.

b. Motekar
Dulu orang tua selalu menasehati “ jadi jeuleuma teh kudu motekar” (jadi orang itu harus motekar. Dalam bahasa sunda motekar berarti “ Ngalampahkeun rupa rupa usaha pikeun nambahan kanyaho atawa  pikeun ngomean nasib” (berusaha dengan berbagai cara / metode untuk menambah ilmu pengetahuan atau mengubah nasib).
Jadi nenek moyang sunda telah memberi gambaran yang jelas tentang suatu usaha atau metode dalam mencapai suatu tujuan itu, tidak hanya dengan satu cara saja, tetapi harus menggunakan berbegai metode atau cara. Tentu hal ini dengan menggunakan cara car yang positip, karena dalam tradisi sunda bentul ideal adalah kebenaran, yang berasal dari kata sunda itu sendiri yang berarti suci atau kesucian.

3. Dari Peribahasa
a. "Lamun hayang ngakeul kudu ngakal"
Dalam konsep Sunda untuk mendapatkan nafkah tidak langsung berkata harus kerja, tapi harus ngakal, yang berarti harus menggunakan akal. Suatu konsep yang intinya bahwa dalam mencari  nafkah harus menggunakan ilmu pengetahuan.
Kerja biasanya diidentikan dengan hanya penggunaan otot  atau fisik. Jadi nenek moyang Sunda tempo dulu mengajarkan kepada generasi sesudahanya agar dalam mencari nafkah itu harus mengedepankan ilmu pengetahuan.
'Lamun hayang ngakeul kudu ngakal" artinya kalau mau 'ngakeul' harus menggunakan akal". Ngakeul adalah proses pasca penanakan nasi yang akan disajikan. Orang sunda tempo dulu (dan hingga kini dikampung) ketika nasi telah selesai ditanak, dan akan disajikan, harus mengalami suatu proses yang disebut ngakeul, yaitu nasi yang sudah mateng dari dandangan diolah supaya 'pulen' dengan menghilangkan unsur-unsur asap dalam nasi, yaitu dimasukan pada suatu tempat yang disebut dulang, dan diaduk-aduk dan dikipasi dengan kipas yang dinamai hihid. Jadi ngakeul adalah proses panca penanakan dan pengolahan nasi agar 'pulen' dalam penghidangan.
Sedang ngakal adalah penggunaan akal. Jadi sebenarnya konsep mencari nafkah yang ingin diajarkan oleh nenek moyang sunda sangatlah ideal, gunakan akalmu. Karena dengan akal banyak sekali cara yang bisa dilakukan, tidak hanya menggunakan otot saja, tetapi melalui metode atau tekhnik yang benar. Buah akal adalah pikiran dan strategi. Dengan menggunakan pikiran dan strategi maka akan mudahlah mencari nafkah.
Nah inilah sebenarnya yang banyak ditinggalkan oleh orang sunda kini. Penjajahan yang lama membuat semua potensi akal tertutupi bahkan ditutupi. Ketakutan yang berlebihan membuat manusia-manusia sunda kurang kreatif. Padahal nenek moyang sunda mengajarkan sangat ideal bagi pencapaian derajat manusia yang sangat mumpuni, tapi sekarang banyak ditinggalkan, karena mencari nafkah cenderung hanya menggunakan otot, dan kebiasaan turun temurun bangsa terjajah, taklid, jumud dan tidak kreatif.
 Jadi intinya, nenek moyang sunda tempo dulu menginginkan generasi berikutnya menjadi manusia-manusia profesional, yang menggunakan akalnya. Profesi itu banyak sekali, bisa sebagai pengajar, bisa sebagai penulis buku, bisa sebagai penyair atau pengarang, tani, dipabrik-pabrik dan lain-lain.
 Jadi sangat sayang dan mungkin sangat kita kasihani jika banyak orang sunda yang mempunyai profesi sebagai buruh kasar, dengan gaji tidak seberapa, dan hak-haknya juga biasanya jarang diperhatikan baik oleh pemerintah maupun pengusaha karena memang mereka lemah dan tidak berdaya. Harusnya hal demikian bagi manusia sunda itu tidak diharapkan oleh para pendirinya, karena sunda sendiri merupakan daerah parahiyangan, yang merupakan turunan-turunan rahiyang. Bukan berarti menjadi buruh tidak boleh, tapi kita harus kasihan,....dan ini merupakan tugas dari para pemimpinnya, meskipun hal yang demikian sangat sulit, dan yang paling mungkin adalah merevolusi diri, jangan biarkan diri berada dalam kebodohan dan selalu mempertahankan kebodohan, konon orang bodaoh itu lebih sombong karena ketidaktahuannya. Karena kebodohan merupakan sumber malapetaka awal manusia. Orang bodoh itu pasti miskin, dan orang miskin belum tentu bodoh.

Perbanyak membaca, perbanyak membaca, cari tahu yang tidak tahu, dan cara-cara lain agar kita meningkat pengetahuannya. Karena dengan pengetahuan adalah kesempatan, kesempatan awal untuk memulai menjadi manusia kompetitor, yang siap memenangkan persaingan. Meskipun persaingan bukan tujuan, tapi di dunia ini akan selalu bersaing, dan dengan pengetahuan kita akan selalu siap bersaing.


BAB III

NYANTRI

A.   Istilah Nyantri Dalam Suatu Definisi
Istilah nyantri dari suku kata asalnya santri. Istilah nyantri dalam suatu definisi berarti sesuai dengan santri. Sedang santri merupakan suatu istilah untuk seseorang yang sedang belajar di pondok pesantren. Dan  Istilah nyantri menurut sejarah adalah sebutan bagi orang orang yang mematuhi atau menjalankan perintah agama Islam. Atau bagi mereka yang tingkah lakunya selalu berdasar kepada agama Islam.
Istilah santri telah menjadi suatu nama julukan dari seorang pemimpin atau raja dari sumedang Larang, yaitu Pangeran Santri. Pangeran santri adalah julukan dari pangeran Kusumah Dinata, yang berasal dari didikan pesantren yang menikah dengan Ratu Pucuk Umun Sumedang Larang. Dari pernikahannya kemudian lahir salah seorang pemimpin besar dari Sumedang Larang yang bernama Prabu Geusan Ulun. Prabu Geusan Ulun inilah dalam sejarah dianggap sebagai penerus Raja Pajajaran yang sudah hancur karena serangan Banten tahun 1579 M.
Prabu Geusan Ulun menjadi raja Pajajaran dengan kekuasaan di  Eks kerajaan pajajaran selain yang dikuasai oleh Cirebon dan Banten, karena dianugrahi mahkota kerajaan Pajajaran yang diselamatkan oleh 4 Kandaga Lante (senopati utama) Pajajaran dari serangan Banten..

B. Mengenal Konsep Sunda Tradisi Dalam Beragama

1.. Konsep Monotheisme dalam Peradaban Sunda
Sebelum agama Islam  masuk ke tanah sunda dengan konsep monotheismenya, menurut para ahli dalam tradisi sunda klasik dalam kebudayaannya juga telah mempunyai konsep monotheisme. Jadi ketika Islam masuk seolah telah dipersiapkan jalan yang begitu lebar untuk menuju sistem monotheisme dalam Islam.
Meskipun dalam sejarah bahwa agama Hindu dan Budha di tanah sunda menjadi agama resmi dan menjadi agama raja raja, tetapi masyarakat umum masih berpegang teguh pada ajarannya. Karena itu konsep dewa dalam tradisi sunda nyaris tidak dikenal. Dan tingkatan kelas kelas kasta yang ada dalam tradisi Hindupun seolah tidak ada bekasnya. Karena kepercayaan terhadap Hindu tidak begitu kuat.
Tentang mengapa dalam tradisi sunda tidak banyak didapati candi candi, meskipun di akhir tahun 1980-an mulai ditemukan candi candi di sekitar Karawang, seperti di Batujaya dan Cibuaya dan merupakan penemuan terbesar Candi candi di abad 20 M.
Sebenarnya bukan tidak ditemukan, tetapi mungkin belum. Hal ini karena mungkin peneyelidikan yang belum maksimal, atau terlalu cepat mengambil kesimpulan karena prustasi. . Dengan penemuan komplek candi batujaya di era tahun 1990-an , yang dianggap merupakan penemuan candi terbesar di zamannya. Hal ini menandai  babak baru anggapan bahwa candi juga ditemukan di  tataran sunda. Tetapi hal ini belum begitu dominan. Karena kebanyakan yang ditemukan di tataran sunda adalah jenis yang berkaitan dengan simbol simbol kepercayaan tradisi  yang dianggap lebih monotheistik.

2. Konsep Demokratis Egaliter
Dalam tradisi sunda dari awal sudah mengakui bahwa manusia itu sederajat. Makanya meskipun raja raja sunda kebanyakan menganut agama Hindu, tetapi konsep kelas kelas / tingkatan tingkatan  kasta yang ada dalam masyarakat Hindu tidak pernah mendapat tempat di tanah sunda ini.
Jadi  orang sunda dalam tradisinya lebih demokratis egaliter. Hal ini sangat berbeda dengan tradisi Jawa yang hierarkis Feodal dengan konsep kaula gustinya.

Dalam sistem pemerintahanpun kerajaan sunda lebih mengarah kepada negara federal. Setiap negara mempunyai kekuasaan masing masing dan bersifat  independen. Tetapi mereka tetap setia menginduk kepada kerajaan Sunda. Hal ini dapat dilihat dari gelar Prabu. Gelar prabu merupakan gelar raja, yang dipakai hampir di tiap kerajaan dibawahnya.



BAB IV

NYAKOLA

A.   Nyakola Dalam Suatu Definisi / Istilah
Nyakola berasal dari kata dasar Sakola (sekolah). Seperti halnya kata nyunda dan nyantri, nyakola berarti seperti orang yang bersekolah.
Sakola adalah nama untuk Sekolah dalam bahasa sunda.  Sedangkan nyakola adalah orang yang bersekolah tetapi dalam arti khusus lebih mengarah kepada seseorang yang tingkah lakunya seperti orang sekolahan atau terpelajar atau intelek, meskipun ia sendiri sekola formilnya rendah. 
Nyakola disini bisa berarti intelek atau berdasar ilmu pengetahuan atau berpendidikan. Dalam istilah sunda ada suatu sindiran “Teu Nyakola pisan jeuleuma teh” atau “Teu nyakola pisan maneh mah”. Yang artinya orang tersebut sangat bodoh atau kurang terpelajar.

B.   Konsep Akal Dalam Tradisi Sunda
Yang paling hebat yang diwariskan oleh nenek moyang Sunda adalah konsep akal, yang jarang ditemui dalam masyarakat lain. Karena itu mengapa nyakola seolah menjadi suatu kebutuhan bagi masyarakat sunda. Mungkin hal ini di karenakan karena konsep akal dalam tradisi sunda.
Ada suatu peribahasa dalam bahasa sunda yang berbunyi “Lamun hayang ngakeul kudu ngakal”. Ngakeul adalah suatu proses akhir dalam menanak nasi supaya menjadi pulen yang dilakukan dalam suatu media yang dinamakan dulang.  Nasi diakeul tersebut akan mempunyai rasa yang enak dan juga gurih, dalam istilah sunda disebut puleun.
Peribahasa tersebut dapat diartikan bahwa bagi masyarakat sunda, kalau mau makan (mencari nafkah) gunakan akal. Jadi bukan hanya bekerja tapi gunakan akal. Keberadaan akal sering diidentifikasikan berada dalam otak manusia. Jadi ada orang yang berkata bahwa menggunakan akal sama dengan menggunakan otak. Jadi sebenarnya ada korelasi antara kerja dengan akal. Kita mengenal suatu istilah bahwa kerja itu harus kerja dengan cerdas (kerja cerdas) bukan hanya kerja, tetapi tidak terkonsep, tidak berilmu, sehingga yang di dapat mungkin hanya kebutuhan pokok saja. Tetapi dengan kerja yang cerdas akan memebrikan banyak peluang peluang untuk kesejahteraan baik dirinya maupun masyarakat sekitarnya. Dalam istilah sunda kerja yang tidak pakai akal di sebut dengan kerja dengan okol, suatu kerja yang tidak terkonsep.
Jadi intinya dalam konsep dasar urang sunda sebenarnya dalam mencari nafkah harus banyak menggunakan akal, atau memfungsikan kerja otak manusia. Orang terkaya. Atau orang tersukses di dunia sebenarnya adalah orang orang yang memfungsikan otak manusia dengan oftimal. Sampai sekarang orang terkaya di dunia dikuasai oleh orang orang yang cerdas. Seperti Bill Gates pemilik microsoft dan lain lain.
Jadi banyak orang mengeluhkan bahwa kita kerja dari subuh sampai malem, yang didapat hanyalah mendapat sesuap nasi atau hanya untuk memenuhi kebutuhan keluarga (puluhan ribu). Sedangkan orang semaacam Bill Gates dan orang orang yang menggunakan keahliannya mendapat jutaan dalam satu detik. Jadi disinilah perbedaan kerja biasa dengan kerja menggunakan akal, perbedaan kerja okol dengan kerja cerdas. Jadi konsep inilah sebenarnya yang banyak dilupakan oleh urang sunda generasi sekarang, masih jarang menggunakan konsep akal dalam bekerja.
Akal adalah cara kerja otak. Untuk bisa menggunakan akal atau kerja otak yang maksimal atau oftimal, harus melalui suatu proses pendidikan yang berjenjang, dari dasar, menengah hingga ahli. Nah proses pendidikan itu adalah sekolah. Orang yang bersekolah yang sering menggunakan akalnya atau intelektualnya dalam bahasa sunda disebut nyakola.
Ada peribahasa umum dalam bahasa indonesia yang berbunyi “ Seperti padi semakin berisi semakin merunduk”. Jadi orang yang berilmu sebagai produk dari nyakola, semakin tinggi ilmunya maka justru banyak merendahkan hati. Berbeda dengan padi yang tidak ada isinya yang cenderung menunjuk ke atas. Jadi orang yang tidak berilmu atau tidak nyakola itu cenderung sombong, padahal isinya tidak ada. Istilah debat kusir biasa dilakukan oleh orang orang seperti ini, atau dengan kata lain orang yang tidak nyakola.
Dan orang yang nyakola itu kepercayaan dirinya sangat tinggi, tetapi tidak pernah sombong. Jadi bagi mereka kemampuan diri itu sangat dihormati. Ketergantungan terhadap orang lain minim, sehingga kita bisa menentukan arah dan opini berpikir kita. Dan tidak akan pernah mnjadi buih ombak di lautan. Seperti besar, realitasnya tidak punya kekuatan diri yang bisa menentukan arah hidupnya.
Dan bagi orang yang menggunakan ilmunya atau tinggi ilmunya tidak akan pernah menyalahkan orang lain. Betul apa yang dikatakan oleh ulama besar indonesia, Buya hamka, semakin tinggi ilmu sesesorang, semakin sedikit menyalahkan orang lain.
Dengan konsep akal itu manusia bisa sangat praktis dalam menjalankan hidupnya.

C. Konsep Orang Pinter Dalam Tradisi Sunda
Dalam konsep orang sunda sebutan kepada orang pinter  mengarah kepada orang yang mempunyai kelebihan dalam bidang akademik. Berbeda dengan konsep di jawa sebutan bagi orang pinterlebih mengarah kepada seseorang yang mempunyai kelebihan terhadap hal hal diluar akal, suatu pengertian lebih mengarah kepada arti dukun.

Disni bukan dalam rangka membandingkan, tetapi disinilah justru menunjukan penggunaan jenjang pendidikan dan ilmu pengetahuan sangat dihormati di tanah sunda.


D. Antara Nyakola, Sekolah dan Orang Bersekolah
Mengapa sekolah dalam arti pendidikan berjenjang sangat penting sekali. Hal ini karena merupakan standar awal. Karena itu, mengapa sekolah itu harus berstandar international. Bukan sekolah berstandar lokal dan selalu membanggakan kekurannganya.
Ilmu pengetahuan adalah netral. Kadang orang takut terhadap ilmu pengetahuan, karena memang keterbatasannya dalam menerima ilmu pengetahuan. Atau memang ada gerakan pembodohan dari penguasanya agar anak bangsanya mudah diatur dan digiring kemana saja sesuai dengan keinginan sang penguasa.
Seperti diungkap diatas bahwa ilmu pengetahuan adalah netral. Yang membuat baik dan jahatnya ilmu penegtahuan adalah orangnya. Jadi mengapa kita jika sudah punya suatu konsep diri yang bagus,  mengapa harus takut terhadap ilmu pengetahuan. Karena dengan ilmu pengetahuan juga kita bisa mengkonsep atau menemukan jati diri suatu bangsa.
Jadi jika ada orang yang takut terhadap ilmu pengetahuan, mungkin karena dia picik, atau mungkin juga takut tersaingi. Atau ada orang yang mengecam ilmu pengetahuan, mungkin juga karena ketakutannnya akan dominasi dirinya tersaingi. Atau mungkin juga dirinya akan tidak dihormati. Suatu ketakuatan yang berlebihan.
Bagaimana mungkin suatu bangsa yang mempunyai konsep jatidiri yag hebat, justru takut terhadap ilmu pengertahuan.orang yang sering mengecam ilmu penegtahuan, biasanya orang yang tidak berpengetahuan. Atau setidaknya termasuk orang yang malas. Jadi apa yang dibanggakan dari suatu bangsa yang mempunyai konsep yang bagus tapi takut terhadap ilmu penegtahuan atau tidak berilmu pengetahuan. Kemungkinan konsep yang hebat itu hanya penilaian diri sendiri saja untuk menutupi kebodohan dan pembodohan yang dilakukannya.
Sunda mempunyai suatu konsep yang bagus tenang akal, dan penghormatan yang tinggi terhadap ilmu. Karena itu harusnya kita memberikan jalan yang sangat lebar untuk menunjukan kehebatannya sebagai manusia sunda. Karena itu pendidikan yang benjenjang  (sekolah) harusnya di dorong dan dibuat kemudahan, sehingga jalannya semakin lebar untuk di rasakan oleh masyarakatnya.. Suatu kebohongan besar, membanggakan kebesaran tanpa suatu upaya mendorong masyarakatnya untuk sekolah. Karena itu konsep nyakola itu sangat penting dan harus dibuat jalan selebar lebarnya,
Untuk membanggakan suatu konsep bangsa yang besar, tentu harus mempunyai minimal ukuran standar yang sama dalam ilmu pengetahuan. Karena itu standarisasai pendidikan yang berjenjang harus minimal sama dengan bangsa bangsa lain di dunia. Karena untuk menepuk dada kita harus mempunyai standar yang sama dulu, baru bisa tepuk dada dengan busungnya. Tanpa itu hanya suatu kebohongan belaka, dan kebesaran hanya ada dalam wacana, sedang dalam realitas adalah nol besar.
Dengan konsep nyakola saja sebenarnya sudah memberikan jalan yang luas untuk pengembangan ilmu pengetahuan masyarakatnya. Apalagi ada upaya upaya dari para pempimpin, pembuat kebijakan politik untuk merealisasikannya. Jadi kloplah apa yang dicita-citakan oleh nenek moyang kita akan menjadi suatu kenyataan.
Meskipun sekolah berjenjang tidak menjadi jaminan untuk apa yang dikatakan nyakola. Karena orang yang berpendidikan sekolah toinggi belum tentu dikatakan nyakola. Karena nyakola itu bersiafat pada sifat orang yang berilmu. Semakin orang berilmu tinggi semakin rendah hati. Tetapi hal ini bukan suatu pembenaran bahwa kita tidak usah bersekolah.Karena sekolah itu penting untuk menilai standar awal.
Nyakola itu bersifat orang berpendidikan. Untuk mencapai suatu ilmu yang tinggi sebenarnya banyak cara untuk mendapatkannya. Msaki dengan  rajin membaca. Karena ada istilah bahwa dengan membaca kita sebenarnya telah membuka jendela dunia.
Jadi jangan seperti kebanyakan orang kita dan mungkin masyarakat sunda mayoritas sekarang ini. Sekolah berjenjang biasanya menjadi akhir prndidikan dan bukan dalam arti awal cara berpikir. Karena jika setelah pendidikan tamat maka berakhirlah proses belajar. Buku dijual atau dibuang, karena sudah tamat sekolah. Sehingga dirumahnya tidak ada satu bukupun, karena dia telah lulus dalam suatu jenjang pendidikan. Sehingga enggan membaca buku buku.
Nah yang demikian juga tidak bisa dikategorikan nyakola. Karena jika sudah menutup proses belajarnya, atau membaca buku, maka sudah berhentilah kemajuan ilmu pengetahuan orang tersebut. Dan orang tersebut dikategorikan orang malas, orang yang tidak boleh dijadikan panutan dalam hidupnya.
Makanya benarlah kata orang. Jika ingin melihat intelektual seseorang maka lihat yang dibacanya atau koleksi buku di rumahnya. Semakin banyak buku yang dibacanya, maka semakin tinggi ilmu pengetahuan orang tersebut. Dan jika tidak mendapati buku bacaan dirumahnya maka orang tersebut dapat dikategorikan orang yang sudah menutup diri, orang malas berpikir dan biasanya orang seperti ini akan sombong, dengan ketidaktahuannya, meskipun dia sudah menmpuh jenjang pendidikan yang tinggi. Dan yang demikian dalam istilah sunda tidak bisa termasuk dalam istilah nyakola.
Jadi jika pendidkan kita sarjana maka  jangan menjadi akhir pendidkan. Sehingga setelah lulus tidak pernah membaca buku  lagi.Tidak ada proses belajar. Jadi ketika kita menempuh pendidikn sarjana harusnya cara awal berpikir. Dengan demikian jika kita sudah menuntaskan pendidikan sarjana maka justru harus rajin belajar, dan membaca buku. Karena kita telah memproklamirkan bahwa sarjana adalah awal dari cara berpikir.
Dan jika kita termasuk dalam lulusan sekolah menengah atau dibawahnya. Jika tidak memungkinkan untuk melakukan pendidikan yang berjenjang lebih tinggi lagi, harusnya membuka lebar lebar harus terus belajar, harus giat membaca buku, sehingga ilmu pengetahuan bisa diraih tidak hanya dengan sekolah berjenjang. Dan yang demikiam lebih mendapat tempat disebut dengan orang yang nyakola.
Jadi suatu kesimpulan yang bisa didapat dari istilah nyakola itu adalah bisa meraih pendidikan setinggi tingginya, terus membaca untuk mengejar ketertinggalan. Dan jika kita di golongan orang yang mempunyai kebijakan (seperti gubernur, bupati) ,maka buat lah jalan selebar lebarnya agar masyarakatnya bisa sekolah setinggi tingginya, dan membangun media yang mendukungnya seperti membangun perpustakaan perpustakaan.




Bab VI

ISLAM DI TANAH SUNDA

Meskipun yang terakhir di Pulau Jawa dalam menerima Islam sebagai agama resmi masyarakat Sunda. Islamisasai di tanah Sunda justru seolah sudah final. Hampir seluruh masyarakat Sunda adalah penganut Islam.

A. Sejarah Islam Di Tanah Sunda
Pada zaman kerajaan Sunda di era Pajajaran, Islam sebenarnya sudah dikenal dikalangan Istana. Bahkan salah seorang istri Sri Baduga Maharaja Jayadewata atau dikenal juga dengan nama Prabu Siliwangi, yang bernama Nyi Subang Larang adalah seorang muslimah. Darinyalah kemudian Islam mulai dikenal di kalangan Istana, meskipun pada awalnya juga Islam sudah dikenal di Istana di era Prabu Bunisora. Salah seorang anak dari Prabu Bunisora ini ada yang dikenal dengan julukan Haji Purwa. Karena dialah haji pertama di kalangan istana kerajaan Sunda di era Kawali. Subang larang sendiri masih turunan dari Prabu Bunisora ini.
Dari turunan Nyi Subang Larang. Istana Pajajaran semakin akrab dengan agama Islam. Bahkan anaknya yang bernama Walangsungsang atau Prabu Cakrabuana merupakan tokoh Islam yang sangat disegani, dan oleh ayahnya diangkat menjadi penguasa di Cirebon. Tetapi yang dianggappaling berpengaruh dalam cerita cerita sunda tentang proses islamisasi adalah yang bernama Kiansantang. Tokoh Kiansantang ini merupakan nama lain dari Sangara, putra bungsu Prabu Siliwangi dari Subang Larang. Kiansantang meruapakan tokoh yang paling berpengaruh dalam proses islamisasi dalam cerita masyarakat Sunda. Dan dikenal dengan tokoh yang sangat mewakili  dalam islamisasi di tanah sunda.
Proses pencarian Islam oleh Kiansantang dianggap paling mewakili,karena dialah yang dianggap seorang pencari Islam di tanah sunda yang paling berpengaruh. Sedang tokoh yang paling berpengaruh dalam islamisasi di tanah sunda adalah Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati. Syarif hidayatullah merupakan anak dari Rarasantang, anak kedua dari Prabu Siliwangi dengan Nyi Subang Larang. Rara Santang kemudian menikah  dengan bangsawan Meka, dan mempunyai anak yang bernama Syarih Hidayatullah.  Dia (Syarif)  kemudian menggantikan ua-nya, Cakrabuana atau Walangsungsang menjadi penguasa Cirebon. Dan dialah tokoh dibalik penaklukan Kuningan, Majalengka, Banten dan Jakarta dari Pajajaran.

B. Tokoh Tokoh yang Sangat Berpengaruh Dalam Islamisasi Awal
Dalam kisah kisah lisan, maupun tulisa kita menemukan banyak tokoh Islam awal yang dianggapsebagai tokoh tokoh penting dalam islamisasi awal di tanah sunda. Meskipun seolah cerita lisan tumpang tindih, tetapi ada kesamaan dalam islamisasi di tanah sunda,yaitu lebih rasional. Karena itu ciri dari masyarakat sunda lebih sintesis dalam konteksnya dengan Islam. Cerita Kiansantang atau Prabu Borosngora yang dikalahkan oleh Sayidna Ali (meskipun cerita ini sulit dibuktikan, karena perbedaan waktu yang jauh). tetapi hal ini menujukan ketundukan yang jelas terhadap Islam. Jadi Islam di tanah Sunda dalam cirinya lebih sintesis (perpaduan), nilai nilai keislaman lebih ditinggikan daripada adat itu sendiri.

1.. Haji Purwa (Bratalegawa)
Bratalegawa atau kemudian terkenal dengan nama Haji Purwa adalah pemeluk agama Islam pertama di kalangan istana Kerajaan Sunda. Bratalegawa merupakan  putera kedua Prabu Guru Pangandiparamarta Jayadewabrata atau Sang Bunisora, raja sunda penggati Prabu Linggabuana. Prabu Bunisoraini adalah adik kandung dari Prabu Lianggabuana yang gugur dalam perang bubat. Prabu Bunisora menggantikan Prabu Linggabuaba yang gugur dalam perang bubat sebagai raja pendamping , karena putra mahkotayang bernama Wastukancana yang masih kecil ( 9 tahun).
Bratalegawa memilih hidupnya sebagai saudagar besar yang  biasa berlayar ke Sumatera, Cina, India, Srilangka, Iran, sampai ke negeri Arab. Ia menikah dengan seorang muslimah dari Gujarat bernama Farhana binti Muhammad.  Kemudian menunaikan ibadah haji dan mendapat julukan Haji Baharudin.  Sebagai orang yang pertama kali menunaikan ibadah haji di kerajaannya, ia pun dikenal dengan sebutan Haji Purwa.
Setelah menunaikan ibadah haji, Haji Purwa beserta istrinya kembali ke kerajaan Galuh pada tahun 1337 Masehi. Disini ia kemudian mengajak saudara saudaranya (ratu Banawati,penguasa Galuh, dan Giridewata )Ki Gedeng kasmaya, penguasa Cirebon Girang) untuk masuk islam, tetapi tidak ada yang mau. Haji Purwa  menetap di Cirebon  Girang.
Kedatangan Haji Purwa di tanah Sunda dijadikan titik tolak masuknya agama Islam ke Tatar Sunda pada pertengahan abad ke-14 M. Dengan demikian Islam di era Bratalegawa Islam sudah masuk ke tatar sunda sebelah selatan (ibukota Galuh letaknya di selaatan tatar sunda). Dan pada masanya juga di karawang telah kedatangan ulama besar yang mendirikan pesantren, dan dianggap sebagai penyebar isllam di tatar sunda bagian utara, yaitu Syekh Quro (syekh hasanuddin yang mendirikan pesantrn di Karawang. Di cirebon juga mulai kedatangan Syekh Nurjati atau terkenal dengan nama Syekh Datuk kahfi ke Cirebon, yang menikah dengan cucu dari Baratalegawa (Haji Purwa) yang bernama Hadijah. .

2. Syekh Quro
Syekh Quro sebagai penyebar dan guru agama Islam pertama di daerah Karawang.  Syekh Quro nama aslinya adalah Syekh Hasanuddin putra Syekh Yusuf Sidik, seorang ulama yang datang dari negeri Campa (daerah Vietnam  sekarang). Ia datang di Pulau Jawa pada abad ke-14 sezaman dengan kedatangan Syekh Datuk Kahfi atau Syekh Nurjati., menumpang kapal yang dipimpin Laksamana Cheng Ho .
Dalam pelayarannya itu, armada Cheng Ho tiba di Pura Karawang. Syekh Hasanuddin beserta para pengiringnya turun di Karawang dan bertempat tinggal di sana. Di Karawang ia menikah dengan Ratna Sondari, puteri Ki Gedeng Karawang, dan membuka pesantren yang diberi nama pondok Quro yang khusus mengajarkan al-Qur’an, karena itulah Syekh Hasanuddin kemudian dikenal dengan nama Syekh Quro.

Syekh Quro bermukim di Karawang sampai meninggal dan dimakamkan di Desa Pulo Kalapa, Kecamatan Wadas, Karawang.dari pesantrennyalah, nantinya salah seorang Istri Sri Baduga Maharaja Prabu Jayadewata belajar, yaitu Nyi. Subang Larang.


3. Syekh Datuk Kahfi
Syekh Datuk Kahfi merupakan seorang ulama keturunan Arab Hadramaut, yang beasal dari Mekah dan menyebarkan Islam di berbagai penjuru tatar sunda. Ia dikenal juga dengan nama Syekh Nurjati atau Syekh Nurul Jati. Ia merupakan nenek moyang raja raja Sumedang Larang. Cicitnya yang bernama Pangeran Kusumah dinata yang kemudian dikenal dengan Pangeran Santri menikah dengan Ratu PucukUmun, Ratu Sumedang Larang ketika itu
Syekh datuk Kahfi atau dikenal juga dengan nama Syekh Nurjati, Syekh Idofi  atau Syekh Nurul jati  datang ke tatar Sunda sezaman dengan Syekh Quro dari Karawang pada abad ke 14 M. Syekh Datuk Kahpi atau Syekh Nurjati  menikah dengan cucu Bratalegawa (haji Purwa) bernama Hadijah.
Syekh Nurjati datang sebagai utusan Raja Parsi bersama 12 orang pengikutnya sekitar abad ke-14, pada masa Ki Gedeng Jumajanjati. Atas izin dan kebaikan penguasa pelabuhan itu, Syekh Nurjati kemudian menetap dan bermukim di Pasambangan, di bukit Amparan Jati dekat Pelabuhan Muarajati, kurang lebih lima kilometer sebelah utara Kota Cirebon sekarang.
Di Cirebon Syekh Datuk Kahfi mendirikan pesantren di cirebon, dan merupakan tempat berguru Pangeran Cakrabuana  dan Nyi Rara Santang (ibu Sunan Gunung Jati). Keduanya merupakan anak penguasa kerajaan Sunda waktu itu, Sri baduga Maharaja Prabu Jayadewata.

Dengan demikian sebenarnya Islam di tatar sunda sudah dikenal pada abad 14 M, jauh sebelum era walisongo di jawa.


4. Nyi Subang Larang                                                                     
Nyi Subang larang adalah istri dari maharaja Sunda, Sri Baduga mahara Prabu jayadewata. Meskipun bukan sebagai prameswari utama, tetapi ia dianggap tokoh awal  dalam islamisasi  di kalangan istana kerajaan sunda di Pakuan .Dalam sejarah tidak terlalu bbanyak diceritakan perannya dalam islamisasi di kalangan istana. Tetapi justru dari Nyi Subang Larang inilah keturunannya menjadi tokoh tokoh penting dalam islamisasi di Tanah sunda.
Dari turunan Nyi Subang Larang. Istana Pajajaran semakin akrab dengan agama Islam. Bahkan anaknya yang bernama Walangsungsang atau Prabu Cakrabuana merupakan tokoh Islam yang sangat disegani, dan oleh ayahnya diangkat menjadi penguasa di Cirebon. Tetapi yang dianggappaling berpengaruh dalam cerita cerita sunda tentang proses islamisasi adalah yang bernama Kiansantang. Tokoh Kiansantang ini merupakan nama lain dari Sangara, putra bungsu Prabu Siliwangi dari Subang Larang. Kiansantang meruapakan tokoh yang paling berpengaruh dalam proses islamisasi dalam cerita masyarakat Sunda. Dan dikenal dengan tokoh yang sangat mewakili  dalam islamisasi di tanah sunda.

5. Walangsungsang
Walangsungsang  merupakan anak tertua dari raja Sunda, Sri baduga maharaja dari istrinya yang beragama islam, Nyi Subang larang. Kadang ia dikaitkan dengan nama Kiansantang. Tetapi para sejarawan lebih sering menyatakan bahwa Kiansantang itu adalah putra bungsu Sang raja, Sri baduga maharaja Prabu jayadewata dari istrinya Nyi Subang larang yang bernama Sangara. Seperti diungkapkan di atas, bahwa Sri baduga maharaja dari istrinya yang beragama Islam, Nyi Subang larang, mempunyai 3 orang anak, yaitu Walangsungsang, Nyi lara santang, dan Sangara.
Walangsungsang merupakan tokoh yang paling berpengaruh sebagai pembuka islamisasi di tanah Sunda.  Sebagai putra sulung dari salah seorang istri raja. Walangsungsang termasuk tokoh yang disegani di kalangan istana kerajaan Sunda. Meskipun ia sendiri bukan putra mahkota. Tetapi karena sama sam putra sulung, maka ia juga termasuk yang paling disegani secara silsilah. Ia kemudian memamfaatkan kedududkan sebagai penguasa di Cirebon yang diberikan ayahnya. Tetapi ia kemudian menjalin kerjasama dengan Demak yang sedang agresif melakukan islamisasi di tanah jawa. Hal ini kemudian membuat sang raja mulai cemas terhadap masa depan kerajaannya terhadap dominasi Islam.  Karena itu sang raja mengutus putra mahkota, Pangeran Surawisesa untuk melakukan kerjasama dengan Portugis. Dan hal justru menjadi sumber perpecahan semakin tajam di kalangan istana. Terutama ketika Sang raja Sri baduga maharaja meninggal.
Ia sendiri tidak begitu berambisi dalam perebutan kekuasaan. Justru keponakannya, Syarif Hidayatullah yang  menggantikannya sebagai penguasa Cirebon, mulai berani mengutak atik kekuasaan pamannya, Prabu Surawisesa, raja di kerajaan Sunda pengganti kakeknya.

6. Kiansantang
Kiansantang diyakini adalah anak bungsu dari  Sri Baduga Maharaja dengan Nyi Subang Larang. Dan nama lain dari Sangara.Tidak ada yang menulis secara detail tentang tokoh ini. Tetapi tokoh in seolah merupakan tokoh yang sangat berpengaruh dalam islamisai di tanah sunda secara idea.
Kiansantang merupakan tokoh yang dianggap paling  mewakili dalam Islamisasi di tanah Sunda. Dia seolah tokoh yang ingin mencari kebenaran dengan suatu logika yang mungkin logika tertinggi waktu itu. Ia mencari kebenaran dengan mencari dari sumber aslinya.
Kita mungkin teringat cerita lisan tentang Kiansantang. Ia adalah orang yang sangat sakti.Konon di tatar sunda dan jaa tidak ada yang bisa mengalahkannya. Karena itu iangin sekali melihat darahnya sendiri. Sehingga ia kemudian pergi ke Mekah untuk bertemu dengan Sayidina Ali yang sangat terkenal akan kesaktiannya. Karena itu ia kemudian berencana ke Mekah untuk menantang Sayidina Ali. Tetapi di perjalanan ia bertemu dengan seorang yang sudah sepuh. Setelah perbincangan antara kedua belah puhak, dan sang kiansantang menguatarakan maksudnya untuk menemui Sayidina Ali. Sang Kakek  kemudian meminta tolong Kiansantang mengangkat tongkatnya yang tertancap.Tetapi tongkat tersebut tidak tercabut, meskipun tenaga sudah dikeluarkan semua, yang akhirnya kiansantang menyerah dan tunduk. Karena sudah menyerah. Kemudian sang kakek menceritakan bahwa dia adalah Sayidina Ali, yang menasehatinya setelah ke Mekah agar kembali lagi ke tatar sunda.
Meskipun seolah tokoh cerita karena media lisan yang dominan dalam kisah kisah mengenai Kiansantang ini. Tetapi hal ini mengindikasikan tentang pencarian kebenaran Islam, menjadi tonggak dalam ciri Islam di tanah Sunda yang lebih rasional, patuh sehingga islamisasi cenderung lebih sintesis. Lebih mneyukai perpaduan daripada mencampur adukan (sinkretis).
Dalam kisah Kiansantang diceritakan tentang pencarian kebenaran dan juga pengujian kesaktian. Dia tidak pernah mau menyerah untuk mencari kebenaran dan juga pengujian kesaktian. Pengujian kesaktian juga diartikan pengujian secara intelektual. Ia ingin mencari orang yang dapat mengalahkan dirinya, yang nantinya akan menjadi suatu bentuk kepatuhan pada yang mnegalahkannnya. Konon hingga tanah suci mekah ia datangi. Dan konon ia dapat dikalahkan oleh Ali, sehinga ia kemudian patuh dan tunduk terhadap Ali. Ali disni dapat dartikan keterwakilan kebenaran Islam. Sehingga dengan sendirinya tunduk dan patuh terhadap kalam ilahi. Karena jikalihat secara urutan tahun terlalu jauh, jika Kiansantang adalah tokoh Islam di akhir abad ke 15 dan awal abad ke16 M, sedang tokoh Ali hidup  pada abad ke 7 Masehi.


1) Kisah kiansantang menunjukan bahwa proses islamisasi menunjukan sifat menerima Islam dengan patuhnya (taat). Karena itu dalam kelanjutannya Islam di tanah sunda sebenarnya lebih rasional dan bersifat ditinggikan, berupa kepatuhan seperti yang ditunjukan oleh Kiansantang. Para ahli mngkatagorikan islam di tanah sunda  dengan istilah sintesis (perpaduan). Islam lebih ditinggikan daripada adat. Hal ini berbeda dengan ciri Islam di Jawa yang bersifat sinkretis (campur aduk). Karena ada suatu kisah yang menjelaskan tentang Islam di tanah Jawa itu. Diceritakan bahwa ada seorang ulama dan pendeta berjalan bersamaan. Satu sama lain ingin saling menonjolkan . Sang kiai membawa keris atau pedang, sedang sang pendeta hindu membawa kendi berisi air. Keduanya melempar barang yang dibawanya ke atas. Dan pecahlah kendi tersebut dengan pedang atau keris. Dengan bangganya sang kia mengatakan, bahwa kendinya telah pecah. Yang berarti Islam lebih tinggi daripada Hindu. Tetapi sang pendeta hindu  mengatakan jangan girang dulu, lihatlah keris ata pedang itu basah kena air kendi, berarti Islam akan tertutup atau terbasahi atau tercampur oleh tradisi Hindu (sinkretis)


7. Syarif hidayatullah (Sunan Gunung Jati)
Syarif Hidayatullah merupakan  yang paling berpengaruh dalam islamisasi di tanah sunda secara praktis. Jika Kiansantang berbicara tentang idea,maka Syarif Hidayatullah lebih ke dalam islamisasi secara praktis.
Syarif Hidayatullah adalah cucu dari penguasa besar tanah Sunda, cucu dari Sri Baduga maharaja. Ia merupakan anak dari putri raja, Rara santang, yang menikah dengan pembesar dari Mesir. Rara santang adalah anak dari Sri Baduga maharaja Prabu jayadewata, atau sekarang lebih dikenal dengan nama Prabu Siliwangi, dari istrinya Nyi Subang larang.
Sebagai pangeran dari kalangan istana sunda, maka Syarif Hidayatullah sangat dihormati baik di daerahnya dan juga di kerajaan Demak. Ia disegani dalam kaitannya dengan masalah keagamaan dan dalam tingkatan sosial kemasyarakatan dan juga dalam bidang kemiliteran.  Dan ia mamfaatkan itu dalam upaya islamisasi di tanah sunda.
Ia memamfaatkan kekisruhan para pangeran di istana pajajaran setelah ditinggal kematian kakeknya, Sri baduga maharaja. Dan ia memamfaatkan momen penolakan para pangeran yang menentang kerjasama kerajaan Sunda dengan kaum Portugis, dalam upayanya membangun benteng Portugis di kota pelabuhan Kalapa (sunda kalapa atau jakarta sekarang).
Dengan dibantu oleh kerajaan Demak, ia kemudian melakukan penyerangan terhadap kota Kalapa dan banten, yang merupakan dua kota pelabuhan terpenting dari kerajaan Sunda. Setelah kedua kota itu dapat ditaklukan maka ia juga berupaya untuk menaklukan daerah  di timur dan selatan kerajaan ini. Kuningan, Majalengka, dan galuh kemudian dapat ditaklukan. Dan Sumedang juga menerima islam secara damai melalui perkawinan. Meskipun Sumedang larang tetap menjadi bagian dari kerajaan pajajaran dan tidak berusaha untuk memberontak, meskipun agama mereka sudah berbeda.
Syarif Hidayatullah sangat dihormati karena perannya dalam islamisasi secara menyeluruh di tanah Sunda. Sehingga Islam mulai banyak dianut oleh masyarakat Sunda, meskipun ia sendiri tidak berhasil menguasai ibukota kerajaan Sunda, pakuan. Baru cucunya, Maulana Yusuf,  bisa menaklukan pusat kerajaan tersebut di tahun 1579 M.


8. Maulana Hasanuddin
Merupakan anak pertama Sunan gunung Jati, dan dianggap sebagai pendiri kesultanan Banten yang sebenarnya, yang merdeka, yang lepas dari Demak. 
Maulana hasanuddin berjasamenjadikan banten sebagai pusat Islam di tatar sunda sebelah barat.


9. Maulana Yusuf
Merupakan sultan Banten yang kedua yang berkuasa dari tahun 1570 hingga 1580 M. Pada masanyalah Pakuan yang merupakan ibukota kerajaan Pajajaran, kerajaan Hindu terakhir di daerah sunda dapat ditaklukan.

 Maulana Yusup merupakan  Putera dari Sultan Hasanudin dari istrinya Ratu Ayu Kirana. Pada masanya penaklukan ibukota Pajajaran menjadi prioritasnya, dan berhasil. Ia berjasa dalam mengukuhkan kekuasaan kesultanan  islam di  Banten, meskipun ia tidak berhasil menguasai seluruh wilayah eks. Kerajaan Pajajaran.

10. Pangeran Santri (1505-1579 M)
Pangeran Santri atau Pangeran Kususmah Dinata atau terkenal juga dengan nama Ki Gedeng Sumedang merupakan suami dari Ratu PucukUmun, penguasa Sumedang keturunan raja raja kuno Sumedang. Ia kemudian memerintah Sumedang Larang  dengan istrinya, Ratu Pucuk Umun Ratu Intan Dewata (1530-1558 M).  Ia merupakan putra dari Pangeran Pamelekaran (dipati Tetarung) cucu dari Syekh Maulana Abdurrahman dancici dari Syekh Datuk Kahfi.  Ia dijuluki Pangeran Santri karena asalnya dari pesantren dan perilakunya terkenal sangat alim.
Sumedang Larang merupakan wilayah yang paling berpengaruh saat itu di wilayah kerajaan Sunda. Wilyahnya yang luas, meliputi Sumedang itu sendiri, Majalengka,  Bandung, Subang, Karawang dan Indramayu.
Pada masa Ratu pucuk Umun, ibukota kerajaan yang pada awalnya di daerah Ciguling dipindahkan ke daerah Kutamaya sekarang. Dengan menikahi Ratu Pucuk Umun    , Pangeran Santri kemudian melakukan islamisasi di daerah kekuasaannnya.

11. Prabu  Geusan Ulun
Prabu Geusan Ulun atau Pangeran Angkawijaya merupakan putra pertama Pangeran Santri dengan Ratu PucukUmun.  Ia menjadiRaja sumedang Larang menggantikan ayahnya, pangeran Santri.
Sumedang Larang dimasanya, meskipun sudah memeluk Islam tetapi Sumedang Larang masih setia kepada kerajaaan Sunda di Pakuan. Sehingga ketika Pakuan jatuh pada tahun 1579 M, ia dianggap sebagai penerus dari kerajaan Sunda. Empat mentri utama Pajajaran yang disebut Kandaga Lante menyerahkan mahkota / Siger raja Sunda kepada Prabu Geusan Ulun, sebagai perlambang bahwa wilayah wilayah kerajaan Sunda yang tidak dikuasai oleh Banten dan Cirebon merupakan daerah kekuasaannya.


C. Ulama dan Tokoh Besar Selanjutnya
Setelah peran para ulama dan juga penguasa di tatar sunda yang berpengaruh terhadap islamisasi di tanah sunda. Kemudian muncul ulama ulama yang begitu besar perannya dalam menambah wawasan islam di tanah sunda. Disamping para penguasa lokal di tatar sunda yang dengan gigih menyebarkan Islm di tatar sunda, ada juga  beberapa ulama yang berjasa dalam pengembangan Islam di tanah sunda, diantaranya: Syekh Abdul Muhyi (Syekh Pamijahan), dan lain lain. Dan juga ulama ulama yang mencoba mengembangkan wacana Islam dalam konteks pengembangan ilmu baik keislaman maupun sosialkemasyarakatan dan tekhnologi. Dan yang mungkin termasuk dalam golongan ini diantaranya : Syekh Nawawi Albantany, yang mengarang banyak buku tentang keislaman, dan lain lain.


1.. Syekh Abdul Muhyi            
Syekh Abdul Muhyi seorang ulama yang hidup pada abad ke17 M. Ia lahir pada tahun 1650 M. Aqyahnya, Lebe warta Kusumah, masih bangsawan sunda yang tinggal di Gresik/ ampel.
Pada usia 19 tahun ia pergi ke Aceh untuk berguru kepada ulamabesardi Aceh waktu itu, Syekh Abdurrauf Singkel selama 8 tahun (1090-1098 H/ 1669-1677). Pada usia 27 tahun pergi ke Baghdad untuk ziarah ke makam Syekh Abdul Qodir jailani dan bermukim disana selama 2 tahun. Dan setelah itu ia bersama gurunya (syekh abdurrauf Singkel) pergi ke Mekah untuk menunaikan ibadah haji. Tahun 1677 ia kembali ke Aceh, dan kemudian kembali ke Gresik. Dan ia kemudian pergi ke tatar sunda, dan menikah dengan seorang wanita masih keturunan bangsawan sunda.
Pada awalnya ia menetap di DarmoKuningan selama 7 tahun (1678-1685 M), .Kemudian perg ke Pameungpeuk (1 tahun) (1685-1686), kemudian ke Batuwangi hingga Lebaksiu dan bermukim disana selama 4 tahun (1686-1690), kemudian ke kampung Cilumbu diatas gunung, sambil bertafakur. Karena diatas gunung tersebut sering menenangkan hatinya, maka gunung tersebut dinamakan dengan nama gunung Mujarod, yang berarti gunung untukmenenangkan hati. Setelah itu iakemudian ke daerah pamijahan sekarang, dan menemukan goa yang dicarinya karena mimpinya ketika di baghdad. Ia tinggal di dalam goapamijahan dan mengajar para santrinya  di sana.
Setelah itu, ia kemudian menyebarkan agama islam di kampung Bojong, kemudian ke Safarwadi disini ia membangu rumah dan masjid, dan mengajar hingga ia meninggal. Ia dimakamkan di daerah pamijahan sekarang.
Syekh abdul Muhyi berjasa dalam pengisalaman masyarakat di sekitar di tatar sunda bagian selatan (kuningan, Garut, tasikmalaya), yang waktu itu masih banyak yang menganut agama Islam.


2.. Syekh Nawawi Albantani  (1230-1314 H / 1813-1897 M)
Seorang ulama besar asal Banten, ahli hukum Islam (fiqih) dan ushul (fiqih). Ia tinggal lama di Mekah dan mengajar di Masjidil Haram. Ia terkenal karena tulisannya yang sangat banyak (ledih dari 80 buah) dalam berbagai disiplin ilmu keagamaan.
 Nama Abu Abdul Mu’thi Muhammad Nawawi bin Umar bin Arabi, dan kemudian terkenal dengan nama Nawawi al Bantany atau Nawawi al Jawi. Ia lahir di Tanara, Serang, Banten. Ayahnya, Umar ibn Arabi, adalah seorang ulama dan menjadi penghulu di Tanara.
 Pada usia 15 tahun, ia pergi ke Mekah dan bermukim disana selama 3 tahun untuk belajar ilmu keagamaan. Ia juga pernah belajar di Madinah.  Pada tahun 1248 H / 1831 M, ia kembali ke Banten dan mengajar di pondok yang didirikan ayahnya (selama 3 tahun), tetapi ia kemudian kembali lagi ke Mekah dan tidak pernah kembali.  Ia belajar kepada guru-gurunya selama 30 tahun (1830-1860 M), dan akhirnya mengajar di Masjidil Haram.
Banyak ulama besar yang pernah berguru padanya, antara lain: KH. Cholil bangkalan, KH. Ahmad Dahlan (Pendiri Muhammadiyah), KH. Hasyim Asy’ary (pendiri NU), KH Asnawi Kudus, KH Tb. Bakrie Purwakarta, KH. Arsyad Thawil, dan lain-lain.
 Ia juga pernah diundang ke Al Azhar Mesir untuk memberi ceramah dan fatwa-fatwa pada beberapa perkara khusus.     Ia meninggal di Mekah pada 25 syawal 1314 H / 1897 M, tetapi ada yang mencatat 1316 H /1899 M.
Kelebihan dari Syekh Nawawi adalah  terkenal sebagai seorang penulis yang produktif. Karya-karyanya sangat populer dimasanya dan banyak dibaca oleh kalangan pelajar Timur Tengah dan Asia Tenggara.     Karena kepakarannya, Dr. Snouck Horgronje (seorang orientalis dan penasehat pemerintah Hindia Belanda untuk urusan Islam di Indonesia) menggelarinya sebagai doktor ilmu ketuhanan. Sedang kalangan intelektual waktu itu menggelarinya Al Imam wa al Fahm al Mudaqiq (Tokoh dan pakar dengan pemahaman yang sangat mendalam). Tentang pengaruhnya, Dr. Snouck H., mengakui pengaruh besar yang ditularkan oleh syekh Nawawi ini, hingga mendorong masyarakat Melayu / Indonesia untuk mengkaji Islam secara seksama. Ia (Snouck) juga mengakui bahwa Syekh Nawawi juga mampu membangun cita-cita politik Islam.
Berikut ini adalah beberapa karyanya, antara lain:
  • Tafsir al Munir (Yang memberi Sinar), merupakan karyanya dalam tafsir yang cukup monumental.
  • Kasifah al Saja, suatu kitab tentang fiqih, yang merupakan syarah/ komentar terhadap kitab fiqih Safinah an Najah karya Salim bin Sumeir al Hadrami. Para pakar menyebut, karyanya ini lebih praktis daripada yang dikomentarinya.
  • Syarh al ‘Uqud al Lujjayn fi Bayan al Huquq al Zawjain, suatu karyanya tentang fiqih yang terkenal dikalangan pesantren Jawa. Hampir semua pesantren memasukan kitab ini dalam daftar paket bacaan wajib terutama dalam bulan Ramadhan. Kitab ini berisi tentang segala persoalan keluarga yang ditulis secara detail, hubungan antara suami dan istri dijelaskan secara rinci.
  • Nihayah al Zayn. Tentang ushul fiqih.
  • Sallam al Munajah (tangga untuk Mencapai Keselamatan).Tentang fiqih yang merupakan syarah Safinah as Salah .
  • At Tausyiah. Dalam bidang fiqih, yang merupakan syarah darikitab Fath al Qarib al Mujib karya Ibn Qasun al Ghazi.
  • Fath al Majid (Pembuka bagi yang mulia) dalam bidang tauhid / akidah, yang merupakan syarah kitab Ad Durr al Farid fi At Tauhid.
  • Tijan al Durar, tentang akidah / tauhid yang merupakan syarah dari kitab Fi at Tauhid karya Al Balajury.
  • Nur al Dhalam, tentang akidah.
  • Tangih al Qaul (Meluruskan pendapat) karyanya dalam bidang hadits, yang merupakn syarah dari kitab Lubab al Hadits karya As Suyuthi.
  • Salalim al Fudala (Tangga bagi para ulama terpandang), karyanya dalam bidang akhlak / tasauf, yang merupakan syarah dari kitabManzhumah Hidayah al Azkiya.
  • Misbah adz Dzalam (Penerang kegelapan), karyanya dalam bidang tasauf /akhlaq.
  • Maraqi fi Ubudiyah
  • Al Qami’ al Thugyan, tentang tasauf.
  • Nashaih al Ibad, tentang tasauf.
  • Minhaj al Raghibi, tentang tasauf.
  • Al Ibriz ad Dani (Emas yang dekat)
  • Bughyah al Awam (Kezaliman orang awam)
  • Fathu Shomad ( Kunci untuk mencapai yang maha pemberi)
  • Fathu Ghafir al Khatiyah (kunci untuk pengampunan kesalahan)
  • Lubab al Bayan (Inti penjelasan)


3. Tokoh dan Ulama Abad 20 dan 21 M


Pada awal abad 20 M, mulai bermunculan organisasi keagamann di Indonesia dengan berbagai konsep dan pemikirannya.Hal ini sebagai akibat dari mulainya terjadi perubahan pemikirran di timur tengah. Baik munculnya kaum Wahabi dan juga muncul tokoh pembaharu universal waktu itu, seperti jalaluddin Al Afghani, yang dikuti oleh muridnya Muhammad Abduh dan juga muridnya Rasyid Ridla.
Proses pembaruan juga melanda tatar sunda. Lahirnya Organisasi Syarikat Islam sangat berpengaruh terhadap pembaharuan pemikiran di tatar sunda, meskipun organisasi ini lebih dominan berorientasi terhadap politik, perbaikan umat dan terakhir wacana kemerdekaan. Setelah itu muncul organisasi pembaharu pemikiran keagamaa, seperti Al Irsyad,Persis dan juga Muhammadiyah.
Lahirnya organissai pembaharu di Indonesia membuat ragam pemikiran keagamaan mulai semarak. Dengan munculnya organisai al Irsyad, Muhammadiyah dan juga Persis menandai era baru dalam pemikiran keagamaan di indonesia, yang justru  menimbulkan suatu penolakan dari kaum yang sebelumnya ada yang kemudian mendirikan organisasa Nahdatul Ulama, yang mempunyai corak keagamaan Islam jawa timuran dan jawa tengah.
Kaum ulama dan tokoh kegamaan di awal era kemerdekaan juga mempengaruhi pemikiran Islam di tatar sunda. Banyak dari pemikir dan ulama tatar sunda juga ikut pada suatu organisai pembaharu ( Muhammadiyah, Persis dan lain lain) dan juga ikut pada organisasi Islam bercorak ke jawa timuran atau jawa tengah (Nahdatul Ulama). Tetapi kebanyakan dari mereka mengambil jalan tengah, meskipun dalam corak kegamaan tradisional hampir sama dengan kaum NU, tetapi secara pemikiran berbeda. Karena itu mengapa organisai semacam Nu tidak begitu berkembang di tatar sunda. Karena berbeda tradisi dalam  berpikir,meskipun hingga kini belum menjadi ciri dari masyarakat Islam di tatar sunda. Dan hingga kini masih terjebak pada upaya upaya mengikuti tradisi bepikir organisasi apa yang diikutinya. Atau dengan kata lain Islam di tatar sunda belum menjelma menjadi suatu corak islam yang benar benar asli sunda.
Jika dilihat dalam sejarah, muslim sudah masih berahati hati dalam menentukan arah. Seolah belum ada yang mewakili pemikiran yang menjadi ciri di tatar sunda. Organisasi Nu  tidak mewakili islam di tatar sunda. Karena organisasi ini lebih banyak diinspirasi dari tradisi Islam jawa timuran dan jawa tengahan. Yang secara tradisi berbeda.
Organisasi Persis rupanya mendapat dukunga dari kalangan pemikir muda sunda perkotaan. Tetapi karena organisasi ini juga lahir di surabaya, maka seolah sentuhan sunda nya juga tidak begitu banyak, sehingga meskipun secara global dalam pemikiran mendapat tempat yang lebih, tetapi secara tradisi belum banyak diterima. Jika Persisi lebih  berorientasi fiqih yang lebih bersifat mengusung pemikiran Imam hambali, meskipun cara mengambil kesimpulan yang berbeda. Tetapi secara prinsif tidak begitu berbeda.
Muhammadiyah sebagai organisasi pemikiran Islam yang bertolak dari keinginan perbaiakn nasib umat Islam juga belum mendapat tempat  yang begitu kuat. Meskipun sebenarnya mempunyai cita cita yang sangat kuat dalam perbaikan kualitas umat. Organisasi ini sebnarnya lebih berpikir global, umat yang harus lebih berdaya. Karena itu organisasi ini lebih agresif dalam bidang pendidikan umum. Karena realitas dalam hidup menunjukan bahwa kita hidup harus mempunyai standar yang sama dengan bangsa lain atau umat lain. Dan hal ini hanya bisa diraih jika umat mempunyai pendidikan yang sama dengan umat lainnya atau bangsa lainnya. Yang membedakan adalah keislamannya. Jadi yang diraih dalam pemikiran muhammadiyah sebenarnya adalah kesetaraan dalam pendidikan sehingga mempunyai star awal yang sama dengan bangsa lain. Sehingga nilai keislaman itulah kelebihannya. Karena itu organisasi ini lebih mengembangkan pendidikan berco9rak umum daripada bercorak pesantren.
Di tatar sunda sebenarnya muncul ulama ulama yang mengambil jalan tengah, mengambil mamfaat dari sistem pembaharuan dan tradisonalisme, seperti yang dikembangkan oleh 2 ulama asal Sukabumi yang bernama Ajengan KH. Ahmad sanusi, dan  dan ulama asal Majalengka yang bernama Ajengan KH. Abul Halim Tetapi hal ini juga tidak berkembang karena tidak mengembangkan ke dalam level pemikiran. Sehingga seolah terputus.
Sebagaimana masyarakat nusantara pada umumnya waktu itu, dalam agama mereka kebanyakan belajar dalam mazhab syafi’i. Jadi secara tradisonal seolah ada keengganan untuk mninggalkan madzhab tersebut. Makanya keduannya sangat hati hati dalam hal ini, sehingga ia mengambil suatu sikap konservatif dalam masalah madzhab ini. Tetapi secara berpikir, mereka sangat terbuka.Mereka mengganggap dan percaya pintu ijtihad masih terbuka, meskipun mereka sendiri belum melakukan ijtihad. Padahal ijtihadnya dalam hal penolakan pengumpulan zakat fitrah melalui perpanjangan penjajah Hindia belanda, sebenarnya sudah merupakan ijtihad waktu itu.
Yang membedakan dengan islam yang bercorak jawa timuran dan jawa tengah adalah, mereka sangat menentang keras terhadap upacara upacara kematian 3 hari, 7 hari dan seterusnya. Atau dalam istilah sekarang disebut tahlilan. Jadi mereka sangat menentang tahlilan yang menjadi ciri dari organisasi Nahdatul ulama. Jadi disinilah perbedaan dalam hal berpikir mereka, karena mungkin upacara kematian seperti tahlilan sekarang ini bukan suatu tradisi sunda.karena disamping tidak ada contoh dari Nabi, dan hal ini menjadi kecaman dari para pembaharu waktu itu. Karena hal tersebut dianggap bid’ah, sesuatu yang tidak berdasar.
Kedua ulama tersebut sebanarnya mungkin relevan dengan pemikiran yang dianut oleh Kiansantang. Kepatuhan yang jelas terhadap Islam. Karena itu kedua ulama ini termasuk yang dianggap mewakili. Dia tidak mengambil konsep islam bercorak jawa timuran dan jawa tengahan atau konsep cara berpikir bebas yang berlebihan. Tetapi lebih berpikir cara berpikir seorang yang nyunda. Setidaknya segala sesautu harus berdasar yang jelas.
Pemikiran yang berkembang  di tatar sunda juga adalah pemikiran yang digagas oleh organisasi persis, terutama di kota kota dan kaum urban. Pemikiran fiqih yang tanpakompromistis, yang menjadikan hadits nabi yang terkuat sebagai rujukan. Karena itu  pemikian ini menyerang tradisi tradisi beribadah yang tidak ada contoh dari nabi, yang dikatakan bid’ah, mengada ngada dalam urusan agama.
Pemikiran yang berasal dari organisasi persis sangat berkembang di tatar sunda. Hal ini berbeda dengan daerah asal pemikir utama persis yaitu Ahmad hasan di Surabaya atau jawa timur, pemikiran ini tidak begitu berkembang, kecuali di Bangil. Oleh karena itu seolah  basis persis telah bergeser dari Surabaya Jawa timur ke  kota bandung.
Organisasi ini seperti halnya NU (nahdatul Ulama) lebih membidik pendidikan pesantren sebagai basisi pengkaderannnya. Dari organisasi ini banyak melahirkan ulama ualam di tatar sunda. Persis seolah telah menjadi sunda, terutama bagikaum urban dan perkotaan.Meskipun dominasi tetap masih kaum tradisi. Tetapi dalam konteks keulamaan, ulama ulama tatar sunda begitu sangat mendominasi. Meskipun dalam tataran pemikiran kemasyarakatan tidak begitu berkembang. Jadi persis seolah berkutat pada fiqih ansich.
Organisasi yang ada di wilayah tatar sunda adalah Muhammadiyah. Berbeda dengan organisasikeagamaan lainya. Muhammadiyah lahir sebagai bentuk dari keprihatinann ssang pendidrinya, KH Ahmad dahlam terhadap pendidikan rakyat non priyayi (bukan bangsawan) atau masyarakat umum.Seolah mereka tidak punya akses ke dakam pendidikan formal,sehingga mau tidak mau akan selalu tersisish. Muhammadyah mengadopsi ide pencerahan dlam agama, dan ia berusaha masuk pada tatanan yang dominan, baik secara politik, ekonomi dan pendidikan. Karena itu ia lebih menekankan kepada formalisme yang diakui negara. Dengan mengembangkan pendidikan seperti yang dikembangkan oleh negara, tentu dengan memasukan nilai nilai agama islam.
Disamping itu ia juga mengembangkan konsep pencerahan dalam agama, dan berusaha meninggalkan kejumudana dalam agama. Konsepnya yang terkenal yaitu membasmi apa yang dikatakan dengan TBC (Tahayul, Bid’ah dan Khurafat)., merupakan bentuk pencerana dalam masyarakat agama. Jadi disnilah kelebihan Muhammadiyah yang lebih mengedepankan universalisme islam. Bentukpencerahan, perubahan nasib menuju masyarakat islam yang lebih berdaya.
Di tanah Sunda juga terdapat organisasi NU (nahdatul ulama), yang berarti kebangkitan ulama. Organisasi ini berdiri sebagai reaksi dari kritikannya kaum muda islam yang energik, terhadap kaum tradisional. Organisasi ini mengembangkan tradisi islam jawa timuran dan juga jawa tengahan. Karena itu budaya tahlilan, yasinan, tradisi bacaan tarawih yang telah di tradisikan bacaannya (tiap hari hanya itu itu saja) , dan juga upacara kematian 3 hari, 7 hari, 40 hari, setahun dan seterusnya. Hal ini  justru menjadi obyek kecaman dari para pembaharu. Yang mereka katakan sebagai bid’ah,mengada ada dalam urusan ibadah. Di tatar sunda organisasi ini erat kaitannya dengan latar belakang berguru dari guru pesantren di jawa tengah dan juga jawa timur.
Di tatar sunda pemikiran yang berasal dari Syi’ah juga berkembang. Banyak paraintelektual yang energik yang dihubungkan dari oraganisasi ini, seperti tokoh Jalaluddin Rahmat, yang sering dikaitkan dengan masyarakat Syi’ah. Syi’ah selalu dkaitkan dengan Ali Bin Abi Thalib. Dan dalam tradisi Sunda asli sangat erat kaitannnya dengan tokoh Ali ini. Cerita Kiansantang menandai hal itu. Takluk kepada sayidina Ali. Dan sistem pembacaan awal pengajaran Islam dalam tradisi sunda lebih mengarah ke penggunaan kosa kata Persia. Dan tradisi tardisi tempo dulu banyak yang mengarah ke dalam tradisi syi’ah, seperti hajat uar dan lain sebagainya. Penggunaan jabar,jeer dan pees, bukan fathah,dhomah dan ..,menandai hal tersebut.
Sulit memang menjadikan dalam satu pemikiran besar islam yang orsisnil, yang tidak terpecah pecah karena kotak kotak pemikiran yang sempit. Tetapi kata sunda mengindikasikan bahwa yang menjadi utama dalam tradisi sunda adalah orisionalitas. Karena sunda berartii suci atau puritan. Jadi islam yang islam yang harus menjadi spirit dari urang sunda. Islam yang tidak terpecah menjadi ahli sunnah dan ahli syi’ah. Islam yang murni dan mencerahkan. Bukan Islam yang jumud yang terjebak oleh kebodohan umatnya, sehingga keindahan dan kebesaran Islam tidak begitu tampak.

Semua memang harus di kaji. Organisasi berorak tradisionalisme misalnya,  banyak diakibatkan oleh keterikatan guru dan murid. Karena kebanyakan dari mereka memang dididik dari peesantren pesantren kaum ini, terutama mereka yang belajar di timur dan tengah pulau jawa.Tradisi  yang dikembangkan oleh pemikiran seperti organisasi persis juga demikian.Pada awalnya yang bergairah dalam organisasi ini berasal dari kaum urban urang minangkabau yang ada di tatar sunda,yang kemudian menyebar ke masyarakat sunda. Demikian juga Muhammadiyah, suatu organisasi pencerahan, meskipun secara agresifitas untuk di tatar sunda  kalah dibandingkan organisasi Persis. 

a.. Tokoh Ulama Sunda Pra Kemerdekaan

a.1. KH. Ahmad Sanusi (1306-1369 H/ 1889-1950 M),
Seorang ulama produktif tataran Sunda, asal Sukabumi. Kelebihan KH. Ahmad Sanusi, ia termasuk dari sedikit ulama indonesia yang produktif dalam menulis. Ia menulis , lebih dari 120 judul tulisannya dalam bahasa Sunda, dan lebih 22 judul diterbitkan dalam bahasa Melayu.
Ia lahir di desa Cantayan, CiBadak, Sukabumi, yang merupakan anak ketiga dari Ajengan Abdurrahim bin H. Yasin, seorang pengasuh pesantren Cantayan.
Sejak kecil ia dibesarkan dalm lingkungan pesantren. Dan pendidikannya di dapat dari berbagai pesantran.  Ia mempunyai berpikir yang kritis. Ketika belajar di pesantren Guntur ia berani mendebat gurunya (Ajengan Ahmad Satibi), suatu tindakan yang dianggap kurang ajar (waktu itu) oleh rekan-rekannya.
 Pada tahun 1909 M, ia pergi ke Mekah dan bermukim disana selama 7 tahun dan berguru kepada ulama-ulama Madzhab Syafi’I (antara lain: Syekh Shaleh Junaidi, Syekh Shaleh Bafadil, Sayid Jawani (mufti madzhab Syafi’I di Mekah) dan lain-lain). Di Mekah ini ia mendapat kehormatan menjadi imam di Masjidil Haram. Di Mekah ini juga ia bergabung dengan SI (Syarikat Islam) dan terlibat perdebatan dengan ulam-ulama Indonesia perihal SI, disamping menulis buku.
Pada tahun 1915 M, ia kembali ke Cantayan dan mengajar di pesantren ayahnya, dan segera menarik banyak pengikut. Pada tahun 1931 ia mendirikan Al ittihadiyatul Islamiyah (AII). Ia juga membangun perguruan Syamsul ‘Ulum, yang sekarang terkenal dengan pesantren Gunung Puyuh. Disamping soal  agama  (Al Qur’an dan hadits)  ia juga  mengajarkan  permasalahan  kemasyarakatan.
Di bidang politik di Indonesia awal  ia menempati beberapa jabatan penting, antara lain: dewan penasehat keresidenan Bogor (Shungikai), wakil resioden Bogor, anggota BPUPKI, anggota KNIP, dan lain-lain.

Peran dan Pemikiran
Para pengamat sering memasukan Ahmad Sanusi sebagai ulama tradisional / konservatif (madzhab Syafi’I), tetapi ia percaya pintu ijtihad masih terbuka, meskipun ia sendiri tidak melakukan ijtihad. Tetapi ide dan semangatnya sangat berbau pembaharuan (kadang ia berbeda pendapat dengan kelompok tradisi, kadang berbeda juga dengan penganjur pembaharuan).
Perselisihannya dengan kaum tradisi dan pemerintah, menyangkut soal fatwanya yang menentang pengumpulan zakat dan zakat fitrah lewat perpanjangan tangan pemerintah penjajah Hindia Belanda; Dan kritikan yang keras terhadap upacara ke-3, ke-7 hari dan seterusnya (slametan) bagi orang yang meninggal. Ia juga menfatwakan tidak wajibnya mendo’akan bupati (yang waktu itu menjadi kebiasaan khutbah Jum’at selalu mendo’akan bupati) dalam khutbah Jum’at, dan lain-lain.
Karena aktifitas dan kritikannya, ia kemudian termasuk orang yang dianggap membahayakan pemerintah Hindia Belanda. Tatkala terjadi pemberontakan di Banten, ada alasan bagi Belanda untuk menangkapnya. Ia kemudian dipenjara selama 7 bulan di Sukabumi, setelah itu ia diasingkan ke Jakarta. Tetapi justru semasa di tahanan   ia pengaruhnya semakin meluas dan ia tetap beradu argumentasi dengan kaum tradisi dan juga kaum pembaharu diluar tahanan.

Karya

Dalam bidang tafsir,
Raudhlatul Irfan fi Ma’rifat Al Qur’an
Maljau at Thalibin
Tamsyiyatul Muslimin fi tafsir Kalam Rabb al ‘Alamin, suatu kitab tafsir Al Qur’an yang diterbitkan pada oktober 1932. tafsir ini merupakan yang pertama kali terbit di Sukabumi dan merupakan sesuatu yang baru dalam masyarakat Sukabumi bahkan di daerah Pasundan, maka penerbitannya tidak luput dari kecaman dan tantangan.
Ushul al Islam fi Tafsir Kalam al Muluk al alam fi Tafsir Surah al Fatihah
Kanzur ar rahmah wa Luthf fi tafsir Surah al Kahfi
Tajrij qulub al Mu’minin fi Tafsir Surah Yasin
Kasyf as sa’adah fi tafsir Surah Waqi’ah
Hidayah Qulub as Shibyan fi Fadlail Surah tabarak al Mulk min al Qur’an.
Kasyf adz Dzunnun fi Tafsir layamassuhu ilaa al Muthahharun
Tafsir Surah al falaq
Tafsir Surah an Nas

Dalam bidang fiqih,
Al Jauhar al Mardliyah fi Mukhtar al Furu as Syafi’iyah
 Nurul Yaqin fi Mahwi Madzhab al Li’ayn wa al Mutanabbi’in wa al Mubtadi’in.
Tasyfif al auham fi ar Radd’an at Thaqham.
Tahdzir al ‘awam fi Mufiariyat Cahaya Islam.
Al Mufhamat fi daf’I al Khayalat
 At tanbih al mahir fi al Mukhalith
Tarjamah Fiqh al Akbar as Syafi’i.

Dalam bidang ilmu kalam
Kitab Haliyat al ‘Aql wa al Fikr fi bayan Muqtadiyat as Syirk wa al Fikr.
Thariq as Sa’adah fi al Farq al islamiyah
Maj’ma al fawaid fi Qawaid al ‘Aqaid
Tanwir ad Dzalam fi farq al Islam
Miftahh al jannah fi bayan ahl as Sunnah wa al jama’ah
Tauhid al Muslimin wa ‘Aqaid al Mu’minin
Alu’lu an Nadhid
Al Mufid fi Bayan ‘ilm al tauhid
Siraj al Wahaj fi al Isra wa al Mi’raj
Al ‘Uhud wa al Hudud
 Bahr al Midad fi tarjamah Ayyuha al Walad

Dalam bidang tasauf
Al Audiyah as syafi’iyah fi Bayan Shalat al hajah wa al Istikharah
Siraja al afkar
Dalil as sairin
Jauhar al bahiyah fi Adab al mar’ah al Mutazawwiyah
Mathla’ul al anwar fi Fadhilah al istighfar
Al tamsyiyah al Islam fi manaqib al Aimmah
Fakh al albab fi Manaqib Quthub al Aqthab
Siraj al Adzkiya fi Tarjamah al Azkiya.


D. Islam Sunda dan Peradaban Islam
Meskipun islamisasi Islam di tanah Sunda sudah dikatakan sudah final, karena Islam sudah dianut oleh hampir seratus persen bangsa asli, tetapi belum mencapai ke taraf peradaban Islam di tanah Sunda.
Islam yang baru tahaf embrio, seolah harus lahir secara premature, karena pengaruh bangsa lain atau penjajahan  bangsa eropa / belanda ke tanah Sunda yang terlalu cepat. Sehingga Islam di tanah sunda belum mencapai ke dalam upaya upaya mencapai tahap peradabannya. Bagai bayi yang datang prematue, karena itu ke depannya perlu penanganan yang serius supaya sunda dan Islam menemukan bentuk peradaban sunda yang islam yang lebih maju (modern).
Mengikuti bangsa lain, atau doktrin doktrin bangsa tetangga adalah suatu kesalahan besar, karena kita punya karakter dan latar belakang yang berbeda. Karena itu upaya upaya pembodohan yang selalu dipertahankan harus diurai sedikit demi sedikit, suapay tidak mengganggujalan mulus untuk mencapai tatar sunda pada peradaban islam yang modern.
Tatar sunda sekarang ini merupakan bagian dari negara indonesia. Tentu hal ini menjadi peluang bagi bangsa ini untuk menata peradabannya yang modern, sehingga nantinya akan menjadi barometer atau percontohan untuk kemajuan bangsa bangsa tetangga lainnya.Jadi jangan menjebakan diri menjadi buih buih dilautan yang mengikuti gerak langkah yang membuat opini, sehingga kita setia menjadi pengekornya.

Jika aceh dikatakan sebagai serambi mekah, maka harusnya tatar sunda bisa dikatakan sebagai serambi medinahnya indonesia. Sebagaipousat kemajuan umat islam indonesiasia yang modern.


BAB VII  

 MENGENAL SEJARAH ILMU PENGETAHUAN DAN TEKHNOLOGI DI TANAH SUNDA



Untuk menghancurkan suatu bangsa biiasanya, yaitu dengan menghancurkan kebudayaanya. Dan hal inilah yang mungkin terjadi pada urang Sunda. Seolah tidak ada yang tersisa dari hasil peradaban dari generasi ke generasi.
Kadang kita membayangkan bahwa tekhnologi dalam peradaban sunda klasik terlalu sederhana. Seperti yang diungkapkan dalam film film dari kerajaan Jawa. Rakyatnya tidak memakai baju, dan senjatanya hanya tumbak dan pedang, itupun jarang digunakan.
Tetapi ternyata jauh dari persangkaan kita, bahwa tekhnologi telah berkembang demikian pesat, sesuai zamannya. Masyarakat kita mengira bahwa senjata meriam berasal dari negeri barat. Seolah kita tidak  pernah menggunakan sebelumnya. Banyak dari cerita cerita atau  tulisan tulisan yang tersisa seolah mengggambarkan kebudayaaan kita yang kaya. Sedikit informasi bukanlah halangan untuk tetap menyelediki. Justru membuat kita harus tetap melakukan penyelidikan dan penyeldikan. 
Sebenarnya sejarah peradaban di tanah sunda bagai misteri  besar yang masih belum terungkap. Tenntu dalam mengungkapnya perlu dokumen yang banyak. Karena itu meskipun ada sedikit informasi, justru disanalah kita memulainya. Yang pertama kita hars mengumpulkan data sebanyak banyaknya, kemudian meletakannya ditempat yang tepat, Kemungkinan data data yang kita dapat hanya sekumpulan data sampah yang penuh rekayasa dan kebohongan, atau hanya cerita cerita yang mungkin kita anggap sesuatu yang kurang berguna. Tetapi disanalah sebnenarnya uniknya dari berbagai permasalahan. Kesimpulan belum bisa didapat dari data data yang kita dapat. tetapi disnalah kita mulai berangkat, kita harus mengumpulkan data data yang banyak.
Dengan ditemukannya prasasti yang dibuat di era Tarumanagara, dan   2 naskah dalam bahasa sunda yang ditulis pada abad ke-15 dan ke-16 Masehi, yaitu kitab Bujangga Manik dan Kitab Naskah Carita Parahiyangan. Cukup membuat revolusi pemahaman terhadap peradaban Sunda mulai terbuka, hal ini ditambah dengan penemuan naskah Wangsakerta yang ditulis pada abad ke 18 M, membuat benang peradaban sunda masa lampau seolah mulai ada benang merahnya. Hal ini ditambah dengan naskah naskah lainnya yang mulai banyak membantu dalammengungkap kebudayaan sunda yang sebenarnya, misal naskah Amanat Galunggung, yang banyak mengajarkan tentang gengsi sebagai sunda sebagai suatu bangsa,yang harus menjaga identitasnya, dan kehormatann sebagai suatu bangsa. Dan berita dari Tomie Fires cukup menggambarkan kita sebagai negara yang makmur. Danmungkin banyak naskah naskah yang belum kita dapati yang sebenarnya  ada, tetapi kita tidak punya daya untuk mengungkapnya. 
Jadi sedikit informasi bukan berarti kita prustasi, terus mengambil kesimpulan  yang gegabah dan tergesa gesa yang menafikan tentang keberadaan peradaban di tanah Sunda. Apalagi hal ini sebenarnya merupakan program dari saingan kita untuk membuat bangsa kita menjadi bangsa yang inferior, bukan bangsa yang superior.
Musnahnya peradaban suatu bangsa diawali dengan  menyusutnya tekhnologi bangsa sendiri. Ada suatu teori yang kembangkan oleh Ibn Khaldun dalam Mukadimahnya yang terkenal. Menurutnya yang intinya kemunduran peradaban suatu bangsa karena menurunnya profesi profesi yang beragam  ke arahyang mneyempit. Banyak orang meninggalkan profesi profesi dimasa kemajuannya. Dan mungkin dihancurkan tekhnologinya karena kalah perang. Sehingga seolah bangsa kehilangan kemampuannya. dan bangsa tersebut lambat laun akan terjebak ke arah kemundurannya.
Karena itu mengungkap kembali peradaban yang sudah lama hilang adalah suatu upaya untuk membangun lagi peradaban ke ddepan. Seolah harus ada benang merah antara masa lampau dan masa sekarang, dan mungkin masa depan. Karena untuk membangun peradaban ke depan, harus membuat benang merah ini sebsar besarnya, sehingga setiap orang nantinya akan berpartisipasi danam memajukan bangsanya sendiri.
Setidaknya disini akan mengungkap ungkapan ungkapan atau hasil tekhnologi masa lampau  sebagai upaya membangun gairah baru generasi mda kita, bahwa sesungguhnya kita itu merupakan keturunan bangs abesar yang terjebak pada genangan lumpur kebodohan, sehingga sangat sulit untuk keluar dari hal tersebut. adi perlu mengungkap benang merah, agar generasi berikutnya bisa keluar dari kebodohan, keterbelakangan yang sebenarnya dibuat oleh kita sendiri, karena mempertahankan kebodohan, karena mempertahankan ketidaktahuan, dan karena mempertahankan keungin tidak tahuan.
Banyak dari bangsa kita mempunyai pemahaman terhadap sejarah kita. Dalam perang kemerdekaan mislanya yang diagung agungkan adalah bambu runcing. Padahal kita dalam perang melawan tentara inggris atau sekutu, dan belanda menggunakan senjata. Seolah kita ingin mempromosikan bahwa bangsa kita hebat, hanya dengan bambu runcing saja penjajah sudah tunggang langgang. Hal ini adalah pemahaman yang sangat keliru dan pemutar balikan fakta. Bambu runcing adalah senjata pertahanan di kampung kampung atau di kota,sbegai upaya berjaga jaga, bukan untuk perang. Tentara kita dalam berperang sudah menggunakan senjata  yang didapat dari rampasan perang. dan harus diingat, bahwa pejuang pejuang kita dimotori oleh tentara tentara kita yang dididik oleh Jepang, baik melalui jalur Peta maupun tentara bantuan Jepang sebelumnya. dan yang tergabung dalm organisasi tersebut ada ratusan ribu.

Jadi disini terdapat pembodohan sejarah, karena penyepelean terhadap ilmu pengetahuan dan tekhnologi. Seolah ingin membuat logika sederhana bahwa dengan bambu runcing saja kita menang melawan penjajah. Dsisnilah sebenarnya letak kemampuan kita. Kita seolah ingin mengedepankan nilai nilai yang tidak masuk akal ke dalam dunia  realtias yang ada. Dan hal ini seolah menjadi suatu doktrin. doktrin pembodohan yang tetap dipetahankan.
Berikut ini adalah tekhnologi atau hasil budaya yang memang sudah ada sejak zaman dahulu kala,baik transfortasi, persenjataan, budi daya tanaman, perkapalan dan kebudayaan lainnya.

1. Konstruksi
Bidang Konstruksi ditanah sunda selalu dihubungkan dengan tokoh Sangkuriang, yang mampu membendung sungai citarum menjadi suatu danau hanya dalam semalam.
Meskipun Sangkuriang, sekarang ini hanya dikenal dengan tokoh legenda yang berkaitan dengan legenda cerita Gunung Tangkuban Perahu dan Danau bandung. Tokoh Sangkuriang ini diyakini adalah tokoh nyata dalam peradaban Sunda. Dan Karya sunda yang ditulis pada abad ke-15 Masehi ada yang menceritakan tokoh Sangkuriang ini, meskipun hanya 1 kata, yang dikaitkan dengan nama suatu tempat.
Kebanyakan orang indonesia  termasuk orang sunda gampang menyimpulkan sesuatu dan enggan melakukan penyelidikan. Sehingga segala sesuatu dimudahkan. Tokoh nyata dikatakan tokoh legenda. Karena sifat bangsa ini yang tidak pandai dalam menyelidiki dan mempunyai kemalesan dalam berpikir.  Karena jika sesuatu sudah divonis cerita legenda, seolah permasalahan sudah selesai. Padahal mungkin banyak literatur yang menceritakan itu, tetapi kita masih belum mendapatkannya.          Pelancong Sunda dan penulis abad ke15 Masehi yang bernama Bujangga Manik telah menyinggung nama sangkurian ini dalam tilsannya (L:ihat naskah Bujangga manik).
Masalah konstruksi juga dikaitkan dengan perannya raja raja dari Tarumanagara yang membuat sodetan sodetan Sungai Citarum dalam upayannya untuk transfortasi ke ibukota juga pencegahannnya terhadap banjir. Hal ini bisa di lihat dalam prasasti prasasti yang ditemukan yang dibuat di zamannya. Dan juga bisa dibaca secara detail di suatu naskah yang disebut dengan naskah Wangsakerta.
Dan mungkin juga cerita dari prabu Hariang banga yang membuat benteng ibukota negara di pakuan (nu nyusuk di Pakuan), sebagai upaya membuat ibukota yang kokoh (lihat naskah carita parahiyangan). Dan juga bis adikaitkan dengan Prabu Susuk Tunggal yang membangun istana.

2. Tekhnologi Perang dan perlengkapannya

Teknologi dalam berperang atau persenjataan telah banyak dibahas di era kerajaan tarumanagara, terutama sang Raja Purnawarman, seorang maharaja yang gagah perkasa di abad 5 masehi (2 abad sebelum Nabi Muhammad lahir). Hal ini bisa ditemui dalam prasasti peninggalan kerajaan tarumanagara, dan juga telah diceritakan dengan lengkap di naskah wangsakerta.




BAB VIII

MENGENAL PRODUK HASIL BUDAYA

Dalam perjalanannya selama ratusan tahun budaya Sunda berkembang seiring dengan perkembangannya sesuai dengan pengaruh yang dominan waktu itu. Hasil produk budaya tidak bisa dikatakan mencerminkan budaya keseluruhan dari masyarakat sunda, tetapi merupakan hasil dari kreasi dari zamannya.
 Berikut ini adalah hasil produk budaya Sunda, sebagai hasil dari pergulatan dengan pengaruh dominan waktu itu, diantaranya:
A. Bahasa
Dalam perkembangannya, biasanya bahasa berkembang seiring dengan kemajuan suatu bangsa. Tetapi bahasa Sunda justru mengalami kemunduran. Pengaruh penjajahan dan juga pengaruh bangsa lain yang dominan menyebabkan bahasa sunda mengalami distorsi, dari suatu bahasa yang egaliter terjebak menjadi bahasa feodal, mengikuti kebudayaannya yang terjajah.
Meskipun tidak serumit dalam bahasa jawa yang mempunyai tingkatan tingkatan bahasa, tingkatan bahasa dalam bahasa sunda justru merumitkan untuk menjadi bahasa yang egaliter.
Bahasa feodal adalah bahasa satu arah. Bahasa anggah inggih yang penggunaannya harus melihat strata sosial. Jika ke orang biasa pakai bahasa ngoko (biasa), tetapi ke kalangan pejabat atau orang tua harus halus. Jadi bahasa hanya satu arah, yang menunjukan tingkatan strata sosial atau kasta dalam masyarakat. Orang tua bisa berkata kasar terhadap anaknya atau anak anak, tetapi yang muda harus sopan terhadap yang tua. Jadi bahasa feodal yang mengenal tingkatan tingkatan bahasa sesungguhnya tidaklah demokratis, tidak menjunjung tinggi egaliterisme manusia. Dan kurang menghargai orang orang kecil atau masyarakat biasa. Dan bahasa seperti ini tetap dijaga untuk menunjukan strata sosial atau kasta secara materi atau jabatan.
1.  Evolusi Bahasa Sunda Egaliter ke Bahasa Feodal
Penjajahan selama ratusan tahun menimbulkan perubahan bahasa  dari tanah Sunda. Bahasa sunda telah banyak mengalami distorsi dan cenderung terjebak menjadi bahasa feodal. Bahasa Sunda egaliter telah mengalami distorsi menuju bahasa feodal.
Menurut sejarah, pada awalnya bahasa sunda tidak bertingkat-tingkat, tidak mengenal istilah kasar dan halus. Bahasa kasar dan halus biasa dikembangkan dalam masyarakat feodal yang otoriter.
Jadi bahasa sunda yang awalnya egaliter kemudian mengalami feodalisasi di era tanah sunda  karena ada pengaruh  dari Mataram dan juga akibat penjajahan belanda.
Bahasa sunda yang tetap mempoertahankan sifat egaliternya adalah bahasa Baduy. Bahasa yang dipakai oleh suku baduy merupakan bahasa asli sunda, yang tiak mengenal strata sosial. Bahasa yang digunakan oleh masyarakat Baduy adalah bahasa yang digunakan dalam keraton sunda, hal ini bisa dilihat dalam tulisan bujangga Manik dalam naskahnya,
2. Bahasa Sunda Kiwari
3. Perlunya Mengembalikan Egaliter Bahasa Sunda
4. Fungsikan Bahasa Sunda Menjadi Bahasa Ilmu pegetahuan Suatu Harapan

B. Budaya
Kebudayaan Sunda  berkembang seiring dengan berkembangnya waktu. Kadang turun naik hasil kebudayaan sesuai dengan kondisi masyarakat atau zamannya waktu itu. Perpolitikan yang selalu berubah membuat produk produkbudaya yang dihasilkan menyesuaikan dengan kebudayaannya dizamannya.

1. Seni Budaya
a. Wayang Golek
Wayang golek merupakan produk budaya hasil dari budaya di era islamisasi di tanah Sunda. Dalam cerita wayang golek hampir sama dengan cerita Wayang Kulit dalam budaya Jawa, yaitu berkisar diantara cerita yang ada dalam kisah Mahabarata dan juga Kisah Ramayana, dengan pendekatan yang lebih islami. Seperti halnya dengan wayang kulit dalam tradisi Jawa, dalam menyelipkan da’wahnya, para penybar agam Islam menyelipkan suatu tokoh keluarga yang disebut punakawan. Semar sebagi sentral dalam tokoh punakawan, dengan ajian jamuslayang kalimusadat, dan ketiga anaknya: Cepot, Dawala dan Gareng.
Wayang golek merupakan suatu hasil jerih payah dari upaya upaya islamisasi melalui budaya yang dilakukan oleh para penyebar Islam awal. Berbeda dengan tradisi Jawa, tokoh tokoh wayang telah menjadi filsafat dalam kehidupan, tetapi di tataran sunda lebih mengarah ke dunia hiburan saja. Filsafat yang berkaitan dengan tokoh tokoh wayang tidak berkembang. Jadi meskipun wayang golek telah menjadi tontonan yang memasyarakat, terutama di zamannya, tetapi tidak menjadikannya sebagai filsafat pola hidup masyarakatnya.

1)Ada perbedaan antara Punakawan Wayang Kulit dalam budaya Jawa dengan Wayang Golek dalam budaya sunda, yaitu tentang tokoh anak anak semar, yaitu cepot, dewala dan Gareng. Cepot dalam wayang golek adalah kakak tertua, sedang dalam cerita wayang kulit, tokoh cepot ini disebut dengan Bagong, merupakan anak bungsu. Gareng dalam budaya wayang golek merupakan anak bungsu, sedang dalam wayang kulit merupakan anak tertua. Sedang tokoh dewala, sama sama merupakan anakkedua baik dalam cerita Wayang Golek maupun Wayang kulit, dan yang membedakan adalah istilah nama dari tokoh ini. Jika diwayang golek disebut Dewala, sedang dalam wayang kulit lebih dikenal dengan nama petruk.



2. Pakaian
Budaya membuat pakaian sebenarnya merupakan budaya sunda yang paling tua. Produk membuat pakaian atau dalam istilah lama disebut menenun, sudah dikenal diera Sangkuriang. Ibunya, Dayang Sumbi dan proses kelahiran anaknya yang bernama Sangkuriang dikaitkan dengan menenun pakaian ini. Jadi budaya membuat pakaian telah begitu tua dikenal di negeri sunda.


3. Beladiri

a. Pencak Silat
Pencak silat atau juga dikenal dengan nama maenpo suatu kata yang diyakini berasal dari daerah Pasundan. Karena di daerah ini telah lahir suatu aliran pencak silat tertua yang dikenal di Indonesia. Silat aliran Cimande diyakini merupakan aliran tertua yang telah melahirkan berbagai perguruan silat di Indonesia. Tidak hanya aliran Cimande, tetapi juga kemudian lahir aliran silat Cikalong, Subandar dan lain lain.
Dan tokoh tokoh tersebut kebanyakan berasal dari daerah Cianjur (dan juga bogor). Karena itu Cianjur dikenal dengan Seni Bela Diri Pencak Silat yang menghasilkan berbagai aliran terkenal, antara lain aliran Cikalong, Cimande dan Sabandar. Dalam perkembangannya, Pencak Silat Cianjur menghasilkan aliran-aliran baru seperti aliran Cikaret, Bojongherang, dan lain lain..
Cianjur juga banyak menghasilkan tokoh-tokoh persilatan antara lain : R. Abah M. Sirod, R. Didi Muhtadi (Gan Didi), R.O. Saleh (Gan Uweh), Abah Aleh, R. Idrus, R. Muhidin dll. Sedangkan tokoh Maenpo (Pencak Silat Peupeuhan) antara lain : Rd. H. Ibrahim, H. Toha, Aa Dai, Wa Acep Tarmidi, Abah Salim, Adung Rais dan yang lainnya.

a.1.  Aliran Cimande
Pencipta dari aliran Cimande adalah Abah Kahir (ada yang mengatakan Abah Sakir, Abah Khaer dan lain lain). Pencak silat aliran Cimande sering disebut juga dengan nama Maenpo Cimande. Kata Maenpo  berasal dari kata maen poho (bahasa sunda), yang berasal dari kata maen dan poho (lupa), yang dapat diartikan sebagai menipu gerakan. Karena itu kemudian  dipersingkat menjadi maenpo..
Ia diyakini berasal dari daerah Tatar sunda selatan (Garut, Tasikmalaya atau Cianjur Selatan). Ia belajar beladiri justru dari istrinya yang ahli dalam beladiri. Istrinya diceritakan selain mempunyai keahlian dalam beladiri juga menyaksikan pertarungan antara Harimau (Macan dalam bahasa sunda) dan 2 ekor Monyet. Salah seekor monyet membawa ranting dalam melawan harimau tersebut. Sedang yang satunya bertangan kosong. Dari peristiwa ini Sang Istri  kemudian menciptakan  jurus pamacan, pamonyet dan pepedangan yang  merupakan salah satu jurus andalan dari aliran ini.
Karena kehebatannya dalam beladiri, Abah Kahir kemudian dijadikan pamuk (guru beladiri) dilingkungan kabupatian  oleh Bupati Cianjur yang bernama Rd. Aria Wiratanudatar VI (1776-1813) atau dikemudian hari dikenal dengan nama Dalem Enoh.
Bupati Aria Wiratanudatar VI memiliki 3 orang anak, yaitu: Rd. Aria Wiranagara (Aria Cikalong), Rd. Aria Natanagara (Rd.Haji Muhammad Tobri) dan Aom Abas (ketika dewasa menjadi Bupati di Limbangan-Garut). Satu nama yang patut dicatat di sini adalah Aria Wiranagara (Aria Cikalong), karena dialah yang merupakan salah satu murid terbaik Abah Khaer dan nantinya memiliki cucu yang menciptakan aliran baru yang hebat.
Setelah Bupati  Aria Wiratanudatar VI (tahun 1813), meninggal. Pada tahun 1815 M Abah Kahir pergi ke Bogor mengikuti anak sang bupati Cianjur tersebut,  Rd. Aria Natanagara yang menjadi Bupati di Bogor. Mulai saat itulah dia tinggal di Kampung Tarik Kolot – Cimande hingga meninggal pada tahun 1825 M (dalam usia yang tidak tercatat).
Abah Khaer sendiri memiliki 5 orang anak Endut, Ocod, Otang, Komar dan Oyot. Mereka inilah dan murid-muridnya sewaktu dia bekerja di kabupaten yang menyebarkan Maenpo Cimande ke seluruh Tatar Sunda. Sementara di Bogor, salah seorang muridnya yang bernama Ace yang meninggal di Tarikolot, yang hingga kini keturunannya menjadi sesepuh pencaksilat Cimande Tarikolot Kebon Jeruk Hilir.
Abah Kahir pernah datang ke Sumedang di era Pangeran Kornel. Oleh penulis buku Pangeran Kornel,  Rd Memed Sastradiprawira, Abah Kahir  digambarkan sebagai selalu berpakain kampret dan celana pangsi warna hitam. Dan juga dia selalu memakai ikat kepala warna merah, digambarkan bahwa ketika dia ngibing di atas panggung penampilannya sangat ekspresif, dengan badan yang tidak besar tetapi otot-otot yang berisi dan terlatih baik, ketika ngibing (menari) seperti tidak mengenal lelah. Terlihat bahwa dia sangat menikmati tariannya tetapi tidak kehilangan kewaspadaannya, langkahnya ringan bagaikan tidak menapak panggung, gerakannya selaras dengan kendang (Nincak kana kendang suatu istilah sunda).

a.2. Aliran Cikalong
Pencipta dan penyebar aliran Pencak Silat Cikalong adalah R. Djajaperbata atau dikenal dengan nama R.H. Ibrahim. R.H. Ibrahim meninggal tahun 1906 dimakamkan di pemakaman keluarga Dalem Cikundul, Cikalong Kulon Cianjur.
Aliran ini mempunyai ciri permainan rasa yaitu sensitivitas atau kepekaan rasa yang mampu membaca segala gerak lawan ketika anggota badan saling bersentuhan dan dapat melumpuhkannya. Ciri lain adalah ilmu pukulan (ulin peupeuhan-bahasa sunda) yang mengandalkan kecepatan gerak dan tenaga ledak.

a.3 Aliran Subadar
Di era kelahiran pencak silat aliran cikalong,  di Cianjur muncul tokoh Pencak Silat bernama Muhammad Kosim di Kampung Sabandar Karang Tengah Cianjur dikenal sebagai Mama Sabandar,. Karena itu aliran silat ini kemudian dikenal dengan nama Subandar.
Salah satu ciri aliran ini ialah kemahiran dalam mengeluarkan tenaga yang dikenal dengan nama Liliwatan. 

b. Boxer
Di era modern muncul tokoh ahli  bela diri yang justru lahir dari pergesekan karena lingkungan yang keras, yang bernama Achmad darajat atau dikenal dengan Aa Boxer. Dan metodenya ia kemudian namakan Tarung Darajat.
Tarung Darajat diciptakan oleh Achmad Darajat atau yang kemudian terkenal dengan nama Aa Boxer. Ia lahir di Garut pada tahun 1951 M, yang merupakan putra dari pasangan Adang Latif dan Mintarsih.
Meskipun bertubuh tidak terlalu tinggi, ia sangat menggemari olahraga keras seperti beladiri dan juga sepak bola. Karakter yang berani, ulet dan lingkungannya yang keras membuat ia harus berhadapan dengan berbagai kekerasan.
Aa Boxer membuat suatu filosofi dari Tarung Derajat, yaitu : Ilmu, tindakan moral dan sikap hidup yang memanfaatkan kemampuan daya gerak otot, otak dan nurani secara Realistis dan Rasional, terutama pada upaya penguasaan dan penerapan 5 (lima) daya gerak moral, yaitu : Kekuatan - Kecepatan - Ketepatan - Keberanian - Keuletan pada sistem ketahanan dan pertahanan diri yang agresif dan dinamis pada bentuk-bentuk gerakan pukulan, tendangan, tangkisan, bantingan, kuncian, hindaran dan gerakan anggota tubuh penting lainnya yang terpola pada teknik, taktik, dan strategi bertahan dan menyerang yang praktis dan efektif bagi suatu ilmu olahraga seni beladiri.
Dan semboyannya yang terkenal adalah Aku ramah bukannya takut, aku tunduk bukannya takluk.

Beladiri Tarung Darajat ini kemudian dijadikan beladiri resmi kepolisian Indonesia.  Dengan alasan karena bermula dari kegusaran para pimpinan Polri tentang kondisi riil saat ini, di mana anggota Polri sering kalah berduel dengan penjahat, dan bahkan senjata pun dirampas. Maka Polri pun membutuhkan suatu beladiri yang bisa melumpuhkan lawan dengan cepat, bahkan jika lawan lebih dari satu. 




Bab VIII
Sunda Kiwari Suatu Potensi

A. Kekayaan Alam dan Potensi Wisata

B. Kekayaan Sosial Budaya Suatu Potensi

C. Kuliner Suatu Potensi

D. Kekayaan Kreativitas Suatu Potensi ke Arah Pusat Mode

E. Tempat Lahir Para Artis, Suatu Potensi

Tanah Sunda memang di takdirkan untuk melahirkan para artis  papan atas di Indonesia. Setidaknya sederet artis, baik dalam bidang biduan suara, seni peran dan lain lain. Dibawah ini adalah merupakan deretan para artis yang lahir dan dibesarkan dari tanah sunda atau masih mempunyai darah Sunda, yaitu:

1.. Dalam Bidang Biduan Suara 

a. Dangdut
Dalam hal penyanyi dangdut tatar sunda memang gudangnya. Daerah daerah penghasil penyanyi dangdut terutama Tasikmalaya, Cianjur dan daerah Pantura (Ciebon dan Indramayu).

a.1. Rhoma Irama
Raden Haji Oma Irama  atau disingkat Rhoma Irama, seorang artis yang lebih dikenal dengan julukan si raja Dangdut. Ia lahir di Tasikmalaya, 11 Desember 1946. Ia masih turunan ningrat sunda. Ayahnya Raden Burdah Anggawirya, seorang komandan gerilyawan Garuda Putih, memberinya nama ‘Irama’ karena bersimpati terhadap grup sandiwara Irama Baru asal Jakarta yang pernah diundangnya untuk menghibur pasukannya di Tasikmalaya. Ia merupakan putra kedua dari 14 bersaudara, 8 laki-laki dan 6  perempuan (8 saudara kandung, 4 saudara seibu dan 2 saudara bawaan dari ayah tirinya).

a.2. Itje Trisnawati
Penyanyi dangdut yang lahir di Tasikmalaya 27 maret 1963. Ia terkenal dengan lagunya Duh Engkang.

a.3. Evie Tamala
Penyanyi dangdut yang lahir di Tasikmalaya, pada 23 Juni 1969. Nama aslinya Cucu Suryaningsih. Ia terkenal dengan lagunya Selamat malam cinta, Cinta ketok Majic. Dan Dokter Cinta. 

a.4.  Iis Dahlia
Artis dangdut kelahiran Bongas Indramayu pada 29 Mei 1972.  Nama aslinya Iis Laeliyah Lagu Iis yang terkenal antara lain, Tamu Tak DiundangPayung HitamCinta Bukanlah KapalSeroja

a.5. Lilis Karlina

a.6.  Ayu Tingting


b. Grup Band
Di tatar sunda banyak juga bermunculan grup band papan atas di negeri ini, setidaknya mungkin orang mengenal grup band Gigi, Peter Pan, Noah, Setia Hati, Java Jive, Coklat dan lain lain

b.1.  Gigi
Grup band asal Bandung dengan aliran Pop Rock. Gigi resmi dibentuk pada tanggal 22 Maret 1994. Pada awalnya Grup Band ini terdiri atas Armand Maulana (vokalis), Thomas Ramdhan (bassis), Dewa Budjana (gitaris), Ronald Fristianto (drummer) “EVO Band” , dan Baron Arafat “Baron Soulmate” (gitaris). Nama Gigi sendiri muncul setelah para personilnya tertawa lebar mengomentari nama Orang Utan. Dengan latar belakang musik yang beda-beda, mereka menggabungkannya ke dalam satu musik yang menjadi ciri khas Gigi.

b.2. Kahitna
Grup musik asal Bandung, Indonesia, yang dibentuk pada  24 Juni 1986, yang dimotori oleh Yovie Widianto (kibor). Walaupun kerap mengusung tema cinta dalam liriknya, Kahitna terkenal bisa memadukan unsur musik jazz, pop, fusion, latin dan bahkan etnik ke dalam bentuk ramuan yang memikat. Grup musik yang memulai kariernya lewat panggung festival dan cafe ini diakui mempunyai kekuatan pada aransemen musiknya yang terbilang orisinil.

b.3. Peterpan
Peterpan adalah sebuah band beraliran pop rock dari Bandung, Indonesia. Band ini dibentuk pada tahun 1997 dan terkenal berkat lagu-lagunya Ada Apa Denganmu,  Topeng dan  Kukatakan Dengan  Indah.  Pada awalnya kelompok Peterpan terdiri dari Ariel,  Uki,  Loekman,  Reza, Andika, dan Indra. Namun di bulan November 2006, dua anggotanya, Andika dan Indra dipecat dari grup musik tersebut. Perpecahan ini dipicu adanya perbedaan prinsip kreativitas. Setelah itu kemudian nama Peterpan berubah menjadi Noah

 b.4.  Noah
   Grup band asal Bandung dengan aliran Pop Rock.  Noah sebelumnya memiliki nama Peterpan ini sempat menjadi grup band paling hits di Indonesia. Grup band ini sempat menduduki puncak musik di Indonesia dengan lagu-lagu hitsnya, seperti Topeng, Ada Apa Denganmu, Bintang Di Surga, dan masih banyak lagi. Namun, di perjalanan karirnya, grup band Peterpan mengalami perpecahan. Dari perpecahan ini, lahirlah Noah yang digawangi oleh Ariel, Lukman, Uki, dan David. Noah ternyata tidak kehilangan popularitasnya. Dengan single awal berjudul Separuh Aku, Noah mampu membangkitkan kepopulerannya.

 b.5.  ST 12 (Setia Band)
   ST 12 meupakan grup band aliran pop yang didirikan di Bandung,  pada tahun 2004. Grup ini didirikan oleh Ilham Febry alias Pepep (drum), Dedy Sudrajat alias Pepeng (gitar), Muhammad Charly van Houten alias Charly (vokalis), dan Iman Rush (gitaris). Nama ST 12 sendiri merupakan kependekan dari Jl. Stasiun Timur No. 12 Bandung yang merupakan markas berkumpulnya band ini.  Pada 13 Oktober 2011, Pepeng keluar dari ST12 setelah menyusul Charly. Setelah perpecahan maka ST-12 berganti nama menjadi Setia Band.

b.6. Coklat
Grup band asal Bandung dengan aliran Pop Rock.  Grup band ini memilih nama ”Cokelat” karena mereka ingin musik yang mereka suguhkan bisa dinikmati oleh semua kalangan, seperti halnya makanan cokelat. Cokelat berdiri pada tanggal 25 Juni 1996, dan sampai saat ini masih aktif dalam mewarnai panggung blantika musik Indonesia. Setelah vokalis pertama Kikan berpisah dengan Cokelat, Cokelat mengumumkan personil barunya yaitu Sarah Hadju, finalis Indonesian Idol Musim Keempa

 b.7. Project Pop
Project pop merupakan sebuah grup vocal yang terkenal dengan lirik jenaka. Anggota grup vocal ini pada awalnya merupakan anggota grup komedi Padhyangan yang berasal dari Bandung. Grup vocal yang anggotanya berasal dari anggota komedi ini dibentuk pada tanggal 4 Desember 1982. Tujuan awal dibentuknya grup vocal ini adalah untuk menyalurkan seluruh ide-ide gila dari para anggotanya yang berhubungan dengan bidang seni.

b.8. The Cangcuters
Grup band asal Bandung dengan aliran Rock and Roll.  Grup ini dibentuk pada  19 September 2005, beranggotakan Mohammad Tria Ramadhani alias Tria (vokalis), Muhammad Iqbal atau Qibil (backing vocal, gitaris), Arlanda Ghazali Langitan atau Alda (gitaris), Dipa Nandastyra Hasibuan atau Dipa (bassis), dan Erick Nindyoastomo alias Erick (drummer). Album pertamanya adalah Mencoba Sukses (2006) dan diikuti album kedua (repackaged) Mencoba Sukses Kembali dirilis pada tahun 2008.  

b.9.   Jamrud
Grup band asal Bandung dengan aliran Heavy Metal.

b.10.   The Titans
Grup band asal Bandung dengan aliran Pop.

b.11. Utopia
Grup band asal Bandung dengan aliran Rock.

b.12. Pas band
Didirikan oleh musisi asal Bandung. Grup band ini mencampurkan warna music rock, hip hop, dan punk. Grup band yang digawangi oleh Yukie sebagai vokalis, Trisno sebagai pemain bass, Bengbeng pada gitar, dan Sandy sebagai  drum. Grup ini mulai meniti karir dari panggung ke panggung sejak tahun 1989.

b.13.   /Rif
Grup band yang didirikan pada tahun 1992 di Bandung. Pada awal berdirinya, grup band ini bernama Badai. Lalu, setahun kemudian, barulah band ini dikenal dengan nama /Rif. /Rif sendiri merupakan singkatan dari rhythm in freedom.Di awal karirnya, grup band yang satu ini memulainya dengan menjadi pengisi music di kafe-kafe di Bandung. Setelah menjalani karir sebagai musisi kafe, grup band ini pun resmi menggunakan nama /Rif sebagai nama panggung mereka di tahun 1995

b.14. Seurieus band
Grup band yang berawal dari sekumpulan anak mahasiswa seni rup, terbentuk karena alasan ingin mengekspresikan kegilaan yang ada pada diri anggotanya dalam bermusik. Kecintaan para anggota band Seurieus ini awalnya merupakan pelarian dari mata kuliahnya sebagai mahasiswa seni rupa yang dinilainya cukup pusing. Terbentuk sekitar akhir tahun 1994, grup band ini memulai karirnya dari panging-panggung kecil di sekitar Bandung dan sekitarnya. Dengan konsep entertaining the audience, grup band ini menampilkan sajian music yang polos, lugu, total, penuh aksi, namun tetap menghibur. Hal inilah yang kemudian melahirkan aliran musik “sendiri” mereka, yaitu Hepi Metal (happy Metal). Hepi Metal ini berasal dari kata Heavy Metal yang diucapkan dengan logat Sunda.

b.15. SHE
    Grup band asal Bandung, yang berdiri pada 22 Februari tahun 2000 dan semua personelnya adalah kaum perempuan. Berdirinya band ini berawal dari Dino Naturandang yang mengumpulkan para personel band ini dimulai dari pertemuan mereka di salah satu studio musik di kota Bandung. Setelah pertemuan itu selesai terbentuk band SHE yang diambil dari singkatan Sound and Harmony Eclectic.

b.16. Angkasa
Grup band asal Cianjur dengan aliran Pop Rock.

b.17. Five Minutes
Grup band asal Cianjur dengan aliran Rockmantic.

b.18. Bondan Prakoso
Grup band asal Bogor dengan aliran Pop Rock, Rap.

b.19. Omelette
Grup band asal Bandung  dengan aliran Pop

b.20. Marvells
Grup band asal Bandung  dengan aliran Pop

b.21.  Goliath
Grup band asal Sukabumi dengan aliran Pop

b.22. Vagetoz
Grup band asal Sukabumi dengan aliran Pop

b.23. Dan Lain Lain
Masih banyak juga grup band lainnya yang berasal dari tatar Sunda ini, terutama yang berasal dari Bandung.

c. Dalam Bidang Pop
c.1. Rosa
c.2.  Heti Koes Endang
c.3. Mulan jamila

d. Dalam bidang biduan suara Tradisi
d.1. Rosa
d.2.  Heti Koes Endang
d.3. Mulan jamila

2. Dalam Bidang Entertainmen
d.1. Rafi Ahmad
d.2. Irfan Hakim
d.2. Rina Nose
d.4. Sule

c.      Dalam Bidang Seni Peran
c.1  Iko Uwais
c.2. Paramitha Rusadi
c.3  Oneng 
c.4. Kang Ibing

Bab IX
Potensi Kepemimpinan

Meskipun hingga kini seolah kepemimpinan dalam masyarkat sunda belum banyak dilirik, tetapi sebenarnya merupakan potensi yang sangat besar.  Seolah bagai kuda hitam dalam catur, dianggap sang penentu,mungkin kepemimpinan dalam sistem kenegaraan di indonesia justru sbenarnya sangat diharapkan.
Dalam buku sejarah yang kita  pelajari disekolah sekolah, banyak dipelajari sejarah tentang sistem kepemimpinan dari kerajaan yang ada di jawa timur, yaitu kerajaan Singashari dan kerajaan Kediri, yang merupakan cikal bakal kerajaan Majapahit. Dalam kisah tersebut sistem kepemimpinan yang dipelajari banyak diilhami oleh Ken Arok. Merebut dari  yang satu kepada yang lain. Dan sistem kepemimpinan dalam konteks ini adalah sistem yang saling menjatuhkan. Untuk menjadi pemimpin harus menjatuhkan atau mengkudeta yang lain atau yang lama.. Sehingga dalam literatur kekuasaan Jawa, kerajaan tidak ada yang  bertahan lama,. Hal ini dapat dilihat dari silsilah kerajaan kerajaan seperti : Kediri, Singashari, Majapahit, Demak dan lain lain. Sehingga seolah menjadi tradisi hingga kini, satu sama lain pemimpin harus saling menjatuhkan.

A. Dalam Sejarah, Penguasa Besar Turunan Sunda
Dalam kitab Wangsakerta bahwa kerajaan pertama yang ada di Indonesia adalah Salakanagara yang ada di daerah Banten sekarang, tepatnya di teluk lada Pandeglang. Yang berkuasa di kerajaan tersebut adalah dinasti Dewawarman, dari Deawawarman 1 hingga Dewawarman 9.
Kerajaan salakanagara inilah kemudian yang menjadi cikal bakal kerjaan tarumanagara, Sunda dan juga Galuh dikemudian hari. Dan penguasanya dinasti Warman telah melahirkan penguasa penguasa besar di Indonesia atau nusantara waktu itu. Aswawarman dari kerajaan Kutai merupakan turunan dari penguasa salakanagara, bahkan Adityawarman penguasa Sriwijaya masih merupakan turunan dari dinasti  Warman ini.
Aswawarman
 Purnawarman
 Adityawarman

1. Sonjaya
Sonjaya atau Rakeyan Jambri seolah tidak pernah didengar dalam sejarah pelajaran di sekolah sekolah. Meskipun ada,  keberaddaannya seolah ditutup tutupi, termasuk peran Sena, sang ayahnya di tanah jawa, karena berdimensi politik. Padahal Sonjaya merupakan pemersatu Jawa pertama, setelahnya tidak ada raja raja di pulau Jawa yang bisa mempersatukan lagi yang ada di pulau ini. 
Sonjaya merupakan anak dari Prabu Sena (raja Galuh ke-3), dan menjadi raja kerajaan Sunda yang ke-2, menggantikan kakek istrinya yang meninggal. Ia juga dapat menguasa Gluh, hingga akhirnya menjadi raja di Kalingga / Medang (Mataram kuno) menggantikan ayahnya, Prabu sena, yang sebelumnya juga sudah menjadi raja disana. Dengan demikian Sonjaya atau Rakeyan Jambri merupakan penguasa Jawa pertama yang dapat mempersatukan kekuasaan dibawah kekuasaannya. Sunda, Galuh dan Mataram kuno (Medang / Kalingga).
Meskipun akhirnya Galuh dapat dikuasai oleh Ciung Wanara, dan menjadikannya ia kemudian menjadi penguasa Medang / Kalingga saja. Tetapi ia  dianggap merupakan pendiri dinasti Sanjaya dalam tataran penguasa di tanah Jawa.

2.  Raden Wijaya



BAB X
MEMBANGUN PERADABAN SUNDA KE DEPAN DENGAN KONSEP PERADABAN

Pada bab ini akan dibicarakan tentang suatu pengingat dari generasi ke generasi, bahwa kita jangan terjebak pada apa yang dikatakan sebagai kesalahan awal yang tetap dipertahankan, yang akan mengakibatkan kita menajdi bangsa yang tertinggal, baik  secara politik  atau secara ekonomi yang memprihatinkan.
Pengingat bisa dikatakan sebagai alarm ketika kita sedang tidur, apakah kita akan bangun ketika mendengar alarm atau justru membiarkan alarm tetap berbunyi dan kita tetap tidur. Atau bahkan kita mematikan alarm supaya tidur lebih pulas lagi.  Jadi intinya pengingat itu hanya sebagai peringatan,jika kita tidak menjalankannya hal itu adalah tanggung jawab kita sendiri, apakah kita akan mengambil resiko berjalan ditempat atau kita justru dengan semangatnya mengambil inti dari permasalahan hidup yaitu perbaikan nasib menuju kesejahteraan.
Berikut adalah hal hal yang mungkin kita harus diketahui supaya kita tidak terjebak pada penderitaan dan kekecewaan seumur hidup, diantaranya:

A. Kita jangan terjebak pada kata bodoh dan turunannya  pembodohan dan dibodohi

 1. Orang Bodoh (tidak tahu) tidak mengetahui bahwa dia adalah bodoh (tidak tahu)
Orang yang tidak tahu sering disebut dengan orang yang awam atau kasarnya disebut dengan orang bodoh. Orang barat atau dalam peradaban islam orang orang yang banyak tidak tahunya disebut orang bodoh. Tetapi di indonesia justru banyak juga yang berpendidikan tinggi masuk dalam kategori ini. Karena ia orang yang termasuk tidak mau tahu atau tidak pernah belajar.
Ada peribahasa yang mungkin harus kita camkan, bahwa orang yang tidak tahu atau dengan kata lain orang tidak pernah tahu bahwa dia itu tidak tahu (bodoh). Jadi biasanya orang bodoh tidak pernah menyadari bahwa ia adalah bodoh. Atau orang yang tidak tahu tidak menyadari bahwa ia sebenarnya bodoh. Karena kalau dia sadar tidak tahu atau bodoh pasti ia akan rajin belajar, mengejar ketidaktahuannya itu.

2. Orang Bodoh itu Sombong, Sering Membantah dan Senangnya ditipu
Dan ada peribahasa juga bahwa orang bodoh atau orang yang tidak tahu,itu selalu sombong untuk mempertahankan ketidaktahuannya. Karena kalau dia sadar bahwa ia tidak tahu, maka ia akan rajin belajar.
Ada suatu paradigma dalam bahasa jawa yang intinya, bahwa orang yang termasuk dalam kategori orang yang tidak tahua atau bodoh itu, katanya kalau dikandani (dibilangin) pasti ngeyel (selalu membantah), diberitahu ilmunya mumet (bingung), dan diblituki manthuk manthuk (ditipu mangut mangut). Jadi intinya orang yang termasuk katageroi orang yang tidak tahu atau bodoh, itu kalau di katakan (dibilangin) ia akan ngeyel alias membantah seolah olah tahu. Tetapi kalau diberi tahu ilmunya mumet (bingung) alias tidak nyambung. Dan orang yang begini biasanya kalau ditipu manthuk manthuk (mangut mangut) suatu tanda setuju terhadap tipuannya. Makanya orang yang seperti ini selalu ditipu karena memang dia menyenangi untuk ditipu. Makanya orang yang seperti ini hidupnya selalu kecewa dari masa ke masa.

c.. Jadi Orang Bodoh itu pasti miskin
Sumber permasalahan dari manusia dewasa ini adalah kemiskinan. Sedang kemiskinan ini lebih diakibatkan oleh ketertinggalan dan keterbelakangan masyarakatnya. Keterbelakangan dan ketertinggalan ini lebih banyak diakibatkan oleh kebodohan masyarakatnya.
Kembali lagi ke paradigma awal, bahwa orang bodoh tidak pernah menyadari bahwa ia bodoh.

d.. Orang bodoh dan miskin itu nilai bargaining (nilai tawarnya) rendah
Orang awam atau orang bodoh itu pekerjaannya hanya mengeluh dan mengeluh. Karena tidak pernah mau belajar, sehingga ia selalu keceewa terhadap keputusannya. Ketika memilih pemimpin kecewa, ketika dijadiakn pemimpin kecewa an mengecewakan.
Orang awam itu gampang ditipu,karena ia senangnya ditipu. Karena tidak pernah menyadari bahewa ia sesungguhnya bodoh. Di bilangin ssuai ilmu malah tidak mau, malah ia memilih diblituki,memilih ditipu.

Jadi disamping potensi yang rendah, masyarakat yang tergolong ini juga sangat rendah nilai tawarnya. Karena itu masyarakat golongan ini sangat gampang ditipu dan dimarjinalkan(disngkirkan) baik secara ekonomi maupun politik.


B.. Membangkitkan semangat kesundaan

1. Membangkitkan kembali sikap Motekar dan Rancage

a.. Jadilah orang yang selalu ingin tahu
Menjadi orang yang selalu ingin tahu pada hakekatnya adalah sangat susah sekali. Orang yang termnasuk kategori ini selalu mencari sesuatu yang tidak diketahuinya. Selalu bertanya kalau tidak tahu. Dan selalu memeperhatikan keterangan orang lain sebelum membantah. Jadi orang yang termasuk golongan ini tidak gmpang membantah. Dai selalu menyimak,kemudian menanyakan alasannya kenapa berpendapat demikian.
Sebenarnya jika semua orang seperti ini,mungkin kemajuan akan dengan mudah diraih. Tapi manuasia itu mempunyai sipat sombong dan terjebak pada paradigma awal, bahwa orang bodoh tidak menyadari bahwa ia bodoh. 

2. Memaksimalkan penggunaan fungsi akal


3..Meluruskan tujuan
Meluruskan tujuan berarti bahwa tujuan kita harus sesuai dengan semangat kesundaan, yaitu kesucian, kemurnian, yang merupakan arti kata sunda itu sendiri. Kita juga harusmembangun permata permata kehidupan yang merupakan inti dari kata galuh. Kita setidaknya harus berjasa terhadap generasi berikutnya, sehingga kita akan tetap dikenang baik pemikiran maupun karya jasanya  bagaikan permata yang selalu didambakan.
Dan tidak lupa juga kita harus mengingat peran kita di dunia, bahwa kita harus menjadi pencerah, menjadi penerang baik dimasa kita hidup maupun generasi sesudahnya, yang inti dari katan insun medal insun madangan (sumedang).
Hal tersebut diatas harus tetap kita pertahankan dan dipegang kuat, seperti arti dari pakuan, yang berasal dari kata paku, yang dapat mengikat sehingga kita akan tetap kokoh.


C. Jika Menginkan Menjadi Negri yang Maju maka Harus Belajar Dari Bangsa Maju.

Untuk menjadi bangsa yang maju, sejahera dan lainnya, stidaknya harus banyak belajar kepada bangsa yang sudah maju juga, dengan tidak menjelek jelekan bangsa kita sendiri. Apalagi menjadi kacung propoganda dari orang orang yang ingin membuat bangsa kita hanya menjadi bangsa kacung dengan dalih kemajuan.
Bangsa Eropa menjadi negara negara maju karena melalui suatu proses yang mereka anggap sebagai fase yang disebut dengan abad pertengahan yang gelap. Kemajuan juga bukan karena ia memang sudah pinter atau mengetahui apa yang harus dilewatinya. Tetapi justru dia karena mau belajar dari bangsa yang sudah maju dan melalui kesalahan kesalahan yang ia sendiri mengambil mamfaat besar dari kekeliruannya.
Diabad pertengahan hingga generasi Galileo Galilei setidaknya banyak orang eropa beranggapan bahwa dunia itu adalah datar. Tetapi sebagian dari tokoh tokohnya berusaha untuk menemukan bangsa yang sudah danggap maju dizamanny, yaitu India. Dengan berangkatnya rombongan petualangan yang dipimpin oleh Magelhaen dan juga Colombo menandai pencarian negarayang beranama India. Karean itu bangsa bangsa yangia temui dalamperjalanannya disebut bangsa india.

Karena itu mengapa orang Eropa menganggap bahwa bangsa asli amerika disebut bangsa indian. Karena ketidaktahuannya tentang negeri india, sehingga bangsa yang ia temui dianggap merupakan bangsa india. Negara indonesia pun pada awalnya disebut dengan hindia. Dan bangsa belanda menjadikan nama Hindia untuk seluruh kekuasaannya.

1. Membangun Sungai Sungai Kecil Peradaban
2. Membangun Banyak Perpustkaan

D. Mengkonsep Masa Depan  dengan konsep Peradaban


1. Kesejarahan Masa Lampau

Menarik sekali berbincang-bincang tentang sejarah pemikiran sunda yang memang sudah dilupakan oleh para intelektuanya atau memang sengaja dilupakan.

Berbicara tentang kesejarahan dalam hubungannya dengan naskah-naskah sunda klasik, meskipun sudah mulai bermunculan yang mulai meng"eksis"kan pada kajian kesundaan, seperti kelompok "Salakanagara", “ Aki Balangatrang” tapi menurut siabah masih terlalu sedikit daripada penduduk tataran sunda yang lebih dari 45 juta jiwa.

Sekarang  ini banyak orang sunda yang tidak mengenal naskah naskah peninggalan kaum intelektual nenek moyangnya.  Yang lebih mengkhawatirkan lagi justru hal ini juga melanda kalangan intelektual masyarakat sunda itu sendiri. Mereka lebih peduli dengan sejarah sejarah  yang berasal dari daerah lain daripada daerahnya sendiri. Nasionalisme yang dikembangkan oleh bangsa ini telah menggerus sendi sendi budaya bangsanya sendiri. Mereka mendidik anak bangsa yang tidak pernah mengenal hasil budayanya sendiri. Mereka telah mendidik manusia-manusia mengambang yang tidak mempunyai pijakan yang sangat kokoh."

Mungkin kita harus belajar dari bangsa maju dan membandingkannya. Dan yang terkenal menjadi bangsa yang maju dengan tekhnologi yang tinggi akan tetapi tetapmemgang teguh tradisi adalah Bangsa Jepang. . Berbeda dengan Jepang, meskipun mereka telah menjadi negara maju, tetapi  komunikasi dengan sejarah masa lampaunya tidak pernah dilupakan, Makanya cerita-cerita masa lampaunya telah banyak menginspirasi kemajuan jepang itu sendiri juga termasuk yang berkaitan dengan kisah-kisah lama yang termodernkan. Karena itu jepang merupakan negara yang sangat modern yang tidak terputus dengan peradaban masa lampaunya.

 Jadi ketidakpedulian kaum intelektual sunda terhadap sejarahnya sendiri yang justru banyak mendapat dukungan dari penguanya yang kurang cerdas. Dengan demikian seolah menjadi benang merah kesalahan, “Masyarakatnya yang kurang peduli,  mendapat tempat pada penguasanya yang  kurang cerdas, sehingga potensi masa lampau yang dapat memperkaya kekinian justru  terputus, atau dengan kata lain, bahwa masayarakat sunda  kini telah terputus dengan peradaban masa lampaunya, sehingga dalam menjalani kehidupannya mereka telah kehilangaan orientasi (disorientation) terhadap peradabannya itu sendiri. Menjadi manusia sempurna dalam arti yang tidak melakukan apa apa telah melanda masyarakat sunda.  Padahal dalam sejarahnya, manusia sunda adalah maanusia proses yang menuju kepada perbaikan ke perbaikan selanjutnya (rancage). Dan dapat dilihat dari Naskah Carita Parahiyangan bagaimana leluhur kita menajdi bulan bulanan kritik sang burung yang bernama Si Uwur Uwur karena hanya berdiam bertapa., bahwa dia hanya orang yang tidak berguna yang pekerjaannya hanya duduk saja dan tidak bisa melakukan apa-apa dan juga tidak menikah. Dengan meninggalkan bertapa (diam /meneng), kemudian menikah dan mempunyai keturunan. Dikisahkan bahwa keturunan / anaknya sang mantan pertapa itu menikah dengan pendiri kerajaan Galuh. Dan menjadi ibu dari para raja Galuh, dan nantinya menurunkan keturunan dari raja raja Sunda dan Medang (jawa).


Meskipun agama kita sudah berbeda, tetapi kita kita harus tetap menjaga  situs-situs kebudayaan klasik sebagai tanggung jawab terhadap generasi berikutnya. Menjaga hasil karya peraadaban klasik harusnya  merupakan suatu kebanggan dari anak bangsa sekarang ini. Meskipun dari kebudayaan yang berbeda, dari agama yang berbeda. Karena hasil peadaban masa lampau akan menginspirasi anaak bangsanya dikemudian hari. Karena itu menjaga situs-situs kebudayaan kuno bukan berarti menjaga tahayulisme seperti yang dikembangkan kaum dukun, tetapi lebih upaya daripada pencarian jatidiri kita sebagai manusia sunda, untuk membangun peradabannya ke depan."



BAB XI

PENUTUP

Konsep yang baik, tetapi jika tidak ada upaya untuk menjalankannnya,  mungkin seolah menjadi tulisan diatas kertas yang tidak ada gunanya. Kesempurnaan tidak akan tercapai jika tidak ada proses. Jalan yang ditempuh mungkin harus berliku dalam upaya merealisasikannya. Mungkin banyak kegagalan dan metode yang salah ditengah perjalanan. 

Bagai orang yang berjalan di tengah hutan yang baru kita lewati. Konsep baru atau konsep yang bagus bisa diibaratkan suatu belantara hutan yang harus kita lalui. Banyak onak dan duri yang mungkin kita lewati. Atau juga banyak binatang buas yang mungkin kita hadapi. Jika onak dan duri diibaratkan cibiran dari masyarakat. Atau binatang buas diibaratkan sebagai para tokoh yang mungkin akan menjegalnya. Tapi itulah romantika hidup, bahwa masa depan haruslah diraih. Jangan hanya menggerutu bahwa tidak adanya pemimpin asal bangsa sendiri yang tangguh, atau perekonomian keluarga dan masyarakat yang kalang kabut.

Suatu upaya harus terus di lakukan. Karena itu konsep sabar dalam arti militan disinilah sebenarnya harus menjadi moto kita dalam meraih masa depan. Daripada hanya mengeluh mending berjalan selangkah demi selangkah. Mengeluh hanyalah menghasilkan rasa sesak di dada yang mungkin akan mengakibatkan kita kena penyakit jantung atau mempercepat kita mati. Tapi kalau kita mau berjalan selangkah demi selangkah mungkin dalam jangka waktu tertentu gunung gunung, bukit bukit akan terlampaui. Atau setidaknya badan kita akan semakin sehat, karena dengan berjalan, seluruh organ tubuh bekerja, sehingga tubuh kita bertambah sehat.

Nenek moyang urang sunda telah memberikan pedoman yang sangat hebat tentang konsep akal, spritualitas dan konsep memegang jatidiri. Nyunda sebagai upaya memegang tradisi yang luhur dan menjadi ciri  dari bangsa ini. bukan sebagai upaya hanya membanggakan diri sendiri, karena hal tersebut hanya akan membuat diri kita menjadi orang yang picik dan berwawasan sempit. Karena itu jenjang pendidikan begitu penting dalam meningkatkan wawasan kita dalam menghadapi problematika kehidupan, karena itu kita harus nyakola. Baik dalam konsep bersekolah yang berjenjang maupun dalam spirit orang terpelajar, yang menjunjung tinggi paradigma intelektualitas. Tetapi kita juga dituntut bahwa segala perbuatan kita harus dipertanggungjawabkan di hadapan yang maha kuasa, sehingga nilai nilai spiritualitas sangat penting dalam menjalankan kehidupan agar kita tidak salah langkah, dan mempunyai pedoman yang jelas.

Jadi dalam realitas kehidupan seolah urutannya nyunda, nyakola, dan nyantri. Tetapi nenek moyang kita telah memberi pedoman yang jelas berdasar urutan nyunda, nyantri dan nyakola.  Nyantri dalam urutan kedua, karena nilai nilai agama harus diajarkan dan diperkenalkan lebih dulu sejak kita masih kecil. Karena nilai spiritualitas perlu pendalaman dan penghayatan yang begitu mendalam, sehingga disamping waktu yang dibutuhkan  juga memerlukan waktu yang lebih lama, juga pemahaman terhadap agama dimungkinkan perlu pendekatan yang lebih spesifik.

Setiap bangsa punya ciri masing masing, niilai keagamaan juga mempunyai nilai spesifik. Keduanya akan menjadi unggul jika mempunyai keunggulan dalam ilmu pengetahuan atau intelektual.  jadi nilai yang spesifik akan unggul jika ada upaya upaya untuk memajukan pengetahuan masyarakatnya. Nah disinilah sebenarnya harusnya  nyakola menjadi pembeda dari bangsa bangsa bangsa lain.  karena dengan pengetahuan yang tinggi, hal sekecil apapun akan mempunyai nilai yang berharga.

Karena itu, dengan konsep nyakola ini, urang sunda harusnya bisa yang terdepan dalam memimpin bangsa ini. Karena kita dituntut untuk menunaikan kewajiban untuk bersekolah yang setinggi tingginya. Karena itu urang sunda harusnya memberi jalan yang lebar kepada generasi generasi berikutnya untuk sekolah setinggi tingginya. Karena dengan sekolah yang tinggi, banyak peluang yang kita bisa raih, baik dalam karier maupun dalam hal ekonomi, atau penguasaan ekonomi.

Para pemimpin sunda, harusnya banyak memberi jalan selebar lebarnya untuk  pendidikan dari generasi ke generasi. Anak atau barudak urang sunda harusnya dipermudah dalam pendidikan atau diberikan beasiswa bagiorang orang yang tidak mampu. Karena kita harus harus ingat pada pepatah atau peribahasa orang orang dulu, yang mengatakan bahwa orang orang yang bodoh selalu menutupi kebesaran dari diiri kita sendiri, kebesaran agama dan juga akan menutupi kebesaran suku bangsa sendiri. Dan orang orang bodoh itu pasti sengsara. karena gampang ditipu, gampang diombang ambing, dan tidak mempunyai bargaining atau nilai tawar yang tinggi dalam kehidupan. Karena itu jenis kata kata yang berasal dari bodoh kita harus hindari. Baik bodoh itu sendiri, atau kebodohan yang menyangkut suatu golongan maupun pembodohan, suatu upaya upaya menjadikan manusia tetap bodoh. Karena ada peribagasa lagi konon orang orang yang bodoh itu tidak pernah menyadari bahwa dirinya bodoh atau tidk tahu.

Sekolah sekolah sekolah, belajar belajar dan belajar. Seolah tidak ada kata berhenti dalam belajar. Meskipun kita tidak bisa sekolah tinggi, tetapi kita harus menjadi bagian dari generasi yang memberikan jalan seluas luasnya untuk generasi mendatang untuk meraih pendidikan setinggi tingginya. Dan urang sunda harus memulainya. Jangan menjadi penghalang terhadap kemajuan, jangan menjadi penghalang dari pendidikan kita. Bukan hanya menjadi kaum pengeluh yang justru tidak akan berujung.

Dengan demikian kita seolah diajarkan, kita jangan pelit terhadap diri sendiri,jangan pelit terhadap orang lain disekitar kita. Kita juga diajarkan jangan iri terhadap orang lain. Karena sikap pelit maupun iri hanya menjadi penghalang bagi kemajuan diri maupun bangsa sendiri.Dan ini merupakan spirit dari nyantri. 


Bangsa kita konon sering hanya eker ekeran dengan bangsa sendiri. Sering curiga terhadap bangsa kita sendiri.  Kita tidak pernah mau disaingi oleh bangsa sendiri. Dan kelemahan inilah justru menjadi preseden buruk. Dan hal ini justru akan memberi jalan kepada bangsa bangsa diluar kita untuk berperan. Dan kita hanya jadi penonton atau buih dari lautan yang hanya bisa di diombang ambingkan. Seolah banyak tetapi sungguhnya tidak mempunyai nilai sama sekali.

Pembeda manusia dengan manusia yang lainnya hanyalah intelektual atau tingkat pendidikan. Karena dengan konsep nyakola, kita harus menjadi bagian dari suatu generasi yang memberikan jalan seluas luasnya untuk generasi berikutnya dalam meraih pendidikan yang tinggi.

1. Kritik


Ada suatu kesalahan dalam memahami tentang produk kebudayaan. Kisah mahabarata dan ramayana merupakan produk dari peradaban di India. Dan hal ini divisualisasikan dalam kisah kisah dalam cerita di wayang Golek.  Wayang golek berkembang di zaman tanah Sunda berada dalam pengaruh Islam. Hal ini mungkin mencontoh apa yang kembangkan oleh para wali di tanahJawa dalam upaya menyebarkan agama Islam.
Berbeda dengan tradisi Jawa yang mengambil wayang dalam 2 dimensi. Dalam tradisi sunda wayang divisualisasikan dengan 3 dimensi yang menyerupai bentuk aslinya. Halini dimungkinkan bahwa memang dalam tradisi sunda bahwa bentuk yang realitas sesuai dengan bentuk manusia yang dapat diterima. Karena dalam tradisi sundatidak terlalu menyukai budaya siloka, yang tersembunyi atau disembunyikan. Segala sesuatu harus dapat dipahami dengan akal. Jadi mengapa konsep wayang dalam tradisi sunda lebih bersifat 3 dimensi, dan harus di tonton dengan visual yang jelas, bukan dengan bayangan seperti yang ada dalam konsep wayang kulit dalam tardisi jawa.
Jadi sebenarnya ada suatu kekeliruan bahwa tokoh tokoh dalam  wayang merupakan produk asli dari tanah sunda. Sehingga ada suatu gerakan pembuatan patung besar besaran, seperti yang ada di tanah bali, dan telah menjadi ciri dari kebudayaan Bali.
Mungkin jika mau lebih kreatif. Mengapa tidak membuatsuatu monumen besartentang sanga maharaja Purwarman atau tunggangannya, dengan baju besinya yang kokoh, yang komplit diceritakan dalam naskah wangsakerta.
Puranwarman adalah tokoh nyata dalam peradaban Sunda. Mungkin para ahli seni lukis atau ahli pembuat sketsa bisa membuat suatu perkiraan tentang tokoh Purnawarman ini, dengan baju kebesarannya.



(Lanjut....., tulisan ini masih dalam suatu proses / belum selesai)

By Adeng Lukmantara

Peminat Studi Peradaban Islam dan Sunda